
Tidak mau menunda lagi, pernikahan Frans Mahendra dan Helen Anastasia akhirnya dilaksanakan keesokan paginya. Pernikahan sederhana itu hanya dihadiri oleh keluarga Mahendra, keluarga Carminda, dan keluarga Aldo. Karena keluarga Helen ada di luar Jawa, dan tidak bisa mendatangkan mereka semua secara mendadak, keponakan laki-laki gadis itu yang mewakilinya dari pihak keluarga.
"Selamat Helen.., semoga ikatan suci kalian akan bisa bertahan sampai maut memisahkan. Selamat juga kak Frans.., kebahagiaan akan selalu menyertai kehidupan kalian." Carminda didampingi Rafi mengucapkan selamat kepada pasangan pengantin itu. Helen tersenyum malu menerima uluran tangan dari Carminda, dan kedua perempuan itu melakukan cium pipi kanan dan kiri. Di samping Helen, Frans terasa sulit untuk membuka bibirnya hanya sekedar memberi senyuman pada Carminda dan Rafi. Meskipun dia sudah menjalin ikatan suci dengan Helen, rupanya laki-laki paruh baya itu belum bisa melupakan Carminda.
"Terima kasih Nyonya Carmind.., saya harus belajar banyak dari anda." Helen dengan tersipu menjawab ucapan selamat yang diberikan Carminda. Rafi menyentuhkan ujung kedua telapak tangannya pada tangan Helen, kemudian memegang bahu Carminda yang mengulurkan tangan pada Frans.
"Selamat Tuan Frans.., semoga kebahagiaan selalu untuk pernikahan kalian berdua." Rafi mengucapkan selamat pada Frans, karena laki-laki itu tidak menanggapinya, Rafi langsung merangkul Carminda dan membawanya oergi dari situ.
Dari round table di belakang, Mahendra tersenyum kecut melihat pemandangan itu. Tetapi laki-laki tua itu, dengan cepat mengembalikan ekspresinya. Mahendra akhirnya menemani bicara Tuan Girindra, pihak besan dari Ivona.
"Jadi sore ini juga Tuan Mahendra akan kembali ke negara Hong Kong?" tanya Tuan Mahendra dengan ramah.
"Iya..., sudah selesai tugasku di negara ini. Nanti kalau sudah mendapatkan kabar lagi jika aku memiliki cucu, atau cicit.., aku akan langsung menghabiskan masa tuaku disini. Aku masih memiliki tanggung jawab yang belum selesai di markas komando militer, aku akah menyelesaikannya dulu." dengan pikiran menerawang, Mahendra menjawab pertanyaan dari Tuan Girindra.
Kedua orang tua itu melanjutkan pembicaraan mereka, sedangkan Evan dan Nyonya Girindra sedang menikmati makanan satu meja dengan Ivona. Perempuan itu sejak tadi mengambilkan makanan untuk menantunya, dan Ivona harus memaksa Aldo untuk menghabiskannya.
"Nana.., kapan kamu akan datang dan menginap di mansion kita..? Masak kamu malah memilih villa yang sangat jauh dari keramaian.., tidakkah disana malah sepi. Anginnya juga sangat besar.., mama sampai harus minum obat masuk angin, karena tidak kuat menahan angin disana." Nyonya Girindra merayu Ivona untuk pulang ke mansion keluarga Girindra.
__ADS_1
"Saya ikut kak Aldo saja mam..., karena surga Ivona ada di kaki kak Aldo. Jadi.., Ivona mah ngikut saja akan dibawa kemana oleh kak Aldo.." sahut Ivona sambil melirik laki-laki yang duduk di sampingnya itu. Sejak mereka resmi menikah, over protective Aldo semakin meningkat. Jika Ivona memiliki urusan di luar, maka Aldo akan mengirim beberapa pengawal untuk mendampinginya. Jika Aldo sedang longgar, maka laki-laki itu yang akan mendampinginya sendiri.
"Aldo..., kamu dengar tidak apa kata istrimu..? Berarti selama ini, kamu yang mengekang Nana.., sampai pulang ke mansion keluarga saja juga tidak kamu perbolehkan. Dasar anak yang tidak tahu diri.., tidak bisa memahami keinginan orang tua." mendengar penuturan Ivona, Nyonya Girindra sontak mengomeli putranya, sambil tangan perempuan itu menjewer telinga Aldo.
