Revenge: Terlahir Kembali

Revenge: Terlahir Kembali
Chapter 141 Trial and Error


__ADS_3

Seusai dari Disney Land.., tanpa mampir Intercontinental, Marcus langsung membawa Ivona ke laboratorium. Barusan project manager mengirim chat ke Marcus, memintanya untuk membawa pencipta konsep untuk menghadir trial error ketika produk sudah jadi. Ivona merasa yakin jika konsep yang sudah dia lihat dan dia benahi ulang akan berhasil dengan sukses. Jika sudah berhasil baik, Ivona ingin mengunjungi Repulse Bay.., dan lusa baru berpikir untuk kembali ke Indonesia. Dia masih memiliki keinginan untuk mendapatkan selembar kertas tanda kelulusan dari High Senior School untuk legalitas pendidikannya.


"Kamu tidak keberatan kan Iv.., jika aku langsung membawamu ke laboratorium? Aku harap kamu tidak merasa capai karena baru saja selesai bermain di wahana." Marcus menoleh ke arah Ivona yang duduk di sampingnya. Mereka saat ini berada di dalam mobil untuk menuju ke laboratorium.


"Kamu bilang apa Marc..? Jangan khawatir.., aku tidak selemah yang kamu pikirkan." Ivona menjawab pertanyaan Marcus, yang melegakan perasaan laki-laki muda itu. Marcus kembali fokus pada setir kemudi yang dia pegang. Dia langsung melarikan mobilnya ke laboratorium.


Setelah beberapa saat melintas di jalan raya, Marcus menghentikan mobilnya ke tempat yang sangat sejuk. banyak pepohonan besar masih berdiri disitu, meskipun daerah itu terlihat sangat lengang.


"Ayuk kita langsung turun Iv..!" setelah membukakan pintu untuk Ivona, Marcus meminta gadis itu segera turun.


"Sepi banget tempat ini.., kira-kira kamu bawa kemana aku Marc..?" Ivona bertanya pada Marcus.., tetapi gadis itu tetap turun dan berjalan mengikuti Marcus.


"Jangan khawatir Iv.., ya inilah tempat produksi peralatan medis yang kamu ciptakan. Nanti setelah hasil trial error dinyatakan sukses, maka baru diproduksi dalam kapasitas yang lebih banyak di pabrik. Rencana dari pemerintah, jika produk ini berhasil akan diproduksi langsung oleh negara. Jadi tidak ada pihak swasta yang memiliki hak akses untuk memproduksinya." Marcus menjelaskan panjang lebar.


Sesampainya di lobby, seorang perempuan muda langsung menyambut Marcus dengan mata berbinar. Perasaan Ivona mengatakan, jika gadis itu memiliki perasaan pada laki-laki muda itu. Tetapi saat melihat keberadaan Ivona disitu, segera ekspresi perempuan itu berubah drastis. Tetapi, Ivona merasa jika perempuan itu tidak memancing dirinya, maka dia akan mengabaikannya.


"Tuan Marcus selamat sore. Tuan apakah perlu saya antar menuju ke meeting room?" tanya perempuan muda itu dengan ramah.


"Di ruangan mana acaranya Karen? Aku bisa kesana sendiri bersama dengan Ivona." mendengar Marcus menyebut nama Ivona, Karen teringat dengan nama pencipta konsep peralatan medis yang sudah banyak didiskusikan di laboratorium. Perempuan muda itu kemudian merubah sikapnya menjadi lebih bersahabat pada Ivona.

__ADS_1


"Di ruang A101 Tuan Marcus.., silakan jika mau segera kesana. Selamat datang di laboratorium medis kami Nona Ivona. Karen berharap jika nona akan kerasan disini.: Karen menyapa Ivona dengan ramah.


"Terima kasih Karen.." ucap Ivona yang langsung mengikuti Marcus melangkah masuk ke dalam.


Marcus berhenti menunggu Ivona, dan setelah Ivona sejajar dengannya, laki-laki muda itu kembali berjalan. Di depan ruang A101, Marcus berhenti dan menengok pada Ivona.


