
Nyonya Iswara memahami kegelisahan yang dirasakan oleh Vaya, dan dia sudah mempersiapkan sesuatu untuk Vaya agar menimbulkan kesan di hati kakek. Nyonya Iswara sangat tahu jika kakek sangat menyukai barang-barang antik yang terbuat dari perak, dan dia menyiapkan bingkisan yang berisi hal tersebut untuk diberikan pada kakek atas nama Vaya.
"Vaya.., mama tahu perasaanmu sayang. Ini mama belikan hadiah untuk mengambil hati kakekmu, agar kakek selalu mengingat akan perhatian yang kamu berikan sayang." Nyonya Iswara menyerahkan sebuah bingkisan hadiah pada Vaya.
Vaya mengangkat wajahnya dan memandang wajah Nyonya Iswara yang tampak tulus menyayanginya. Dia kemudian menerima bingkisan hadiah yang diberikan Nyonya Iswara padanya.
"Ini apa ma?" tanya Vaya ingin tahu.
"Itu barang yang akan menjadi kesukaan kakekmu. Mama sengaja membelikannya untukmu sayang, berikan bingkisan hadiah itu nanti pada kakekmu. Kamu mulai saat ini, tidak perlu menginap di hotel jika ada kakekmu di rumah ini. Kamu harus membiasakan diri untuk mengambil hati kakek terhadapmu." sambil tersenyum, Nyonya Iswara memberi tahu maksudnya menyiapkan hadiah itu.
"Terima kasih mama. Ternyata mama selalu memperhatikan hal-hal kecil untuk Vaya. Semua yang mama lakukan selalu membuat Vaya menjadi terharu." Vaya langsung memeluk Nyonya Iswara, tetapi terlihat sinar matanya merendahkan, dan dia tersenyum sinis merasa penuh kemenangan.
"Kamu bicara apa sayang? Kamu adalah satu-satunya putriku yang selalu ada di hati mama. Karenamu mama selalu bangga dengan semua hal yang telah kamu lakukan untuk keluarga ini." Nyonya Iswara belakangan ini mendapat banyak pujian dari teman-teman sosialitanya karena tour piano Vaya. Hal itu sangat membuatnya bangga.
"Mama.." Vaya memeluk tubuh Nyonya Iswara dengan semakin erat.
"Mama akan selalu berusaha untuk mempertahankan kamu. Tidak ada seorangpun yang dapat memisahkan mama dengan kamu Vaya." ucap Nyonya Iswara, sambil mencium pucuk kepala Vaya.
__ADS_1
*********************
Terdengar suara mobil berhenti di halaman rumah. Beberapa pelayan segera berlari untuk membukakan pintu dan melihat siapa yang datang. Mereka melihat Tuan Iswara dan Thomas memegangi kakek yang sedang turun dari mobil, kemudian perlahannya membawa memasuki teras rumah.
"Selamat datang di rumah kediaman besar Tuan." beberapa pelayan menyambut kedatangan kakek dengan sikap penuh hormat. Tampak seorang laki-laki tua dengan rambut yang sudah memutih dan wajah sedikit pucat. Aura kewibawaan dan ketegasannya masih jelas tercetak, meskipun wajahnya masih terlihat pucat.
Kakek hanya melambaikan tangan untuk membalas sapaan tersebut. Terlihat Tuan Iswara dan Thomas segera masuk ke dalam rumah sambil memapah kakek dengan perlahan. Kakek berhenti sejenak, kemudian dengan tersenyum pandangannya mengitari seluruh ruangan rumah kediaman yang sudah lumayan lama dia tinggalkan.
"Kakek langsung kita antarkan ke kamar atau duduk dulu di ruang keluarga?" tanya Thomas pada kakeknya.
"Kakek sudah capai tidur terus di rumah sakit Thomas. Kakek akan duduk-duduk dulu untuk melatih pinggang kakek. Antarkan kakek ke sofa di ruang keluarga saja!"
"Kakek minum dulu ya!! Biar tenggorokan terasa lebih segar." kata Thomas sambil mengambil cawan kecil yang berisi cangkir teh di atasnya, kemudian memberikannya pada kakek.