"Hi.., hi.., hi... rasain kak Ald.." Evan tertawa kecil melihat penderitaan kakak laki-lakinya. Ivona nyengir melihat kejadian itu.
**********
Untuk mengurangi rasa tidak nyaman Mahendra, Ivona meminta Aldo untuk menemaninya menyusul perjalanan Mahendra ke airport. Bagaimanapun perlakuan Mahendra pada kehidupan mamanya di masa lalu, tetapi laki-laki tua itu sudah berupaya untuk memperbaiki semuanya. Bahkan perkawinan Carminda dan Rafi.., meskipun bukan secara langsung Mahendra yang melakukannya, tetapi karena koneksi laki-laki tua itu akhirnya pernikahan itu bisa terjadi. Dengan sabar, Aldo memberi pengawalan dan mendampingin Ivona untuk mengantarkan kepergian Mahendra kembali ke negara Hong Kong.
"Kakek.." dengan suara tercekat, Ivona memanggil kakek dari belakang. Saat ini, Mahendra sedang memasuki executive lounge di bandara. Mendengar suara cucu perempuan yang memanggilnya, laki-laki tua itu tersenyum dan menghentikan langkahnya. Perlahan, Mahendra membalikkan badannya.
"Kamu datang mengantarkanku cucuku..?" dengan suara lirih, Mahendra bertanya pada Ivona, dan gadis itu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Kakek dan cucu itu berpandangan, dan Aldo melihat interaksi itu di belakang.
"Kakek.., Nana.., kita cari tempat duduk dulu di dalam. Masak kita bicara sambil berdiri.., kita akan menemani kakek sampai pesawat siap untuk berangkat." melihat ketidak nyamanan mereka berbincang sambil berdiri, Aldo mengajak istri dan kakeknya untuk masuk ke executive lounge.
"Iya Nana.., apa yang dikatakan suamimu benar adanya. Kita masuk dan mencari duduk di dalam saja." setelah melepaskan pelukan, Mahendra menggandeng Ivona memasuki lounge. Aldo yang merasa diabaikan, hanya garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, akhirnya mereka duduk di sofa yang ada di sudut ruangan. Ivona meminta waiters untuk mengantarkan snack dan minuman panas untuk mereka bertiga.
"Apa benar kakek tidak mau lagi tinggal di negara ini kek..?" Ivona menatap mata kakeknya.
"Bukan begitu Nana..., tetapi negara China adalah tempat lahir kakek, dan kewajiban sebagai putra dari negara itu, kakek harus mengabdikan hidup kakek. Nenekmu yang berasal dari Indonesia, sejak meninggalnya nenek, kakek sudah tidak merasa nyaman tinggal di negara ini. Mungkin suatu saat kalian akan bisa memahami perasaan kakek. Tapi percayalah cucuku.., beri kakek cicit segera.., maka kakek akan mengambil pensiun dan akan menemani tumbuh kembang cicit kakek nantinya." sambil memegang tangan Ivona, Mahendra mengucap janjinya.
"Dengar itu honey..., kita harus terus berusaha keras. Biar segera bisa memberikan seorang cicit untuk kakek." Aldo berbisik di telinga Ivona.
"Aaaaw..." bukannya mengiyakan perkataan suaminya, sebuah cubitan di pinggang laki-laki itu dihadiahkan Ivona padanya.
"Kami berdua akan berusaha kakek, kami mohon doa dari kakek. Semoga secepatnya kami bisa dikaruniai bayi dalam pernikahan kami." Ivona menanggapi permintaan Mahendra.
Tanpa menjawab, Mahendra kembali memeluk Ivona, dan satu tangannya meraih bahu Aldo untuk lebih dekat dengan mereka. Ketiga orang itu akhirnya berpelukan dengan erat.
"Selamat malam Tuan Besar Mahendra.., pesawat sudah siap untuk diberangkatkan. Mohon Tuan Besar segera boarding." tiba-tiba pengawal Mahendra sudah berdiri di belakang mereka. Mahendra segera melepaskan pelukan pada cucu dan cucu menantunya itu.
"Kakek harus segera boarding, doakan masih ada umur panjang untuk kakek." mendengar perkataan laki-laki tua itu, Ivona menganggukkan kepala. Air mata kembali membasahi pipinya, dan perlahan Mahendra keluar menuju ke lapangan terbang.
__ADS_1
************