
Mendengar jawaban dari polisi tersebut, Direktur Hendra Jonathan tercengang sejenak. Dia merasa belum membuat laporan penganiayaan putranya ke polisi, tetapi ternyata polisi sudah datang mencarinya sampai disini.
"Dia pelakunya pak, dia yang telah menganiaya putra saya sampai saat ini dia terbaring di rumah sakit." Direktur Hendra menunjuk Ivona.
Polisi merasa heran dengan pernyataan Direktur Hendra Jonathan. Mereka kesini mau membawanya, tetapi Direktur Hendra malah menunjuk seorang murid perempuan.
"Apa maksudnya ini?? Kami berlima datang kesini, karena terkait dengan kasus penganiayaan dan bullying yang sudah banyak dilakukan oleh putra Bapak." jelas salah satu polisi.
Mendengar jawaban polisi, Direktur Hendra Jonathan kurang paham dengan apa yang disampaikan.
"Putraku melakukan penganiayaan, dan siapa yang sudah dianiaya oleh putraku? Jelaskan kapan dan dimana hal itu terjadi?? Kenapa aku baru mendengarnya??" dengan muka merah Direktur Hendra bertanya pada petugas tersebut.
"Bapak sekarang membawa ponsel?? Jika iya, silakan masuk ke internet, dan lakukan pencarian nama Yoshua Jonathan!" polisi meminta Direktur Hendra untuk membuka internet.
Ivona hanya diam, dia tersenyum senang karena fokus sekarang beralih pada Direktur Hendra Jonathan. Thomas dan Nyonya Iswara ikut membuka ponsel, kemudian mencari nama Yoshua Jonathan. Semua terkejut dengan apa yang mereka lihat di depan mereka. Terlihat video yang menunjukkan saat Yoshua tengah melakukan penindasan terhadap murid-murid di sekolah.
"Sudah tahu apa kesalahan putra Bapak??? Berita tentang penindasan yang Yoshua lakukan, sudah menjadi topik yang hangat di dunia maya. Bahkan sudah menduduki peringkat teratas pencarian. Makanya kami kesini untuk menjemput Bapak, agar segera datang ke kantor polisi. Kita akan lakukan pemeriksaan dan penyelidikan lebih lanjut." polisi menjelaskan tujuannya datang mencari Direktur.
"Tidak..., kita cari kejelasannya dulu. Pak.., bisa minta tolong untuk dipanggilkan admin bagian IT, bawa dia kesini secepatnya!" teriak Direktur Hendra menyuruh Guru piket memanggilkan admin. Mukanya merah padam, dia merasa ditampar dengan adanya video tersebut.
Thomas tersenyum saat dia melakukan browsing, karena ternyata video yang menunjukkan kekerasan penindasan yang dilakukan Yoshua tidak hanya satu, tetapi totalnya ada 65 video. Video itu sudah tersebar di postingan sekolah, dan sudah masuk pada pencarian teratas.
"Permisi selamat siang.., ada apa Direktur Hendra memanggil saya?" karyawan admin bagian IT sudah datang ke dalam ruangan kepala sekolah.
__ADS_1
"Bersihkan video Yoshua dari postingan sekolah!! Bisa memalukan SMA Dharma Nusa jika orang luar ikut melihat video tersebut." Direktur Hendra langsung meminta admin untuk membersihkan video tersebut. Dia menggunakan nama SMA Dharma Nusa, agar segera mendapatkan respon cepat.
Karyawan admin bagian IT segera masuk ke sistem informasi SMA Dharma Nusa, dia mencoba menghapus video-video tersebut. Tetapi seketika komputer terjadi BUG, berkali-kali admin itu mencoba untuk memulihkan perangkatnya, tetapi tetap terjadi Hang, dan layar tiba-tiba menjadi berwarna biru.
"Mohon maaf, saya belum berhasil untuk memulihkan perangkat saya, karena tiba-tiba malah perangkat saya mengalami BUG." admin bagian IT menyerah, dia tidak bisa menyalakan perangkat laptopnya.
"Ganti dengan komputer lain!!!" teriak Direktur Hendra.
"Maaf pak, sebenarnya tadi Kepala Bagian Tim IT sudah mencoba untuk menghapus postingan tersebut. Tetapi lagi-lagi malah BUG yang menjadikan postingan itu belum terhapus sampai sekarang pak." akhirnya karyawan admin mengaku.
