Revenge: Terlahir Kembali

Revenge: Terlahir Kembali
Chapter 277 Luntur dan Kering


__ADS_3

Setelah melalui refleksi diri masing-masing, menjelang sore ganjalan di hati orang-orang yang berada di private room cafe hotel akhirnya bisa tersingkir. Dengan rasa syukur, Mahendra mengucapkan terima kasih pada Carminda yang bisa melupakan keburukannya di masa lalu. Fokus perhatian mereka ke depan, adalah membuat putri Frans Mahendra dan Carminda bisa menapaki hari-harinya dengan bahagia. Dengan senyum tulus, Dokter Rafi mengapresiasi pertemuan itu.


"Terima kasih Carmind.., atas kebesaran hatimu memaafkanku! Kamu memberi ketenangan pada laki-laki tua ini untuk menyongsong hari-hari di usia tuaku." dengan rasa haru, Mahendra mengucapkan terima kasih pada Carminda. Perempuan paruh baya itu dengan tulus dan sikap sopan menganggukkan kepala perlahan. Bagaimanapun semua telah terjadi, menyimpan dendam dalam hati, tidak akan menerangi langkahnya, malah hanya akan membuat rasa sakit di hati.


"Kakek.., papa..., kak Richard.., tidak mungkin kan jika hanya karena alasan ini, kalian mendatangkan mama Carminda dan papa Rafi ke Indonesia. Ivona tahu sendiri betapa sulitnya untuk mendapatkan cuti dari main laboratory, sebelum project penelitian yang menjadi tanggung jawab mama selesai." tiba-tiba seperti mengingat sesuatu, Ivona mengkonfirmasi kedatangan mama dan papa sambungnya pada keluarga Frans. Carminda dan Dokter Rafi turut mempertanyakan tujuan Mahendra memulangkan mereka ke Indonesia. Bahkan mereka dijemput dan dikawal khusus oleh orang-orang dari markas komando militer, dan dipulangkan dari Hong Kong ke Indonesia menggunakan private jet.


Richard melihat ke arah Frans dan Mahendra, kedua laki-laki itu saling berpandangan. Setelah mengambil nafas dalam, akhirnya Mahendra memutuskan untuk bicara mewakili mereka bertiga.


"Yah.., mungkin kalian sudah saatnya untuk tahu. Tetapi kakek tidak bisa mengatakan secara rinci, besok pagi kalian akan mengetahui sendiri, ada apakah yang akan terjadi. Yang pasti, Ivona pernah mengatakan sesuatu pada kami, jika gadis ini tidak akan mau melakukannya tanpa kehadiran Carminda disini. Saat ini Carminda dan Dokter Rafi sudah berada di negara ini. Tidak ada alasan lagi bagi Ivona untuk menolak acara ini." dengan tegas, Mahendra menjawab pertanyaan dari cucunya.


"Maksud kakek..?" Ivona berpikir perkataan apa yang pernah disampaikannya di depan kakek dan papa Frans. Dia mau melakukannya jika mama Carminda ada di sampingnya.

__ADS_1


"Apakah aku mau dinikahkan ya, tapi dengan siapa?? Aku sudah pernah menikah dengan kak Alex, dan di antara kami tidak ada perpisahan. Aku akan menolaknya jika sampai hal ini terjadi.." Ivona bermain dengan pikirannya sendiri. Tetapi gadis itu hanya membatin, tidak mau melakukan tebakan apa yang akan terjadi besok pagi.


"Perkataan apa yang kamu sampaikan pada Tuan Mahendra putriku?" dengan penuh tanda tanya, Carminda bertanya pada Ivona. Tetapi karena Ivona sendiri juga masih ragu, gadis itu hanya mengangkat kedua pundaknya ke atas. Di meja depan mereka, terlihat Mahendra dan Richard tersenyum, sedangkan Frans terdiam dari tadi. Laki-laki itu seperti masih shock, belum bisa menerima kenyataan jika ditinggalkan Carminda menikah dengan Dokter Rafi. Seingat Frans, terakhir kali Carminda masih menyatakan hanya ada dia di dalam hatinya.


