
Alexander tidak mengijinkan siapapun untuk ikut menginap di villa barunya ini. Bahkan Nyonya Besar Kavindra harus membujuk Evan untuk dapat diajak pulang. Anak kecil laki-laki itu selalu tidak bisa berpisah, jika sudah ketemu dengan Ivona. Akhirnya menunggu Evan tertidur, baru Rico memindahkan Tuan Muda Kecil itu ke dalam mobil.
"Kakak terlalu jahat sama Evan.., bagaimanapun anak itu masih membutuhkan perhatian. Bisakah sedikit saja kakak berbagi dengannya." Ivona memprotes sikap Alexander yang terkesan melakukan penindasan pada adik laki-lakinya.
"Ini hari besar kita Nana.., kakak tidak akan membiarkan orang lain untuk mengganggu kita. Ayo kita segera masuk ke dalam.." dengan tersenyum smirk, Alexander mengangkat tubuh Ivona dengan bridal syle, dan membawanya masuk ke dalam rumah. Dengan muka cemberut, Ivona menyembunyikan wajahnya di dada Alexander.
Beberapa saat kemudian, Alexander sudah membaringkan tubuh Ivona ke kamar yang banyak dihiasi bunga-bunga segar. Merasakan tatapan penuh keinginan dari suaminya, pipi memerah malu tampak terlihat di wajah Ivona.., dan CEO Kavindra Group dengan senyum manis melihatnya dari atas wajahnya.
"Apakah kamu sudah siap untukku Nana..? Jika kamu belum siap untuk mimpi nyata kita.., aku akan menunggumu." ucap Alexander dengan matanya yang terus menatap mata redup Ivona. Mendengar perkataan laki-laki yang sudah resmi dan sah menikahinya di hadapan penghulu itu, membuat jantung Ivona berhenti berdetak.
"Haruskah aku bersama dan bahagia dalam cerita novel dengan laki-laki ini, ataukah aku akan kembali pada kehidupan sebelumnya?" Ivona mencoba bertanya pada dirinya sendiri. Tetapi saat dia belum menemukan jawaban atas pertanyaannya sendiri itu, bibir basah dan kenyal dengan lembut sudah bermain di bibirnya. Gadis itu merasa seluruh tubuhnya gemetar, dan perlahan dia memejamkan matanya. Desakan bibir Alexander memaksa gadis itu membuka sedikit bibirnya.
Luapan emosi dan perasaan kedua anak manusia tersebut, tanpa sadar tersalurkan. Lenguhan.., de**sahan terdengar di seluruh ruangan, dan aroma percintaan mereka menghangatkan ruangan yang dingin karena pendingin ruangan itu. Ivona merasakan sesuatu yang asing yang bisa menggetarkan semua kulit tubuhnya, dan juga merasa terbang ke awan. Berdasarkan insting dan intuisi.., Alexander memanjakan istrinya dengan sentuhan dan ciuman penuh kelembutan.
Kulit putih dan halus milik Ivona seperti sebuah candu yang memabukan laki-laki itu. Tanpa henti, Alexander terus menyesap, menghisap, dan mencium setiap inci kulit gadis itu. Ivona melampiaskan semua rasanya dengan menjambak, dan tanpa sadar mencengkeram bahu laki-laki yang terus memanjakannya tanpa mengenal rasa capai.
__ADS_1
"Apakah kakak menyakitimu Nana.., jika iya.., kakak tidak akan lanjutkan. Kita akan mencobanya lain waktu." melihat gadis itu merintih, dan menahan rasa sakit, nurani Alexander menjadi goyah. Laki-laki itu lebih memilih tersiksa sendiri.., daripada harus menyakiti Ivona.
"Ivona akan menahannya kak.., sekarang ataupun nanti juga akan sama kan." dengan penuh keteguhan dan pengabdian pada suaminya, Ivona siap menyerahkan segalanya pada Alexander.
**********
Tanpa ada yang mampu melarang.., Clara tanpa ijin masuk ke villa baru Alexander. Baru siang hari.., dia mendapatkan berita jika hari ini Alexander menikah dengan Ivona. Mengajak sopir keluarganya, gadis itu langsung meluncur ke lokasi yang sudah di share loc oleh Nyonya Iswara. Clara merasa ditotok jantungnya, saat berada di pinggir kolam renang. Tulisan nama dan ucapan pernikahan dengan nama Nana dan Alex masih jelas dan segar tertempel di sekitar kolam. Bahkan lautan bunga mawar juga masih memenuhi kolam renang.
