
Mengingat besok malam dia akan terbang meninggalkan Indonesia, Ivona melegakan hati kakeknya untuk menghadiri acara makan malam yang sudah disiapkan keluarganya. Acara itu diadakan untuk syukuran keberhasilannya dalam mengikuti Olimpiade Fisika tingkat nasional. Dengan menggunakan dua buah mobil, rombongan keluarga Iswara menuju rumah makan Madam Lie.
"Selamat ya putriku atas prestasi yang kamu raih. Akhirnya kamu bisa memenangkan prestasi, di tingkat nasional lagi." Tuan Iswara merasa tidak enak hatinya, dia memberi ucapan selamat pada putri kandungnya itu.
"Iya Ivona.., semoga saja ya, kemarin jurinya tidak salah memberikan penilaian. Selamat Ivona..." Nyonya Iswara ikut memberikan ucapan.
"Ivona saja tidak pernah menganggap jika Ivona telah mendapatkan kemenangan pa.., ma... Semua Ivona lakukan, hanya untuk menyenangkan Pak Haryo saja, guru kelas Fisika yang sangat baik terhadap semua murid di kelas G." dengan tanggapan dingin, Ivona menjawab perkataan Tuan dan Nyonya Iswara.
Melihat kerendahan hati cucunya, kakek tersenyum. Tangan tuanya yang sudah keriput mengambil potongan bebek peking, kemudian meletakkannya di piring Ivona.
"Terima kasih kakek, potongan salmon ini untuk kakek juga ya. Banyak kandungan omega 3 yang sangat baik untuk regenerasi sel kek." Ivona juga mengambilkan potongan salmon, kemudian meletakkannya di piring kakeknya.
Tuan dan Nyonya Iswara tersenyum kecut melihat keakraban antara kakek dengan Ivona. Sampai saat ini, di dalam hati kecil mereka belum bisa menerima dengan ikhlas kehadiran dan kemunculan Ivona dalam keluarganya. Penampilan Ivona yang selalu cuek dan tidak berusaha untuk mengambil hatinya, mungkin menjadi salah satu hambatan bagi mereka untuk lebih dekat. Sedangkan Vaya, bayi yang dari dulu bersamanya lebih mudah mengambil hati dan mencairkan setiap kebekuan dalam hatinya.
"Oh ya ma.., ini tumben-tumbenan si Vaya tidak ikut makan malam bersama kita? Biasanya dia paling suka jika diajak pergi makan bersama." tiba-tiba Ivona bertanya pada Nyonya Iswara.
Ketiga kakak Ivona menghentikan makannya, mereka melihat pada Ivona yang seperti merusak suasana makan malam.
Nyonya Iswara terkejut mendengar pertanyaan dari putrinya itu, sebenarnya tadi dia sudah mengajak Vaya untuk turut serta menghadiri makan malam. Tetapi putrinya itu tidak mau, karena malu dia tidak mendapatkan penghargaan apapun. Nyonya Iswara sudah merayunya, untuk tidak usah memperhatikan hal itu, tetapi anak itu tetap tidak mau datang.
"Kebetulan Vaya sedang mempersiapkan diri untuk melakukan tur piano lagi Ivona, jadi dia tidak bisa ikut gabung. Tapi tadi anak itu menitipkan ucapan selamat atas pencapaian prestasimu." Nyonya Iswara berbohong demi melindungi Vaya.
__ADS_1
"Sudahlah Ivona.., tidak perlu kamu menanyakan anak itu. Memang sudah benar, jika dia harus segera keluar dari keluarga Iswara, dan segera kembali ke keluarga aslinya. Toh.., dia juga sudah tahu siapa papa dan mamanya yang asli." tiba-tiba Tommy menimpali, dan berakhir dengan pelototan dari Nyonya Iswara.
"Jadi Vaya sebenarnya sudah tahu siapa keluarga aslinya? Baguslah kalau begitu, anak itu segera kembali ke rumah orang tuanya." kakek terlihat senang, beliau ikut menanggapi.
"Iya kek.., Vaya sendiri yang bercerita pada Rio dan Thomas siapa papanya. Papanya saat ini...."
"Tommy .., lanjutkan makan malammu!" terdengar Tuan Iswara mengingatkan Tommy. Belum selesai Tommy menyelesaikan kalimatnya, sudah dipotong oleh Tuan Iswara.
