Revenge: Terlahir Kembali

Revenge: Terlahir Kembali
Chapter 170 Perkembangan Kasus


__ADS_3

Setelah ketemu dengan Caroline dan menyetujui akan dipertemukan dengan produser film, Ivona ingin ke rumah keluarga Iswara. Dengan membawa puding dan klapper tart untuk buah tangan kakek, Ivona kembali naik ojek online dan langsung turun di halaman rumah keluarga Iswara. Penjaga rumah berlari membukakan pintu untuk Ivona masuk.


"Kenapa tidak telpun driver Nona Muda.., masak Nona Muda pulang naik ojek online?" penjaga rumah menyapa Ivona.


"Tidak apa-apa pak, sudah biasa. Kebetulan mampir saja, mau jenguk kakek." Ivona langsung melangkah masuk ke dalam rumah.


Sebelum masuk ke kamar kakek, Ivona melewati ruang tengah. Terlihat Nyonya Iswara sedang duduk sambil melihat televisi, dan saat melihat Ivona kembali ke rumah, muka Nyonya Iswara langsung berseri-seri, perempuan paruh baya itu berdiri dan berjalan untuk menghampiri Ivona.


"Putri mama sudah pulang.., kenapa tidak menelpon untuk kita jemput sayang?" dengan ramah Nyonya Iswara menyambut kedatangan Ivona. Melihat keramahan Nyonya Iswara, gadis itu mengerenyitkan dahi dan timbul tanda tanya di benaknya. Ivona malah terlihat lebih hati-hati dan menjaga jarak dengan Nyonya Iswara. Padahal Ivona tidak tahu, jika Nyonya Iswara sudah mengetahui kasus penukaran bayi dan identitas putrinya dengan Vaya.


"Ehm.." Ivona hanya tersenyum dengan sinis, melihat penyambutan Nyonya Iswara terhadapnya.


"Putri mama pasti capai., duduklah dulu! Mama akan penggil pelayan untuk menyiapkan makan siang dan memijat punggungmu. Agar punggungmu lebih rileks sayang." Nyonya Iswara menawarkan pelayanan pada Ivona.


Ivona menghela nafas, kemudian melepaskan tangan Nyonya Iswara dari tubuhnya.


"Maaf ma.., Ivona hari ini datang ke rumah ini untuk kakek. Jadi ivona akan langsung menemui kakek di kamarnya." Ivona langsung berjalan meninggalkan Nyonya Iswara sendiri di ruang tengah. Melihat punggung Ivona yang berjalan meninggalkannya, Nyonya Iswara hanya bisa mengambil nafas. Perempuan paruh baya itu menyadari perlakuan putrinya terhadapnya, karena perlakuannya di masa lalu yang selalu membedakan dengan Vaya. Tetapi perempuan itu memaklumi perlakuan Ivona, kemudian perempuan itu bergegas menuju dapur untuk menyiapkan makan siang gadisnya.


**********


Di depan pintu kamar kakek

__ADS_1


"Tok.., tok.., tok..." Ivona mengetuk pintu tiga kali. Karena tidak ada panggilan, gadis muda itu mendorong pelan pintu ke dalam, dan Ivona tidak melihat keberadaan kakeknya di atas tempat tidur. Ivona tetap melangkah masuk, dan sebuah senyuman muncul dari bibirnya. Gadis itu melihat kakeknya sedang berdiri di balkon kamarnya, sedang melihat bunga-bunga yang sedang bermekaran. Setelah meletakkan oleh-oleh di meja samping tempat tidur kakek, Ivona bergegas menyusul kakeknya ke balkon.


"Selamat siang kakek sayang.." Ivona langsung memeluk kakek dari belakang.


"Nana.., kamu datang juga akhirnya cucu kakek." raut kebahagiaan langsung terlihat di wajah kakek, dengan cepat kakek membalikkan tubuhnya dan memeluk Ivona dengan erat.


"Iya kek.., Ivona sudah selesai mengerjakan Ujian Akhir. Tinggal menunggu pengumuman saja.., makanya hari ini baru bisa datang kemari kek." Ivona membuat alasan. dengan penuh takzim, Ivona mencium punggung tangan kakeknya.


"Baiklah kita duduk dulu saja di kursi, kita ngobrol-ngorbrol dulu. Karena kakek kangen sama kamu cucuku." kakek kemudian mengajak Ivona duduk di kursi panjang.


