Revenge: Terlahir Kembali

Revenge: Terlahir Kembali
Chapter 193 Ingin Kembali


__ADS_3

Setelah kejadian one night stand, Vaya tidak mau lagi pulang ke rumah yang ditempati kakaknya. Rasa dendam pada kakak dan temannya Rossie berada di ubun-ubun. Begitu Nathan menawarinya untuk tinggal bersamanya di mansion, Vaya langsung menerima. Gadis itu berpikir jika melalui Nathan, dia akan mendapatkan kembali dukungan sumberdaya untuk gaya hidupnya yang sudah terlanjur hedon.


"Kita langsung ke mansion-ku atau masih ada tempat lain yang akan kamu tuju honey..?" dengan tatapan mesum, Nathan bertanya pada Vaya. Saat ini hari sudah menunjukkan pukul 11.00 siang, dan Nathan sampai tidak berangkat ke perusahaan karena menenangkan dan ingin membawa Vaya pulang.


"Langsung ke mansion.., aku tidak mau lagi melihat wajah Rossie ataupun John.." dengan jawaban judes, Vaya menanggapi pertanyaan Nathan. Vaya berpikir, tidak ada manfaatnya kembali dengan kakaknya John, bukannya dia akan dibantu, tetapi dia merasa akan mendapatkan penindasan dari laki-laki itu.


"Siap my queen, ayo aku angkat kamu langsung menuju mobil." melihat Vaya yang masih mengeluh kesakitan jika kakinya dipakai berjalan, Nathan langsung mengangkat tubuh Vaya dengan bridal style dan langsung membawanya menuju ke depan lobby. Melihat kedatangan Tuannya, sopir Nathan langsung membukakan pintu mobil untuk mereka. Bukan hanya sekali ini, driver Nathan melihat Bossnya pulang membawa perempuan. Hampir setiap hari, Nathan akan membawa pulang perempuan yang selalu berganti-ganti.


Baru saja Nathan mendudukkan Vaya ke kursi mobil di sisi tengah, tiba-tiba terlihat John berlari menghampiri mereka.


"Vaya.., Vay... mau kemana kamu?? Ayo kita kembali pulang.., kakak sudah menunggumu disini sejak tadi malam." John mengibaskan tangan Nathan yang menghalanginya untuk memegang adikknya.


"Aku tidak kenal siapa kamu. Nathan.., cepat bawa aku pergi  dari para opportunis-opportunis seperrti mereka!" Vaya berbicara dengan suara keras, meminta Nathan untuk segera membawanya pergi dari situ. Nathan tersenyum licik.., tangannya bergerak menyingkirkan tangan John yang masih berpegangan sisi pintu mobil.


"Tuan John.., maaf, aku harus segera membawa pergi ratuku." sambil menundukkan kepala, Nathan memberi hormat pada John, kemudian menutup pintu mobil dengan kencang. John terhenyak, dia tidak mampu mengambil sikap apapun untuk memaksa Vaya untuk turun dan pergi bersamanya. Dia memahami bagaimana kekuatan Nathan di kota ini.


*****************

__ADS_1


Di Villa atas bukit


Ivona menyiapkan makan malam untuk berdua dengan suaminya, di pinggir kolam renang yang ada di samping rumah. Gadis itu akhir-akhir ini suka melihat kerlap-kerlip bintang di langit, dan deburan ombak yang membentur karang di bawah sana. Separo bulan yang terlihat di langit, tampak memperindah penampakan di malam itu.


"Terima kasih Nana.., akhir-akhir ini aku merasa kalau istriku sedikit lebih romantis. Tahu bagaimana menjamu pasangan, dan menyenangkan hatinya." sambil tersenyum, Alexander menggoda Ivona. Pipi Ivona langsung memerah mendengar ucapan itu.


"Terima kasih juga kak Alex.., terima kasih bisa menghargai karya dari istri cantiknya." ucap Ivona sambil menyiapkan piring untuknya. Terlihat suaminya sedang mengiris steak, membentuk kotak-kotak kecil untuk satu suapan dengan menggunakan pisau makan. Setelah selesai, Alexander mengambil piring yang ada di depan Ivona, kemudian menggantinya dengan piring yang sudah berisi potongan-potongan kecil steak.


