
SMA Dharma Nusa
Di kelas G, William terlihat malas mengikuti pelajaran di kelas. Dari sesi pertama sampai istirahat siang, laki-laki itu hanya tidur di atas bangkunya. Melihat kekuasaan ayahnya di kota ini, guru-guru yang mengajar tidak berani memberikan teguran apalagi tekanan padanya. Begitu juga dengan Beny, karena hanya Ivona teman-temannya di kelas ini yang mau mengajaknya berteman. Dia juga sangat kehilangan Ivona yang tidak berada di kelas. Tiba-tiba wali kelas mengetuk pintu, saat guru kelas sedang memberikan pelajaran. Guru Kelas untuk mata pelajaran Matematika menghentikan aktivitasnya, kemudian dia berjalan dan membuka pintu kelas G.
"Ada apa Bapak Wali Kelas.., kebetulan saat ini adalah jadwal saya mengajar sampai pukul 13.30 nanti." guru Matematika langsung mengajukan pertanyaan saat menemui wali kelas. Matanya melihat ke belakang wali kelas berdiri. Di belakang wali kelas tersebut, ada dua orang laki-laki paruh baya yang ikut melihatnya dengan tatapan menyelidik.
"Maaf mengganggu. Saya disini mau bertemu dengan Ivona.., ada tamu yang ingin bertemu dengannya secara langsung. Beliau berdua ini yang akan menemui Ivona." jawab wali kelas langsung.
Guru Matematika tersenyum kemudian menganggukkan kepala, memberi salam pada dua orang laki-laki yang berada di belakang wali kelas tersebut.
"Mohon maaf bapak wali kelas..., bukannya Bapak yang memberikan pada kami pemberi tahuan, jika Ivona mengambil ijin belajar secara online selama satu minggu. Anak itu sedang ada urusan di luar negeri, jadi tidak bisa bergabung dengan kegiatan belajar secara offline. Jika untuk mata pelajaran Matematika, saya tidak mempermasalahkannya, karen akhir-akhir ini anak itu bisa mendapatkan penilaian Excellent untuk setiap latihan yang saya berikan." Guru Matematika menjelaskan.
"Oh iyakah, ternyata saya yang lupa." wali kelas tersenyum malu, dia kemudian membalikkan badan.
Kedua tamu yang ingin menemui Ivona itu saling bertatapan dengan penuh tanda tanya, setelah mendengarkan penjelasan dari Guru Matematika itu. Kemudian keduanya mengangguk, dan meninggalkan guru matematika dan wali kelas berdiri di depan pintu.
"Hey... Tuan.., tunggu saya!" wali kelas bergegas mengikuti langkah kedua orang itu.
Kedua orang itu berhenti, dan menoleh untuk menemui wali kelas.
__ADS_1
"Maafkan saya.., ternyata saya yang lupa. Hari Jum.at siang kemarin, Ivona memang mengajukan ijin secara lisan pada guru piket. Anak itu ingin mengunjungi keluarganya di Hong Kong, tadi saya lupa untuk menginformasikan pada Tuan berdua." wali kelas itu segera minta maaf.
"Hong Kong??" tanya dua orang itu terkejut.
"Ya Tuan.., karena guru piket itu melihat sendiri tiket penerbangan yang ditunjukkan oleh anak itu beberapa hari yang lalu." wali kelas menambahkan.
Mendengar penjelasan wali kelas itu, kedua orang itu tanpa banyak bicara langsung meninggalkan wali kelas sendiri berdiri di halaman depan kelas.
*************
Berita tentang kepergian Ivona ke Hong Kong dengan cepat menyebar ke seluruh kelas. Banyak yang kagum dengan kepergiannya, tetapi banyak pula yang mencemooh dan menghina Ivona. Akhirnya Vaya juga ikut mendengarkan infoormasi itu, dan siang itu Roy Kumala mengajak Vaya untuk bertemu dan berbicara.