"Sebentar kek.., Ivona ambilkan agar-agar dan klapper tart dulu untuk kakek." Ivona kemudian masuk ke dalam kamar. Setelah mengambil satu potong agar-agar dan klapper tart, gadis itu segera membawanya keluar kamar.


"Ivona suapin kakek ya.., baru nanti Ivona temani makan siang." setelah menyendokkan potongan puding, Ivona menyuapkan potongan tersebut ke mulut kakek. Dengan senyum bahagia, kakek menuruti permintaan gadis itu. Hanya kakek di keluarga Iswara yang pantas mendapatkan perlakuan khusus darinya.


*************


"Bagaimana perkembangan kasus Ivona di pengadilan Rico?" Alexander bertanya pada asistennya tentang kasus penukaran bayi. Sambil menanda tangani berkas-berkas yang ada di mejanya, Alexander berbicara pada Rico.


"Sudah berjalan Tuan Muda. Bahkan ketiga putra laki-laki Tuan Iswara dan Tuan Iswara sendiri yang datang di pengadilan. Seperti yang Tuan Muda minta, tidak ada pengacara yang bersedia untuk mendampingi Kepala Rumah Sakit Jiwa itu. Ancaman yang Tuan Muda berikan, membuat keder mereka untuk mengambil alih kasus itu. Sidang terakhir akan dilakukan minggu depan, dan masih cukup waktu untuk memberi pelajaran orang gila itu di tahanan kepolisian." Rico menjelaskan perkembangan kasusnya.


"Yupz.., sesuai yang kita inginkan. Sebenarnya aku ingin merajam wajah laki-laki tua itu, sebelum mengirimnya ke penjara. Orang seperti itu tidak memiliki hak hidup di dunia ini." dengan geram Alexander mengumpat ayahnya Vaya.

__ADS_1


"Tidak perlu Tuan Muda turun tangan sendiri. Hidup di penjara sampai mati, merupakan balasan yang pas untuk orang itu. Semakin lama, kasus itu beralih ke pengadilan, semakin lama juga kita menyiksa laki-laki tua itu." Rico menenangkan Alexander.


Tiba-tiba Alexander berdiri, dan akan melangkah keluar.


"Tuan Muda mau kemana?" tanya Rico, karena merasa mereka tidak memiliki jadwal keluar.


"Aku akan menyusul Ivona. Kata Bi Mina, gadis itu sudah pergi dari jam 10 pagi. Sampai jam segini, dia masih belum pulang. Aku khawatir, dia akan datang ke bar lagi, tempat seperti itu tidak cocok untuk gadis secantik dirinya." Alexander langsung keluar pintu meninggalkan Rico sendirian.


"Kenapa Tuan muda sekarang jadi BUCIN dengan Nona Muda Keluarga Iswara." sambil menepuk jidatnya sendiri, Rico segera memberesi berkas-berkas yang ada di atas meja kerja Alexander.


************


"Kamu ada dimana Nana..?" Alexander dengan suara lembut melakukan panggilan masuk pada Ivona.


"Ivona ada di rumah kakek." jawab Ivona singkat, dia terlupa untuk memberi tahu pada Alexander tentang kepergiannya ke rumah keluarga Iswara. Jadi bersikap sopan dengan laki-laki itu lebih tepat untuknya saat ini.


"Bersiaplah.., aku akan menjemputmu kesana! Besok lagi jika mau pergi-pergi, telpon kakak. Aku akan mengantarmu atau mengirimkan driver untukmu. Jangan biasakan menggunakan angkutan untuk umum. Kamu terlalu berharga Nana." dengan sikap over protectivenya, Alexander terdengar menasehati Ivona.


"Ehm.., yupz." sahut Ivona , yang dari tadi hanya mengiyakan perkataan Alexander. Gadis itu masih jengkel dengan kejadian sore hari sebelumnya. Meskipun dia juga tidak tahu, apa yang menjadi sebab dari kejengkelannya itu. Dia hanya merasa kurang suka, jika Alexander menempel pada perempuan yang kurang jelas asal-usulnya. Padahal Clara sudah mengatakan jika dia adalah saudara sepupu Alexander, tetapi otak bawah sadar Ivona tidak jelas menerimanya.


"Baiklah jaga dirimu baik-baik.. Kakak langsung meluncur ke rumah keluarga Iswara sekarang juga." Alexander memberi tahu jika dia akan otw ke rumah.

__ADS_1


Ivona langsung mengakhiri panggilan masuk dari Alexander secara sepihak. Gadis muda itu masih menemani kakek tidur siang di kamarnya.


**************


__ADS_2