
Rico menemui Alexander di ruang kerjanya, dia akan melaporkan hasil investigasinya dengan pelaku yang menukarkan bayi Ivona sekitar 17 tahun yang lalu. Melihat Tuan Mudanya tidak begitu banyak pekerjaan, laki-laki itu langsung duduk di depan meja kerjanya. Alexander mengangkat wajahnya, kemudian menutup laptop yang ada di depannya.
"Ada apa Rico.., hal apa yang akan kamu laporkan?" tanya Alexander sambil mengambil cangkir kopi yang ada di depannya. Setelah menyesap dua teguk, laki-laki itu kembali meletakkan cangkir di atas meja.
"Satu orang yang kita tangkap beberapa hari lalu, minta ijin untuk menemui keluarganya di rumah. Dia juga akan mengambil bukti kunci kasus penukaran belasan tahun yang lalu itu. Tetapi ternyata naas menghampirinya, seseorang telah menembaknya di depan rumahnya sendiri." Rico membawa kabar yang tidak mengenakkan.
"Maksudmu.., kamu membiarkan saksi kunci hilang begitu saja?" teriak Alexander dengan nada tinggi. Kemarahan tampak jelas terlihat di wajahnya.
"Sebentar Tuan Muda.., kendalikan diri dulu. Tuan Muda jangan marah karena cerita saya belum selesai." Rico memberikan stop map di depan Alexander. Laki-laki muda itu mengambil kemudian membacanya dengan seksama.
"Untung putera dari saksi kunci itu mau bekerja sama dengan kita. Saat saya dan beberapa anak buah datang bertanya kepadanya, dengan mudah putranya bekerja sama dengan kita. Yang ada di dalam map itu adalah bukti otentik yang menyatakan dengan jelas identitasi Nona Muda Ivona. Kita bisa membawanya ke rumah sakit untuk membuat tuntutan.., atau langsung mengantarkan ke pihak kepolisian." Rico menambahkan informasi.
"Untuk saksi yang satu bagaimana?" tanya Alexander lagi, matanya tidak lepas dari informasi kelahiran yang ada di tangannya.
"Masih aman Tuan Muda, dan kita juga sudah menginformasikan kepada anggota keluarganya, jika orang tuanya kita gunakan sebagai jaminan. Untungnya mereka memahami kejahatan yang sudah dilakukan oleh ayahnya waktu dulu, dan saat tahu jika kali ini mereka berhadapan dengan Tuan Muda, akhirnya mereka tidak memiliki keberanian untuk berkonfrontasi dengan kita." lanjut Rico.
"Baik.., sekarang temui Pak Ridwan di Polda. Aku sudah menyampaikan informasi awal padanya. Serahkan semua berkas, dan jangan lupa kamu hanya memberikan scanan pada pihak kepolisian. Simpan bukti orisinil, dan juga hubungi lawyer untuk mengajukan tuntutan pada Kepala Rumah Sakit Jiwa." dengan nada tegas, Alexander memerintah Rico.
"Baik Tuan Muda.., segera akan saya laksanakan. Saya ijin kembali ke ruangan dulu." setelah tidak ada lagi yang perlu didiskusikan, Rico segera berpamitan pada Alexander.
"Drtt.., drttt.., drttt.." tiba-tiba ponsel Alexander bergetar. Laki-laki muda itu melirik ke arah layar ponsel, terlihat Tommy sedang melakukan panggilan terhadapnya.
__ADS_1
"Ada apa?" ucap Alexander pada Tommy.
"Bisa kita ketemu saat ini?" sahut Tommy cepat.
"Aku akan menjemput Ivona sekarang. Gadis itu baru ujian, aku harus segera membawanya pulang ke rumah." kata Alexander saat melihat jarum jam, dan saatnya sebentar lagi Ivona akan segera keluar dari ruang ujian.
"Kita ketemu di SMA Dharma Nusa." baru saja Tommy selesai bicara, Alexander langsung menutup ponsel. Seperti biasa, laki-laki itu akan mengakhiri panggilan secara sepihak.
Setelah memasukkan ponsel ke saku bajunya, Alexander segera mengambil kunci mobil. Dengan bergegas CEO Kavindra Group itu segera keluar dari ruang kerjanya. Baru saja Alexander menutup pintu ruangannya, laki-laki itu melihat mamanya tampak memasuki perusahaan dari arah depan. Secepat kilat, Alexander langsung menyelinap masuk ke arah toilet. Sesampainya di dalam, laki-laki itu langsung menghubungi Rico.
