
Suara ponsel Ivona terus berdering dan bergetar, sampai membangunkan Ivona yang masih tertidur lelap. Dengan kesal dia segera mengambil ponselnya, dan melihat nama Marcus yang sedang melakukan panggilan.
"Ya..., ada apa?" dengan nada ketus dan kesal Ivona menyapa Marcus.
"Iv..., kenapa nada bicaramu terasa hambar?? Ini aku Marcus.., ayolah kita membicarakan masalah bisnis ini." Marcus merasa sedikit was-was mendengan nada bicara Ivona yang dingin.
"Hm..., so...?"
"Aku tahu jika kamu saat ini sangat membutuhkan uang yang sangat banyak. Ada seorang pemuda yang cukup hebat dalam permainan komputernya. Berdasarkan informasi, dia tinggal di kota yang sama denganmu." Marcus mulai menjelaskan maksudnya melakukan panggilan pada gadis itu.
"Terus apa hubungannya denganku?? Malas aku berurusan dengan orang lain, apalagi kamu minta aku untuk mempengaruhinya." jawab Ivona masih dengan nada dingin.
"Ayolah Iv...., maulah!! Aku bersedia membayarmu dengan bayaran yang sangat tinggi, jika kamu bisa membawanya bergabung dengan perusahaan kita." Marcus terus berusaha merayu gadis itu.
"Pemuda itu bernama Roy Kumala.., please Ivona... carilah dia! Minta dan ajak dia untuk bergabung. Banyak dollar secepatnya akan kita transfer langsung ke rekeningmu." lanjut Marcus lagi. Mendengar nama Roy Kumala, pacar Vaya langsung membuat Ivona merasa muak.
"Hoeks... siapa yang kamu sebut tadi?? Roy Kumala...., anak laki-laki yang hanya bisa mengganggu perempuan dan suka membuat keributan? No..." Ivona langsung menjawab Marcus dengan nada mencibir dan langsung menutup sambungan telepon.
"Mengganggu orang tidur saja. Untuk apa aku harus berurusan dengan laki-laki menyebalkan itu." gerutu Ivona, dan dia langsung menarik kembali selimutnya.
**********
Di negara lain, di dalam sebuah institut.
Marcus membanting ponsel yang baru saja dia gunakan untuk melakukan panggilan pada Ivona. Kemudian dia mengambil cangkir kopi yang ada di depannya, kemudian menyesapnya secara perlahan. Aroma kopi yang dia hirup dan air kopi yang mengalir melalui tenggorokannya, mendatangkan manfaat dimana mood dan semangatnya muncul kembali.
"Kenapa Marcus..., mukamu itu sama sekali tidak enak untuk dilihat. Muka seperti lipatan-lipatan baju saja." tegur wanita yang duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Lagi jengkel aku..., bener-bener ya..., kalau urusan dengan perempuan, harus menyiapkan hati empat kali lipat. Baru saja kita bicara belum selesai, eh malah seenaknya saja dia matikan panggilan tanpa permisi." Marcus melampiaskan kekesalannya, dia kemudian mendorong kursi dan meluruskan kakinya dengan diangkat di atas meja. Di depannya tampak layar komputer yang sedang menyala.
"Ha..ha..ha.., sejak kapan kamu berurusan dengan perempuan Marcus?? Biasanya hidupmu hanya kamu gunakan untuk mengurusi komputer saja." sahut temannya yang lain.
"Tapi ga pa pa juga..., daripada kamu jengkelnya sama komputer, kemudian kamu banting kan jadinya tekor... ha..ha..ha.." teman lainnya ikut meledek.
"Kalian itu bicara apa?? Siapa juga yang ngurusin perempuan untuk urusan gituan. Aku baru saja melakukan panggilan telpon dengan Ivona, cewek berbakat yang belum lama kita rekrut itu. Aku minta dia untuk mencari dan membawa seorang anak laki-laki yang bernama Roy Kumala.." dengan nada kesal Marcus menceritakan apa yang dia alami.
Mendengar Marcus menyebut nama Roy Kumala..., wanita yang duduk di sampingnya penasaran dan menggeser kursi lebih mendekat ke Marcus.
