
Tetangga Ivona sedang berkumpul di depan lobby apartemen saat Ivona memasuki lobby. Sepertinya mereka sedang berembuk secara bersama-sama dengan seluruh penghuni rusun. Melihat kedatangan Ivona.., Bibi Sonya langsung berlari menghampiri dan memeluk Ivona. Air mata mengalir di pipi perempuan tua itu.
"Non Ivona..., untung Nona tidak ada di rusun saat terjadi kebakaran itu. Kita sudah tidak punya apa-apa lagi Non.., begitu juga Bibi juga tidak sempat menyelamatkan barang-barang Non Ivona." ucap Bibi Sonya sambil memeluk erat tubuh Ivona. Gadis muda itu mengusap punggung Bibi Sonya, kemudian mengendorkan pelukannya.
"Bibi tidak perlu banyak berpikir.., yang penting kita semua selamat Bi. Itu sudah anugrah yang diberikan Tuhan untuk kita.." Ivona menenangkan perempuan itu, kemudian mengajak Bibi Sonya untuk duduk di kursi tunggu.
"Iya Non.., dan Tuhan juga sangat baik dengan kita semua Non. Tuhan mengirimkan malaikat penolong untuk menampung kita disini Non.. Free.. sampai dengan satu tahun, kita tidak dipungut uang sepeserpun." Bibi Sonya memuji-muji orang yang memberinya tumpangan di apartemen itu. Ivona tersenyum mendengar perkataan dari perempuan tua itu.
"Bibi dan semua warga rusun adalah orang baik, maka Tuhan juga akan baik terhadap kita Bibi. Kita harus selalu bersyukur akan nikmat sehat ini.., jangan lekas berputus asa. Kita harus bangkit.., dan menyusun langkah kita ke depannya." Ivona tanpa sadar menasehati Bibi Sonya dan orang-orang yang berada disitu.
Ivona mengedarkan pandangan ke ruang tunggu itu, tetapi gadis muda itu tidak melihat satupun anak kecil berada disitu.
"Kamu mencari anak-anak Non..? Anak-anak sedang diajak bermain sama psikiater.., katanya untuk menghilangkan rasa trauma pada anak-anak. Penolong kita memang paket komplit Non.., bahkan selama satu bulan, konsumsi kita di apartemen ini juga ditanggung. Bahkan menyediakan bimbingan belajar gratis juga untuk menghibur dan membantu anak-anak belajar." seperti mengetahui yang sedang dipikirkan Ivona.., seorang bapak-bapak menjelaskannya.
"Iya pak.., semuanya pantas untuk kita syukuri." Ivona tidak mau turut panjang lebar menasehati orang-orang disini. Tatapan matanya ke luar, dan melihat Maybach Dokter Marcus sedang berhenti di depan lobby. Tiba-tiba Aldo yang sejak kedatangannya, Ivona tidak tahu laki-laki muda itu berada dimana.. masuk ke lobby kemudian berdiri di samping Ivona. Laki-laki muda itu seperti tidak merelakan jika Ivona bertemu dengan Dokter Marcus seorang diri.
"Siapa Tuan Muda itu.., wajahnya seperti pemilik apartemen ini." celetuk bapak-bapak bertanya pada rekannya yang lain. Hampir semua orang yang berada di lobby memandangi wajah Aldo.., tetapi tidak ada satupun yang berani bertanya padanya. Aldo hanya menganggukkan kepala pada mereka, kemudian tatapan matanya fokus pada Ivona.
__ADS_1
"Masih lama mau berada disini?" Aldo bertanya dengan suara lembut pada Ivona. Gadis itu menengadahkan wajahnya melihat pada laki-laki muda itu.
" Sebentar lagi kak.. Itu Dokter Marcus juga sudah sampai disini. Jika Kak Al.., ada schedull lain, Ivona ditinggal saja tidak apa-apa kok. Nanti Ivona bisa ke kamar Bibi Sonya untuk beristirahat, atau minta ditemani Dokter Marcus." tanpa bermaksud meremehkan Aldo, Ivona menjawab dari dalam hatinya. Gadis muda itu sama sekali tidak sadar, jika perkataannya langsung menghancurkan mood Aldo.
"Tidak.., aku akan menemanimu sampai kamu selesai disini." ucap Aldo serius. Ivona kembali berbicara dengan Bibi Sonya dan tetangganya yang lain.
