Revenge: Terlahir Kembali

Revenge: Terlahir Kembali
Chapter 207 Ajakan Gala Dinner


__ADS_3

Satu hari setelah tindakan operasi


"Pertemukan aku dengan Dokter Ivona.., aku akan menyampaikan apresiasi untuknya." Richard meminta Direktur Rumah Sakit untuk mempertemukannya dengan Ivona. Keberhasilan Ivona menjadi Dokter utama yang melakukan tindakan operasi terhadap papanya, membuat laki-laki itu ingin mengenal lebih jauh terhadap dokter itu.Saat ini mereka berada di ruang kerja Direktur Rumah Sakit. Merasa tidak memiliki dokter dengan nama Ivona, Direktur merasa bingung.


"Siapa yang Tuan cari? Di rumah sakit ini, tidak ada dokter bernama Ivona. Mungkin Tuan Richard salah mendengarnya." ucap Direktur kebingungan. Berkali-kali Direktur itu melihat lembar daftar dokter yang dipekerjakan rumah sakit itu, tetapi satupun tidak ada yang bernama Ivona. Tidak hanya Tuan Richard, sudah ketujuh kali orang-orang penting di negara ini menanyakan tentang identitas Dokter Ivona.


"Aku bisa merekomendasikanmu untuk dipecat dari rumah sakit ini Direktur. Apakah kamu berpikir, jika aku kehilangan pendengaran. Jelas-jelas Dokter Marcus mempertemukan aku dengan Dokter Ivona.., aku berniat baik. Aku hanya ingin menyampaikan ucapan terima kasih dan apresiasi atas keberhasilanya melakukan tindakan operasi untuk papa. Cepat carikan informasi!" dengan nada tinggi, Richard berbicara pada Direktur.


"Sebentar Tuan Richard.., semoga tidak ada kesalah pahaman disini. Laporan yang dikirim ke meja saya, operasi Tuan Frans dipimpin langsung oleh Dokter Marcus dan didampingi Dokter Anestesi dan beberapa perawat. Tidak ada tertulis di laporan juga di rekam medis, jika operasi dilakukan oleh Dokter Ivona." belum selesai Direktur menjelaskan, Richard sudah mengambil laporan itu dari tangan Direktur. Richard membaca sendiri hasil laporan tersebut, dan laki-laki itu tidak melihat ada nama Dokter Ivona disitu.


"Jika begitu.., aku akan mencari tahu dari Dokter Marcus.. Pertemukan aku dengan dokter itu sekarang!" merasa tidak dapat menekan Direktur, Richard minta dipertemukan dengan Dokter Marcus. Mendengar permintaan itu, Direktur kembali menatap Tuan Richard.


"Tuan.., maafkan saya!! Untuk menjaga hubungan baik rumah sakit ini dengan Dokter Marcus.., kami tidak bisa memberikan informasi tentang dokter tersebut. Dokter Marcus juga bukan dokter tetap di rumah sakit ini, beliau hanya kita minta untuk membantu menangani pasien-pasien yang memang todak dapat diobati oleh dokter-dokter tetap disini." kembali Direktur minta maaf, karena tidak dapat memenuhi permintaan dari tuan Richard.


Mendengar perkataan Direktur, muka Tuan Richard terlihat merah menahan marah. Dengan mata tajam, laki-laki itu berjalan lebih mendekat pada Direktur. Tidak diduga, tangan Tuan Richard mencengkeram krah baju yang dikenakan Direktur.


"Kamu tidak tahu siapa aku ya..?? Apakah kamu berpikiran jika aku akan menghabisi dokter-dokter itu? Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih padanya. Itu saja.." teriak Tuan Richard di telinga DIrektur.

__ADS_1


Direktur merasa ketakutan, laki-laki itu berpikir tentang kode etik rumah sakit, tetapi juga berpikir keselamatan diri dan keluarganya. Akhirnya setelah menghela nafas, Direktur akan memberikan clue jawaban.


"Dengarkan saya dulu Tuan Richard. Dokter Marcus adalah peneliti senior di laboratorium pusat untuk peralatan medis, dan juga elektromedis. Hanya untuk kategori tindakan operasi tertentu, Dokter Marcus akan kita pekerjakan. Itupun ada beberapa persyaratan dan ketentuan yang harus kita sepakati bersama. Saya berharap Tuan Richard akan mencari informasi sendiri tentang Dokter Marcus." akhirnya setelah Direktur menjawab, Tuan Richard melepaskan cengkeramannya kemudian berjalan menuju pintu keluar.


Direktur rumah sakit mengambil nafas lega, segera direktur itu mengambil air minum kemudian menenggaknya sampai habis.


