Revenge: Terlahir Kembali

Revenge: Terlahir Kembali
Chapter 206 Tindakan Operasi


__ADS_3

Ivona mengatur janji dengan Ester untuk melakukan operasi bedah saraf otak, seorang pasien penting. Sebenarnya dokter di berbagai rumah sakit sudah menyerah akan resiko yang akan mereka terima. Bukan resiko dari pasien, tetapi dari keluarga pasien yang sangat mengharapkan kesembuhan akan ayah mereka. Kebetulan pasien yang dioperasi memiliki jabatan sebagai tangan kanan orang terpenting di negara ini. Akhirnya setelah mempertimbangkan berbagai kemungkinan, Dokter Marcus meminta Ivona untuk melakukannya.


Sebenarnya Ivona bisa melakukan tindakan operasi, bukan karena studi yang dia lakukan pada jurusan Kedokteran, tetapi karena bakat genius yang dia warisi dari keluarganya. Dokter Marcus pernah meminta Ivona untuk mengambil ujian penyetaraan di luar negeri, agar mendapatkan recognisi atas keahliannya itu, tetapi dengan halus gadis itu menolaknya. Lewat jalan belakang, Dokter Marcus selalu membawa Ivona untuk menangani pasien-pasien yang membutuhkan pertolongannya tanpa mengungkap siapa Ivona sebenarnya.


"Nona.., lewat sini!" begitu melihat kedatangan Ivona.., Ester langsung mengarahkan gadis itu untuk memasuki sebuah ruangan yang sudah disiapkan untuknya. Ivona berjalan mengikuti Ester di depannya, mereka memang mengambil jalan yang tidak banyak berpapasan dengan orang banyak.


"Silakan masuk Nona.., Dokter Marcus sudah menunggu di dalam. Saya akan di luar ruangan saja, memastikan agar tidak ada orang yang masuk." Ester mempersilakan Ivona masuk. Gadis itu kemudian duduk di kursi yang sudah tersedia di depan pintu.


"Terima kasih Ester.." Ivona segera memasuki ruangan, dan terlihat Dokter Marcus sedang berbicara dengan seorang laki-laki di dalam. Dengan penuh tanda tanya, Ivona menatap Marcus.


"Syukurlah.., akhirnya Dokter Ivona sudah datang. Dokter..., kenalkan ini Richard! Putra dari pasien yang ada jadwal operasi hari ini." Dokter Marcus berdiri, kemudian mengenalkan Ivona pada keluarga pasien. Ivona tersenyum dan mengacungkan kedua tangan yang ditangkupkan ke depan. Laki-laki itu hanya menatapnya sambil mengangkat sudut bibirnya ke atas.


"Seberapa persen tingkat keyakinan anda untuk melakukan operasi pada papa saya?" tiba-tiba laki-laki itu bertanya dengan sedikit sinis pada Ivona. Gadis itu mengambil nafas, kemudian melihat pada laki-laki yang bernama RIchard itu dengan berani.


"Aku bertanya pada anda.., jawab dong. Jangan malah melihat seperti itu." laki-laki itu melanjutkan kalimatnya, saat melihat tatapan Ivona.

__ADS_1


"Huh..., keyakinan saya melakukan tindakan operasi, tergantung pada keyakinan anda sebagai putra dari pasien." sambil tersenyum smirk, Ivona menjawap pertanyaan Richard. Gadis itu paling tidak suka dengan orang-orang yang berlaku sok-sokan tanpa menunggu hasil terlebih dahulu.


"Jaga perkataan anda. Apa maksud dari kalimat anda?" Mendengar jawaban yang disampaikan Ivona, terlihat Richard sangat berang. Tetapi untungnya Dokter Marcus langsung menengahi mereka.


"Tuan Richard.., tolong tahan emosi sebentar. Tindakan operasi papa Tuan sudah akan kita laksanakan. Memang Dokter Ivona juga tidak salah, keyakinan orang terdekat akan kesembuhan pasien akan membentuk daya juang psikhologis pasien untuk dapat bertahan. Saya berharap, Tuan Richard bisa berdoa dan menunggu tindakan operasi ini sampai selesai." sambil memegang bahu Richard, Dokter Marcus berbicara padanya. Laki-laki itu melirik Ivona yang malah duduk santai, seperti tidak ada yang terjadi dengannya.


