
Setelah satu minggu berada di Indonesia, akhirnya Tuan Mahendra harus segera kembali ke negara Hong Kong. Laki-laki itu merasa jika tugasnya sudah selesai, meskipun hubungannya dengan Ivona dan Carminda belum bisa terjalin akrab, tetapi Tuan Mahendra sudah merasa lega. Laki-laki itu sudah mengakui kesalahannya di masa lalu, dan sudah meminta pengampunan pada Carminda dan Ivona. Kedua perempuan itu sudah bisa memaafkan kesalahan di masa lalunya.
"Papa..., apakah papa tidak berpikir untuk mengakhiri pengabdian papa di markas komando militer?" dengan ekspresi keberatan, Frans berusaha membatalkan kepergian Mahendra. Laki-laki tua itu menatap mata Frans, kemudian tersenyum masam.
"Hanya berada di rumah saja, tanpa ditemani cucu, cicit.. tidak akan membahagiakan aku Frans. Aku bisa mengisi waktuku dengan berjalan-jalan di markas komando. Meskipun usiaku sudah tidak muda lagi, paling tidak aku masih dimintai pertimbangan dan sumbang saran bagi para prajurit militer. Aku merasa lebih hidup dan berharga di tempat itu." Mahendra tersenyum, dan menyampaikan alasannya untuk memperpanjang masa baktinya. Dengan usia menjelang 70 tahun, Mahendra masih terlihat gagah.
Frans terdiam, diapun merasakan apa yang dipikirkan orang tua itu. Tetapi sejak kecil, bidang mereka memang berbeda. Mahendra membentuknya untuk menjadi seorang business man yang handal, dan dia berhasil membuktikannya. Tetapi melihat Carminda sudah memilih untuk menghabiskan hidupnya dengan Dokter Rafi, dan Ivona sudah berada di villa dengan Aldo, tiba-tiba Frans juga merasakan kesepian. Meskipan dia masih bisa ikut mengendalikan perusahaan, tetapi sudah ada Richard yang akan handle semua urusan.
"Frans.., aku tahu apa yang kamu pikirkan. Papa berpikir, dengan usiamu kamu masih bisa untuk menikah lagi. Nikmati hidupmu, lahirkan keturunan lagi untuk menemanimu di akhir-akhir usiamu nantinya." seperti bisa menebak apa yang ada di pikiran putranya, Mahendra memberi nasehat pada laki-laki paruh baya itu.
"Heh..., apa yang papa katakan. Sejak Frans mengetahui jika Carmind sudah memilih Rafi, hati Frans sudah hancur pa. Hanya wanita itu yang selalu Frans impi dan harapkan untuk Frans nikahi. Tetapi semuanya sudah terjadi.., kita tidak bisa mencegahnya semua terjadi." dengan senyum kecut, Frans menerawang. Cintanya pada Carminda memang merupakan cinta mati, karena kebodohannya di masa muda, membuat Carminda meninggalkannya sendiri.
Kedua laki-laki bapak dan anak itu saling berdiam diri, mereka tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Tiba-tiba..., Mahendra menepuk punggung Frans.
__ADS_1
"Aku memiliki ide Frans.., kenapa kamu tidak mencoba membuka hatimu untuk Helen, sekretaris Richard di kantor?? Sepertinya perempuan itu masih lajang, terbukti dia bisa menyiapkan semua keperluan pernikahan Ivona dan Aldo dengan sangat cepat dan trampil. Dekati perempuan itu.., papa yakin dengan kegantenganmu di usiamua yang menjelang tua.., perempuan itu akan bertekuk lutut padamu." sambil tersenyum menggoda, Frans mengusap punggung putra satu-satunya itu.
"Apa sih yang papa katakan..., Frans ini sudah tua pa. Sudah di atas 50 tahun, malu sama Richard dan Ivona. Nanti dibilang mereka, Frans tua-tua malah ganjen. Tidak.." Frans langsung menolak mentah-mentah usulan Mahendra. Dia memang tidak bisa melupakan Carminda sampai sekarang.
"Sudah itu urusanku.., aku masih memiliki waktu satu hari di Indonesia. Besok sore, aku sudah harus berangkat ke airport. Jangan berpikir tentang cinta, kalian sudah tua. Cinta untuk anak-anak muda saja.., yang penting kamu tidak kesepian." sambil tersenyum, Mahendra terus menasehati Frans.
