
Sesampainya di hotel yang terletak di ujung Victoria Harbour, Ivona langsung masuk ke Presidential Suites InterContinental Hong Kong yang sudah disiapkan dan diurus oleh Marcus untuknya. Begitu kamar dibuka, Marcus dan satu orang temannya sudah menunggunya di ruang tamu yang ada di kamar tersebut. Sebuah suites yang luas dengan fasilitas lengkap di dalamnya, ada private gym, ruang makan, dapur dengan beberapa kamar tidur. Gadis itu sempat terkesima dengan fasilitas yang disediakan Marcus untuknya.
"Marcus.., apakah ini tidak terlalu sarkasme kamu menyambutku?" tanya Ivona langsung daripada dia membatin sendiri.
Marcus tersenyum, kemudian mempersilakan Ivona untuk duduk terlebih dahulu.
"Oh no..., untuk seorang expertize sepertimu, semua fasilitas ini masih kurang. Kenalkan.., ini partner kerjaku! Nanti juga akan menjadi partner kita dalam bekerja. Untuk sementara, agar nanti kamu merasa nyaman dalam bekerja, suite ini akan kita jadikan sebagai temporary office. Kami sudah memilihkan kamar untuk kamu tempati, dengan view Victoria Harbour dan gedung-gedung di Hong Kong yang fenomenal dan terkenal sejak jaman dulu." ucap Marcus.
"Oke, my name is Ivona. Aku harap kamu bisa berbahasa Indonesia seperti Marcus." Ivona dengan cuek mengulurkan tangannya.
"Saya lama tinggal di Malaysia, jadi bisa sedikit bahasa Melayu. Namaku Richard.." Richard menerima uluran tangan Ivona.
"Baiklah Ivona.., bagaimana rencanamu malam ini. Tidak mungkin kan, kamu aku minta untuk kerja sekarang juga. Silakan istirahat dulu, atau mau makan malam sebelum istirahat. Semua sudah kita siapkan untukmu." Marcus menyarankan Ivona untuk beristirahat terlebih dahulu.
"Aku setuju dengan usulmu Marcus.. Kebetulan tadi aku sudah makan malam di pesawat, mungkin kita akan ketemu lagi besok pagi. Jujur badanku terasa pegal, setelah 5 jam perjalanan." merasa capai, Ivona minta ijin untuk langsung beristirahat.
"Baiklah.., aku setuju. Good night Ivona.., and sweet dream." Marcus dan Richard mengucapkan salam.
Ivona langsung menuju kamar yang sudah disiapkan untuknya. Begitu gadis itu membuka kamarnya, mata Ivona terbelalak melihat megah dan elegannya kamar yang disiapkan untuknya. Tetapi karena merasa lengket badannya, Ivona langsung masuk kamar mandi dan berendam dengan air hangat. Dia tidak memiliki waktu hanya untuk menikmati kemegahan kamar itu.
*************
Di atas tempat tidur yang sangat empuk itu, Ivona hanya berguling kesana kemari. Matanya seperti tidak bersahabat dari tadi, berharap jika sudah mandi maka akan dapat menikmati tidur dengan nyenyak, ternyata sedikitpun tidak ada efeknya. Perlahan Ivona berdiri kemudian menarik gorden dan vitrase untuk membuka pemandangan di jendela. Lampu-lampu gedung dan air sungai tampak indah terpampang di depan mata Ivona.
__ADS_1
"Memang luar biasa kamar yang dipilih Marcus untukku.., tetapi tetap saja semua tidak dapat membuatku tertidur nyenyak. Aku merasa seperti ada zat adiktif yang hilang dari diriku. Kenapa aku merasakannya setelah sampai disini?" Ivona membatin sendiri. Dia kemudian berdiri, berjalan ke atas meja kemudian mengambil air mineral, perlahan dia minum langsung dari gelasnya.
Merasa gelisah dan tidak menjadi lebih baik, Ivona segera duduk di sofa sambil memandang keluar. Pikirannya kembali menerawang, tiba-tiba dia merasa kesepian karena ada sesuatu yang dia tinggalkan. Tangannya mengambil tas, kemudian mengambil iPad dan langsung masuk ke dunia maya.
"Nana.., kenapa kamu bohong padaku? Tidak bisakah kita bicara baik-baik?"
"Share location!"
"Aku akan menyusulmu."