**********
Dokter Marcus langsung mendatangi Ivona yang sedang berbicara dengan ibu-ibu dari rusun Cempaka. Di belakangnya, ada dua orang yang menenteng barang-barang untuk dibagikan kepada para warga korban kebakaran itu. Senyuman berkembang di wajah laki-laki muda itu melihat tidak terjadi apapun dengan Ivona. Laki-laki itu mengetahui identitas gadis muda itu.., jadi tidak begitu mengkhawatirkan kelangsungan hidupnya.
"Untuk warga rusun Na.., siapa tahu mereka membutuhkannya. Taruh saja disitu, biar bapak-bapak membagi pada semua warga." Dokter Marcus menjawab pertanyaan Ivona.., sambil mengarahkan orangnya untuk meletakkan barang yang mereka bawa.
"Ya Dokter.." dua orang itu segera menghampiri bapak-bapak dan menyerahkan barang bawaan.
"Tuan Muda Aldo ada disini juga ya. Oh ya.., maaf saya lupa, Tuan Muda kan pemilik dari apartemen Maestro ini ya?" tanpa bermaksud untuk menyindir, Dokter Marcus menyapa Aldo. Laki-laki yang disapa itu hanya mengangkat sudut bibirnya ke atas.
"Aku juga tidak menyangka, jika Dokter Marcus yang sangat sibuk, bisa meluangkan waktunya untuk mengunjungi warga rusun Cempaka rupanya." dengan sedikit sarkasme, Aldo menanggapi perkataan Dokter Marcus. Melihat interaksi kaku antara kedua laki-laki itu, membuat Ivona tanggap jika dia harus berbuat sesuatu.
__ADS_1
"Dokter Marcus..., Ester sudah berbicara denganmu kah?? Ada hal penting yang perlu aku tanyakan padamu." Ivona mengalihkan pembicaraan. Aldo memandang dengan pandangan tidak suka, tetapi laki-laki muda itu juga tidak bisa berbuat banyak. Status mereka saat ini berbeda.., sehingga dia harus berusaha pelan-pelan untuk dapat membawa Ivona kembali ke pelukannya.
"Belum sih.., kemarin Ester memang mengatur janji untuk bertemu denganku. Aku baru bisa memberinya waktu besok siang selepas aku melakukan tindakan operasi. Kita berjanji ketemu di ruang kerjaku di rumah sakit tersebut." Marcus menjawab pertanyaan Ivona.
"Marc.., kapan sih kamu bisa berlaku romantis. Menemui gadis itu di cafe kek.., atau di food court. Masak menemui gadis kok di rumah sakit.., ga seru ah kamu." Ivona memprotes perkataan Marcus yang akan menemui Ester di rumah sakit. Karena Ivona tahu, jika sekretarisnya itu memendam rasa pada Marcus.
"Hadeh.., apa yang kamu katakan gadis usil." Marcus mengacak-acak rambut Ivona, dan tanpa sadar Aldo melihatnya sambil melotot. Dia tidak tahu sedemikian dekatnya hubungan antara Dokter Marcus dengan Ivona.
"He.., he.., he.., nanti saja biar Ester yang berbicara padamu ya. Informasi apa yang aku butuhkan.., aku tidak mau penawaran. Kamu harus bisa membantuku untuk mendapatkan informasi itu." Ivona memaksa Marcus untuk dapat mendapatkan informasi untuknya.
"Iya.., iya..., apakah masih perlu kamu meragukan aku?? By the way.., sudah makan belum, temani aku makan yuk..?" selesai melakukan visiting pasien, Marcus belum sempat makan. Laki-laki muda itu mengajak Ivona untuk makan siang.
"Apakah kamu tidak keliru bertanya Dokter Marcus..? Seorang gadis sedang jalan denganku, apakah kamu pikir aku akan membiarkannya kelaparan?" tanpa diduga, Aldo menjawab pertanyaan Marcus pada Ivona dengan jawaban sinis. Ivona merasa Aldo terlalu berlebihan menanggapi perkataan Marcus.
"Kak Al.., Dokter Marcus kan tahu jika makanku banyak. Maksud Dokter Marcus.., aku sudah merasa lapar lagi belum.., makanya mengajakku untuk pergi makan siang bersamanya." Ivona berusaha menetralisir suasana.
****************
__ADS_1