Revenge: Terlahir Kembali

Revenge: Terlahir Kembali
Chapter 107 Operasi Lancar


__ADS_3

Jantung Ivona berdegup kencang, melihat Dokter Tantowi keluar dengan muka kusut. Penutup kepala dokter sudah dilepas, dan dia langsung berjalan mendekati gadis itu. Alexander bertindak sigap, dia merangkul Ivona dan menemaninya berjalan mendekati Dokter Tantowi. Ketiga kakak Ivona ikut berdiri, dan ikut mendatangi Dokter.


"Operasi berjalan lancar dan sukses Ivona.., kamu tinggal menunggu kakekmu sadar dari pengaruh obat bius. Sekalian aku pamit ya, malam ini aku harus sudah kembali ke SIngapura." Dokter Tantowi tersenyum, dia mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Ivona. Dokter sama sekali mengabaikan orang-orang yang ada disitu, dia hanya fokus pada Ivona.


"Syukurlah Dok..., aku tidak mampu berkata apapun. Terima kasih Dokter atas waktunya.., ingat untuk menghubungi aku, jika suatu saat Dokter membutuhkan bantuanku." Ivona menyambut uluran tangan Dokter Tantowi. Saat Dokter itu akan memberikan pelukan persahabatan, Alexander langsung memundurkan Ivona ke belakang. Dokter Tantowi sedikit terkejut, dia menatap Alexander tetapi segera memaklumi keadaan yang ada di depannya.


"Siapa dia Ivona.., protective sekali padamu?" tanya Dokter Tantowi sambil tersenyum menggoda.


"Kakak Ivona Dok.." sahut Ivona cepat. Alexander merasa sedikit jengkel mendengar jawaban gadis itu, tetapi karena saat ini mereka baru dalam keadaan senang, dia tidak mau merusak kesenangan itu.


"Really..?? Okelah.., by the way, sebentar lagi kakekmu masih harus dirawat di ruang ICU sampai stabil. Tapi kalian semua bisa bernafas lega, karena lebih dari 90% kakekmu akan selamat. Sekarang aku akan langsung ke bandara." Dokter Tantowi kemudian berjalan meninggalkan mereka.


"Sekali lagi terima kasih Dokter, titip salam untuk Marcus!" ucap Ivona, dan membuat para laki-laki muda yang ada disitu terkejut.


"Baik.., dan pikirkan apa yang tadi aku sampaikan padamu!" sahut Dokter tanpa menengok lagi ke belakang.


Ivona hanya memandang punggung Dokter Tantowi yang meninggalkannya, tetapi kemudian segera menengok ke pintu. Terlihat kakek yang masih dalam keadaan pingsan pengaruh obat bius, akan dipindahkan ke ruang transisi untuk diamati dan dipantau proses lanjutan. Tanpa bisa dicegah, air mata membasahi kelopak matanya melihat kakeknya diam terbaring. Demikian juga dengan ketiga kakaknya yang lain.


Perawat segera mendorong tempat tidur menuju ruang transisi dan melarang keluarga untuk mengikuti masuk.

__ADS_1


"Ayo kita kembali ke kamar kakek dulu, kalian tadi dengar apa kata Dokter kan? Kakek akan baik-baik saja, sekarang semua istirahat dulu." kata Alexander mengarahkan.


"Sepertinya kamar inap kakek hanya ada satu kamar tambahan untuk keluarga, Ivona akan aku bawa pergi malam ini. Rico sudah menyiapkan hotel untuknya, apalagi dia masih harus berlatih mengerjakan soal-soal Fisika. Besok pagi dia ikut battle mewakili sekolah. Tidak baik untuknya, tidur di rumah sakit." lanjut Alexander.


"Aku akan ikut kalian, tidak bijak aku biarkan adik perempuanku pergi dengan laki-laki lain." ucap Rio cepat.


Alexander tersenyum sinis, dia memandang Rio dan Tommy. Tetapi Tommy menganggukkan kepala.


"Thomas.., kamu sementara di rumah sakit ya! Jika ada apa-apa dengan kakek segera hubungi kami. Aku dan Rio akan ikut Alexander, karena besok pagi Ivona sudah dijadwalkan untuk battle Fisika." Tommy membuat pengaturan baru, sedangkan Ivona hanya diam. Dia tidak mau terlibat dalam pengaturan itu.


