Revenge: Terlahir Kembali

Revenge: Terlahir Kembali
Chapter 275 Maukah Kamu Memaafkan Kakek


__ADS_3

Mahendra mendatangi kamar putri Frans yang baru mereka temukan keberadaanya. Laki-laki tua itu ingin mendapatkan kedekatan emosional dengan cucu perempuannya, sebelum dia kembali ke negara China. Di depan pintu kamar Ivona, Mahendra berhenti sejenak. Muncul keraguan yang berkelebat di pikirannya, tetapi setelah berpikir kembali jika ikatan dengan cucunya sangat penting dan harus dilakukan, Mahendra mengetuk pintu kamar gadis itu.


"Tok.., tok.., tok.." tetap berusaha menghargai privacy cucunya, Mahendra mengetuk pintu kamar Ivona. Beberapa saat, laki-laki tua itu menunggu, akhirnya terdengar langkah kaki menuju ke arah pintu.


"Kakek...," begitu membuka pintu, keterkejutan sejenak menghampiri gadis itu. Dengan tidak percaya, Ivona menatap laki-laki tua yang berdiri di depannya.


"Apakah kamu sedang sibuk Na.., bisakah kakek meminta waktu untuk laki-laki tua ini?" dengan humanis, Mahendra meminta waktu Ivona untuk menemuinya. Laki-laki itu memegang kedua tangan gadis itu, dan tanpa berpikir apapun, gadis itu mengganggukkan kepala sambil tersenyum.


Dengan hati senang, Mahendra menggandeng tangan Ivona kemudian mengajak gadis itu keluar dari dalam mansion. Di depan teras, sudah menunggu sebuah mobil mewah dan Mahendra langsung mengajak Ivona masuk ke dalam mobil yang sudah dalam kondisi menyala. Tanpa bertanya, Ivona mengikuti ajakan Mahendra untuk memasuki mobil. Seorang pengawal Mahendra menganggukkan kepala dan tersenyum melihat Ivona masuk dan duduk di kursi bagian tengah. Tidak lama, Mahendra mengikuti dan duduk di samping gadis itu.


"Kita akan menuju tempat yang sudah aku katakan tadi." terdengar suara tegas Mahendra memerintah sopir.


"Baik Tuan Besar.., beberapa orang kita sudah menunggu di tempat, dan beberapa mengawal kita di tengah perjalanan." sopir menanggapi perkataan Mahendra, kemudian mulai menjalankan mobil. Perlahan mobil segera meninggalkan mansion di atas bukit. Dalam perjalanan, Mahendra menoleh untuk melihat wajah putrinya.


"Kenapa kamu tidak bertanya padaku.., akan aku bawa kemana?" tiba-tiba Mahendra bertanya pada Ivona. Gadis itu menoleh dan melihat ke wajah kakeknya.


"Tidak akan bijak jika Ivona sampai menanyakan hal itu pada kakek kandung sendiri. Untuk saat ini, mengikuti keinginan pihak yang lebih tua, mungkin akan mendapatkan perhitungan amal baik. Begitukan kakek..?" dengan sedikit nada sarkasme, Ivona menjawab pertanyaan kakek.

__ADS_1


Mahendra tersenyum kecut, laki-laki itu memang memaklumi sikap yang ditunjukkan cucunya itu kepadanya. Tindakan arogannya di masa lalu, memang sangat menyakiti Carminda dan juga gadis yang saat ini berada di sampingnya. Oleh sebab itu, Mahendra bermaksud untuk menghentikan itu semua. Bagaimanapun mereka adalah sebuah keluarga, terjadi miss di awal merupakan hal yang masih bisa ditolerir. Ke depan, laki-laki tua itu akan berusaha untuk memperbaiki semuanya.


Kurang lebih hampir satu jam perjalanan, mobil yang dibawa pengawal Mahendra memasuki depan pintu lobby sebuah hotel mewah yang ada di kota tersebut. Seorang petugas berseragam hotel menyambut kedatangan mereka, dengan membukakan pintu mobil. Di sebelah kiri dan kanan pertugas hotel, terlihat empat orang tampak memastikan keselamatan orang yang turun dari dalam mobil.


"Ayo masuk bersama kakek.." Mahendra menggandeng tangan Ivona, dan gadis itu membiarkannya saja. Dalam benak gadis itu sebenarnya muncul pertanyaan, tetapi Ivona memang bertekad untuk tidak bertanya apapun. Hanya berada di kamar di mansion atas bukit, dengan dibandingkan saat ini Ivona merasa jauh lebih baik.


