
Di dalam pesawat, setelah melakukan take off, tiba-tiba Ivona merasa sepi. Semangat yang tadinya membara untuk segera meninggalkan Indonesia, tiba-tiba seperti menjadi luruh. Dia tiba-tiba teringat dengan Alexander.., dari bibir Ivona terbit senyuman sendiri saat mengingat kejahilan laki-laki muda itu. Bagaimanapun usil dan dinginnya laki-laki muda itu, banyak pengalaman yang didapatkan Ivona bersama dengannya. Gadis itu juga kehilangan ciuman pertama, pelukan pertamanya dengan laki-laki asing, dimana semua dia lalui bersama dengan Alexander. Tiba-tiba pipi Ivona bersemburat pink.., dia merasa malu saat mengingat semua kejadian intim dengan laki-laki itu.
"May I know your name? My name is Michael, call me Mike." laki-laki perawakan Eropa yang duduk di samping Ivona, tiba-tiba menyapanya. Dia mengajak Ivona untuk berkenalan, sambil mengulurkan telapak tangannya.
Ivona memandang laki-laki tinggi besar dengan mata biru meneduhkan itu, dia mengakui jika laki-laki itu terlihat sangat tampan, tidak bosan untuk melihatnya. Ivona berpikir, tidak masalah untuk mengenal laki-laki asing itu, apalagi hampir 5 jam mereka akan duduk bersama sampai di Hongkong. Akan lebih mengasyikkan jika mereka bisa saling mengobrol dan mengenal.
"Hello... are you listening to what I'm saying?" tiba-tiba Ivona dikejutkan suara laki-laki asing itu, yang menanyakan apakah Ivona mendengar apa yang dia katakan. Tanpa sadar, Ivona malah melamun di depannya.
"Okay.., no problem. My name is Ivona.., you can call me Nana." akhirnya Ivona tersenyum malu, dia menyambut uluran tangan laki-laki itu.
"Can you speak Indonesian?" lanjut Ivona. Dia merasa tidak nyaman jika harus menggunakan bahasa Inggris untuk terus berkomunikasi.
"Yes.., I can speak Indonesian a little, because I have been working as an expatriate in this country for a long time." ternyata Michael bisa berbahasa Indonesia meskipun sedikit. Ternyata dia seorang ekspatriat yang sudah bekerja untuk beberapa waktu di Indonesia.
Mereka akhirnya terlibat pembicaraan yang seru. Ternyata Michael laki-laki yang banyak bicara, dan ternyata dia memiliki sedikit urusan di Hongkong. Selanjutnya laki-laki itu akan melanjutkan perjalanan ke Canada.
"Untuk berapa lama kamu akan berlibur di Hongkong Nana?" Michael bertanya pada Ivona. Gadis itu memang tidak berbicara jujur pada laki-laki itu tentang kedatangannya ke negara itu. Dia hanya menyatakan jika lagi merasa bored, dan membutuhkan sedikit waktu untuk melakukan refreshing.
"Aku belum tahu Mike.., mungkin nanti aku akan melihat-lihat dulu bagaimana situasi disana. Jika asyik.., mungkin aku akan sedikit lebih lama di negara ini. Tetapi jika tidak ada apa-apanya, mungkin aku akan segera kembali ke negaraku." jawab Ivona melanjutkan kebohongannya.
"Kenapa kamu tidak mengikuti aku saja? Kamu bisa memperpanjang masa liburanmu dengan mengikutiku ke Canada, baru bersama denganku kita akan kembali ke Indonesia setelah masa cutiku selesai." Michael menawarkan agar Ivona ikut bersamanya.
__ADS_1
"I am sorry Mike..! Aku punya schedull sendiri, aku berusaha untuk tidak tergantung dengan orang lain." jawab Ivona sambil tersenyum dengan penuh percaya diri.
"Okay.., okay..., aku menyerah. Kamu seorang gadis yang menarik.." ucap Michael menanggapi Ivona.
"Mike.., sorry ya. Kebetulan nih.., aku lagi ngantuk. Aku akan tidur dulu, okay." Ivona menyampaikan pada Michael jika dia akan istirahat.