"Non.., mau ketemu siapa?? Tuan Muda dan Nona Muda kami saat ini sedang tidak mau menerima tamu." seorang pelayan rumah berlari dari ruang tengah untuk berbicara dengan Clara. Pelayan rumah ini, baru satu bulan dipekerjakan di villa ini, jadi dia tidak mengenal Clara.
"Tidak bisa Nona.., tidak ada yang bisa mengganggu kebersamaan Tuan Muda dan Nona Muda saat ini. Mereka berdua baru beristirahat di kamar.." pelayan kembali mempertegas Clara agar tidak mengganggu Alexander dan Ivona.
Mendapat penolakan dari pelayan rumah, menjadikan Clara naik darah. Tanpa menghiraukan keberadaan pelayan itu, Clara mendorong pelayan sampai terjatuh dan bergegas masuk ke dalam rumah. Tetapi belum sampai Clara ke kamar yang ditempati Alexander dan Ivona.., Bi Mina muncul dari dapur. Melihat kedatangan saudara sepupu Alexander, perempuan itu langsung menemui gadis itu.
"Non Clara.., dengan siapa datang kesini? Acara pernikahan Tuan Muda dan Nona Muda Ivona sudah selesai diadakan tadi siang. Dan Tuan Muda memerintahkan pada semua pelayan, untuk tidak memperbolehkan siapapun untuk datang menemui mereka berdua." sama dengan pelayan baru tadi, Bi Mina juga menyampaikan informasi yang sama pada Clara.
__ADS_1
"Jadi menurut Bibi.., Non Clara sebaiknya segera kembali saja. Mumpung Tuan Muda Alex belum mengetahui kedatangan Non kesini." lanjut Bi Mina.
"Bi Mina juga mengusirku? Kalian itu siapa.., bisa-bisanya mengambil keputusan tentang diriku. Kalian ini hanya seorang pelayan.., jangan pernah berpikir untuk menjadi induk semang yang dengan mudah bisa menghalangiku untuk datang ke tempat ini." dengan nada tinggi, Clara menghina Bi Mina.
Pelayan rumah yang tadi didorong Clara.., berlari masuk ke ruang tengah untuk mengejar Clara. Mendengar gadis itu menghina Bi Mina dan semua pelayan, pelayan itu hanya terdiam di depan pintu. Dia melihat, bagaimana dengan senyum yang menghiasi mulutnya, Bi Mina terlihat tidak tersinggung.
"Memang benar Non Clara.., Bibi ini hanya seorang pelayan. Dan tidak ada sedikitpun niat atau keinginan Bibi untuk menjadi induk semang. Tetapi meskipun kami adalah pelayan, kami bisa menjaga amanah yang diberikan oleh Tuan kami. Jadi.., Bibi mohon.. secara paksa atau dengan suka rela, Non Clara harus segera pergi dari villa ini." suara Bi Mina terdengar jelas.., dan seperti sebuah letupan bagi Clara.
Clara merasa tersinggung, saat pelayan yang ada di villa ini berani untuk memintanya pergi. Gadis itu berjalan semakin mendekat ke Bi Mina. Tiba-tiba..
"Siti.., panggil security untuk datang kemari. Kita harus mengusir Nona Clara keluar dari tempat ini." suara Bi Mina dengan nada tinggi memerintah pelayan baru untuk memanggil security. Mendengar perintah itu, Siti langsung bergegas untuk berlari ke depan memanggil security.
"Kalian semua makhluk-makhluk hina.., liat saja. Aku akan adukan sikap kalian semua padaku pada Tuan Besar Kavindra." Clara berteriak dengan suara tinggi dengan jari tangannya menunjuk Bi Mina.
Bi Mina tidak merasa takut, karena pelayan senior itu tahu. Jika Nyonya Besar dan Tuan Besar Kavindra saja mengalah untuk segera pergi dari villa itu, apalagi ini hanya saudara sepupu.
__ADS_1
**************