Vaya yang memang tidak mengetahui berita itu, dia merasa terkejut, tetapi dia segera pura-pura mengetahuinya untuk tidak menimbulkan banyak pertanyaan padanya. Dia hanya tahu dari Nyonya Iswara, ketiga kakaknya mendadak menjadi pendiam dan lebih jarang di rumah karena tidak ada kabar tentang Ivona. Bahkan ketiga kakaknya itu juga terkesan menutupi kepergian Ivona dari kakek.
"Ya biasalah kan Roy..., anak itu memang suka mencari sensasi. Paling-paling dia mendapatkan tiket penerbangan itu dari kak Tommy. Karena kak Tommy kan sering bepergian di luar negeri, dia juga memiliki mitra bisnis di negara tersebut. Untuk menghibur Ivona, agar gadis itu tidak merasa terabaikan di keluarga karenaku.., kak Tommy memberinya tiket penerbangan tersebut." Vaya mencoba berbohong pada Roy Kumala.
Tetapi Roy Kumala yang akhir-akhir ini mengamati keluarga Iswara, dan melihat bagaimana ketiga kakak Ivona sangat tulus memperlakukan Ivona, dia sedikit meragukan apa yang disampaikan Vaya. Apalagi dia mengetahui sendiri bagaimana prestasi yang ditorehkan Ivona akhir-akhir ini. Dalam hatinya, dia meyesali perlakuan yang dia tunjukkan selama ini pada gadis itu.
"Ada apa Roy.., kenapa kamu jadi melamun. Jangan bilang padaku, jika saat ini kamu sedang berpikir tentang Ivona." Vaya membuyarkan lamunan Roy Kumala. Laki-laki itu tersentak, kemudian tersenyum dan menatap Vaya kembali.
__ADS_1
"Huh.., mungkin ada baiknya jika kamu mulai melunakkan hatimu pada Ivona Vay.. Sepertinya gadis itu saat ini sudah berubah, tidak seperti yang selama ini kita pikirkan." Vaya terkejut dengan pernyataan yang disampaikan Roy Kumala, tapi dia tidak bisa marah dengan perubahan sikap laki-laki itu. Beberapa teman laki-laki di sekolah ini, yang dulu mendukung dan rela berbuat apapun untuknya, saat ini beberapa sudah mulai mengacuhkannya.
"Sialan.., semua gara-gara gadis itu.. Lihat saja nanti..! Berani-beraninya kamu mulai mempengaruhi Roy Kumala, dasar gadis binal." Vaya membatin sendiri.
"Oh iya Roy..., aku mau mencoba lagu baru yang sedang trend saat ini. Syair dan liriknya kena banget di hati.., dengar-dengar sih, lagu itu diciptakan oleh anak seusia kita masih SMA. Tapi belum ada kabar sih.., siapa anak yang sangat berbakat itu. Kapan-kapan aku akan menggunakannya saat melakukan konser piano.., kebanggaan bagiku untuk bisa menggunakan karya anak bangsa." Vaya mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
"Syukurlah..., jika seleramu sudah berpaling. Biasanya kamu membanggakan komposer-komposer dari luar negeri, bahkan semua barang yang kamu kenakan juga branded..., apakah kamu tidak merasa turun jika beralih ke produk dalam negeri?" tanya Roy Kumala sarkasme.
"Tidak begitu juga Roy..., anjuran pak Jokowi katanya kita harus lebih mencintai produk dalam negeri. Aku coba dari lagu baru itu dululah.." Vaya memerah pipinya sambil ngeles.
Tiba-tiba...,
"Tet..., tet.., tet...," bel tanda masuk pelajaran berbunyi, menandakan waktu istirahat sudah selesai. Roy Kumala kembali menatap Vaya.., kemudian..
"Yah.., sesuka hatimu saja Vay. Sudah dulu ya..., aku mau balik ke kelas. Kelas lanjutan sudah akan dimulai. Bye..." Roy Kumala segera pamit pada Vaya. Tanpa menunggu jawaban gadis itu, laki-laki muda itu sudah meninggalkannya sendiri.
Vaya tersenyum kecut memandang punggung Roy Kumala yang berjalan meninggalkannya. Gadis itu langsung cemberut dengan mata menyala, dan dia langsung ikut pergi untuk menuju kelasnya.
******************
__ADS_1