
William terkejut dengan perkataan yang diucapkan Ivona, dia memandang Tequilla Rose yang ada di atas meja. Dalam hatinya laki-laki itu membatin, ternyata gadis di depannya itu memiliki uang untuk memesan minuman keras dengan kandungan alkohol rendah. Apalagi dia membelinya satu botol penuh, tidak berbagi dengan orang lain disitu.
"Oke sepakat.., kita tidak akan saling mengganggu." akhirnya keluar kata persetujuan dari William. Ivona hanya melihatnya sekilas, dia kembali melihat penyanyi yang sedang menyanyikan lagu yang telah ditulisnya.
"Aku tidak menyangka kamu bisa menjuarai olimpiade tingkat nasional untuk mata pelajaran Fisika. Selamat.., maaf tadi aku belum sempat memberi ucapan padamu." William tiba-tiba mengajak Ivona bicara, kemudian laki-laki itu mengulurkan tangannya. Ivona dengan malas hanya mengangkat tangan untuk memberinya salam, tetapi tidak menerima uluran tangan William. Laki-laki itu menarik kembali tangannya, dia kemudian meminum beer yang ada di tangannya.
Meskipun mereka duduk satu meja, tetapi tidak ada pembicaraan lanjutan di antara mereka. Ivona tetap menganggap mereka bertiga saat ini tidak ada di depannya, Gadis itu masih asyik menikmati alunan musik, dan sesekali memainkan ponsel di tangannya. Berkali-kali William melirik pada Ivona, tetapi melihat gadis itu fokus pada kegiatannya sendiri, akhirnya Williampun diam dan ikut menikmati alunan musik.
***************
Rico mendampingi Alexander seperti orang kesetanan mencari keberadaan Ivona. Mereka sudah melakukan konfirmasi dengan orang-orangnya yang ada di MUSE Bar, tetapi mereka melaporkan tidak melihat kedatangan gadis itu. Tiba-tiba sinyal pengingat anak buah Alexander, memberi informasi jika melihat keberadaan Ivona lewat camera CCTV di Coffee and Lounge. Kebetulan tempat nongkrong anak-anak muda itu dimiliki oleh Jack. Secepat kilat, Rico diminta untuk memutar arah mobil menuju tempat nongkrong yang berada agak di pinggiran kota. Tidak berapa lama mengemudi, mereka memasuki halaman parkir tempat nongkrong tersebut.
"Rico.., pastikan orang-orang kita melakukan pengawasan dengan cermat. Pastikan tidak ada akses untuk keluar dari cafe ini, aku tidak mau Ivona bisa kabur dari tempat ini tanpa kita ketahui!" dengan tegas, Alexander membuat pengaturan.
"Siap Boss.., saya juga akan menyampaikan pada security tempat ini untuk bekerja sama." dengan patuh, Rico mematuhi perintah Alexander.
Alexander langsung melangkah masuk, tetapi baru saja akan masuk, laki-laki muda itu kembali menengok ke belakang.
"Ric.., jika perlu panggil Jack untuk datang kesini!" Alexander melanjutkan langkahnya.
__ADS_1
Baru saja Alexander masuk di hall untuk live music, matanya langsung menyipit dengan tatapan datar. Aliran darah langsung naik ke kepalanya, saat melihat gadis yang sudah membuatnya hilang kesabaran sedang memegang botol Tequilla Rose dengan ditemani 3 orang laki-laki. Di belakangnya, Rico terlihat pucat melihat tatapan membunuh Alexander pada Ivona.
Tanpa bicara, Alexander bergegas menghampiri tempat duduk Ivona. Laki-laki muda itu berdiri di belakang Ivona, tanpa gadis itu menyadarinya. Melihat laki-laki muda yang sering melakukan antar jemput Ivona di sekolah, William hanya melihatnya dengan pandangan tidak suka. Tetapi melihat tatapan membunuh darinya, William hanya diam tidak berani bertindak apapun.
"Sudah puas mainnya?" ucap Alexander pelan, sambil tangannya ikut memegang botol Tequilla Rose di tangan Ivona.
Gadis itu seketika pucat melihat jari-jari Alexander tiba-tiba ada di atas tangannya. Dia tersenyum masam, tidak berani memandang mata Alexander. William dan 3 temannya bertanya-tanya ada hubungan apa antara Ivona dengan laki-laki muda itu.