"Selamat datang Tuan Besar.., semua sudah kita siapkan di ruangan yang Tuan Besar inginkan." seorang gadis muda cantik bergegas menghampiri dan memberi hormat pada Mahendra. Ivona tidak tahu, jika hotel saat ini dia berada dimiliki oleh keluarga Frans Mahendra. Berarti, sebenarnya Ivona juga masuk sebagai daftar pemiliknya.


*************


Di dalam sebuah ruangan di dalam hotel


"Apakah kamu keburu lapar Na..?" tanya Mahendra menanyai Ivona.


"Iya kek.., tadi Nana belum sempat melakukan makan siang. Kebetulan juga pagi hari hanya sarapan sedikit saja. Kakek tidak keberatan kan, jika Nana makan lebih dulu?" tanpa menghentikan suapan ke mulutnya, Ivona menanggapi pertanyaan Mahendra. Laki-laki tua itu tersenyum, kemudian tangannya memberi isyarat pada pelayan untuk mendekat. Dengan hati-hati pelayan mendekat pada Mahendra.


"Nona Muda Ivona lapar, segera keluarkan menu yang sudah disiapkan untuk meja ini." tidak diduga, Mahendra memerintah pelayan untuk menyajikan semua yang sudah disiapkan untuk mereka.

__ADS_1


"Baik Tuan Besar.., kami akan segera mempersiapkannya. Mohon Tuan dan Nona Besar berkenan untuk menunggu." pelayan bergegas keluar dari ruangan itu. Ivona tersenyum mendengar perintah kakeknya pada pelayan hotel itu. Tidak lama kemudian main menu segera tersaji di meja yang ada di depan Ivona.


"Kepala ikan kakap masak pindang..?? Terima kasih kakek, sudah memesankan menu ini, this is my favourite food." melihat kepala ikan kakap tersaji di depannya, mata Ivona berbinar. Melihat ke mata Mahendra sambil tersenyum, dengan malu-malu, Ivona langsung mengambil piring berisi kepala ikan kakap merah itu.


"Makanlah yang banyak Na.., biar tubuhmu sedikit lebih berisi. Richard yang menyiapkan makanan ini untukmu, bukan kakek." Mahendra tersenyum menanggapi Ivona. Hanya melihat Ivona yang tampak lahap menikmati makanan, membuat naf**su makan laki-laki itu muncul. Tanpa berkata apa-apa, Mahendra juga mengambil satu piring saji berisi kepala ikan kakap yang lain. Kedua orang itu tanpa banyak kata, mulai menghabiskan makanan yang tersaji di depan mereka,


"Cobalah telur ikan ini.., gurih rasanya." Mahendra mengambil telur ikan dengan menggunakan sendok, kemudian meletakkannya di pinggir piring Ivona.


"Kakek sendiri, kenapa tidak memakannya?" Ivona bertanya dengan heran.


"Asupan kolesterol sangat tinggi, kakek tidak berani untuk memakannya lagi cucuku. Makan kepala ikan ini saja, jika bukan karena pingin makan seperti yang kamu lakukan, kakek juga harus menguranginya. Usia memang tidak bisa untuk dibohongi.." Mahendra menanggapi pertanyaan Ivona. Gadis itu tersenyum mendengar jawaban kakeknya, dan perlahan-lahan Ivona mulai menerima dan memberikan ruang hatinya untuk laki-laki itu. Laki-laki yang sudah memisahkan mama dengan Frans Mahendra.


Setelah beberapa saat mereka menyelesaikan makan siang mereka, dan pelayan sudah membersihkan peralatan  maupun sisa-sisa makanan yang tercecer di atas meja, Mahendra mengajak Ivona untuk berpindah duduk di atas sofa. Tidak mau mengecewakan orang tua itu, Ivona mengikuti ajakan Mahendra dan duduk di samping laki-laki itu.


"Nana.., maukah kamu memaafkan kakek.. cucuku?" tiba-tiba setelah terdiam beberapa saat, secara khusus Mahendra menyampaikan permintaan maafnya pada Ivona. Mendengar perkataan laki-laki tua itu, Ivona mengarahkan pandangan ke arah kakeknya. Melihat sinar ketulusan di mata Mahendra, dan raut wajah tua yang jelas ada di depannya, akhirnya Ivona menghela nafas kemudian mengangguk perlahan.


Wajah keriput laki-laki tua itu sontak terlihat bersinar dan bahagia, Mahendra langsung mendekatkan tubuhnya pada Ivona dan memeluk gadis itu dengan erat.

__ADS_1


**********


__ADS_2