Revenge: Terlahir Kembali

Revenge: Terlahir Kembali
Chapter 61 Lukisan Tangan


__ADS_3

Mendengar ucapan Thomas tentang uang saku sedikit yang diberikan Nyonya Iswara pada Ivona, Kakek sangat marah. Dengan tatapan sengit, kakek melihat pada Nyonya dan Tuan Iswara.


"Sekarang aku akan bertanya pada kalian berdua. Untuk apa semua harta dan uang yang kalian miliki, yang semuanya kamu dapatkan dari perusahaan yang aku dirikan?? Bisa-bisanya kalian memperlakukan cucu kandungku demikian ironisnya?" dengan suara tinggi sambil bergetar, kakek bertanya pada papa dan mama Ivona.


Nyonya Iswara melihat ke arah Tuan Iswara, tetapi suaminya itu hanya diam tidak berusaha membelanya. Perempuan paruh baya itu merasa jengkel, karena dia menjadi satu-satunya orang yang disalahkan oleh kakek saat ini. Dan saat ini tidak ada seorangpun yang mau menolongnya, bahkan Thomas hanya melihatnya masa bodoh.


"Jawab pertanyaanku!! Apakah telinga kalian tidak bisa mencerna kalimatku?? Sama anak kandung sendiri, tidak bisakah kalian lebih memperhatikannya, mencukupi semua apa yang dia butuhkan?" kakek masih melanjutkan luapan emosinya pada papa dan mama Ivona.


"Kakek.., minum teh panas dulu ya!! Biar dada kakek tidak sesak, dan kurangi marah-marahnya biar kakek jadi lebih fit dan bertenaga." tiba-tiba Ivona memberikan satu cangkir teh panas pada kakeknya sambil tersenyum manis.


Kakek melihat ke arah Ivona, dan gadis itu dengan mantap menganggukkan kepalanya. Melihat tatapan tulus Ivona dan senyumannya, hati kakek menjadi lega kembali. Dia segera mengambil cangkir teh dari tangan cucunya, kemudian minum dua tegukan. Melihat kakeknya sudah minum, Ivona langsung mengambil kembali cangkir dan meletakannya di atas meja.


"Terima kasih sayang, kamu memang cucu kakek yang sangat pengertian." kakek kembali memuji Ivona. Pujian itu membikin rasa sakit di hati Vaya, dengan muka sewot dia melirik ke arah Ivona.


Setelah meletakkan cangkir, Ivona mengambil sebuah kotakan dari dalam tas kresek yang dari tadi dia sembunyikan di belakang tempatnya duduk.


"Ivona punya hadiah untuk kakek, tapi hadiahnya tidak mahal kakek karena uang Ivona tidak cukup jika harus membeli hadiah mahal untuk kakek. Apakah kakek mau menerimanya?" tanya Ivona dengan tatapan polos.


"Pasti mau Nana.. Kalau hadiah mahal, kakek masih punya banyak uang untuk membelinya sendiri. Jika kakek tidak mampu datang ke tempat penjualnya, dengan mudah kakek bisa membelinya secara online." kata kakek sambil tersenyum.


Ivona kemudian memberikan kotak hadiah yang dia bungkus dengan kertas kado dengan motif batik. Dengan muka berbinar, kakek menerima kado yang diberikan cucunya kemudian membukanya secara perlahan.


"Nana..., siapa yang melukis wajah kakek ini?" kakek terbelalak melihat lukisan tangan yang menggambarkan wajahnya tersenyum sambil memegang cerutu. Tampak aura kewibawaan yang jelas terlihat dari sketsa tersebut.


"Ivona kakek yang melukisnya sendiri. Kenapa.., jelek ya kek?" dengan agak takut Ivona menjawab pertanyaan kakeknya.

__ADS_1


"Kesini cucuku..., kakek ingin memelukmu. Lukisan ini sangat bagus, kakek tidak menyangka jika cucu kakek ternyata sangat pintar menghasilkan karya buatan tangan sendiri. Kakek terharu sayang, kamu menghabiskan waktumu hanya untuk memberikan karya ini. Kakek sangat menyukainya." dengan mata berlinang karena rasa haru, Kakek memeluk Ivona dengan erat.


Melihat bagaimana keintiman kakek dengan Ivona, ekpresi Vaya menjadi sangat kesal. Dia menahan emosinya sampai gemetar, dan melihat reaksi putrinya itu Nyonya Iswara langsung menggenggam tangannya.