"Baiklah.., sweet dream Nana. Aku akan menjagamu." sahut Michael sambil mengedipkan matanya.
**************
Ketiga kakak Ivona sepakat untuk menyembunyikan kepergian Ivona ke luar negeri pada kakek. Tommy segera menghubungi mitra bisnisnya yang ada di Hongkong dengan mengirimkan foto Ivona, untuk menjaga atau mengawasi adiknya jika mereka bisa menemukannya.
"Aku ingin mengunjungi base camp e-sport di negara Hongkong, jika Ivona bilang kalau ingin pergi ke negara itu. Aku bisa menemaninya berkeliling ke negara tersebut. Sekarang apakah kalian membayangkan, bagaimana Ivona yang kecil sendirian di negara itu, bagaimana jika dia nyasar ke kota Casino?" dengan cemas, Thomas tampak mengkhawatirkan Ivona yang sendirian disana.
"Sekarang kita harus memikirkan cara, bagaimana kita akan menjawab pada kakek jika beliau mencari Ivona. Bisa-bisa kakek tidak mau lagi tinggal di keluarga Iswara." kata Rio mengingatkan.
"Yah.., bagaimana lagi. Kita harus bekerja sama dengan Alexander dalam hal ini. Kakek sangat mempercayai CEO Kavindra Group itu. Kita sampaikan pada kakek, jika Ivona berada di rumah Alexander, dan belum memiliki waktu untuk berkunjung pada kakek." Thomas mengusulkan.
Tommy tersenyum pahit, dia ingat bagaimana dia dan Alexander berkelahi di bandara karena saling menyalahkan tentang perginya Ivona.
"Atau kita hanya bisa berharap., Ivona akan menepati janjinya pada guru piket itu. Ivona menyampaikan jika dia hanya akan pergi ke Hongkong selama satu minggu. Minggu depan, gadis itu semoga sudah sampai kembali ke Indonesia tidak kurang satu apapun." kata Rio penuh harap.
__ADS_1
"Ya.., semoga saja," ucap Thomas dan Tommy bersamaan.
**************
Di Villa Alexander...
"Braakkk.." Alexander membersihkan semua barang yang ada di mejanya dengan menggunakan lengan kanannya.
"Prang..." satu botol Macallan 64 Year Old in Lalique, bersama dengan gelas sloki ikut terbanting dan pecah di lantai kamarnya.
Bi Mina berlari-lari masuk ke kamar Alexander tanpa permisi. Wanita tua itu terkejut melihat penampakan Tuan Mudanya yang tampak berantakan.
"Tuan Muda.., Tuan Muda kenapa??? Apakah Tuan Muda mabuk lagi?" dengan ekspresi khawatir Bi Mina membantu membereskan pecahan botol dan sloki yang ada di lantai.
"Ha.., ha...., ha..., bullshit.." dengan sempoyongan, Alexander berdiri dan tanpa sadar kakinya menginjak pecahan kaca dan mengeluarkan darah.
Bergegas berdiri, Bi Mina membantu Alexander memegangi tubuhnya kemudian mendudukkannya di atas ranjang. Perempuan tua itu memiliki tenaga yang kuat meskipun usianya sudah lanjut. Tinggal mendampingi laki-laki muda itu sejak dia masih bayi, membuatnya sudah hafal akan kelakuan Alexander.
"Tunggu sebentar Tuan Muda.., bibi akan membersihkan luka di kaki Tuan Muda terlebih dulu!" Bi Mina segera mengambil air hangat dan kain kassa. Dengan telaten dan penuh kesabaran, perempuan tua itu membersihkan kaki Alexander dan mencabut pecahan kaca yang masih menancap di kakinya.
Setelah mengoles luka dengan menggunakan salep, Bi Mina membaringkan Alexander di atas ranjang. Laki-laki yang tampak beringas saat tadi, entah mengapa menjadi patuh di hadapan perempuan tua itu.
__ADS_1
"Tuan Muda istirahat dulu ya.., Bibi akan membuat sup penghilang mabuk dulu!"
*************