Revenge: Terlahir Kembali

Revenge: Terlahir Kembali
Chapter 138 Penyempurnaan Konsep


__ADS_3

Setelah setengah hari Ivona mencermati bahasa pemograman dengan coding di ruang kerja bersama dengan tim Marcus.., siang harinya kembali diajak Marcus untuk bersama dengan tim ahli untuk diskusi dengan para expertize, untuk membahas prothotype peralatan medis. Sebuah layar LED menunjukkan gambar tiga dimensi proses pembuatan material peralatan medis sesuai dengan material, dan komposisi peralatan yang sudah pas dengan konsep yang dikirimkan Ivona.


"Lihat gerakan pada image draft product dalam layar, saat mesin ini digerakkan.., ternyata ada satu sisi yang dapat beresiko untuk melukai pasien. Kita harus betul-betul berpikir tentang safety dari semua aspek yang dapat merugikan penggunanya. Kira-kira.., apakah ada yang salah dengan aktivas pabrikan, atau dari konsep awal memang belum matang, tetapi sudah dipaksakan untuk launching?" kelompok praktisi bidang kedokteran melakukan diskusi awal.


Dahi Ivona berkerut, dia melihat ada yang janggal pada konsep yang digambarkan di layar. Tetapi dia menunggu sampai tim ahli selesai mempresentasikan hasil trial error yang sudah mereka lakukan. Matanya fokus pada layar LED, dan sesekali tangannya menulis kejanggalan yang dia temukan.


"Apakah material ikut berpengaruh pada kesuksesan produk? Coba dilakukan pengecekan ulang tentang kualitas bahan yang digunakan, dari kategori yang besar maupun sampai baut yang digunakan." tanya salah satu peneliti senior.


"Riset awal kita sudah menggunakan material fiber glass, yang kita padu dengan bahan-bahan sintetis. Tetapi saat kita uji cobakan, ternyata peralatan menghasilkan hasil analisa yang tidak konsisten. Kita lakukan pengujian selama lima kali, dan ternyata dari kelima hasih tersebut kita temukan ada deviasi hasil." tim penguji menyampaikan hasil analisisnya.


Marcus melirik ke arah Ivona, tetapi melihat keseriusan gadis itu membuat coretan gambar diatas kertas, dia tidak berani mengganggunya. Akhirnya dia ikut diam, dan kembali fokus memperhatikan diskusi.


"Kita masih menunggu tim ahli yang saat ini sedang diajak meeting oleh Kementerian Kesehatan. Semoga besok kita sudah bisa bertemu dan diskusi langsung dibawah koordinasinya." seorang peneliti memberikan informasi.


"Setahu saya kemarin Tim Marcus sudah mendatangkan creator dari draft konsep yang project sedang kita kerjakan ini. Ada dimana dia?" tanya salah satu expertize.


Semua orang berpandangan, dan terakhir tatapan mereka tertuju ke arah Marcus.


"Saya yang membuat konsep, dan sudah saya gambarkan dalam konsep tiga dimensi. Saya minta waktu satu malam, untuk melakukan evaluasi ulang. Sepertinya tadi saya menemukan kejanggalan, tetapi saya sendiri masih ragu." Ivona mengeluarkan suara.


Mendengar suara Ivona, semua orang terdiam. Sebagian dari para expertize berbisik-bisik. Melihat penampilan Ivona yang masih sangat kecil dari sisi usianya, muncul keraguan pada peserta diskusi. Mereka saling berpandangan, dan menutup mulut mentertawakan Ivona. Tidak lama kemudian, salah satu peneliti senior di luar tim Marcus mengacungkan tangan.

__ADS_1


"Kita disini duduk bersama, dan hampir satu bulan kita habiskan waktu untuk uji coba prothotype yang dibuat oleh Nona Ivona. Kita disini berhadapan dengan nyawa manusia, jadi saya harapkan semua serius, dan tidak menganggap alat yang kita buat hanya merupakan sebuah mainan." ucap peneliti tersebut.


"Iya.., wasting time." seru seorang expertize, mereka meragukan penampilan Ivona.


Kasak-kusuk berhembus di ruang pertemuan itu. Ivona hanya tersenyum sinis mendengar kalimat-kalimat yang meragukan konsepnya itu, tetapi dia tidak memiliki minat untuk memberikan tanggapan. Marcus merasa bersalah dan prihatin dengan hal yang dialami Ivona.


