
Kaki Ivona mempermainkan pasir laut Repulse Bay.., akhirnya keinginannya untuk berada di pantai ini dapat tertunaikan. Gadis ini menghirup udara laut yang langsung masuk ke rongga paru-parunya. Alexander menunggui gadis itu dengan memainkan ponsel, dan secara candid mengambil foto Ivona. Setelah Ivona menyampaikan keinginannya untuk ke tempat itu, Alexander langsung memonopoli Ivona, tidak sedikitpun membiarkan Marcus, Richard maupun Michael dapat mendekati perempuannya itu. Meskipun laki-laki itu belum memberikan komitmen apapun pada Ivona, tetapi sikap mendominasi gadis itu sangat jelas terlihat. Dan anehnya, Ivona menurut dan tidak berani memberikan bantahan terhadap Alexander.
Perlahan Alexander berjalan mendekati Ivona, dan dia berdiri di samping gadis itu.
"Malam ini kita langsung balik ke Indonesia, dari pantai orang-orangku akan membawa kita langsung ke airport." dengan nada memerintah, Alexander berbicara pada Ivona yang masih bermain air.
"Maksud kak Alex..? Apakah sedemikian mudahnya kakak akan membawaku keluar? Kakak tidak menanyakan pada Ivona.., untuk apa dan dengan siapa Ivona berada di negara ini?" Ivona merasa bingung, akhirnya dia memberanikan bertanya pada laki-laki yang terkadang bersikap dingin, kadang protective, dan kadang menawarkan madu yang manis.
"Semua itu tidak penting bagiku. Semua barang-barangmu sudah diurus sama anak buahku disini. Jangan pikirkan apapun, nikmati apapun yang kamu inginkan disini. Sebentar lagi kamu akan ikut denganku." ucap Alexander dingin dengan nada mendominasi.
"Tapi kak.., paling tidak beri waktu Ivona untuk membereskan urusan dengan teman-teman Ivona disini. Ivona sudah terikat kontrak kak.." Ivona berusaha memohon pengertian pada laki-laki muda itu. Dia masih ingin menyelesaikan penelitian baru dengan Marcus dan tim, meskipun tidak tertulis dalam kontraknya.
"Kamu sudah hampir dua minggu tertinggal pelajaranmu di sekolah. Kembali pulang bersamaku, dan segera lanjutkan sekolahmu sampai lulus. Setelah lulus, baru kamu bisa memikirkan langkah pendidikanmu selanjutnya." tanpa memahami perasaan Ivona, Alexander tetap memaksa untuk membawa Ivona kembali pulang.
"Kakak jahat.., menjadikanku sebagai orang yang tidak memiliki tanggung jawab.." ucap Ivona sambil merajuk. Gadis itu akan berlari ke tengah, tetapi kedua tangan Alexander tiba-tiba sudah mengikatnya erat dari belakang.
"Aku tidak akan membiarkanmu terlalu lama berdekatan dengan para laki-laki hidung belang itu." Alexander berbisik di telinga Ivona, dagu laki-laki itu dia letakkan di atas bahu gadis itu.
"Tugasmu saat ini hanya menyelesaikan sekolahmu, peroleh tanda kelulusan. Itu saja, jangan pikirkan untuk berbuat sesuatu yang lain! Aku sudah menyiapkan masa depanmu." lanjut Alexander.
"Egois.., kenapa kakak tidak melakukan pada Evan adik kandung kak Alex? Malah memaksakan kehendak padaku." Ivona melayangkan protes.
__ADS_1
"Kamu dan Evan berbeda, jangan bandingkan dirimu dengan anak kecil itu!" sahut Alexander tanpa toleransi.
Merasa jengah dengan yang dilakukan oleh Alexander, Ivona berusaha melepaskan diri darinya. Tetapi ikatan tangan laki-laki itu semakin erat memeluknya, dan tanpa dia sadari tubuh Ivona sudah berada di kedua tangan Alexander. Tanpa bicara, Alexander sudah mengangkat Ivona dengan gaya bridal style dan membawanya kembali ke pinggir pantai
.
