
William terus menjalankan mobil dengan kecepatan penuh, dan untungnya jalanan tidak sepadat biasanya. Tanpa menjawab protes teman-temannya, tangan dan kakinya bekerja sama mengarahkan mobil dengan penuh konsentrasi. Ivona melirik William yang duduk disampingnya, tetapi tatapan laki-laki itu hanya ke depan. Tetapi tiba-tiba beberapa meter di depan,..
"Ciiittt..." William menginjak pedal rel secara mendadak. Untungnya sejak William menjalankan mobil dengan cepat, Ivona berpegangan erat dengan gantungan di atas tempatnya duduk. Sehingga begitu William menginjak rem mendadak, Ivona masih bisa mempertahankan keseimbangannya. Tetapi tidak dengan teman-teman WIlliam yang duduk di belakang.
"*Fu*ck...., William... what are you doing??" teman-teman yang duduk di kursi belakang mengumpat.
"Tutup mulut kalian.., lihat di depan?" seru William sambil jarinya diarahkan ke kaca depan. Ivona membelalakkan matanya, mobil Alexander terparkir melintang di depan mobil William. belum hilang rasa terkejutnya, CEO Kavindra Group itu sudah keluar dari pintu mobil depan, kemudian berjalan menghampiri mobil William.
"Siapakah dia Will..., kamu pernah berurusan dengan laki-laki itu?" John bertanya dari kursi belakang.
William diam tidak menjawab, laki-laki itu hanya melirik Ivona yang duduk di kursi sampingnya. Gadis itu menundukkan kepala, yang mengisyaratkan jika Ivona tidak mau berurusan dengan laki-laki yang berjalan ke arahnya.
"Tok.., tok.., tok..., keluar!" dengan nada dingin, Alexander meminta Ivona keluar dari dalam mobil. Tiba-tiba William keluar dari dalam mobil, dia memandang dengan tatapan sengit pada Alexander. Ketiga teman laki-laki William juga mengikuti di belakangnya.
"Kita ada urusan apa ya kak.., seenaknya memotong mobil orang? Apakah anda tidak tahu jika anda sudah mengganggu perjalanan kami?" William bertanya pada Alexander, sedangkan John, Rolland dan David tanpa sadar mereka mengelilingi Alexander.
Alexander tersenyum sinis melihat anak-anak SMA mengelilinginya. Laki-laki itu mengabaikan keempat laki-laki muda tersebut, dia menghampiri pintu mobil tempat duduk Ivona. Tetapi baru saja Alexander akan berjalan, tangan Rolland terulur untuk menghalanginya.
"Lepaskan tanganmu, atau aku patahkan!" dengan tatapan dingin, kalimat yang meluncur dari mulut Alexander seperti memberikan tekanan pada keempat laki-laki itu. Sontak, Rolland memundurkan langkahnya.., tapi..
__ADS_1
"Aaaawww.." tangan kanan Alexander tiba-tiba sudah memelintir tangan Rolland, dan laki-laki itu berteriak kesakitan. Melihat Rolland kesakitan, mata William menjadi merah. Tiba-tiba...
"Beraninya kamu menyakiti temanku.... Jangan coba-coba menjadi jagoan..!" baru saja tangan William terangkat ke atas, tangan Alexander sudah lebih cepat menangkap pergelangan tangannya. Setelah itu Alexander menghempaskan tangan itu ke belakang.
Dari dalam mobil, Ivona terkejut melihat Alexander. Tatapan datarnya bisa menghabisi William dan teman-temannya. Ivona merasa bahwa dia harus bertindak, jika tidak William dan teman-temannya bisa menjadi pelampiasan kekesalan Alexander. Dengan cepat, Ivona membuka pintu mobil dan berlari sambil menarik tangan Alexander.
"Kak.., hentikan! Apa kakak tidak malu berkelahi dengan anak yang lebih muda di tengah jalan?" teriakan Ivona menghentikan gerakan Alexander. Dengan tatapan dingin, Alexander menoleh pada Ivona.
