Revenge: Terlahir Kembali

Revenge: Terlahir Kembali
Chapter 106 Tindakan Operasi


__ADS_3

Flash back On


Alexander ditemani Rico turun di hanggar rumah sakit, dan langsung menuju Presidential Suites. Setelah melakukan penanda tanganan surat-surat penting, dia langsung terbang ke Jakarta dengan mengajak Rico untuk turut serta. Saat mereka berada di helikopter, Rico sudah konfirmasi Tommy tentang keberadaan Ivona dan kakek, kamar berapa mereka berada. Tommy mengabarkan jika semua anggota keluarga sudah berkumpul di rumah sakit.


"Arah depan belok kanan Tuan.., nanti tindakan operasi dilakukan di kamar yang paling ujung." Rico menunjukkan arah kamar yang akan mereka tuju.


Setelah mengikuti petunjuk arah, tepat di depan ruang operasi, Tommy melihat Thomas dan Rio sedang duduk di kursi tunggu. Di tempat itu juga terlihat Tuan Iswara, sedangkan Nyonya Iswara berada di dalam kamar karena menemani Vaya yang langsung ke rumah sakit dengan ditemani Roy Kumala.


"Dimana Ivona..?" Alexander langsung bertanya pada Thomas.


"Bertemu Dokter yang akan melakukan tindakan operasi pada kakek, dia sudah ditemani Tommy." jawab Thomas.


"Ada di ruang mana, Ivona ketemu dengan Dokter Tantowi?" lanjut Alexander. Dia berpikir sedikit aneh, kenapa seorang dokter yang sudah siap akan melakukan tindakan operasi, malah minta bertemu terlebih dahulu dengan keluarga pasien.


"Ruang transit." jawab Thomas singkat.


Rio menengok ke arah laki-laki muda itu dengan pandangan kurang suka, dia masih bingung dengan kedekatan adik kandungnya Ivona dengan Alexander. Tetapi saat ini bukan merupakan tempat yang tepat untuk mengkonfirmasi tindakan pria muda itu.


"Sepertinya itu ruang transit Tuan, ada papan penunjuk arah disana." ucap Rico menunjuk arah lurus ke selatan.


Tanpa pamitan, Alexander langsung menuju arah yang ditunjukkan Rico, mereka berdua lurus dan setelah belok ke kanan, Alexander melihat Tommy duduk sendiri di depan pintu.


"Tomm.., mana Ivona?" tanya Alexander pada Tommy. Kakak kandung Ivona itu langsung berdiri, dia menyalami Alexander.


"Baru di dalam dengan Dokter Tantowi." sahut Tommy.

__ADS_1


"Kenapa kamu biarkan sendiri Ivona menemui dokter itu?" Alexander langsung mendorong pintu ruang transit, dia terpaku melihat Ivona sedang berbicara serius dengan Dokter Tantowi.


"Lupakan itu, untuk seorang calon peneliti yang expert dalam bidang teknologi medis, aku akan melakukan apa saja untuk menyenangkannya. By the way.., apakah kamu sudah pernah ketemu dengan Marcus sebelumnya?" terdengar suara dokter berbicara dengan Ivona.


Alexander tertegun di pintu masuk, tanpa sadar dia mendengar apa yang dibicarakan antara Ivona dengan Dokter Tantowi. Dia tetap berdiri disitu, dengan mengerenyitkan keningnya pria muda itu berpikir sendiri.


"Siapa Marcus, dan kenapa Ivona tampak akrab dengan Dokter Tantowi, sepertinya mereka pernah ketemu sebelumnya. Tetapi dimana gadis itu bisa bertemu dengannya?"


"Saat inipun negara itu sudah akan dengan terbuka menerimamu, kamu bisa melanjutkan studi dengan transfer di High School, tidak perlu menunggu kamu finish disini dulu." terdengar lagi ucapan Dokter Tantowi berusaha meyakinkan Ivona.


"Marcus akan memaksamu untuk segera mengurus kepindahan ke negara itu Ivona. Karena aku sudah mendapatkan bocoran kabar, jika pusat komputer nasional saat ini sudah mengirimkan orang untuk menyelidiki siapa kamu. Pergilah segera ke luar negeri." mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Dokter, Alexander sudah tidak dapat mentolerir lagi.