"Kapan-kapan kakak juga mau kamu ajari melukis Ivona. Atau kamu juga melukiskan wajah kakak." Thomas ikut berbicara untuk mengangkat mood kakek.


"Kalau pas Ivona ga ada kerjaan ya kak. Untuk saat ini kan Ivona harus banyak mengejar ketertinggalan materi pelajaran." Ivona membuat alasan untuk menolak Thomas.


"Kamu ini Thomas..., malah mau nambahi kerjaan adikmu. Harusnya kamu yang membantu Ivona untuk mengejar materi pelajarannya, jangan malah membuatnya tambah kerjaan." sahut kakek membela Ivona.


"Iya kek ampun..., Thomas janji deh. Akan selalu berada disamping Nana." mendengar perkataan Thomas, kakek dan Ivona langsung tertawa.


Melihat ketiga orang tertawa di depannya, Vaya semakin merasa sesak dan emosi. Hadiah seharga milyaran rupiah yang dia berikan untuk kakek, ternyata tidak ada harganya dibandingkan dengan lukisan tangan Ivona.


"Harusnya aku satu-satunya Nona Besar di keluarga Iswara, andai saja gadis itu tidak muncul." dengan geram, Vaya berbicara pada dirinya sendiri.


 


 


***************


 


Sampai menjelang malam, kakek masih bercengkerama dengan Ivona dan Thomas. Nyonya dan Tuan Iswara, juga Vaya hanya memandangi mereka dengan tatapan kesal. Mau tidak mau mereka harus ikut menunggui sampai kakek beristirahat masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


"Kakek.., Vaya kemarin baru pulang dari tur piano. Respon penonton sangat bagus sekali, bahkan pengamat music sampai melakukan standing applause untuk Vaya." kata Vaya untuk mengambil hati kakek.


"Hm." respon kakek singkat, dan kembali memandang Ivona dan Thomas.


"Bagaimana dengan guru-gurumu, apakah mereka bersikap baik padamu?" Kakek malah bertanya pada Ivona.


"Baik kek.., dan tadi siang, Ivona malah kaget. Kenapa juga guru Fisika Ivona tiba-tiba menunjuk untuk menjadi wakil pelajaran Fisika. Padahal Ivona yakin, di kelas yang lebih jago pasti ada." Ivona menceritakan tentang kejadian terakhir di kelas Fisika.


"Wah hebat sekali cucu kakek sekarang.. Pokoknya kakek minta, kamu harus terus belajar lebih giat." wajah kakek terlihat sangat cerah, dan semakin membuat ketiga orang di depannya semakin kesal.


Tiba-tiba Nyonya Iswara memberi isyarat pada Vaya untuk mengambilkan kue untuk kakeknya. Tanpa berpikir panjang, Vaya mengambilkan satu potong cake pisang dan kemudian mendekati kakek.


"Kakek..., ini cake pisangnya enak lho kek, sangat legit. Kakek cicipi dulu ya?" dengan bermuka manis, Vaya memberikan piring kecil yang berisi potongan cake untuk menyenangkan hati kakeknya.


"Vaya.., apakah kamu tidak tahu jika kakek harus mengurangi gula. Cake itu tidak cocok untuk diet kakek." Thomas langsung berkomentar terhadap sikap Vaya.


Kakek hanya memandang Vaya sekilas dengan tatapan sinis, dan Vaya merasa serba salah.


"Maafkan Vaya kek.., Vaya lupa jika kakek baru diet." Vaya dengan muka merah menghitam segera menarik kembali piring kecil yang akan dia serahkan pada kakek.


Tiba-tiba terlihat pelayan menghampiri mereka, dan memberi informasi jika ada dua orang tamu yang akan bertemu dengan Tuan Iswara.


"Langsung kamu minta masuk saja, dan bergabung dengan kita disini!" Tuan Iswara langsung memberi instruksi.


"Baik Tuan." pelayan rumah segera bergegas keluar untuk menemui tamu.

__ADS_1


Tidak berapa lama, dua orang pria muda berjalan masuk ke ruang keluarga. Semua mata disitu melihatnya, dan pandangan mereka terpusat pada salah satu pria yang berdiri di samping satu tamu yang sudah terbiasa dengan Tuan Iswara. Mata Vaya dan Nyonya Iswara langsung menyala kembali.


*************


__ADS_2