
Setelah mendapatkan jadwal dan kepastian, kapan Dokter Tantowi bersedia untuk melakukan tindakan operasi pada Kakek, Ivona segera kembali keluar dan menuju ke ruang tengah. Ternyata Jack dan Alex masih berada di ruangan itu. Tanpa berkedip Alexander melihat Ivona menuruni tangga, dan setelah sampai Alex menggeserkan badannya dan mempersilakan Ivona untuk segera duduk.
"Duduklah disini Nana!" kata Alexander dengan suara pelan. Ivona menuruti apa yang diinginkan Alex, dia langsung duduk di samping pria muda itu.
"Bagaimana Ivona.., apakah kamu sudah memberikan berkas hasil diagnose kakek pada Dokter Tantowi?" tanya kakek dengan mata bersinar.
"Sudah kek.., dan jadwal operasi akan secepatnya dilaksanakan untuk minggu depan di hari Selasa. Tadi Ivona juga sudah berdiskusi dengan Dokter, jika operasi akan dilaksanakan di kota Jakarta, karena untuk mendapatkan dukungan sumberdaya peralatan. Selain itu juga agar mobilisasi Dokter Tantowi berjalan dengan lancar, karena hanya satu kali penerbangan tanpa transit dari negaranya tempat dia tinggal." Ivona segera menyampaikan hasil diskusinya dengan Dokter Tantowi pada kakek.
"Apakah Kakek akan langsung mempercayai apa yang diusulkan oleh Ivona?" tiba-tiba Tuan Iswara memotong perkataan Ivona, dia tidak menyetujui dokter yang diusulkan oleh putri kandungnya itu.
"Tuan Iswara..., saya juga tahu jika Dokter Tantowi yang diusulkan untuk melakukan tindakan operasi pada Kakek, merupakan salah dokter yang paling expert untuk menangani bedah otak. Saya sebagai orang luar, ikut mendukung apa yang sudah diusulkan oleh Ivona." Alexander menjawab pertanyaan Tuan Iswara.
"Selain itu, saya juga melihat jika Ivona sangat menyayangi Kakek dengan tulus, tidak mungkin dia memiliki niatan sedikitpun untuk memcelakai kakek." tambah Alexander mendukung Ivona.
"Apa yang disampaikan Tuan Alex, Thomas rasa benar pa. Jadi kita harus segera mempersiapkan dengan segera perlengkapan agar kakek segera dioperasi minggu depan." Thomas ikut memperkuat omongan Alexander.
"Kenapa semua mendukung perkataan seorang gadis kecil, apakah kalian semua tidak melihat bagaimana asal-usul dan tempat dimana gadis ini ditemukan?" tiba-tiba dengan suara tinggi Nyonya Iswara berbicara dengan marah. Dari tadi dia merasa jengkel dan berusaha menghibur Vaya, karena sangat terlihat jika Alexander lebih memperhatikan Ivona daripada Vaya.
Melihat Nyonya Iswara marah, Ivona memilih untuk meninggalkan tempat itu. Dia langsung berdiri, dan segera berjalan keluar meninggalkan ruang tengah. Dia kemudian duduk di kursi yang ada di taman bunga di sisi halaman rumah. Sesampainya di halaman, Ivona mengambil nafas panjang untuk membuang rasa nyaman yang ada di dadanya. Dia lebih memilih untuk mengendalikan dirinya, daripada ikut terpancing marah dan akan mempengaruhi kesehatan kakek.
*********
"Nana..., apakah kamu di rumah keluarga Iswara hanya seorang anak pungut?" tiba-tiba terdengar suara Alexander dari arah sampingnya. Ivona mendongakkan wajahnya, dan terlihat jika Alexander menyusulnya keluar dari dalam rumah.
__ADS_1
Ivona tersenyum masam, kemudian dengan tenang dia mencoba menjawab pertanyaan Alexander.
"Apa yang terkadang kita lihat di depan mata, sering tidak sama dengan apa yang terjadi sebenarnya." ucapnya lirih.
"Maksudmu?? Berarti kamu anak kandung dari keluarga Iswara, sama dengan tiga saudara laki-lakimu yang lain?" tanya Alexander terkejut.
Ivona tersenyum kemudian menganggukkan kepala, dia menyetujui apa yang sudah disimpulkan oleh pria muda itu.
"Berarti apa yang sudah dilakukan Tommy untukmu memang tepat. Dia tidak memiliki waktu untuk menjaga dan mengawasimu. Akhirnya memilihku untuk mengambil alih tugasmu." ucap Alexander pelan sampai tidak terdengar.
