
Ivona langsung diarahkan pramugari untuk menempati tempat duduknya. Untungnya Ester sudah memilihkan tiket untuk penerbangan kelas eksekutif, sehingga gadis itu mendapatkan prioritas untuk memasuki pesawat. Ivona tersenyum senang melihat kursi yang memang dirancang untuk bisa berbaring pada kelas eksekutif. Pramugari membantu meletakkan tas kabin yang dibawa Ivona, ke kabin yang ada di atas tempatnya duduk.
"Selamat malam Nona.., apakah untuk kursi mau dirubah menjadi flat bed..?" dengan ramah, pramugari perempuan menawarkan jasa bantuan lain pada Ivona, setelah selesai meletakkan tas kabin. Ivona menatap pramugari yang sedang tersenyum padanya.
"Yap.., terima kasih." ucap Ivona singkat, kemudian mengalihkan pandangannya. Kelelahan dari pagi sudah beraktivitas, Ivona ingin segera menggeletakkan tubuhnya, dan tidur sampai di kedatangan pesawat.
Setelah mendapatkan ijin dari Ivona, pramugari segera merubah sandaran kepala dan ruang kaki dengan diposisikan menjadi 180 derajat. Dalam sekejap kursi tersebut berubah menjadi flat bed. Ivona mengamati kerja lincah pramugari yang memberikan pelayanan padanya.
"Silakan Nona.., apakah masih ada yang bisa saya bantu?" setelah menyiapkan tempat tidur untuk kenyamanan customer, pramugari kembali bertanya pada Ivona.
"Sudah cukup mbak, terima kasih." Ivona melihat apa yang disiapkan pramugari sudah di atas standarnya, gadis itu mengucapkan terima kasih pada pramugari. Dengan sopan pramugari menjawab perkataan Ivona, kemudian minta ijin untuk melayani customer yang lain.
"Oh ya mbak..., saya mau langsung tidur. Jika nanti mengantarkan makanan, minta tolong langsung diletakkan saja ya. Tidak perlu untuk membangunkan saya." Ivona berpesan pada pramugari itu.
"Baik mbak.., selamat beristirahat.."jawab pramugari itu sambil tersenyum. Pramugari itu kemudian membungkukkan badannya, kemudian membalikkan badannya.
Sepeninggalan pramugari itu, Ivona kemudian memposisikan tubuhnya di atas flat bed tersebut. Tersedia juga sandaran tangan selebar 11 inci, colokan listrik, dan lampu baca di setiap kursi, untuk meningkatkan kenyamanan pelanggan.Gadis itu segera memasangkan kabel daya untuk mengisi daya ponsel dan iPad, dan tidak mau memperhatikan sekeliling, tidak lama kemudian gadis itu sudah terlelap tidur.
*************
__ADS_1
Sampai keberangkatan pesawat yang membawa Ivona ke Hong Kong, Aldo belum mendapatkan informasi kemana gadis itu pergi. Wajahnya sudah lecek tidak bisa dilihat, bahkan orang-orang yang ada di sekitarnya tidak berani untuk membuat suara di depannya. Mereka memilih untuk menghindar dan menjauhi laki-laki itu.
"Apakah kamu sudah mencoba untuk meretas CCTV di jalanan?" kembali Aldo bertanya dengan nada tinggi pada Donny dan Chandra staf IT perusahaan. Kedua orang dekat Aldo itu saling bertatapan...
"Sudah Tuan Muda.., tetapi ada bug yang menghalangi peretasan kami. Seperti ada unsur kesengajaan yang masuk ke jaringan CCTV di seluruh kota dari sore ini." dengan ketakutan, Chandra melaporkan hasil peretasannya.
"Pranggg.." satu gelas hancur terkena senggolan kaki Aldo, tetapi tidak ada yang berani untuk membersihkannya. Mereka memilih diam dan menundukkan kepala. Baru kali ini, mereka melihat kemarahan Tuan Mudanya yang disebabkan oleh seorang perempuan.
"Bagaimana hasil negosiasimu dengan dinas-dinas terkait Donny..?" Donny terkaget saat namanya disebut Aldo. Laki-laki itu menghela nafas sebentar.., kemudian memberanikan diri menatap mata Tuan mudanya.
