Revenge: Terlahir Kembali

Revenge: Terlahir Kembali
Chapter 190 Kamu Berubah


__ADS_3

Caroline diantar Tommy untuk mengunjungi villa yang ditempati Ivona dan Alexander. Mereka bermaksud untuk mengajak Ivona, untuk melihat launching pertama kali film yang diadaptasi dari syair lagu yang ditulis Ivona. Pemutaran perdana itu dilakukan di pusat hiburan terpadu yang ada di kota ini. Kedatangan mereka ke bioskop, untuk melihat secara langsung bagaimana respon dari pengunjung yang menyaksikan pemutaran film tersebut. Tetapi merasa tidak enak dengan Alexander, Ivona meminta waktu untuk memberi tahu suaminya terlebih dahulu.


"Kenapa kamu jadi takut dengan Tuan Muda Alexander sih Iv..? Bukannya setahuku, Tuan Muda sangat posesif padamu, dia tidak akan sanggup kehilanganmu." Caroline bertanya pada Ivona. Dia merasa heran karena Ivona baru mau pergi, jika ada ijin dari suaminya.


"Justru karena itulah Carol.., kemanapun, aku baru bisa pergi, jika sudah ada lampu hijau dari suamiku. Daripada dunia yang kacau balau, mending aku mengalah saja. Demi kebaikan kita bersama." Ivona tersenyum, kemudian tangannya mengambil cangkir berisi kopi di atas meja.


"Demikiankah..?? Setahuku, Tuan Muda akan menurutimu semua keinginanmu, dia juga terlihat selalu mamanjakan dan membuatnya selalu bahagia. Buktinya, hadiah pernikahan kalian saja, kamu mendapatkan villa ini yang langsung balik nama atas namamu."


"Carol.., sebentar lagi kamu akan segera menikah dengan kak Tommy. Kamu akan merasakan bagaimana keindahan yang sebenarnya, saat kamu bisa menurut apa yang dikatakan oleh suami kita. Dulu, aku juga tidak pernah berpikir, sedemikian cepatnya aku akan menikah. Ternyata aku sangat menikmati dan menyukai hari-hariku. Meskipun aku berpikir, jika aku adalah seorang gadis yang tidak suka diatur, tetapi aku akan patuh jika diatur oleh suamiku. Aku menikmati semua perlakuannya padaku." dengan pandangan tidak percaya, Caroline menyangsikan sikap Ivona. Sudah lama dia merasa kenal dengan Ivona.., gadis yang terkesan barbar, semau gue, dan tidak suka diatur-atur, saat ini menjadi seorang gadis yang patuh.


"Kenapa Carol.., kamu menyangsikanku?" melihat pandangan itu, Ivona bertanya pada Caroline.


"Bukan begitu Iv.. Tapi aku melihat Ivona yang berbeda dari yang aku kenal dulu. Ivona yang dulu terkesan easy going, sedikit barbar saat pertama kali aku melihatmu, saat ini sudah berubah menjadi Ivona yang patuh akan suami." dengan tersenyum kecut, Caroline menjawab pertanyaan Ivona. Ivona hanya tersenyum, kemudian melihat pada Tommy yang tiduran di kursi santai sambil mengenakan head set.


"Aku harap kamu juga akan mengikuti langkahku Carol.., jika kamu sudah jadi menikah dengan kak Tommy. Dulu aku juga kurang menyukai sikap kak Tommy padaku. Tapi syukurlah, saat ini kak Tommy dan kedua kakakku yang lain sudah lebih memperhatikanku." ucap Ivona sambil menunjuk pada kakaknya Tommy. Caroline tersenyum melihat tingkah Ivona.


'Semoga saja Iv.., aku bisa mengikuti jejakmu. Ketakutanku yang sebenarnya untuk menikah dengan kakakmu adalah adanya larangan untukku mengembangkan bakat menyanyi. Menyanyi bagiku adalah hobby, untuk melampiaskan semua perasaan kita. Masuknya pendapatan yang mengikuti, bagiku adalah berkah yang harus disyukuri." Ivona tersenyum, kemudian meraih kedua telapak tangan Caroline.

__ADS_1


"Aku akan membantumu untuk berbicara dengan kak Tommy. Kakakku sudah lama berbisnis di industri film dan music, aku yakin dia akan dapat memahami pekerjaanmu." ucap Ivona akan membantu Caroline.


"Benarkan Iv..?" Ivona menganggukkan kepala.