"Kakak.., kenapa kakak bisa ada disini?" tanya Ivona malu. Dia berusaha melunakkan hati Alexander.
"Apakah perlu aku mengirimkan pengawal untuk mengawasimu di sekolah?? Tepat tidak, seorang gadis masih mengenakan seragam sekolah, nongkrong di kafe sambil memesan minuman keras." tanpa mengenal tempat, Alexander memarahi Ivona. Gadis itu tidak berdaya, dia juga tidak tahu kenapa dia membiarkan laki-laki muda itu menggertaknya.
Alexander tersenyum sinis, kemudian tangannya melambai untuk memanggil waiters untuk datang mendekat. Dengan penuh ketakutan dengan aura membunuh laki-laki muda itu, seorang Kepala Guest Service datang menghampiri Alexander.
"Ada yang bisa saya bantu Tuan Alex?" Kepala Guest Service mengenali teman Bossnya itu.
"Siapa yang melayani gadis ini, dan memberikan minuman itu padanya?" Alexander langsung bertanya dengan tatapan marah.
"Timpakan kesalahan pada saya saja Tuan Alex.., anak buah saya hanya menjalankan tugas operasional sesuai prosedur kerja. Jangan salahkan mereka.., salahkan saja saya!" kepala tersebut ternyata rela menggantikan hukuman untuk anak buahnya.
__ADS_1
"Oke.." setelah menjawab cepat, Alexander mengambil botol dan menuangkan Tequilla Rose di kepala orang tersebut. Ivona terbelalak dan menutup mulutnya, sepatah katapun dia tidak berani berbicara.
Dengan cepat, tangan Alexander langsung mengangkat tubuh Ivona dengan bridal style dan membawanya keluar cafe. Merasa mau jatuh, Ivona langsung mengangkat kedua tangannya dan menggantungkan di leher laki-laki muda itu.
***********
Bi Mina tergopoh-gopoh menghampiri Alexander yang sedang membopong Ivona dan membawanya ke kamar. Laki-laki muda itu langsung membawa Ivona ke dalam kamar mandi, kemudian menyalakan shower yang langsung diguyurkan di kepala gadis itu.
"Aku harap kamu akan mengingat hal ini Nana! Kamu itu seorang perempuan, jaga kondisi tubuhmu, karena suatu saat kamu akan melahirkan seorang generasi penerus keluarga ini." tanpa sadar, Alexander berbicara tentang generasi penerus keluarga ini. Ivona yang tidak mabuk, terpaku dan kaget mendengar ucapan itu.
Tangan Alexander mengambil shampoo di tangannya, kemudian menaruh shampoo tersebut di rambut Ivona. Seperti seorang bapak yang sedang mengeramasi anaknya, dengan lembut tangan Alexander memberi pijatan di kulit kepala Ivona. Tubuh Ivona langsung gemetar, dia menahan getaran itu. Dia tidak mampu menolak pesona laki-laki muda di depannya itu. Tatapan Ivona bertemu dengan tatapan Alexander, dan tidak tahu siapa yang memulai bibir Alexander sudah merangsek masuk ke bibir Ivona.
"Kak.., jangan.." ucap Ivona lirih, dia kembali merasa bergetar, saat melihat tatapan laki-laki muda itu menyusuri tubuhnya dari kepala sampai ujung kaki.
Tanpa menyadari jika pakaian Alexander yang masih lengkap mengenakan dasi juga basah kuyup terkena guyuran air, tiba-tiba laki-laki itu memeluk erat Ivona di bawah shower kamar mandi. Tanpa malu, Ivona terlena dan meletakkan kepalanya di dada Alexander, dia menghirup aroma maskulin bercampur mint yang terpancar dari tubuh laki-laki muda itu.
"Non.., ini Bibi bawakan sup penghilang mabuk." tiba-tiba terdengar suara Bi Mina di dalam kamar. Ivona langsung tersentak, dia berusaha melepaskan diri dari pelukan Alexander. Tetapi laki-laki muda itu malah memeluknya lebih erat.
Di depan pintu kamar mandi yang tidak tertutup, Bi Mina menutup mulutnya melihat adegan intim yang ada di depannya. Pelayan rumah yang sudah puluhan tahun ikut di keluarga Cavindra itu tersenyum, kemudian perlahan keluar dari kamar Alexander.
__ADS_1
******************