Revenge: Terlahir Kembali

Revenge: Terlahir Kembali
Chapter 154 Sebelum Ujian


__ADS_3

Hari-hari sekolah dilalui Ivona dengan lebih baik. Torehan prestasi satu persatu dihasilkan oleh gadis itu, sehingga seorang gadis yang dulu diabaikan dan bahkan mendapatkan perlakuan bullying dari teman-teman yang merasa lebih hebat sudah tidak lagi. Hanya para murid perempuan yang merasa kalah saing di sekolah sering membuat forum sendiri untuk membicarakan Ivona. Namun demikian karena, mereka tidak memiliki kemampuan untuk mengalihkan Ivona, menjadikan mereka tidak berdaya.


"Ivona..., bagaimana persiapan untuk ujian yang akan mulai hari Senin nanti?? Bantu aku dong,. beberapa catatan aku terlewatkan!" Beni yang pernah cuti untuk tidak masuk sekolah selama satu Minggu sedikit bermasalah dengan catatannya.


"Kayak kamu tidak tahu aku saja Ben..., mana pernah aku punya catatan. Aku hanya mencatat tugas-tugas yang diberikan guru saja. Tidak pernah membuat catatan jika guru menjelaskan." Ivona menjawab pertanyaan Beni dengan meletakkan kepalanya di atas meja. Ivona memang tidak pernah mencatat pelajaran sekolah, tetapi Alexander sering membuatkan ringkasan pelajaran untuknya. Sehingga dengan kemampuan dia sebagai seorang gadis yang genius, ditambah ringkasan dari Alexander, gadis itu terlihat santai untuk mengikuti ujian kelulusan.


William hanya melirik interaksi antara Beni dengan Ivona, dari tempatnya duduk. Laki-laki itu tidak memiliki kemampuan untuk memisahkan hubungan pertemanan antara Beni dan Ivona. Juga setelah beberapa waktu, dia melakukan pengamatan, dia tidak menemukan ada hal yang janggal dari pertemanan itu, akhirnya William membiarkan. Ternyata omongan teman-teman tentang keburukan Beni, saat ini tidak pernah ada lagi.


"Waduh..., terus aku harus gimana dong?? Padahal ujian tinggal tiga hari lagi." ucap Beni dengan penuh kekhawatiran.


"Jika kami khawatir.., pergilah ke toko buku!! Banyak ringkasan dan latihan soal untuk persiapan menghadapi ujian." Ivona memberi saran pada Beni.


"Toko buku??? Sayangnya aku tidak pernah kesana. Apakah kamu mau menemani aku ke toko buku Ivona?" tanya Beni tiba-tiba, dan mengejutkan William yang duduk di samping Ivona. Sontak laki-laki itu memberi pelototan pada Beni. Tetapi Ivona hanya tersenyum.


"Apakah kamu mau bersedia untuk meminta ijin pada penjemputku, agar aku bisa mengantarkan kamu pergi?" tanya Ivona dengan nada bercanda.


Mengingat wajah Alexander dengan tatapan mendominasi dan penuh penindasan saat menjemput Ivona, Beni menjadi merinding. Laki-laki itu menjadi bergidik sendiri.


"Lupakan saja Ivona.., aku menyerah saja kalau begitu. Nanti aku akan mencari sendiri saja. Apalagi besok kan hari Sabtu, kita juga ga ada jadwal sekolah." sahut Beni tiba-tiba.


"Baguslah anak baik.. Dah perhatikan depan! Pak Guru sudah masuk tuh!" karena guru kelas sudah memastikan kelas, Ivona meminta Beni memperhatikan ke depan.


William yang hanya menjadi pendengar, ikut mengarahkan tatapan matanya ke depan.

__ADS_1


********


Di Perusahaan Alexander Kavindra


"Tuan Muda..., sepertinya berkas kelahiran Nona Ivona belasan tahun lalu sudah tidak ada. Saya sudah mengirimkan beberapa orang untuk melakukan penyelidikan dan ikut mencari sendiri tapi tetap tidak bisa menemukannya." Rico asisten Alexander melaporkan hasil kerja cepatnya.


"Apakah kamu tidak bisa mengenalku? Apakah aku adalah orang yang bisa menerima kegagalan untuk sebuah tugas yang penting seperti ini?" Alexander menjawab perkataan Rico tanpa melihat pada asistennya.


