
Ivona langsung tertidur pulas di dalam kamarnya, setelah minum sup penghilang mabuk. Kedatangan Bi Mina tanpa permisi ke kamar, telah menyelamatkan tindakan lebih jauh antara Ivona dan Alexander. Dengan cepat Ivona mendorong tubuh Alexander ke belakang, kemudian menyelesaikan mandi dan berlari keluar.
Alexander tersenyum sendiri mengingat hal yang terjadi barusan dengan Ivona. Tubuh mulus dan kencang milik Ivona berlari meninggalkannya sendirian di kamar mandi, masih jelas terlihat di pikirannya. Karena itu, Alexander butuh waktu lama untuk berendam air dingin untuk meredakannya. Saat ini laki-laki muda itu melihati gadis itu dari pinggir ranjang, kemudian dengan perlahan dia mengambil selimut dan menyelimuti tubuh Ivona.
"Kenapa dengan mudah aku bisa goyah dengan gadis ini? Aku tidak bisa terpisah dengannya, daya tariknya sangat memikat ku." Alexander berpikir sendiri.
"Apalagi yang dia sembunyikan dariku. Suatu saat dia bisa muncul dengan tampilan mengenaskan, terkadang muncul dengan ketidak berdayaan, kekuasaan, kearoganan, dan semua itu terlihat menggemaskan bagiku." dengan tersenyum smirk, Alexander mengusap wajah Ivona dengan ujung jarinya.
Laki-laki muda itu kemudian menundukkan wajahnya dan memberi kecupan lembut di kening Ivona. Perlahan dia bangkit dari ranjang, matanya bersinar tajam. Dia menghampiri tas sekolah gadis itu, dan tanpa permisi yang punya tas, dia membuka tas tersebut.
Tidak ada kecurigaan saat memeriksa buku-buku gadis itu, tidak ada tulisan rahasia, bahkan jejak anak gadis seusianya terhadap lawan jenis juga tidak dia temukan. Saat mengembalikan buku-buku itu, di anakan tas bagian dalam, mata Alexander menyala saat melihat iPad dan ponsel yang tergeletak di dalamnya.
"Aku akan memeriksanya, kamu tidak akan dapat menyembunyikan apapun denganku Nana.." gumam Alexander pelan.
Laki-laki muda itu mulai menekan power iPad, setelah beberapa saat perangkat itu menyala. Tetapi sebuah running text muncul, dengan tanda kedip-kedip.
"Never try to access a channel that is not yours."sebuah tulisan memperingatkan untuk tidak mencoba saluran yang bukan miliknya, muncul di layar iPad.
Sebuah senyuman smirk kembali muncul di bibir Alexander.
"Security yang dia buat sangat excellent, orang lain tidak akan bisa membukanya. Tetapi dia belum tahu siapa aku sebenarnya."
Tanpa menunggu lama, jari-jari Alexander dengan cepat membuat gerakan diatas keyboard qwerty dalam perangkat tersebut. Tetapi tulisan "failed" dengan huruf kapital muncul kembali di screen. Dua sudut bibir Alexander kembali melengkung ke atas.
"Menarik." ucapnya lirih.
__ADS_1
Kombinasi angka dan huruf dengan tombol Alt, space kembali dia masukkan, dan ternyata upayanya barusan membuahkan hasil. Dengan cepat, Alexander menelusur perangkat lebih ke dalam. Melihat notifikasi email, laki-laki itu langsung masuk dan matanya kembali menyipit.
"Booking code Jakarta - Hongkong atas nama Ivona Carminda untuk flight besok Jum.at malam. Hmmm..., berarti untuk kepentingan ini, tadi siang Rico ketemu dengannya di kantor imigrasi." gumam Alexander kembali.
"Besok aku akan mencoba menyelidiki Gadis ini lewat kakaknya Tommy. Siapa gadis ini sebenarnya, kenapa semuanya penuh dengan misteri."
Alexander kembali mencoba masuk memeriksa folder-folder berisi file program yang diciptakan oleh Ivona. Tetapi sudah sekuat tenaga dia mencobanya, hanya Gagal yang dia dapatkan.