"Masuk mobil di depan, cepat!" dengan perintah mengintimidasi, Alexander berbicara dengan sedikit keras. Ivona merasa panas dingin mendengar perkataan itu, tanpa sadar gadis muda itu langsung berjalan menuju pintu mobil bagian depan. Gadis itu dengan cepat sudah berpindah ke kursi mobil yang dikendarai Alexander. William dan ketiga temannya menatap Ivona dengan perasaan yang tidak mudah dijelaskan.
"Ingat .., besok lagi jangan asal membawa perempuan orang lain! Jika aku masih melihatmu berusaha mendekati perempuanku.., aku akan menghabisi kamu." dengan nada datar, Alexander berbicara dengan William dan teman-temannya. Kemudian tanpa bicara lagi, langsung masuk ke mobilnya. Dengan menangkupkan kedua telapak tangan di depan dadanya, Ivona meminta maaf pada William dan ketiga teman lainnya.
**************
"Siapa laki-laki itu tadi Will..., gila tatapannya seakan-akan membunuh kita saja. Ngeri.." David memberanikan diri bertanya pada William. Tetpai teman sebangku Ivona itu tidak menjawab, dia hanya mengangkat kedua bahunya keatas.
"Sepertinya tadi dia mengatakan jika Ivona adalah perempuanku.., berarti laki-laki muda tadi apakah pacarnya Ivona?" sahut Rolland.
"Bisa jadi begitu, melihat bagaimana sikap protective nya saat membawa gadis itu menjauh dari kita." sahut John.
__ADS_1
"Aku juga tidak tahu. Tetapi memang laki-laki itu setiap hari selalu melakukan antar jemput Ivona di sekolah. Sebenarnya kita pernah ketemu laki-laki itu saat di MUSE Bar.., sepertinya dia memiliki identitas yang tidak biasa." akhirnya William menanggapi pertanyaan teman-temannya. Laki-laki itu kemudian kembali masuk ke dalam mobil, dia bertekad ingin menyelidiki laki-laki yang membawa Ivona pergi.
"Kita balik ke mall tadi Will?" tanya John setelah mereka berada di dalam mobil.
"Moodku sudah hilang John.., kita ke bar saja. Kita lampiaskan kekesalan kita dengan minum beberapa botol hari ini!" setelah selesai menjawab, William menekan pedal gas. Ketiga teman William saling berpandangan, mereka akhirnya mengiyakan usul William. Dengan cepat mobil itu sudah hilang dari pandangan mata.
***************
Di dalam mobil Alexander
Ivona diam dan langsung memejamkan matanya setelah menjatuhkan tubuhnya di kursi mobil. Alexander hanya meliriknya saja, kemudian kaki kanannya langsung menginjak pedal gas. Perlahan mobil itu pergi meninggalkan William dan teman-temannya di jalan.
"Adakah tempat lain yang akan kamu datangi?" tiba-tiba Alexander bertanya dengan lembut pada Ivona. Tetapi Ivona masih diam, dia malas menanggapi laki-laki yang ada disampingnya itu. Alexander tersenyum, dia merasa jika gadis di sampingnya itu sedang marah padanya. Meskipun dia heran, untuk alasan apa kenapa tiba-tiba Ivona pergi meninggalkannya, dan malah bergabung dengan mobil laki-laki lain.
"Apakah aku ada salah Na...? Kenapa tiba-tiba kamu marah padaku, apa karena kehadiran Clara tadi. Gadis itu masih memiliki hubungan saudara sepupu denganku, kami bersama saat masih kecil." tanpa diminta, Alexander memperjelas bagaimana hubungannya dengan Clara.
"Tidak perlu menyebut nama gadis itu. Ivona jadi ilfill." ucap Ivona tiba-tiba. Alexander tersenyum mendengar perkataan gadis itu, perlahan tangan kirinya mengusap kepala Ivona.
"Kamu jealous ya??? Aku tidak ada hubungan apa-apa, murni hubungan saudara saja antara aku dan Clara." kembali Alexander mempertegas.
__ADS_1
"Tak perlu ge er, Ivona juga tidak masalah. Kakak mau pacaran., mau menikah dengan Clara. Tidak ada hubungannya dengan Ivona, toh memang siapa sih Ivona bagi kakak? Silakan dilanjut saja hubungannya." ucap Ivona lirih, tetapi Alexander hanya tersenyum smirk.
************