Tanpa bicara, Ivona langsung menusuk potongan daging itu dengan menggunakan garpu, kemudian memasukkannya ke mulutnya.


"Apa yang tadi kalian bicarakan?? Tommy dan Caroline jadi berkunjung kesini kan?" Alexander menanyakan tentang kedatangan kakaknya.


Laki-laki itu tersenyum, dia memaklumi bagaimana sikap Tommy. Karena pada dasarnya hampir semua laki-laki tidak begitu suka berurusan dengan pembicaraan perempuan.


"Oh ya kak.., hampir Ivona lupa. Esok malam, kak Tommy dan Caroline mengajak kita untuk datang di acara pemutaran perdana film kita. Itu lho, film hasil adaptasi syair lagu yang digubah Ivona." Ivona memberi informasi pada Alexander.


"Di bioskop mana film itu akan diputar?? Jika kamu ingin menontonnya, pasti kakak akan luangkan waktu untuk menemanimu." kata Alexander sambil melihat Ivona.

__ADS_1


"Di pusat hiburan terpadu kak..., agak hati-hati juga sih kalau kesana sendiri, Banyak orang-orang ga jelas pasti akan berkumpul jadi satu disana." tanpa sadar, Ivona mengucapkan kekhawatirannya untuk dapat datang di tempat itu. Aleaxander menghentikan makannya sebentar.


"Tommy pasti akan memilih bioskop yang ada disitu. Karena kakakmu ikut memiliki saham di bioskop tersebut. Meskipun banyak orang yang datang di pusat industri tersebut, tidak banyak orang yang tidak jelas asal-usulnya akan memasuki lokasi itu. DIbutuhkan untuk merogoh kocek yang dalam, jika ingin menikmati hiburan di gedung itu." Alexander mengenal dengan baik, lokasi yang akan digunakan untuk pemutaran perdana film.


"Benarkah kak Tommy ada saham disitu?? Pantas saja.., maunya sih lihat film di bioskop yang hanya khusus ada bioskop dan cafe saja. Cenderung lebih sepi.., tapi  ya sudahlah.. " ucap Ivona sambil melanjutkan makannya.


Beberapa saat Alexander dan Ivona menghabiskan makan malam, dan akhirnya mereka sudah menyelesaikannya.


"Nana..., mau masuk ke dalam, atau masih mau berada disini?" Alexander menanyakan pada Ivona.


"Kalau kakak mau istirahat, kak Alex masuk duluan saja ya. Alena masih ingin menikmati angin malam sambil melihat bintang-bintang disini. Nanti jika Ivona mengantuk.., langsung masuk kembali ke dalam." ucap Ivona. Gadis itu kemudian berdiri, dan berjalan menuju kursi panjang yang ada di sisi pagar. Alexander melihatnya sebentar, kemudian laki-laki iyu bergegas masuk ke dalam rumah.


"Kenapa ya tiba-tiba aku merasa melow begini??? Aku merasa akan meninggalkan tempat ini, dan tidak akan kembali lagi." tiba-tiba Ivona bertanya pada dirinya sendiri. Dia merasa bingung, karena beberapa kali saat sedang tidur siang., seakan-akan ada yang memisahkannya dengan Alexander.


"Apakah aku akan kembali ke kehidupanku yang dulu??" Ivona tersenyum sendiri, membayangkan bagaimana penampilannya dalam kehidupannya yang dulu. Sebagai gadis barbar yang lebih banyak hidup di jalanan, dan akhirnya harus berakhir di jalanan pula. Mamanya di masa lalu, menyembunyikan identitasnya sebagai gadis jenius, karena banyak pihak yang mengincar keselamatannya.


"Anginnya kencang.., pakai pashmina ini!" tiba-tiba Alexander sudah berdiri di belakangnya. Dengan penuh perhatian, Alexander memasangkan pashmina di punggung dan pundak Ivona. Laki-laki itu seakan tidak mengijinkan jika angin malam membuat istrinya merasa kedinginan.

__ADS_1


Ivona menatap mata suaminya, Alexander tersenyum, kemudian laki-laki itu duduk di samping gadis itu. Tangan kanannya merangkul pundak istrinya, kemudian menyandarkan kepala Ivona di bahu kanannya.


************


__ADS_2