
Di dalam kamar
Aldo tidak mau melepaskan pelukannya pada gadis itu, laki-laki itu terlihat sangat merindukan saat-sat intim dengan istrinya. Berkali-kali karena merasa malu, Ivona berusaha mengangkat tubuhnya dari atas tubuh Aldo, tetapi laki-laki muda itu menahannya. Tanpa mengenakan pakaian atas karena baru saja bajunya dilepaskan oleh Ivona, mereka saling bertatapan. Ivona tengkurap di atas dada laki-laki itu. Tatapan keduanya seakan menyimpan makna yang tidak perlu untuk diucapkan, hanya mereka berdua yang tahu dan memahaminya.
"Honey..., sampai kapan kita akan terus menunggu?" bisik lembut Aldo sambil jarinya memainkan rambut gadis itu.
Ivona bingung untuk menjawabnya, gadis itu hanya menggelengkan kepala. Aldo mengangkat wajahnya, dan dengan lembut menangkap bibir merah Ivona,.. kemudian keduanya berciuman dalam. Rasa yang tidak bisa diungkapkan, terasa mengalir di pembuluh darah kedua manusia itu. Ciuman itu berlangsung lama, dan semakin dalam. Kedua lidah saling membelit, saliva mereka juga saling menyatu seakan menyatukan perasaan mereka yang sudah lama terpisahkan.
"Tok.., tok.., tok..., Nana.., Aldo.. ada apa di dalam?? Apa yang sedang kalian lakukan?" kedua orang itu melepaskan ciuman mereka sambil tersenyum, ketika mendengar suara ketukan di pintu kamar. Ivona akan mengangkat tubuhnya dari atas tubuh Aldo, tetapi laki-laki itu menahannya.
"Masuk saja bro.., pintu tidak dikunci kok.." sambil tersenyum licik, Aldo berteriak meminta Richard masuk ke dalam. Ivona merasa malu, dia ingin membebaskan dirinya dari pelukan laki-laki itu, tetapi Aldo malah memeluknya dengan erat. Akhirnya tidak ada pilihan lagi, Ivona mengikuti alur yang akan dibuat oleh laki-laki yang berada di bawahnya itu.
Perlahan gagang pintu dibuka dari luar, dan ketika daun pintu membuka, dengan pandangan penuh emosi, Richard menatap pemandangan vulgar di atas sofa kamar tersebut. Dan celakanya, Aldo malah semakin menekan kepala Ivona ke bawah, jadi persis sebuah adegan mesum yang terlihat di mata Richard.
"Damn it...! Nana.. apa yang kamu lakukan??" tiba-tiba Richard berteriak, dan Ivona mencoba melepaskan kepalanya dari kungkungan tangan Aldo. Tetapi tidak mudah untuk melepaskannya. Sedangkan Aldo dengan tatapan bangga, malah senyum mengejek pada laki-laki itu.
Melihat ekspresi kemenangan di wajah Aldo, Richard langsung berjalan menghampiri mereka. Tangannya langsung melepaskan belitan tangan Aldo yang memeluk Ivona dengan erat.
__ADS_1
"Ha..., ha..., ha... Tuan Muda Richard panas ya. Apakah kamu belum pernah sekalipun melihat blue film..?? Sebegitunya ekspresimu melihat keintiman dan kemesraan kami." sambil tertawa ngakak, Aldo menggoda Richard. Merasa malu, Ivona memberi cubitan besar di pinggang Aldo.
"Aaaww.., honey.. apa yang kamu lakukan?" melihat bekas merah karena cubitan, Aldo menatap mata Ivona dengan tatapan protes. Richard tertawa kecil melihat interaksi itu.
"Apa perlu aku panggilkan kedua pengawalku untuk kembali menghajarmu Tuan Muda?" tanya Richard sambil mengedipkan matanya.
"Bukk.." sebuah bantal sofa terlempar ke muka Richard, dan Ivona geleng-geleng melihat tingkah mereka yang seperti anak kecil.
***********
Tanpa diketahui Aldo dan Ivona, Richard dan Frans menyiapkan sebuah acara untuk segera meresmikan hubungan mereka berdua. Melihat interaksi dan kedekatan mereka, Richard merasa ngeri, sehingga secepatnya mereka memutuskan untuk langsung membuat acara pesta.