"Ya Tuan Muda, saya paham. Tetapi anak buah kita sudah berhasil menemukan orang yang bertanggung jawab atas kejadian itu. Jika Tuan Muda berkehendak ingin bertemu langsung dengannya, orang itu sudah kita sekap. Tapi jika Tuan Muda tidak bersedia, saya dan teman-teman yang akan mengatasinya." ucap Rico.


"Baik.., nanti malam aku akan langsung menginterogasi orang itu. Atur pertengahanku dengannya? Apakah dari analisis awal, ada keterlibatan dari Direktur Rumah Sakit Jiwa?" tanya Alexander lagi.


"Sepertinya ada Tuan Muda..., karena orang yang sudah kami tangkap itu selalu menggigil dan tanpa sadar, dia menyebut nama Direktur Rumah Sakit Jiwa itu." jawab Rico.


"Pergilah.., kita ketemu lagi setelah malam datang!" Alexander melambaikan tangan mengisyaratkan agar Rico segera pergi. Setelah melihat jarum jam sudah di angka yang menandakan waktunya Ivona keluar kelas, laki-laki itu langsung bangkit dari duduknya.


********


Di depan gerbang sekolah, Ivona melihat Vaya yang sedang berjalan dengan Kelly dan murid perempuan lainnya. Merasa malas untuk meladeni perdebatan yang tidak ada ujung pangkalnya, Ivona memilih untuk menyingkir.


"Ivona..." tiba-tiba gadis itu melihat ada suara laki-laki yang memanggil namanya. Gadis itu kemudian berhenti, dia menoleh ke sumber suara. Terlihat Roy Kumala yang tanpa dia duga berjalan mendekatinya.


"Kamu memanggilku?" tanya Ivona dengan nada datar sambil menunjuk ke arah dirinya.

__ADS_1


"Iya.." jawab Roy Kumala lirih.


Ivona diam, dia menunggu apa yang akan disampaikan laki-laki itu yang sudah jelas menolaknya. Tetapi melihat reaksinya saat ini, Ivona merasa ada hal penting yang akan disampaikan oleh laki-laki itu.


"Apakah kita ada urusan Roy Kumala?" tanya Ivona.


"Aku yang ada urusan denganmu Ivona. Terima kasih kamu sudah mengalah untukku. Akhirnya aku yang ditunjuk sekolah untuk bergabung dengan Olimpiade Komputer. Guru BK yang menyampaikannya padaku, jika kamu mengalah untukku." ucap Roy Kumala tiba-tiba.


"Huh..., tidak ada kaitannya denganku Roy.. Jangan buat, seolah-olah aku punya jasa besar padamu." dengan menaikkan satu sudut bibirnya ke atas, Ivona menanggapi perkataan Roy Kumala.


"Apapun yang kamu ucapkan Iv.., aku senang ternyata kamu masih perhatian padaku." ucap Roy Kumala tak tahu malu.


"Banyak manfaat yang aku peroleh dari acara itu,.. dan bahkan pihak dari komputer nasional ternyata sangat menginginkan untuk bertemu denganmu. Mereka banyak bertanya tentangmu padaku." mendengar kalimat terakhir yang disampaikan laki-laki itu, Ivona sedikit terkejut. Dia menatap Roy Kumala dengan penuh tanda tanya, informasi apa yang diberikannya pada pihak komputer nasional. Tetapi dengan cepat Ivona menutup rasa penasarannya.


"Sudah selesai?" tiba-tiba tanpa Ivona tahu, Alexander sudah berdiri di sampingnya. Laki-laki itu dengan lembut bertanya pada Ivona.


Roy Kumala mengerenyitkan keningnya melihat kemunculan laki-laki yang memiliki aura mendominasi itu. Dari saat pertama, Roy Kumala melihat Alexander saat di Jakarta, dia sudah memiliki banyak pertanyaan dengan identitas laki-laki itu. Hubungan apa antara Alexander dengan Ivona, menjadi tanda besar baginya.


"Sudah kak. Apakah lama kakak menunggu?" tanya Ivona mengacuhkan keberadaan Roy Kumala.


"Tidak masalah.., ayo kita langsung pulang saja!" Alexander langsung meletakkan tangan di punggung Ivona, dan mengajak gadis itu untuk segera menuju mobil.


Roy Kumala memandangi kedua orang yang berjalan meninggalkannya, tanpa bisa mengeluarkan suara. Tiba-tiba tatapan sinis dan membunuh diarahkan Alexander padanya.

__ADS_1


********


__ADS_2