**********
Seperti yang sudah direncanakan, Mahendra mengajak Richard untuk bicara. Sore ini, laki-laki itu sengaja mendatangi kantor Richard untuk bertemu dengan Helen sekretaris cucunya. Baru saja memasuki depan ruang kerja Richard, tampak Helen sudah berdiri menyambut kedatangan laki-laki tua itu, Perempuan itu membungkukkan badan, memberi hormat pada Mahendra.
"Sore juga Helen.., jam segini kenapa kamu belum pulang?" dengan ramah, Mahendra membalas sapaan Helen. Hal yang dilakukan laki-laki tua itu, bertolak belakang dengan kesehariannya.
"Sebentar lagi Tuan Besar.., Tuan Muda Richard juga masih berada di dalam ruang kerja. Tidak etis, masa saya meninggalkan Tuan Muda duluan." Helen membalas pertanyaan Mahendra, tangannya sambil merapikan meja kerjanya.
__ADS_1
"Ya sudah.., sambil menunggu Richard selesai.., bagaimana kalau kamu temani saya untuk ngobrol sebentar!" tidak diduga, Mahendra langsung mengajak Helen untuk berbicara berdua. Dengan sikap sopan, Helen menyanggupi ajakan Mahendra. Kedua orang itu berjalan beriringan menuju ruang transit. Tempat itu biasa digunakan untuk tamu yang menunggu, jika ingin bertemu dengan direksi. Karena hari sudah lepas jam kerja, maka Helen berani menggunakan ruangan itu.
"Tuan Besar mau minum apa.., biar Helen siapkan sebentar!" setelah Mahendra duduk, Helen menawarkan minuman pada laki-laki tua itu.
"Sudah Helen, jangan repot-repot. Aku baru saja minum teh sebelum berangkat ke perusahaan ini. Duduklah.., ada yang ingin aku tanyakan padamu!" dengan cepat, Mahendra menolak tawaran Helen dengan halus. Mendengar hal itu, Helen langsung duduk di sofa depan Mahendra duduk. Perempuan itu sedikit khawatir jika dia melakukan kesalahan, sampai Mahendra memintanya untuk duduk di depannya. Di sofa depannya, Mahendra malah senyum-senyum melihat pada perempuan itu.
"Helen.., besok sore aku sudah harus kembali ke negara Hong Kong. Yah.., mumpung masih ada satu hari ini, aku ingin membuat keputusan besar dalam keluargaku. Jawablah dengan jujur Helen.., apakah kamu sudah bertunangan atau memiliki pacar saat ini?? Jangan salah sangka padaku.., aku bukan laki-laki tua yang menginginkan seorang gadis sepertimu." Mahendra langsung to the point, menanyakan status Helen, dan agar tidak menimbulkan prasangka, Mahendra melengkapi kalimatnya itu.
"Tidak Tuan Besar..., Helen pasrah bagaimana kehendak Tuhan. Hari-hari Helen habis untuk mengurusi perusahaan, dan ketika sampai di rumah sudah inginnya tidur. Begitu juga dengan di hari Sabtu dan Minggu, Helen lebih memilih untuk beristirahat." dengan lirih, Helen menundukkan kepala. Perempuan itu tidak berani menatap mata Mahendra.
Mendengar jawaban itu, Mahendra tersenyum lega.
"Syukurlah jika begitu Helen.. Jika kamu mau, aku melamarmu untuk putraku Frans.. Lihatlah keadaannya saat ini, apalagi begitu mengetahui Carminda sudah menikah dengan Rafi. Putraku seperti kehilangan semangat hidupnya.., yah... mungkin butuh waktu untuk dapat menyatukan hati kalian berdua. Tapi aku yakin, dengan sikapmu yang humble kamu akan dapat menundukkan Frans." tanpa basa-basi, Mahendra langsung melamar Helen untuk putranya. Memang usia Helen sudah diatas 30 tahun, dan untuk usia segitu memang sudah terlambat di negara ini jika belum menikah.
__ADS_1
Helen terkejut, perempuan muda itu mengangkat wajahnya, dan melihat pada Mahendra. Laki-laki tua itu tersenyum, berusaha meyakinkan perempuan muda di depannya itu.
*********