***********


Ivona terbangun saat mendengar panggilan masuk untuknya, gadis itu segera mengambil ponselnya dan melihat Marcus yang sedang memanggilnya. Dengan perasaan malas, Ivona segera menerima panggilan tersebut.


"Gimana Marc...?? Aku lagi bangun tidur nih." dengan nada serak khas bangun tidur, Ivona menyapa Marcus.


"Marc.., bukan karena ini kan kamu ganggu tidur aku. Cepet katakan.., apa yang akan kamu beri tahu padaku!" merasa Marcus tidak to the point.., Ivona berbicara dengan nada sedikit malas. Marcus tersenyum, dia sudah hafal bagaimana pembawaan gadis itu, sehingga tidak pernah muncul rasa marah dan kesal menghadapi Ivona.


"Iya..., iya... Iv.., temani aku gala dinner ya, please! Ntar malam aku jemput jam 18.30, ya." seperti yang sudah diduga Ivona.., Marcus meminta bantuannya.


*"What the f*uck??? Kamu gila ya Marc..., acara gituan ajak aku. Mendingan deh kamu ajak Ester.., aku tidak ada kecocokan untuk datang di acara seperti itu. Kalau hadir di acara kondangan, boleh lah ajak-ajak aku, tamu-tamu yang dateng asyik-asyik ga pakai banyak polesan sana-sini." Ivona menolak ajakan dinner tersebut. Gadis itu memang kurang menyukai acara-acara seremony yang bersifat kemewahan. Dia merasa muak dengan polesan dan tipu daya dunia, jauh dari keadaan sebenarnya.

__ADS_1


"Janganlah seperti itu padaku Iv... Kamu tahu kan.., aku tidak memiliki teman dekat perempuan, cuman kamu Iv.. yang bisa aku ajak. Masa sih kamu tega, biarkan aku jadi di bully-an teman-temanku di gala dinner nanti malam. Please ya..." Marcus terus merayu Ivona. Gadis itu menghela nafas..


"Okaylah.., tapi kalau kamu aneh-aneh disana. Aku tidak akan segan-segan meninggalkan kamu untuk pulang duluan," berpikir tentang sudah sangat lama mereka berteman, akhirnya Ivona menyetujui ajakan Marcus.


"Terima kasih my queen.., sebentar lagi orang dari Butik Gunawan akan datang ke rusun. Aku kirimkan baju pesta untuk nanti malam. Siapkan dirimu Ivona.." dengan perasaan bahagia, Marcus mengirimkan orang butik untuk mengantarkan outfit yang akan digunakan Ivona nanti malam.


Malas mendengar gombalan-gombalan Marcus.., Ivona mengakhiri panggiran telpon secara sepihak. Perlahan gadis itu beranjak dari ranjang kemudian menuju ke wastafel untuk mencuci muka. Kesegaran terasa mengalir di wajahnya, saat air dingin membasuh wajahnya. Gadis muda itu kemudian menengok jam dinding, dan waktu masih berada di angka pukul 15.15 menit.


"Masih sore.., gabung anak-anak main di depan dulu saja ah." merasa masih sore, Ivona segera keluar dari dalam kamarnya. Perlahan langkah kaki Ivona menyusuri anak tangga menuju ke lantai bawah, dan terlihat beberapa anak sudah berada di halaman rusun. Gadis itu memilih bergabung dengan anak-anak rusun yang sering bermain bola atau volly di halaman tersebut.


"Kakak..., sini gabung dengan tim kami!" teriakan gadis ABG terdengar memanggil Ivona. Dengan cepat, Ivona berjalan menuju lapangan volly dan bergabung dengan tim gadis tersebut.


"Okay, kita bisa mulai." teriakan anak laki-laki di pinggir lapangan yang berperan sebagai wasit mengumumkan bahwa pertandingan akan dimulai. Tidak lama kemudian, pertandingan bola volly bermain dengan serunya.


"Lepaskan.. ini untuk kakak.." Ivona berteriak, tubuhnya yang langsing meloncat ke atas untuk mengirimkan pukulan smash. Tetapi saat gadis muda itu melompat, dia menangkap tatapan laki-laki yang membuat jantungnya berdetak keras, sedang mengawasinya dari luar pagar.


"Slurpp..., paak.." pukulan keras smash Ivona, tidak dapat ditahan oleh pemain lawan. Tiba-tiba...

__ADS_1


"Ye..ye... ye..., bagus kak Ivona.." sorak sorai pemain dan anak-anak yang menonton, ramai terdengar. Ivona hanya tersenyum, kemudian memandang orang yang menatapnya tadi. Tampak senyuman diberikan laki-laki itu padanya, tetapi merasa tidak mengenal laki-laki itu, Ivona mengabaikan.


**************


__ADS_2