"Sudah Direktur Hendra.., biarkan urusan penghapusan postingan video menjadi tugas dan PR untuk sekolah ini! Sekarang mari segera ikuti kami, kita harus segera melakukan pemeriksaan." polisi kembali meminta Direktur Hendra untuk segera mengikuti mereka.
"Kalau mau membawa aku, murid ini juga harus segera diamankan di kantor polisi. Dia juga berbahaya, jangan sampai ada korban lagi yang berjatuhan di sekolah ini gara-gara dia." lagi-lagi Direktur Hendra menunjuk Ivona.
"Jangan asal bicara kamu anak muda!! Apakah bukti anakku saat ini terbaring di rumah sakit itu tidak valid? Dan apakah tadi kamu juga tidak mendengar, jika gadis ini sudah mengakui jika dia yang sudah melakukan pemukulan pada putraku." seru Direktur Hendra dengan nada tinggi.
"Tenanglah Kak Thomas..., aku akan mengikuti apa yang diinginkan Direktur. Yang terpenting saat ini adalah penyelidikan yang akan segera dilakukan polisi." tiba-tiba Ivona malah ingin mengikuti ke kantor polisi.
"Tapi Iv..," belum selesai Thomas berbicara, Nyonya Iswara sudah menarik tangan putranya itu.
"Sudahlah Thomas..., biarkan Ivona bertanggung jawab akan perbuatannya!! Ini juga untuk memberi pelajaran baginya, agar dapat menggunakan pikirannya sebelum melakukan sesuatu." Nyonya Iswara melarang Thomas membela Ivona.
Thomas memandang Nyonya Iswara dengan pandangan tak percaya, seorang mama tega membiarkan putrinya datang ke kantor polisi. Sedangkan Ivona tidak terlihat takut sedikitpun, dengan muka tegak menghadap ke depan dia tetap melihat semuanya.
__ADS_1
"Mari pak, saya akan ikut Bapak ke kantor polisi." Ivona berdiri, dan baru saja mereka melangkahkan kaki hendak keluar, tiba-tiba Beni menerobos masuk.
"Beni.., untuk apa kamu kemari?? Badanmu masih sakit kan?? Kamu jangan mengkhawatirkan aku, aku bisa melindungi diriku sendiri." seru Ivona bertanya pada pria gemuk itu.
Beni tidak menjawab pertanyaan Ivona, dia hanya tersenyum sebentar kemudian...
"Dengarkan saya pak!! Seharusnya saya juga ikut diajak ke kantor polisi, karena Ivona bisa memukul Yoshua karena dia ingin melindungi saya." tiba-tiba Beni membuat pernyataan.
Semua orang yang berada di dalam ruangan itu terdiam sejenak, tetapi kemudian...
"Tutup mulutmu bocah!! Apa yang kamu bicarakan??" dengan marah Direktur Hendra menegur Beni, dia terlihat tidak percaya dengan perkataan pria gemuk itu.
Beni tidak menjawab pertanyaan Direktur Hendra, dia langsung melepaskan seragam sekolah bagian atasnya. Terlihat dengan jelas banyak luka dan memar kebiruan di tubuhnya. Nyonya Iswara dan beberapa orang menutup mulut mereka melihat pemandangan itu.
"Maaf pak, saya hanya bisa melepas pakaian atas saya. Jika saya melepaskan celana saya, di bagian paha dan betis juga banyak terdapat memar dan luka akibat tindakan yang dilakukan Yoshua." dengan suara keras Yoshua berbicara pada polisi.
"Apa kamu punya bukti jika Yoshua putraku yang sudah melakukannya?" dengan marah Direktur Hendra kembali bertanya pada Beni.
"Mohon maaf sebelumnya, apakah tadi Direktur Hendra tidak mengenali wajah putranya sendiri saat Yoshua menindas Beni?? Sepertinya di salah satu video yang di posting tadi ada deh." dengan tersenyum dingin, Ivona menjawab pertanyaan Direktur Hendra.
Muka Direktur Hendra jadi menghitam, dia seketika tidak dapat bicara. Sedangkan terlihat jelas wajah Nyonya Iswara langsung berubah, tiba-tiba dia merasa malu pada Ivona.
*****************
__ADS_1