
Ivona tersenyum sendiri saat mengamati kamar dan ruangan yang sudah tidak dia tempati sekian lama. Tetapi untungnya, Nyonya Carminda membayar tetangga yang tinggal di rusun tersebut, untuk membersihkan ruangan dan kamar setiap tiga hari sekali. Semua perabotan yang ada, meskipun tidak masuk kategori perabotan mewah, semuanya terawat dan dalam keadaan bersih. Bahkan kamar tidur Ivona juga sangat bersih, termasuk bed tempatnya biasa istirahat sudah terpasang sprei, dan bed cover yang bersih serta beraroma harum.
Perlahan Ivona membuka jendela kamarnya, angin sore hari menerpanya, dan gadis itu menghirupnya untuk beberapa saat. Paru-parunya terasa longgar, perlahan Ivona duduk di pinggir bed dan mengambil pigura kecil yang memasang fotonya sedang bersama Nyonya Carmindra. Tatapannya terpaku pada keceriaan dua orang perempuan dengan pakaian casual sedang bergandengan tangan.
"Mama..., Ivona rindu pada mama.." gumam Ivona pelan, tangannya mengusap perlahan kaca yang melapisi pigura tersebut. Gadis ini menyadari akan sangat sulit untuk bertemu dengan mamanya, karena Nyonya Carminda sudah kembali ke laboratorium yang sudah sangat lama ditinggalkannya. Sejak Nyonya Carminda mengetahui jika dia hamil enam bulan, dan juga menyadari siapa yang menyebabkannya sampai hamil, maka melarikan diri adalah jalan terbaik yang harus dia ambil.
"Ivona yakin.., suatu saat Ivona akan menyusul mama. Tinggal menunggu waktu saja," ucap lirih Ivona. Gadis muda itu kembali meletakkan pigura di atas meja, kemudian melangkah keluar dari kamar. Melihat ke sudut dapur kecil yang ada di ruangan itu, Ivona tersenyum. Tiba-tiba dia memiliki keinginan untuk membuat masakan untuk makan malam. Dia teringat malam terakhir saat masih bersama dengan Alexander. Malam itu dia berencana ingin membuat mie instan dengan telur bebek dan sawi hijau. Tetapi belum sampai keinginannya terpenuhi, di depan matanya Alexander mengambil resiko dengan menerima dua tembakan yang diarahkan untuk Ivona.
"Kak Alex.., bagaimana keadaan kakak..?" mundur dua langkah ke belakang untuk bersandar di pinggir kitchen room, Ivona berusaha mengatur pernafasannya. Nafasnya terasa sesak, dan air mata mulai menetes di pipinya. Tiba-tiba dia mengingat Alexander Cavindra, CEO Kavindra Group yang sudah menikahinya.
"Terus bagaimana dengan statusku saat ini.., sepertinya tidak ada laki-laki manapun yang akan membuatku bisa melupakan Alex. Kamu istri orang Ivona.." Ivona berbicara dengan dirinya sendiri.
Setelah beberapa saat dia bersandar di pinggir kitchen room, Ivona tersadar kembali. Dia teringat dengan niat awalnya menuju dapur. Setelah mengusap air matanya, gadis itu menghampiri kulkas yang ada di pojok dapur. Perlahan dia membukanya, dan matanya terbelalak saat melihat kulkasnya penuh berisi buah dan sayuran segar. Perlahan tangannya membuka chiller dan freezer.., dan berbagai protein hewani dari ikan, daging sapi, ayam, udang, cumi tersedia lengkap di dalamnya. Merasa ragu dengan tahun pembuatannya, tangannya mengambil satu pack.., dan ketika melihat tanggal pengemasanya, bibirnya tersenyum.
__ADS_1
"Ini paling instruksi Marcus pada Ester untuk memenuhi kulkasku." Kemudian setelah menutup kembali kulkas, Ivona ingin mencari mie instan di atas lemari kitchen set. Setelah membukanya, dia harus menelah kekecewaan karena tidak menemukan barang yang dia cari disitu.
"Aku akan masak bahan yang ada di kulkas saja, besok pagi baru aku akan keluar untuk kembali mengenali tempat ini. Sudah banyak yang berubah di sekitar sini.." Ivona berpikir sendiri. Kemudian karena malas memasak nasi, Ivona membuat capcay rebus dan memasak hanya satu porsi untuk dirinya sendiri.