"Tidak ada yang perlu kamu takutkan Richard. Kekuatan keluarga kita juga tidak bisa diremehkan, apalagi jika kakekmu sampai tahu." Frans berbicara lirih. Richard melihat ke arah papanya itu.
"Tetapi bagaimanapun pa..., kita dan kakek tidak berada dalam satu keluarga yang sama. Hukum di negara ini berbeda dengan hukum di negara tempat kakek tinggal. Kita harus taat dan mematuhi hukum di sini, meskipun ada kalanya pada saat-saat tertentu, kita juga sering mempermainkan oknum orang-orangnya juga. " sahut Frans sambil tersenyum masam.
"Jika begitu.., segera atur pertemuanku dengan keluarga besar Girindra. Seharusnya mereka yang lebih dulu untuk melamar putriku, tetapi kali ini aku tidak boleh lengah. Aku harus mengalah demi kebahagiaan keluarga kita Richard. Meskipun aku gagal untuk memiliki kembali Carmindra.., tetapi aku juga tidak boleh berpikir egois. pengorbanan Dokter Rafi untuk Carmindra sudah sangat besar." lanjut Frans lagi. Laki-laki itu tersenyum masam.
__ADS_1
"Baik pa.., secepatnya Richard akan mengaturnya. Sekarang Richard ijin untuk mempersiapkan semuanya." Richard kemudian meninggalkan Frans di kamar sendirian.
***********
Keluarga Girindra menyanggupi untuk bertemu dengan salah satu pesohor di negeri ini yaitu Frans Mahendra. Nyonya Besar sampai meminta suaminya segera pulang dari luar negeri untuk bertemu dengan konglomerat tersebut. Mereka mengatur janji di sebuah private restaurant, dan sudah diatur janji untuk tidak memberi tahukan pada Aldo. Pada pukul tujuh malam, tepat pada waktu yang sudah diatur, Nyonya Besar dan Tuan Besar Girindra sudah memasuki private room yang didesain sebagai tempat untuk pertemuan tersebut. Mereka berdua sama sekali tidak tahu, jika kedatangan mereka untuk membahas hubungan antara Aldo dengan Ivona. Dalam pikiran mereka, keluarga Frans ingin mengajak mereka melakukan kerja sama dalam hal bisnis.
"Silakan masuk Tuan dan Nyonya Besar.., silakan lewat pintu yang ada di depan! Keluarga Frans Mahendra sudah menunggu di dalam." asisten Richard sebagai penerima tamu di depan, mempersilakan kedua orang besar itu masuk ke dalam.
"Ya.., terima kasih." Helen berjalan di depan orang tua Aldo.. untuk menunjukkan tempat pertemuannya.
Di dalam sebuah ruang dengan meja makan, yang sudah berisi banyak makanan khas dari restaurant tersebut, terlihat Tuan Frans Mahendra didampingi Richard tampak duduk dan langsung berdiri menyambut kedatangan mereka.
"Selamat datang Tuan dan Nyonya Girindra. Silakan duduk..!" sambil membalik tangannya, Richard mempersilakan kedua orang itu untuk duduk. Helen dengan sigap menarikkan kursi untuk tempat duduk mereka.
"Terima kasih Tuan Frans. Kami berdua merasa tersanjung, tiba-tiba saja kami mendapatkan kehormatan untuk makan bersama dengan Tuan dan pewaris tunggalnya." Tuan Besar Girindra membalas sapaan dari Tuan Frans, mereka kemudian menduduki kursi yang sudah disiapkan oleh Helen.
Tidak lama, pelayan restaurant segera melayani minuman untuk kedua orang tersebut. Untuk tidak membuang waktu, Richard mempersilakan untuk mengawali pembicaraan dengan menikmati makan malam terlebih dahulu. Selesai mereka makan malam, baru pembicaraan tentang rencana pernikahan Aldo dan Ivona akan mereka bicarakan. Tidak ada penolakan dari kedua orang tua Aldo, karena kebetulan mereka juga belum makan malam dari rumahnya.
__ADS_1
*********