"Dokter Marcus.., saya hanya memiliki waktu maksimal empat jam di tempat ini. Jika operasi tidak jadi dilaksanakan, saya akan segera undur diri. Banyak agenda lain yang harus saya kesampingkan." tiba-tiba terdengar suara Ivona mengajak Marcus berbicara.


"Baik.., kita langsung ke ruang operasi. Sudah ada satu dokter dan beberapa suster yang akan mendampingi kita. Mari Dokter Ivona.." Dokter Marcus segera melepaskan tangannya yang masih berada di bahu Richard, kemudian melangkah menghampiri gadis itu.


Sedangkan Richard hanya bisa menghela nafas, karena bagaimanapun hampir semua dokter yang ada di negara ini, menyerah untuk melakukan tindakan operasi terhadap penyakit papanya. Penyakit yang diidap papanya, sudah sangat lama tidak mendapatkan penyelesaian.


************


Ivona mempelajari hasil tes darah, elektrokardiogram (EKG), elektroensefalogram (EEG), pungsi lumbal, foto Rontgen dada, dan MRI dari pasien. Semua hasil yang diperoleh, menyatakan bahwa pasien siap untuk dilakukan tindakan operasi. Setelah merasa cukup membaca persiapan fisik pasien untuk dilakukan tindakan operasi, Ivona mencuci tangan dan melakukan sterilisasi pada kedua tangannya.

__ADS_1


"Selamat pagi Bapak..., sudah siap untuk hidup lebih lama."dengan suara khasnya, Ivona menyapa pasien. Tuan Frans yang akan dilakukan tindakan operasi melihat ke arah Ivona. Laki-laki yang sudah terlalu lama hanya mendengarkan janji kosong dari dokter yang merawatnya, hanya mengangkat kedua bahunya. Memahami bagaimana kondisi psikhologis pasien yang sudah lama tersiksa karena penyakit yang dia derita, Ivona mencoba untuk memakluminya.


"Lakukan anestesi.., kita akan segera mulai tindakan operasi!" suara tegas Ivona langsung direspon oleh tim dokter. Dokter anestesi langsung melakukan anestesi ke tubuh pasien, dan tidak lama kemudian pasien tertidur. Dengan cekatan Dokter Marcus memberikan peralatan dan menjadi asisten Ivona saat melakukan bedah saraf.


Perlahan Ivona mengoleskan cairan antiseptik ke kulit kepala pasien, guna mencegah terjadinya infeksi. Dokter Marcus membantu dengan membuat sayatan di kulit kepala pasien, kemudian melubangi tengkorak dengan alat bor medis untuk melihat bagian otak yang bermasalah. Beberapa saat dihabiskan Dokter Marcus untuk melakukan tindakan itu. Berjam-jam sudah mereka habiskan di dalam ruangan itu.


Setelah tengkorak pasien berhasil dibuka, Dokter Marcus bergeser ke samping. Dengan cepat Ivona mengambil alih tempat Marcus. Dengan penuh kehati-hatian Ivona mengamati permasalahan yang dialami pasien. Bagian otak yang rusak diangkat Ivona.., kemudian dia perbaiki. Semua orang yang berada di dalam ruangan itu mengambil nafas panjang, kesalahan sedikit saja akan berakibat fatal. Tidak lama kemudian..


"Dokter Marcus rekatkan kembali kulit, dan tulang pasien.." kalimat yang ditunggu orang-orang itu akhirnya keluar dari mulut Ivona. Nafas lega menyertai mereka. Dengan sigap, Marcus segera mengambil alih tindakan Ivona.


Melihat dan mengamati apa yang dilakukan Marcus sebentar, Ivona segera keluar dari ruang operasi. Gadis itu langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Ester yang selalu mendampingi, segera menghampiri Ivona setelah melihatnya keluar dari kamar mandi.


"Nona..., Dokter Marcus sudah menyiapkan makan siang di ruang tunggu. Non Ivona akan langsung pulang.., atau mau makan siang dulu?" melihat Ivona kecapaian, Ester langsung mengajaknya makan siang.


Ivona melihat ke arah dinding, dan gadis itu mengambil nafas setelah menghitung waktu. Tujuh jam hanya dia habiskan berada di ruang operasi.

__ADS_1


"Aku capai Ester.., aku makan di dalam mobil saja. Langsung antar aku pulang..!" tanpa menunggu jawaban Ester, Ivona sudah berganti pakaian menggunakan baju kesukaannya. Setelah menelpon seseorang, Ester segera mengikuti Ivona di belakangnya.


************


__ADS_2