"Seperti yang disampaikan Chandra Tuan Muda.., dari dinas juga tidak bisa memberikan hasil. Saya juga tidak tahu.., apakah ada keterkaitan antara perginya Nona Muda Ivona dengan terganggunya jaringan CCTV dari arah mall, sampai ke seluruh kota. Sampai mobil Maybach milik Dokter Marcus saja.., kita tidak berhasil untuk menangkap sinyalnya Tuan Muda." Donny menambahkan informasi yang sudah disampaikan Chandra sebelumnya.
Aldo terdiam, dia menutup matanya. Tiba-tiba laki-laki muda itu ingat bagaimana misteriusnya identitas yang dimiliki Ivona Carmindra.., sejak dia mengenalnya dalam kehidupan sebelumnya. Dia tidak tahu.., identitas mana yang sudah dibawa oleh gadis itu. Aldo juga meyakini jika terganggu dan crowdwd nya jaringan, ada hubungan dengan perginya gadis itu.
"Kamu pantau keberadaan Dokter Marcus.., dengan identitasnya sebagai seorang dokter spesialis yang memiliki track record premium di kota ini, aku yakin tidak akan sulit untuk menemukannya. Hanya Dokter itu yang memiliki akses kedekatan dengan Ivona." setelah bisa menguasai perasaannya, Aldo memberi tugas baru pada Donny dan Chandra.
"Baik Tuan muda.., secepatnya akan kami lacak orang-orang yang pernah terlibat dengan Dokter Marcus, dan juga Chandra akan melacak jejak digitalnya." Donny menyanggupi tugas barunya. Merasa sudah tidak ada yang perlu dilaporkan lagi pada Aldo, akhirnya Donny dan Chandra berpamitan untuk melanjutkan tugas barunya.
Sepeninggal Donny dan Chandra, Aldo berusaha menenangkan pikirannya. Laki-laki itu segera masuk ke kamar dan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
__ADS_1
*******
Marcus masuk ke villa yang dia tempati dengan tergesa-gesa. Laki-laki itu ingat jika dini hari harus sudah menyerahkan hasil analisa penelitiannya ke laboratorium pusat. Sebenarnya dia sudah merencanakan jika off day hari ini akan dia gunakan untuk membuat hasil tersebut. Tetapi kejadian mendadak yang dialami Ivona.., membuatnya harus lebih mengutamakan gadis sahabat dan sekaligus gadis yang dia inginkan untuk menjadi kekasihnya itu.
"Selamat malam Dokter Marcus ..," asisten peneliti yang sudah menunggunya, memberikan salam padanya.
"Malam Marshal.., apakah sudah kamu cek ulang data yang sudah berhasil kita trace?" sambil berjalan masuk ke mini laboratory, Marcus bertanya pada asistennya tersebut.
"Sudah Dokter.., tapi ada beberapa sel yang lepas dan membentuk mikroba baru. Tetapi ada juga yang langsung hancur. Silakan Dokter melakukan pengecekan sendiri, mungkin pengamatan saya yang kurang detail." Marshall melaporkan hasil pengamatan awalnya, ketika Marcus belum datang.
"Okay.., buat sterilisasi media dulu. Aku akan membersihkan tubuhku, dari pagi baru sempat untuk mandi sekarang." setelah melakukan pengamatan sebentar, Marcus keluar dari mini laboratory tersebut. Laki-laki muda itu bergegas meninggalkan Marshall sendiri, dan masuk ke kamarnya.
"Tuan..., apakah saya perlu untuk menyiapkan makan malam?" seorang pelayan bertanya pada Marcus.
"Siapkan untuk Marshall saja.., aku sudah makan." setelah berhenti, Marcus menjawab pertanyaan pelayan itu, kemudian melanjutkan langkahnya.
Setelah menutup pintu, Marcus menatap pigura foto yang ada di atas meja di kamarnya. Tangannya terulur kemudian mengangkat dan melihat foto dalam pigura itu
"Dimanapun kamu Na..., semoga keselamatan dan kebahagiaan selalu membersamaimu." ucap Marcus lirih, sambil mengusap pelan fotonya sedang berdua dengan Ivona. Foto itu mereka ambil saat sedang menghadiri internasional conference di Perancis.
__ADS_1
Perlahan Marcus mendekatkan pigura kecil itu ke wajahnya, kemudian memberikan kecupan di atas kaca penutup pigura tersebut. Setelah sekali lagi memandanginya, Marcus meletakkan kembali pigura tersebut ke tempat asalnya. Setelah itu, dengan segera laki-laki itu masuk ke dalam kamar mandi.
**********