"Terus gimana hasilnya?? Ivona mau kan, dia akan mencari dan menghubungkan laki-laki itu dengan kita?"
Marcus menatap pada wanita yang saat ini berada tepat disamping kirinya. Dia menggelengkan kepala dengan lesu. Melihat isyarat yang disampaikan Marcus, wanita yang duduk di sampingnya itu merasa lemas dan terdiam sebentar.
"Yah.., mungkin kita harus menyerah untuk mendapatkan Roy Kumala. Kita perlu mencoba lagi untuk mencari anak-anak yang mereka memiliki keahlian di bidang komputer." ucap wanita dan terlihat ikutan lesu.
"Ivona tidak bersedia, dan malah bicara padaku dengan nada yang tidak bersahabat. Yang membuatku khawatir, anak itu marah padaku, karena dia langsung mematikan panggilan telpon saat aku baru mau berbicara." Marcus terlihat cemas.
"Sialan kalian semua..., kenapa baru berbicara sekarang?? Harusnya kalian mengingatkanku dari awal." setelah sadar, Marcus malah memaki teman-temannya.
"Memangnya tadi kamu lapor sama kita, jika kamu akan menelpon Ivona?"
*********
__ADS_1
SMA Dharma Nusa
Keesokan harinya, Vaya sedang berada di ruang latihan piano sekolah. Karena dalam waktu dekat, Vaya akan mengadakan tur bermain piano, maka dia menghabiskan banyak waktunya untuk melakukan latihan piano. Di dekat pintu, tampak Roy Kumala yang tersenyum menikmati alunan musik yang dimainkan oleh gadis itu.
"Plok.., plok.., plok..., semakin hebat kamu Vaya." Roy memberikan apresiasi dengan bertepuk tangan, saat Vaya menyelesaikan main pianonya. Dia kemudian berjalan menghampiri Vaya yang masih duduk di kursi yang ada di belakang piano.
"Aku yakin Vaya.., tur yang akan kamu lakukan akan berakhir dengan sukses." Roy memuji permainan piano sambil tersenyum dan menatap ke arahnya.
"Terima kasih Roy.. Aku juga yakin kamu akan berhasil di bidang komputer." sahut Vaya yang kemudian berdiri dengan dibantu oleh Roy, kemudian Roy memberikan minuman botol pada Vaya. Gadis itu menerimanya dengan sangat senang, kemudian langsung meminumnya perlahan.
Mereka pindah duduk berdampingan di kursi panjang yang tersedia di dekat pintu masuk.
"Aku gagal Vaya..., lamaran yang aku kirimkan ke lembaga penelitian asing ternyata tidak ditolak. Aku sudah dinyatakan tidak terima." dengan suara pelan, Roy menyampaikan pemberi tahuan tentang hasil lamaran yang sudah diterimanya.
"Kenapa bisa Roy..., apakah kamu sudah menghubungi lembaga tersebut, dan melakukan konfIrmasi ulang?? Padahal lembaga itu memiliki kapabilitas yang sangat luar biasa, dan akan memiliki prestise tersendiri jika kamu bisa bergabung disana." dengan tatapan datar, dan seketika Vaya menjadi dingin dia bertanya pada Roy.
Melihat perubahan Vaya yang tiba-tiba menjadi dingin, Roy berusaha menenangkan Vaya.
"Aku sudah mengirimkan surat untuk mengkonfirmasi hasil Vaya. Hanya saja.., sampai tadi aku sudah lakukan cek surat-surat masuk di email, tetapi belum ada balasan masuk dari lembaga tersebut."
Vaya tidak menanggapi penjelasan yang disampaikan oleh Roy.
"Tapi tenanglah Vaya..., kamu tahu sendiri kan, bagaimana keahlianku di bidang komputer. Aku sangat yakin dan akan terus berusaha agar bisa diterima di lembaga penelitian asing tersebut. Kita tinggal menunggu bagaimana hasil dari usahaku." lanjut Roy dengan bersemangat.
Vaya tersenyum masam mendengarkan janji Roy.
"By the way..., bagaimana Vaya hubunganmu sekarang dengan kak Thomas?"
__ADS_1
************************