Setelah beberapa saat mereka terdiam, terdengar lagi suara Alexander menghibur Ivona.
"Aku paham apa yang kamu rasakan Nana. Jangan bersedih, masih ada aku. Aku akan melindungimu sampai kapanpun." kata Alexander dengan nada lembut sambil tersenyum. Ivona merasa kaget dengan ucapan lembut yang keluar dari mulut pria muda itu, karena selama ini obrolan mereka hanya diisi dengan saling mencibir dan menggoda. Akhirnya keduanya terdiam sementara disitu.
Saat Ivona dan Alexander masih duduk terdiam disitu, tiba-tiba terdengar suara Vaya berlari keluar dari dalam rumah sambil menangis. Di belakangnya, terlihat Nyonya dan Tuan Iswara mengejarnya.
"Vaya.., tenanglah sayang. Tidak ada yang mengabaikanmu di rumah ini, kamu selamanya akan tetap menjadi putri mama nak. Jangan menangis." Nyonya Iswara menghibur Vaya.
"Tetapi vaya merasa seperti orang asing dan bodoh di dalam ma. Semua hanya memikirkan Ivona, lagi-lagi Ivona, bahkan Tuan Alexander juga lebih memperhatikan Ivona daripada Vaya." teriak Vaya sambil terus menangis.
"Itu hanya perasaan kamu Vaya. Kan kamu juga mendengar, bagaimana mama dan papa tadi mengusulkan ada perjodohan aliansi antara kamu dengan Alexander." Tuan Iswara ikut menghibur Vaya.
__ADS_1
Melihat adegan yang ada di depan matanya, Ivona hanya tersenyum tipis. Dia merasa muak melihat keharmonisan tiga anggota keluarga itu. Akhirnya dia mengambil nafas panjang, kemudian perlahan mengeluarkannya kembali. Semua perilaku Ivona tidak lepas dari perhatian Alexander. Dia juga ikut melihat betapa perhatian Tuan dan Nyonya Iswara semua dicurahkan untuk Vaya, sedikitpun dia merasa tidak ada yang tersisa untuk Ivona.
Tatapan Alexander menjadi datar dan dalam, dan penuh dengan rasa berang.
"Ivona.., maukah kamu ikut pulang ke rumah denganku malam ini?? Aku sepertinya tidak mengijinkan kamu untuk tidur dan tinggal di rumah yang penuh hawa panas ini." tiba-tiba Alexander mengajak Ivona untuk ikut pulang ke rumahnya lagi.
"Aku ingin menjaga kakek kak. Kakek baru pulang dari rumah sakit, tidak akan baik jika aku meninggalkannya sendiri di rumah ini." ucap Ivona pelan. Dia sebenarnya teringat dan merasa prihatin dengan Ivona dalam kehidupan sebelumnya. Betapa hanya rasa sakit yang dia terima jika dia berada di dalam rumah ini.
"Tenanglah, semua akan menjadi urusanku. Yakinlah padaku, jika kakek akan mengijinkanmu untuk tinggal bersamaku. Ayo ikut kakak, kita kembali masuk ke dalam untuk menemui kakek!" Alexander mengajak Ivona untuk kembali menemui kakeknya. Dia hendak berdiri dengan berpegangan pada pria muda itu, dan saat ini dia sangat berdekatan dengan Alexander. Saat melihat bagaimana perlakuan Tuan dan Nyonya Iswara pada Vaya, tanpa sadar sambil menarik ujung jas.
Ivona mendongak dan Alex berkata, "Tidak ada yang menarik untuk dilihat, Nana."
************
Vaya merasa terhibur dengan Tuan dan Nyonya Iswara, sehingga dia menjadi merasa sombong. Setelah papa dan mamanya kembali masuk ke dalam rumah Vaya akan mencari Ivona.
"Untung papa dan mama masih sangat menyayangi aku, jadi sampai kapanpun aku masih akan bertahan di rumah ini. Tidak untuk Ivona." gumam Vaya sambil tersenyum sendiri.
'Apalagi gadis kampungan itu sedikitpun tidak memikirkan perasaan papa dan mama." pikirnya lagi.
Tetapi baru saja Vaya akan melangkah, dia melihat ke arah halaman. Terlihat di depan matanya, Vaya yang sangat dekat duduk di depan Alexander dengan tangannya memegangi sudut jas pria muda itu. Perasaannya langsung bergejolak marah, dan dengan pandangan cemburu, dia mendatangi mereka berdua.
*****************
__ADS_1