*************


Malam harinya, kakak Vaya betul-betul membuktikan ucapannya. Dia tidak mempedulikan adik kandungnya yang menangis dengan menyayat hati, laki-laki itu terus menyeret Vaya dan membawanya ke Majestic Club.


"Hapus air matamu, atau aku akan membawamu ke rumah bordil malam ini juga!" keluar ancaman dari mulut kakak Vaya. Gadis itu merasa ketakutan, dengan cepat dia segera menghapus air matanya meskipun masih dengan sedikit terisak.


"Siap Boss.., tapi jangan lupa untuk mengajakku menikmati malam. Sudah lama kita tidak melakukannya." tanpa kenal rasa malu, perempuan dengan nama Rossie itu memegang tangan kakak Vaya dan memasukkan ke belahan dadanya.


"Sesukamu saja. Malam ini.., aku pasti akan memuaskanmu!" setelah memberi kecupan dan lu**matan ke bibir Rossie, kakak Vaya segera keluar dari ruangan itu.


Mengetahui jika Vaya adalah adik kandung dari laki-laki tadi, Rossie dengan ramah menyapa Vaya.


"Vay.., jangan takut, menurutlah padaku! Saat pertama aku dipaksa terjun ke dunia ini oleh temanku karena iming-iming penghasilan tinggi, aku juga menangis. Tetapi saat ini, aku menganggap tempat ini adalah surga bagiku. Aku bisa mendapatkan kepuasan tanpa harus terikat hidup dengan laki-laki, juga rekeningku selalu terisi. Ayo ikuti aku!" tangan Rossie segera menarik tangan Vaya, kemudian mengajaknya masuk ke ruang untuk rias.

__ADS_1


Vaya tidak berani untuk menolak ajakan Rossie, karena dia tahu bagaimana kedekatan hubungan kakaknya dengan perempuan itu. Dia hanya mencoba untuk berdamai dengan keadaan saat ini. Menuruti perintah orang itu, mungkin merupakan jalan terbaik baginya.


"Pakailah pakaian ini, sepertinya cocok dan pas dengan ukuranmu!" Rossie mengulurkan satu gaun ke tangan Vaya. Rasa jijik seketika mengalir, melihat bagaimana model pakaian yang harus dia kenakan. Tidak ada elegannya sama sekali, dan bahkan kesan murahan terlihat jelas.


"Kenapa.., kamu tidak mau mengenakannya? Kurang terbuka atau ..?" melihat diamnya Vaya, Rossie sambil berkerut dahinya segera bertanya padanya. Jika dia tidak berharap untuk mendapatkan kepuasan dari kakak gadis itu, mungkin dia sudah akan menjambak dan menelanjangi Vaya.


"Iya kak.., Vaya akan mengenakannya." takut melihat tatapan Rossie, Vaya segera mengambil pakaian itu. Kemudian gadis itu segera berganti baju di hadapan perempuan itu. Mata Rossie terbelalak melihat keindahan tubuh Vaya yang saat ini hanya mengenakan pakaian dalam di hadapannya. Sebuah tubuh yang semampai, mulus dengan dua bukit kembar yang menjulang, pasti akan banyak laki-laki yang menginginkannya.


"Tubuhmu indah dan sangat seksi Vay.." bisik Rossie, yang membuat merinding tubuh Vaya. Dia tidak tahu jika Rossie tidak hanya senang bermain dengan laki-laki, tetapi perempuan itu juga sering bermain dengan gadis-gadis lesbian. dengan cepat Vaya kemudian mengenakan pakaian itu.


Tiba-tiba Rossie memeluk tubuh Vaya, kedua tangannya langsung mencari tali pengait bra yang dikenakan Vaya. Dengan sekali sentak, pengait itu lepas dan terpampanglah di depan Rossie, dua buah bukit yang kenyal dengan pucuk berwarna agak keunguan.


"Cup.." tanpa Vaya duga sama sekali, Rossie dengan berani memberikan kecupan dan lu**matan sekilas di puncak bukitnya. Perasaan seperti energi listrik terasa mengalir di sekujur tubuhnya, dengan cepat Vaya mendorong Rossie ke belakang.


"Jangan takut junior.., aku hanya mengujimu. Lepaskan bra, akan lebih cocok dengan pakaian yang kamu kenakan saat ini." dengan tatapan smirk.., Rossie menaikkan tali spagheti di pundak Vaya.


*************

__ADS_1


__ADS_2