"Tidak akan ada yang pergi ke luar negeri dalam waktu dekat ini." Ivona terkejut, sontak wajahnya terlihat agak pias saat melihat Alexander berjalan masuk menghampirinya di ruang transit.


#Flash back Off


************


"Sudah makan?" tanya Alexander pelan pada Ivona. Dia berusaha mengendalikan dirinya, dan akan menanyai gadis itu pada saat yang tepat.


Ivona menggelengkan kepala, melihal hal itu Alexander melambaikan tangan memanggil Rico.


"Ada apa Tuan?" Rico langsung menghampiri Alexander.


"Carikan makan untuk kami!" ucap Alexander pada Rico.

__ADS_1


"Siap." Rico langsung bergegas pergi meninggalkan mereka bertiga.


"Kak.., Ivona mau pindah di depan ruang operasi kakek. Ivona ingin berada di dekat kakek." Ivona memohon pada pria muda itu.


"Tunggu sebentar, makan dulu baru kesana! Rico baru mencarikan makanan untuk kita." Alexander meminta Ivona untuk menunggu.


"Ga mau.., Ivona maunya sekarang." Ivona langsung berjalan meninggalkan Alexander dan Tommy.


Alexander melihat pada Tommy, kakak kandung Ivona itu hanya mengangkat kedua bahunya keatas. Akhirnya mereka mengikuti Ivona dan gadis itu berdiri di luar kamar. Mereka berdiri dalam diam, dan terlihat Ivona menahan perasaannya. Dia ingat cerita dalam novel jika kakeknya gagal dalam melakukan operasi otak. Meskipun sisi hatinya dia percaya akan keberhasilan Dokter Tantowi, tetapi Ivona tidak mampu menyembunyikan rasa kekhawatirannya.


"Tenangkan hatimu Nana.., yakinlah jika operasi kakek akan berjalan dengan lancar!" Alexander menenangkan gadis itu. Dia memegang bahu Ivona, dan meraih kepalanya untuk disandarkan di bahunya. Tommy terkejut melihat sikap Alexander pada Ivona, dia seperti tidak mempercayai dengan penglihatannya. CEO Kavindra Group itu sangat dekat dengan adiknya, tetapi tidak etis jika dia menanyainya dalam hal ini.


Tidak berapa lama, Rico datang membawa beberapa box makanan. Dia memberikan dua box pada Alexander, juga dua botol air minum. Selebihnya asisten Alexander membagikan pada yang lain.


"Kamu makan dulu ya, nanti bisa sakit jika perutmu kosong!" Alexander membukakan box, dia menyerahkan pada gadis itu.


Ivona mengabaikan permintaan Alexander, dia masih terlihat gelisah menunggu kakeknya sedang dilakukan tindakan oleh Dokter. Melihat hal itu, Alexander mendudukkan Ivona di kursi, dengan sabar laki-laki itu berusaha menyuapi Ivona.


"Aaaa.., ayo Na.., sedikit saja! Buka mulutmu!" Alexander menempatkan sendok berisi nasi ke depan mulut Ivona. Tapi gadis itu menggelengkan kepala.


"Ayo dong.., jangan seperti anak kecil!" lanjut Alexander. Akhirnya malas ribut, Ivona mau menerima suapan dari pria muda itu. Kedua sudut mulut Alexander tertarik sedikit ke atas, sambil menunggu Ivona menelan makanannya, dari sendok dan box yang sama, dia juga memasukkan beberapa suap ke mulutnya.


***********


Lebih dari tiga jam, keluarga Iswara menunggu tindakan operasi dengan perasaan gelisah. Mereka duduk tidak beraturan di depan ruang operasi, bahkan identitas mereka sebagai seorang publik figur tidak terlihat di area situ. Hanya Alexander yang masih nampak tenang, dia duduk di samping Ivona dengan memegangi tangannya. Thomas dan Rio duduk berselonjor di koridor, sedangkan Tommy berdiri dengan tidak tenang. Karena kurang kuat menunggu, Tommy meminta Tuan Iswara untuk menunggu di dalam kamar inap.

__ADS_1


"Keluarga Iswara..," tiba-tiba terdengar suara memanggil mereka. Tampak Dokter Tantowi ditemani 3 orang dokter lainnya keluar dari ruang tindakan operasi.


*************


__ADS_2