"Nana.., aku akan mengikatmu. Aku tidak akan pernah membiarkan dan mengijinkanmu untuk meninggalkan aku sendiri. Kamu adalah milikku." bisiknya perlahan.
Laki-laki muda itu kemudian berdiri dan merapikan kembali barang-barang milik Ivona. Dia melangkah menuju ranjang tempat tidur Ivona, kembali melihat wajah polos seperti bayi milik gadis itu. Perlahan dia duduk, mengangkat kaki dan akhirnya membaringkan tubuhnya di samping gadis itu. Tidak lama kemudian, kedua orang itu sudah terlelap dalam tidurnya masing-masing.
********
Pagi harinya
"Kenapa kak Alex tidur disini denganku? Apa ada yang terjadi denganku dan kak Alex tadi malam?" Ivona berpikir sendiri.
Ivona mencoba mengingat kembali apa yang terjadi tadi malam. Sebenarnya efek alkohol yang dia minum tidak begitu berefek padanya, tetapi dia tidak dapat membantah apa yang diperintahkan Alexander padanya. Gadis itu juga bingung, dia seorang perempuan bar bar pada masa kehidupan sebelum, saat ini bisa dengan mudah tunduk di hadapan laki-laki itu. Tiba-tiba dia teringat sesuatu...
Secara reflek, Ivona mengangkat lengan Alexander kemudian meluruskan tangan itu. Dia langsung membuka selimut dan memeriksa seluruh tubuhnya. Dia tidak merasakan hal yang asing telah terjadi dengan tubuhnya, dan dia tidur masih mengenakan piyama yang lengkap.
"Syukurlah aku masih utuh.." gumamnya sambil tersipu malu.
Perlahan gadis itu menggeser tubuhnya untuk bangun dan membersihkan diri. Dia tidak mampu berpikir, harus melihat Alexander tahu jika mereka berdua tidur dalam satu ranjang. Tetapi baru saja Ivona akan menurunkan kakinya..
__ADS_1
"Mau kemana sayang.., hari masih pagi. Tidurlah lagi!" suara serak khas laki-laki yang membuat bulu kuduk Ivona meremang, mengagetkan dari belakang.
Sebuah tangan yang besar, kembali menarik dan membawanya ke dalam pelukan Alexander.
"Kak..," ucap Ivona tercekat.
Sebuah kecupan hangat tiba-tiba mendarat di kening Ivona, yang langsung membuat bungkam. Dengan pandangan kosong, Ivona menatap Alexander dengan tidak percaya.
"Jangan banyak berpikir.., temani aku dulu!" Ivona menjadi kaku mendengar perintah laki-laki itu. Tanpa sadar dia terdiam, dan telinganya menangkap detak jantung laki-laki itu yang teratur seperti irama musik.
"Kak.., lepaskan! Ivona mau ke kamar mandi." dengan perasaan tak menentu, Ivona memberanikan diri bicara dengan Alexander.
Laki-laki itu melonggarkan pelukannya, kemudian menatap mata Ivona.
"Ingat habis mandi, kembali temani aku! Jika tidak, aku akan memakanmu." ucap Alexander dengan nafas kasar.
Sekali loncat, Ivona segera melepaskan diri dari laki-laki itu, dan langsung berlari ke kamar mandi.
"Nana.., kamu sudah meracuniku, membiusku. Aku tidak peduli dengan semuanya, kamu adalah milikku. Kapanpun itu." gumam Alexander dengan tidak tahu malu.
Laki-laki itu mengambil guling yang tadi digunakan Ivona untuk dipeluk, dengan spontan Alexander menghirup aroma manis Ivona yang masih tertinggal. Paru-parunya terasa mengembang, dia mendapatkan rasa nyaman dari kelakuannya itu.
"Haruskah aku menyatakan perasaanku sesungguhnya pada Nana? Atau seharusnya gadis itu bisa menebak sendiri dari perlakuanku padanya." Alexander berpikir sendiri.
"Aku tidak akan membiarkan lagi ada laki-laki lain yang bisa mendekatinya. Siapapun itu, gadis ini hanya milikku, saat ini dan selamanya."
__ADS_1
*******