************
"Richard.., apakah kamu tahu ada dimana Ivona?" Marcus bertanya dengan suara keras pada Richard. dari tadi dia mencoba menghubungi nomor ponsel gadis itu, tetapi tidak digubris oleh gadis itu. Sejak pagi, Marcus mencari Ivona dengan mengetuk pintu kamarnya, tetapi tidak ada jawaban dari dalam.
"Aku belum lihat Ivona dari pagi Marc.. Atau kenapa tidak kamu tanyakan pada Michael.., setahuku dari tadi malam Ivona pergi keluar dengan laki-laki itu." sahut Richard dengan pandangan mata tetap di layar komputer.
"Laki-laki itu memang perlu diberi suatu peringatan. Untuk apa sejak kemarin-kemarin dia mendekati Ivona terus. Apakah dia tidak tahu, siapa yang membawa gadis itu kemari?" mendadak nada bicara Marcus menjadi kurang bersahabat.
"Sebentar.., sebentar.., apakah sahabatku Marcus mengisyaratkan pada kita hari ini, jika kamu sedang merasa cemburu?" Leony memberanikan diri bertanya pada Marcus.
Marcus diam tidak menjawab, laki-laki itu malah melangkah keluar meninggalkan ruangan komputer. Tiba-tiba sekelebat Marcus melihat bayangan Michael sedang memasuki ruangan Direktur. Bergegas Marcus mengejar laki-laki itu, untuk melakukan konfirmasi apakah dia mengetahui keberadaan Ivona.
"Mike..., tunggu sebentar!" Marcus berteriak memanggil Michael yang akan masuk ke dalam ruangan.
Michael berhenti, dan dengan dahi berkerut laki-laki itu menatap wajah Marcus yang tampak kusut.
__ADS_1
"Ada apa Marc..?" Michael langsung bertanya ada urusan apa dengannya.
"Kamu ada lihat Ivona tidak.., sejak dari tadi pagi aku belum ketemu dengan anak itu. Tadi akan aku ajak kesini, gadis itu juga tidak ada di kamarnya." Marcus langsung menanyakan keberadaan Ivona.
Michael tersenyum, laki-laki itu menepuk bahu Marcus dengan pelan. Laki-laki itu membatin jika Marcus ada ketertarikan dengan Ivona.
"Sudahkan kamu menanyakan pada laki-laki yang menemani Ivona tadi pagi. Aku sempat melihat laki-laki itu tadi pagi di restaurant, dia sedang menyuapi gadis itu." ucap Michael tanpa berbohong.
"Laki-laki.., jangan mengacau kami Mike...! Ivona datang ke negara ini karena upayaku untuk mengajaknya kemari, dan itu atas persetujuan dari Direktur juga. Dia tidak memiliki siapapun disini.." Marcus tidak percaya dengan omongan Michael.
"Marcus.., ingat pesanku! Jangan remehkan Ivona, dia bukan gadis sepolos yang ada dalam pikiranmu. Tanpa bantuanmu.., gadis itu besok pagi sudah bisa kembali ke negaranya, atau paling tidak meninggalkan negara ini." Michael langsung meninggalkan Marcus yang masih terbengong, memikirkan perkataan Michael.
Sesaat setelah Marcus tersadar, Michael sudah masuk ke ruangan Direktur. Sambil kembali menuju ruangannya, Marcus memikirkan kata-kata yang disampaikan Michael.
"Gimana Marc.., sudah ada informasi dimana Ivona?" tanya Leony penasaran.
Marcus hanya menggelengkan kepalanya, laki-laki itu kemudian duduk di depan meja komputernya.
"Lagian kamu itu juga aneh sih Marc.. Kamu kan tahu jika Ivona itu masih anak sekolahan, masak janji di negara ini hanya satu minggu, malah tiba-tiba kamu minta dia nambah satu minggu lagi." Richard tiba-tiba memprotes Marcus.
"Benarkah kata Richard itu Marc.. Kalau benar, sama saja kamu itu bertingkah seperti anak kecil. Semua perempuan manapun jangan terlalu kamu kekang seperti itu Marc.. Toh project baru ini bisa kan dibantu pengerjaannya oleh Ivona dengan tetap berada di negaranya." Leony menambahkan.
__ADS_1
"Iya.., semua menjadi aneh. Dekat dengan gadis itu, jujur saja.., aku jadi ingin menguasai dan memilikinya. Apakah aku memang seperti anak kecil?"
*******************