Banyak chat masuk saat Ivona menyalakan ponsel dan menggunakan nomor contact. Beberapa chat dia lakukan pembersihan tanpa membacanya, dan saat membuka chat yang dikirimkan Alexander tanpa dia duga hatinya menjadi berdegup kencang. Terbayang dalam ingatannya, perlakuan-perlakuan laki-laki muda itu yang membekas dalam.
"Kak Alex.., miss you.." ucap Ivona pelan, dan semburat pink muncul di pipinya. Perlahan dia meletakkan tangannya di atas detak jantungnya, yang langsung berdetak cepat.
"Apakah kak Alex sudah demikian dalamnya masuk ke hidupku???" gumam Ivona sekali lagi. Dia membayangkan bagaimana dengan kekuasaannya, Alexander melindungi, menjaga, dan merawatnya selama ini. Dan dia merasa aman dan nyaman dengan semua perlakuan itu. Tiba-tiba..
Dengan malas gadis itu mengambil ponselnya, terlihat Alexander memanggilnya. Gadis itu hanya memandangi ponselnya yang masih terus bergetar, dia bingung antara akan menerima atau mengabaikannya. Tetapi karena, ponsel terus bergetar berkali-kali.., akhirnya gadis itu memberanikan diri menerima panggilan dari laki-laki itu.
"Dimana posisimu, share location!" tanpa basa-basi, Alexander langsung meminta Ivona untuk mengirim lokasinya.
Ivona diam tidak berani menjawab laki-laki itu.
"Nana.., Nana.., apakah aku salah dalam merawatmu selama ini??? Kenapa tanpa bicara apapun, kamu meninggalkan aku sendiri?" Alexander terus memberondong pertanyaan.
__ADS_1
"Ivona sedang ada urusan penting kak.. Mohon maaf Ivona tidak bisa memberi informasi ada dimana Ivona saat ini." akhirnya dengan lirih, Ivona menjawab.
"Share location.." seru Alexander dengan nada tinggi.
"Maaf kak.., tidak lama Ivona akan segera kembali. Selamat malam kak Alex.." kemudian Ivona mematikan panggilan secara sepihak, dia kemudian mematikan kembali telepon selulernya.
Ada sedikit rasa nyaman dan ketenangan setelah berbicara dengan Alexander, sambil mendekap dadanya perlahan Ivona tertidur di atas sofa.
***********
Pagi harinya dengan mata cekung seperti mata panda, Alexander memanggil Rico untuk secepatnya datang ke ruangan. Sambil membawa laptop di tangannya, Rico segera datang menemui CEO Kavindra Group itu.
"Ada tugas baru untuk Rico Tuan Muda?" Rico langsung menanyakan keperluan Alexander memanggilnya datang.
"Lacak rekaman panggilan telpon dari Ivona tadi malam, cari dimana letak anak itu berada sekarang!" Alexander langsung meminta Rico untuk melakukan pelacakan rekaman panggilan telponnya semalam dengan Ivona.
"Tapi agak sulit Tuan Muda..., harusnya pada saat panggilan berlangsung kita baru bisa menemukan posisi tepatnya. Jika hanya berdasarkan rekaman, agak susah untuk mendapatkan titik lokasi yang tepat." Rico membuat alasan, karena memang membutuhkan hal yang rumit jika melacak hanya berdasarkan rekaman saja.
"Tidak ada yang tidak bisa bagiku. Aku bisa melacak sendiri keberadaan anak itu, tapi aku lebih mengandalkanmu. Pastikan apakah hasil analisamu masih seakurat hasil lacakanku." perintah Alexander tidak mau tahu.
"Baik aku akan mencobanya terlebih dulu Tuan Muda." tanpa bisa berkelit, Rico menyanggupi perintah itu. Setelah mendengar Rico menyanggupi untuk melacak rekaman itu, Alexander langsung berdiri meninggalkan Rico di belakang meja kerjanya.
Rico mengacak-acak rambutnya.., dia memasukkan kode untuk menganalisis hasil rekaman Alexander, saat melakukan panggilan pada Ivona.
__ADS_1
"Kapan aku bisa mendapatkan tugas sesuai dengan job description kerjaku?? Kenapa juga Tuan Muda saat ini seperti menjadi BUCIN dari anak SMA itu?" Rico terus bergumam sendiri, sambil matanya fokus memandang laptop yang ada di depannya.
************