"Nona Ivona..., bagaimana pendapat anda, sebagai seseorang yang mengusulkan konsep ini? Ingat.., bahwa ini menyangkut nyawa manusia, bukan sebagai ajang mainan untuk anak-anak seusiamu." ketua expertize bertanya pada Ivona.


Ivona tersenyum, dia tidak marah dengan pertanyaan yang mengandung sarkasme itu.


"Saya sudah menyampaikan statement tadi, mohon ingat kembali apa pernyataan saya." jawab Ivona sambil tersenyum. Dia kemudian berdiri, meninggalkan orang-orang disitu.


**************


"Thank.s Marcus.." tanpa melihat Marcus, Ivona mengucapkan terima kasih. Gadis itu langsung mengambil cangkir, kemudian perlahan menyesapnya.


"Richard sedang menyiapkan roast bread untukmu. Jangan khawatir dengan rasanya, Riichard biasa menjadi chef bagi kami jika kita sedang melakukan camp. Masakannya sangat lezat." Marcus mempromosikan masakan Richard.


"Okay.., aku akan mencobanya. Marcus.., aku tadi melihat ada sesuatu yang janggal dalam konsep yang dipresentasikan. Apakah kamu yakin tidak ada kesalahan atau sengaja ada penggantian dari komponen yang sudah saya usulkan?" tiba-tiba Ivona mengajak Marcus diskusi.


"Menurut kaca mataku bukan janggal Iv.., tapi seperti ada yang kurang presisi dari sisi kaki-kai penyangganya. Tetapi tadi aku khawatir ucapanku salah, karena dirimu yang menciptakan saja no comment." Marcus menyampaikan hasil analisisnya.

__ADS_1


"That.s right Marcus.., dari melihat foto produk tadi aku sudah agak ragu. Tapi aku akan menyempurnakannya lagi. Beri aku waktu satu jam lagi!" Ivona membenarkan pemikiran Marcus.


"Excuse me.., ayok istirahat dulu. Kita sudah berpikir marathon dari kemarin. Sekarang sudah jam 2 dini hari." tiba-tiba Richard datang menghampiri Marcus dan Ivona yang masih berbicara.


Ivona menoleh ke arah Richard, dan senyuman terbit dari bibirnya saat Richard memberikan piring kecil lengkap dengan garpu dan sendok. Gadis itu mengalihkan pandangannya pada roasted bread buatan Richard, kemudian tanpa bicara dia langsung mengambil piring dari Richard, kemudian langsung menikmatinya.


"Wow... delicious. Good job Richard..." Ivona mengacungkan jempol tangannya, dia memuji masakan Richard.


"Of course.., bagaimana Ivona.., apakah siap memilihku menjadi suami? Aku siap menyajikan menu makanan bervariasi setiap hari." Richard mengajak Ivona bercanda.


"Memang kebutuhan Ivona hanya makan saja Richard..? Itu maumu.." protes Marcus sambil melempar pulpen pada Richard.


"Lha.., kenapa juga kamu yang protes Marcus.., jika kamu menyukai Ivona, katakan dong! Bisa-bisa keduluan aku nembaknya, ditinggal kamu jadinya." kelakar Richard, tapi perkataan itu seakan menghujam perasaan Marcus. Laki-laki itu sejenak terdiam, dan Richard perlahan meninggalkan dua orang itu sendiri. Marcus kembali melihat keseriusan Ivona.., sesekali Ivona membuat konsep secara manual kemudian mengaplikasikan pada perangkat komputernya. Laki-laki itu kemudian berdiri di samping gadis itu.


"Coba garis ini kamu tarik sedikit ke atas." Marcus memberi sedikit arahan pada Ivona. Gadis itu menuruti usulan Marcus. Kira-kira satu jam dua orang itu berkolaborasi memperbaiki kesalahan-kesalahan, dan tepat pada puku 03.15 menit, sebuat konsep yang sempurna tersaji di depan mata mereka.


"Aha..., akhirnya Marcus. Besok langsung kita bawa ke laboratorium saja." usul Ivona yang terlihat puas memandang hasil karya kolaborasi mereka.


"Okay.., aku akan mengantarmu."


****************

__ADS_1


__ADS_2