Kakek mengambil air minum yang diberikan Thomas padanya, kemudian menyesapnya dan mengambil dua tegukan secara langsung. Rasa lega mengalir di tenggorokan laki-laki tua itu, yang menjadikan mukanya yang pucat menjadi terlihat cerah.
"Kakek nikmati kue yang dipersiapkan oleh pelayan hari ini! Tadi Thomas sudah konsultasi pada Dokter, dan kakek diperbolehkan untuk mengkonsumsinya, asalkan tidak melanggar batas maksimal porsi yang dihabiskan." Thomas mendekatkan piring dan garpu kecil yang berisi satu potong cake pada kakeknya.
__ADS_1
Dengan penuh takzim, Thomas memotong kue itu dalam potongan kecil kemudian memberikan pada kakek. Setelah menikmati beberapa potong kue, Thomas kembali mengambilkan air teh panas, dan kembali kakek meminumnya beberapa tegukan langsung.
"Kakek..., syukurlah keadaan kakek sudah jauh lebih baik." tiba-tiba Nyonya Iswara datang kemudian menjabat tangan dan mencium punggung tangan mertuanya itu. Di belakang Nyonya Iswara, tampak Vaya yang terlihat sedikit gugup ikut mengulurkan tangan untuk menjabat tangannya. Melihat Vaya masih berada di rumah kediaman besar, ekspresi kakek langsung menjadi gelap, kemudian dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.
"Ini kenapa kakek tidak melihat Ivona?? Kemana cucu kesayangan kakek, apakah dia masih berada di sekolah atau ada urusan lain yang lebih penting?" tiba-tiba kakek menanyakan Ivona, dan sekilas Thomas terlihat gugup. Dia lupa untuk memberi tahu tentang kedatangan kakek ke rumah kediaman besar, setelah beberapa waktu berada di rumah sakit. Tetapi dia ingat, jika papanya Tuan Iswara sudah menghubungi adik perempuannya itu. Baru saja Thomas berpikir tentang jawaban yang pas untuk melindungi Ivona,...
"Kakek menanyakan kemana Ivona?? Semua orang di keluarga ini sudah tahu, jika anak itu sering pulang terlambat. Bahkan selama kakek berada di rumah sakit, anak itu sering tidak pulang ke rumah. Dia memang anak yang tidak berbakti, tidak pernah menghargai kita-kita sebagai orang yang dituakan di keluarga ini. Tidak seperti Vaya ya nak, selalu pulang tepat waktu dan selalu berusaha untuk membahagiakan orang tua." dengan raut wajah yang tiba-tiba berubah, Nyonya Iswara menjawab pertanyaan kakek.
Wajah Thomas seketika menjadi muram, mendengar Nyonya Iswara mengatakan Ivona sebagai anak yang tidak berbakti. Baru saja dia akan berbicara.., terdengar suara kakek dengan nada tinggi.
"Jaga bicaramu..!! Hanya karena anak itu sampai sekarang belum sampai rumah, kamu sudah claim dia sebagai anak yang tidak berbakti?? Sungguh naif kamu, bisa tidak kamu menanyakan dulu padanya. Ada alasan apa sampai dia pulang terlambat hari ini." dengan muka merah padam, kakek memarahi Nyonya Iswara.
"Iya Kek.., maaf!" Nyonya Iswara menjawab sambil memendam rasa malu. Dia langsung diam, menahan diri untuk tidak membicarakan Ivona. Vaya menjadi gemetar berdiri di belakang Nyonya Iswara.
Thomas..., panggil adikmu untuk pulang sekarang! Segera telpon dia untuk segera datang, aku tidak akan mau tidur di rumah ini, jika anak itu tidak ada."
"Baik kek, akan Thomas lakukan perintah kakek." Thomas segera mengambil ponselnya, dan baru akan menekan nomor Ivona, tiba-tiba pintu terbuka dari arah luar. Semua orang berpandangan, melihat ke arah pintu ternyata dengan santai Ivona berada di depan pintu. Semua terkejut dengan kedatangan Ivona, dengan senyum cerah gadis itu masuk dan langsung menghampiri kakeknya.
__ADS_1
*********************