Suasana kembali hening, dan setelah beberapa saat mereka makan dalam keheningan, tiba-tiba..
"Selamat malam..., apakah kedatangan saya mengganggu." Alexander mengucapkan selamat malam, saat ini dia sudah berdiri di samping kakek.
Melihat kedatangan laki-laki muda itu di acara makan malam keluarga Iswara, menjadikan Ivona tepuk jidat. Kejadian akhir-akhir ini antara dia dengan laki-laki itu menjadikan Ivona menjadi lebih hati-hati akan keberanian dan kenekatannya. Tetapi dalam hati kecilnya, Ivona juga merasa senang dengan perlakuan Alexander padanya.
**********
"Aaaak.." Ivona terkejut, saat satu sendok kecil puding sudah ada di depan mulutnya.
"Wakili aku untuk menghabiskan puding ini ya! Aku tahu kamu sangat menyukai makanan yang manis-manis." ucap Alexander tanpa mempedulikan dimana saat ini mereka berada.
Tanpa membantah, Ivona membuka mulutnya, dan satu sendok kecil itu masuk ke mulut Ivona tanpa halangan. Rasa manis aroma coklat dan rum terasa sangat nikmat, seketika mood Ivona kembali cerah. Dia membuka mulutnya lagi, dan dengan sabar Alexander menyuapi Ivona di depan keluarganya. Ketiga kakak Ivona melihat dengan tatapan iri akan keakraban adiknya dengan Alexander.
__ADS_1
"Ha.., ha.., ha..., ternyata Tuan Muda Alexander sangat pintar menyenangkan hati cucuku. Kakek sangat senang, jikapun kakek diambil oleh Tuhan, kakek sangat bersyukur sudah ada orang yang memperhatikan dan merawat cucuku dengan baik." ucap kakek melihat keakraban cucunya dengan CEO Kavindra Group itu sambil tertawa.
"Saya juga senang kek, dapat diberi kepercayaan kakek untuk merawat adik kecil yang sangat usil ini." kata Alexander menanggapi humor kakek, sambil mengusap lembut rambut Ivona.
"Tapi sayangnya.., Ivona belum begitu pintar untuk urusan dapur Tuan Alex. Vaya lebih bisa, karena anak itu sudah sering menemani saya di dapur." tiba-tiba Nyonya Iswara masih berusaha menawarkan Vaya untuk Alexander.
"Saya lebih suka melayani Nana.. Nyonya Iswara. Saya juga tidak menuntut untuk dilayani. Untuk urusan dapur, sudah ada chef yang akan mengurusi makanan kami di rumah." jawaban dari mulut Alexander seketika membungkam perkataan Nyonya Iswara.
"Ha.., ha..., ha.., ternyata Tuan Alex pintar bercanda juga. Ini sudah hampir malam, bagaimana jika kita akhiri makan malam ini." karena jam sudah menunjukkan jam 22.00, kakek mengakhiri makan malam. Ivona langsung berdiri dan berpegangan erat pada kakek, dia tidak mau menginap di rumah Alexander.
"Nana..., ayo kita segera kembali! Kamu belum mengecek tugas-tugasmu untuk besok pagi kan?" dengan tanpa tahu malu, Alexander memegang pergelangan tangan Ivona.
"Ivona ingin tidur malam ini di kamar Ivona, karena ingin dekat dengan kakek. Ivona kangen kakek.." Ivona pura-pura merajuk, dia menyandarkan kepalanya pada bahu kakek.
"Anak nakal.., apakah kamu tidak kasihan dengan Tuan Alex yang sudah repot-repot menjemputmu? Ayo pulang bersamanya, jangan kecewakan Tuan Alex." tiba-tiba kakek malah membela Alexander.
Akhirnya tidak dapat lagi membantah, Ivona mengikuti Alexander menuju mobilnya. Tiba-tiba Thomas berlari ke mobil Alexander.
"Ada apa kak Thomas?" tanya Ivona melihat kedatangan kakak ketiganya itu.
"Ini tas sekolahmu." Thomas mengulurkan tas sekolah Ivona, ternyata Tommy sudah menyiapkan tasnya di dalam mobil. Padahal tadi dia sengaja meninggalkannya di dalam kamar.
__ADS_1
************