"Nana sudah lupa mam.. Apapun itu, yang penting saat ini mama ada di samping Nana. Keputusan apapun akan Nana terima saat ini mam... Malam ini kita tidur bersama ya mam..., papa Rafi mengalah dulu ya. Mama malam ini menemani Ivona tidur." Ivona melihat ke wajah Dokter Rafi, dan laki-laki paruh baya itu tersenyum dan menganggukkan kepala. Melihat sikap kekanak-kanakan Ivona, Rafi mengusap kepala gadis itu. Frans dan Mahendra melihat keluarga kecil itu dengan senyum masam.


***********


Melihat Carminda berdiri sendiri di balkon presidential suites, Frans merasa mendapat kesempatan untuk menjelaskan segalanya. Seperti tidak mau kehilangan momen, laki-laki itu bergegas mendatangi Carminda yang sedang menatap bintang di atas langit. Di depannya sinar lampu dari bangunan gedung bertingkat, dan juga lampu jalanan mendapat meriah suasana malam.


"Apakah etis Frans..., kita hanya berdua disini. Aku wanita yang telah bersuami, aku tidak mau menimbulkan salah paham dengan suamiku. Urungkan niatmu Frans..!" merasa tidak ada Dokter Rafi, Carminda menolak kedatangan Frans. Tetapi bukan namanya Frans, jika dia mundur meninggalkan perempuan yang masih sangat dia cintai itu.

__ADS_1


"Aku tidak peduli Carmind, orang mau bicara apa tentang kita. Aku hanya akan meminta sedikit waktumu untukku malam ini." Frans tetap keukeuh bertahan di tempat itu. Bahkan tangannya terulur ingin memegang pundak perempuan paruh baya itu, tetapi dengan segera Carminda mengibaskan tangan tersebut.


"Bicaralah.., aku beri waktu maksimal sepuluh menit. Aku harus kembali ke kamar untuk menemani suamiku." dengan nada tegas, Carminda akhirnya memberi waktu pada Frans untuk bicara.


Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan kepadanya, Frans langsung menyampaikan uneg-unegnya. Laki-laki itu mengatakan jika pilihan untuk menikah dengan mamanya Richard bukan merupakan kehendaknya. Pada waktu dulu, dia tidak memiliki pilihan apapun, karena ancaman akan dihilangkan Carminda menjadi pilihan jika dia tidak mau menikah saat itu. Beberapa kali Frans mencoba untuk mencari dan menghubungi Carminda, tetapi saat itu dia tidak berhasil menemukannya.


"Hanya itu saja yang mau kamu ceritakan Frans. Aku sudah mendengarnya dari Johnny, anjing penjilat Tuan Mahendra." sambil tersenyum sinis, Carminda menanggapi cerita Frans.


"Maksudmu, Johnny sudah bertemu denganmu dan menceritakan semuanya?" Frans sedikit terkejut, ternyata perempuan di depannya sudah mendengar apa yang dia ceritakan pada perempuan itu.


"Johnny menemuiku untuk meminta maaf, di bawah perintah Tuan Mahendra laki-laki itu tidak kuasa untuk menolak. Demikian juga dengan laki-laki di depanku ini kan? Lupakan semuanya, tidak akan ada yang kembali seperti dulu. Namamu di hatiku sudah luntur dan kering Frans, saat ini aku hanya akan memikirkan kebahagianku dengan Rafi suamiku. Permisi, selamat malam." tanpa berbicara lagi, Carminda langsung meninggalkan Frans sendiri di atas balkon. Perempuan itu dengan cepat masuk dan kembali ke kamar dimana Rafi dan Ivona sedang berada di dalamnya.

__ADS_1


Frans memandang punggung perempuan itu dari belakang, sampai Carminda sudah tidak terlihat lagi di depannya. Dengan perasaan sedih, Frans berjalan ke pinggir balkon, dengan tersenyum pahit, laki-laki itu menatap ke depan. Bintang dan sinar lampu terlihat seakan mengejek perasaannya saat itu. Tetapi laki-laki itu memang menyadari, kesalahannya pada Carminda memang sangatlah besar. Dia tidak membayangkan saat Carminda hamil Ivona, dan harus berjuang sendiri membesarkan putrinya.


**********


__ADS_2