"Ok." jawab Thomas singkat.


**********


"Tommy, siapa sebenarnya Alexander, kenapa kamu membiarkan Ivona akrab dengan pria itu?" tanya Rio saat mereka berada dalam satu kamar hotel The Ritz Carlton.


"Aku tanya padamu Rio.., apakah kamu punya waktu untuk mengamati Ivona selama ini? Waktu dulu, waktu kita habiskan untuk menemani dan mengawasi Vaya. Anak itu tumbuh dengan kasih sayang yang sangat melimpah. Saat kita memiliki kesibukan sendiri-sendiri, Ivona yang ternyata adik kandung kita datang ke rumah. Bisakah kita curahkan semua waktu kita yang terutang untuk anak itu?" Tommy malah balik bertanya pada Rio. Pandangannya melamun ke depan.


"Tapi kenapa harus pria itu?"

__ADS_1


"Apa yang kamu rasakan Rio, kamu cemburu karena Ivona lebih dekat dan lebih menurut dengan Alexander, daripada dengan kita adik-adiknya. Aku memang titipkan Ivona pada pria itu, dia adalah CEO Cavindra Group dan juga mitra bisnisku dalam industri music dan film. Alasanku memilihnya, karena aku mengenal keseharian Alexander yang selalu acuh dan menjauhi perempuan, Ivona akan aman bersamanya. Dia pria yang bertanggung jawab, dan kemampuan akademik juga sangat membanggakan." lanjut Tommy menjelaskan.


Kedua laki-laki itu terdiam, mereka memandang keindahan kota Jakarta di waktu malam. Mereka duduk di balkon kamar yang mereka tempati di hotel tersebut. Sedari tadi Tommy sudah mengirim chat untuk Alexander, mengajaknya keluar untuk ngobrol. Tetapi pria muda itu sedang memberi les privat pada Ivona.


"Aku dengar dari Thomas, rupanya sudah dua minggu lebih Ivona tinggal bersama dengannya di villa. Apakah itu tidak terlalu beresiko? Kakek juga menerima perjanjian kerja sama dengannya, bahkan pria itu yang memperjuangkan Ivona untuk tinggal bersamanya." ucap Rio yang seperti belum percaya dengan Alexander.


"Hilangkan pikiran kotor dari otakmu. By the way, sepertinya Alex pernah bilang, dia ketemu kamu dengan Thomas di rumah sakit jiwa." tiba-tiba Tommy mengingat perkataan Allexander. Dia memandang ke arah Rio.


"Iya beberapa waktu lalu, saat Ivona kabur dari rumah sakit itu. Dia memang dibawa pergi oleh pria itu. Waktu itu, Ivona lebih mempercayainya daripada denganku  dan Thomas." Rio menceritakan pertemuan tidak sengajanya dengan Alexander.


"Jelas saja.., karena kalian kan yang memaksa Ivona untuk masuk kesana. Hanya karena mendapatkan masukan dari Vaya, tanpa pikir panjang kalian memasukkannya ke rumah sakit itu. Dengar-dengar, ternyata Direktur rumah sakit itu adalah papanya Vaya. Benarkah?" Tommy mengingatkan Rio tentang kelakuannya dengan Thomas di masa dulu, mereka memaksa Ivona untuk masuk ke rumah sakit jiwa.


Rio tersenyum, itu adalah Rio yang dulu yang memasukkan Ivona ke rumah sakit jiwa.


"Iya sih.., Vaya saat di rumah sakit itu, sempat bicara padaku dan Thomas. Dia minta tolong, katanya papanya yang Direktur rumah sakit itu dihajar sama Ivona. Yah.., waktu itu aku malah bilang ke Vaya, untuk ngurusi papanya, tidak malah ribut untuk menangkap Ivona." tersenyum pahit, Rio menceritakan kejadian beberapa waktu lalu.


"Berarti tidak salah kan kenapa Ivona lebih memilih untuk percaya dengan Alexander. Karena laki-laki itu sudah menolongnya untuk melarikan diri dari rumah sakit, kemudian membawanya pergi. Itu tidak terjadi apa-apa dengannya." ucap Tommy.


"Iya juga sih, aku baru sadar jika saat Ivona membutuhkan orang untuk bergantung, Alexander menawarkan perlindungan padanya."

__ADS_1


**************


__ADS_2