"Gimana Iv.. bagaimana perasaanmu? Jika kamu mengalami deg-degan.., kita akan menunda untuk masuk ke dalam." Marcus sangat memperhatikan perasaan Ivona, dia menunggu kesiapan Ivona untuk masuk ke dalam.


"Aku enjoy it.. Marcus. Karena aku memiliki keyakinan, jika kali ini project akan berhasil dengan baik dan sukses." dengan penuh percaya diri, Ivona meyakinkan masuk.


*************


"Okay.., karena semua sudah hadir, dan yang paling utama adalah Miss Ivona. Seorang perempuan muda yang ternyata baru kita tahu, saat ini masih duduk di High School, tetapi sudah membuat ciptaan produk yang akan bermanfaat bagi umat manusia. Silakan Miss Ivona untuk berdiri memberikan sapaan pada para tamu yang sudah hadir." moderator meminta Ivona untuk mengenalkan diri.


Merasa malas, Ivona hanya berdiri tetapi tidak berbicara apapun. Gadis muda itu hanya membungkukkan badannya, kemudian kembali berdiri tegak dan akhirnya duduk. Michael merasa terkejut, dia tidak menyangka sedikitpun jika Ivona adalah gadis muda yang duduk bersamanya,  saat masih di pesawat. Tadi pagi, ternyata mereka juga menginap di hotel yang sama. Laki-laki muda itu terus memandangi Ivona dengan senyuman smirk.., tetapi gadis muda itu malah melihat ke arah lain.


"Selain Miss Ivona.., hadir juga di hadapan kita Mr. Michael.. seorang dokter sekaligus tim project dalam kegiatan produksi alat-alat medis dalam laboratorium ini. Mr. Michael harus menerbangkan diri ke Hong Kong.. meskipun beliau sedang ada jadwal menjadi tim ahli di Indonesia dalam kurun waktu 6 bulan. Silakan Mr. Michael untuk mengenalkan diri." kembali pembawa acara mengenalkan tamu yang lain.


Ivona tidak memperhatikan saat Michael berdiri mengenalkan dirinya, maupun saat tamu-tamu yang hadir disitu mulai mengenalkan diri satu persatu. Gadis itu malah fokus melihat iPad yang ada di tangannya. Marcus tersenyum, melihat kecuekan Ivona.

__ADS_1


"Ivona.., kembalikan fokusmu. Alat medis yang sudah disesuaikan dengan konsep terakhir darimu, saat ini akan diperagakan." tiba-tiba Marcus menyenggol Ivona untuk kembali konsentrasi pada acara.


Ivona diminta maju untuk percobaan operasional alat medis itu. Dengan agak malas, gadis muda itu segera menempatkan diri ke depan, Michael tiba-tiba mengikuti dan berdiri di sampingnya.


"Kamu terlalu mengejutkanku Miss Ivona.." bisik Michael di telinga gadis muda itu. Ivona menoleh dan memelototi Michael.


"Jaga sikapmu Mike.., jangan permalukan aku." ucap Ivona dengan lirih.


"Rupa-rupanya Mr. Michael ada ketertarikan dengan Miss Ivona nih, sudah berani bisik-bisik." celetuk salah satu tamu yang hadir disitu.


"Wah iya tuh.. Tapi cocok kok keduanya, sama-sama masih muda, dan smart lagi." celetuk tamu yang lain.


Dalam sekejap meeting room menjadi penuh denga tertawa. Muka Ivona merah padam.., dia hanya tersenyum meskipun hatinya sangat jengkel dengan laki-laki yang berdiri di sampingnya.


"Miss Ivona masih sekolah Tuan-tuan.., dia harus fokus agar bisa mencapai kelulusan. Sepertinya Miss Ivona belum memiliki ketertarikan untuk menjalin suatu hubungan." melihat Ivona merasa tidak nyaman, dengan cepat Marcus berusaha menetralisir suasana.


"Jangan khawatir Tuan Marcus.., aku akan siap untuk menunggu Miss Ivona, jika dia memang bersedia untuk menerimaku." tanpa diduga Ivona, Michael langsung menanggapi candaan itu.


***********

__ADS_1


__ADS_2