"Ada apa Tuan Muda?" sahut Rico cepat.
"Mamaku akan masuk ke ruang kerjaku, cepat awasi! Bilang pada mama, jika aku baru keluar menemui tamu penting. Aku sedang menyelinap di kamar mandi, aku akan menjemput Ivona sekarang." Alexander langsung memberi perintah pada Rico.
Setelah mendengar kesanggupan Rico.., Alexander langsung menuju pintu lift yang sering digunakan oleh karyawan untuk naik turun. Secepatnya tombol menuju basement, segera dia tekan.
*************
Rico langsung bergegas menuju ruang sekretaris, dan melihat Nyonya Besar Kavindra sedang berbicara pada sekretaris. Rico memberi kode pada sekretaris untuk diam, kemudian laki-laki itu menghampiri Nyonya Besar.
"Selamat siang Nyonya Besar.., tumben sekali siang ini datang ke perusahaan, tidak memberi tahu terlebih dahulu pada kami." dengan gaya khasnya, Rico memberi sapaan pada Nyonya Besar.
__ADS_1
Nyonya Besar Kavindra menoleh ke arah Rico, melihat asisten yang sangat loyal pada putranya itu, Nyonya Besar langsung membalikkan badannya.
"Siang Ric.., dimana Tuan Mudamu? Apakah anak itu masih ada di ruangan saat ini?" tanya Nyonya Besar langsung ke inti permasalahan.
"Tuan Muda Alexander maksud Nyonya Besar?" tanya Rico sedikit gugup.
"Kamu itu sedang mabuk atau gimana Rico?? Memang ada Tuan Muda lagi selain Alexander di perusahaan ini lagi? Apa yang kamu maksud itu si Evan?" dengan nada tinggi, Nyonya Besar memberi teguran pada Rico.
"Iya Nyonya Besar.., maaf. Untuk Tuan Muda Alexander kebetulan baru saja keluar dari perusahaan. Tapi saya lupa kemana tujuannya barusan, sepertinya tadi pagi beliau menyampaikan pada saya. Siang ini akan melakukan negoisasi dengan calon partner kerja sama perusahaan yang baru." sambil cengar-cengir, Rico membohongi Nyonya Besar.
"Jangan berbohong kamu Rico.., barusan saja sekretaris bilang padaku, jika Alexander saat ini sedang berada di dalam ruang kerjanya sendirian." Nyonya Besar tidak mempercayai omongan Rico.
"Saya tidak berani membohongi Nyonya Besar. Jika Nyonya Besar tetap tidak mempercayai Rico, sekarang Nyonya Besar bisa masuk ke ruang kerja Tuan Muda. Mungkin tadi saat Tuan Muda keluar, sekretaris sedang tidak ada di kursinya, dan Tuan Muda juga kelupaan untuk meninggal pesan padanya." Rico memutar otak untuk meyakinkan Nyonya Besar.
Tetap merasa tidak percaya dengan omongan Rico, Nyonya Besar langsung menuju ke ruang kerja Alexander. Sekretaris bergegas membukakan pintu ruang kerja Tuan mudanya, dan benar seperti yang diomongkan Rico, mereka tidak dapat menemui Alexander di dalamnya.
"Mohon maaf Nyonya Besar.., ternyata benar seperti apa yang sudah disampaikan oleh Asisten Rico. Tuan Muda tidak ada di dalam ruangannya saat ini. Berarti pas tadi saya kebetulan keluar, Tuan Muda pergi dan tidak memberi tahu saya. Sekali lagi maafkan saya Nyonya Besar!" sekretaris segera minta maaf pada Nyonya Besar.
"Kalian semua saja. Aku akan menuju ke rumah Alexander saat ini juga, siapa tahu anak itu malah pulang ke rumah." ucap Nyonya Besar Kavindra. Perempuan tua itu langsung kembali keluar meninggalkan ruang kerja Alexander. Rico dan sekretaris segera mengantarkan turun Nyonya Besar dengan menggunakan pintu lift untuk Direksi.
Sopir pribadi Nyonya Besar segera membuka pintu mobil, ketika mengetahui Nyonya Besar sudah keluar dari pintu lift menuju lobby perusahaan.
__ADS_1
*****************