****************
Pagi hari.. Ivona sudah terbangun, setelah pulas tertidur karena merasa kenyang menikmati capcay rebus. Ivona merentangkan kedua tangannya, dia melakukan streching untuk meregangkan otot-ototnya. Beberapa saat gadis itu menghabiskan waktu untuk melemaskan otot-ototnya, kemudian bergegas ke kamar mandi untuk melakukan mandi pagi. Melihat shower dan tempat air sederhana di dalam kamar mandi, Ivona tersenyum. Tidak ada sekuku hitamnya jika dibandingkan dengan fasilitas kamar mandi yang ada di rumah keluarga Iswara, apalagi jika dibandingkan dengan villa Alexander.
Perlahan setelah melepaskan pakaian, Ivona menyalakan shower dan air hangat mulai mengguyur kepalanya. Kesegaran air yang membasahi rambut dan kulitnya, terasa menyegarkan seperti memijat kulit serta kepalanya. Tangannya mengambil shampoo, kemudian meletakkan di kedua telapak tangan dan mengusapkan dengan lembut ke kepalanya. Setelah merasa puas menyegarkan diri di kamar mandi, Ivona segera mengakhiri ritual mandinya.
"Nona.., Nona Ivona...benarkan yang Bibi lihat ini?" dengan menutup mulut karena merasa tidak percaya, Bibi Sonya tetangga di rusun yang dipekerjakan Nyonya Carminda untuk membersihkan ruangan, menatap Ivona tanpa berkedip.
"Iya Bibi Sonya..., ini Ivona." gadis itu kemudian memeluk Bibi Sonya dengan erat.
__ADS_1
"Terima kasih Bibi.., sudah membantu Ivona menjaga kamar ini. Bahkan Bibi membersihkannya setiap hari, meskipun rumah ini kosong." lanjut Ivona. Kemudian gadis itu membawa Bibi Sonya masuk ke dalam, dan mengajak perempuan tua itu duduk di sofa yang sudah terlihat lusuh.
"Non Ivona jangan bicara seperti itu. Amanah yang disampaikan Nyonya Carminda tidak akan Bibi lupakan Non.., hanya kalian berdua yang selama ini membantu keluarga Bibi. Saat ini Bibi sangat senang sekali, karena melihat Non Ivona sudah berhasil sembuh, Nyonya Carminda pasti akan sangat bahagia jika mengetahuinya." dengan perasaan bahagia, Bibi Sonya menanggapi perkataan Ivona.
Ivona tersenyum senang melihat kebahagiaan di mata Bibi Sonya. Teringat dengan rencananya pagi ini, Ivona kemudian pamit dengan Bibi Sonya untuk keluar sebentar.
"Bibi.., Ivona mau pergi sebentar ya. Yah.., mau jalan-jalan untuk melihat suasana di luar. Sepertinya sudah banyak berubah lingkungan di sekitar sini.., Bibi disini saja tidak apa-apa. Kulkas juga sudah penuh dengan bahan makanan, jika Bibi akan memasak."
"Baik Non.., nanti setelah Bibi selesai bersih-bersih, Bibi akan memasak makanan untuk Nona." sahut Bibi Sonya sambil tersenyum. Perempuan tua itu melihat penampilan Ivona yang sudah berubah, dari terakhir kali sebelum gadis itu mengalami vegetatif di rumah sakit. Ivona yang dulu, terlihat sangat barbar dengan penampilan asal. Tetapi saat ini, meskipun masih menggunakan pakaiannya yang lama, tetapi penampilan gadis itu menjadi lebih santun dan elegan.
"Terima kasih Bibi... Ivona pasti merindukan makanan buatan Bibi Sonya." ucap Ivona kemudian berdiri meninggalkan Bibi Sonya.
Setelah mengambil topi, dan tas selempang serta mengenakan sepatu boot, Ivona menyalami dan mencium punggung tangan Bibi Sonya. Perempuan tua itu tersenyum dan mengusap kepala Ivona, kemudian mengantarkan gadis itu sampai keluar dari pintu ruangan.
__ADS_1
***************