
Sudah beberapa hari di laboratorium, Ivona belum mendapatkan informasi apapun tentang keberadaan mamanya Nyonya Carminda. Berada di negara asing yang memiliki peraturan hukum yang sedikit lebih ketat, menimbulkan kehati-hatian gadis itu untuk menunjukkan kemampuan hackernya. Ivona bisa saja melakukan peretasan sistem informasi di laboratorium tersebut, tetapi gadis itu masih memikirkan tentang keselamatan orang banyak daripada hanya kepentingannya sendiri. Sedangkan Dokter Marcus yang berjanji akan datang menyusulnya ke Hong Kong di hari Minggu, ternyata laki-laki itu mengundurkan keberangkatan karena harus mempresentasikan temuannya pada konsorsium medis di Indonesia.
"Miss Nana..., untuk alat yang sedang dalam draft akhir akan kita uji cobakan, bagaimana pendapatmu?" pertanyaan yang tiba-tiba diucapkan Frans, membuyarkan lamunan Ivona. Gadis itu langsung memandang wajah Frans, kemudian menjawab pertanyaan laki-laki itu.
"Untuk masing-masing sisi, harus dipastikan dulu agar presisi. Juga implementasi Artificial Intelligence (AI) harus betul-betul dikedepankan, karena AI mampu mendukung proses deteksi suatu virus atau penyakit baru secara signifikan. Selain itu juga dapat membantu masa penyembuhan pasien, serta mempermudah dokter dan apoteker dalam pembuatan obat juga." untungnya selain membuat desain menggunakan teknologi komputer, Ivona sering membuat prothotype kecil sehingga mampu mengikuti diskusi rekan-rekan seniornya.
"Betul juga sih masukanmu.., nanti kamu ikut dan temani Erick ya, ke unit peneliti selanjutnya. Erick biasanya agak down.., karena di unit yang akan dia datangi kali ini banyak berisi peneliti-peneliti senior yang dikarantina. Bahkan untuk menjaga kerahasiaan peneliti-peneliti tersebut, mereka tidak diperbolehkan bertempat tinggal di luar. Mereka harus bertempat tinggal di laboratorium ini juga," Frans meminta Ivona untuk menemani Erick untuk mengantar hasil analisa unit mereka.
"Siap Frans.., sekalian aku belajar bersosialisasi lebih dalam ke laboratorium ini." Ivona berpikir, siapa tahu dengan lebih masuk ke dalam lingkungan laboratorium, dia akan lebih cepat untuk menemukan mamanya.
Frans berjalan meninggalkan Ivona sendiri, gadis itu kembali melanjutkan penggambaran desain peralatan medisnya. Beberapa saat Ivona bekerja sendiri di ruangan ini, tanpa dia sadari sepasang mata melihatnya dari depan pintu sambil tersenyum.
"Miss Ivona.., bisa ke ruangan saya sebentar!" tiba-tiba terdengar suara yang kembali mengejutkannya, bahkan sampai menyebabkan tubuhnya terguncang.
"I.m sorry Miss..., aku tidak bermaksud mengejutkanmu." terlihat Marshal langsung mendatangi Ivona, laki-laki itu meminta maaf padanya. Ivona menengadahkan wajahnya menatap Marshall, senyuman malu muncul di bibirnya.
__ADS_1
"Aku yang minta maaf Tuan Marshall.., aku betul-betul lagi fokus, konsentrasi. Jadi tidak melihat kedatangan Tuan Marshall disini," Ivona langsung berdiri.
"Kemana teman-temanmu yang lain, kenapa kamu hanya sendiri di ruangan ini?" tiba-tiba Marshall menanyakan keberadaan teman-temannya. Ivona melihat jam dinding, waktu menunjukkan pukul 12.00.
"Mungkin mereka sedang istirahat siang Tuan Marshall.., kan sekarang sudah masuk waktu istirahat. Kalau Frans, baru saja berdiskusi dengan saya, tadi sempat pamit tapi saya yang tidak mendengarkannya." tidak mau menjatuhkan nama teman-temannya, Ivona mencoba menggunakan alasan mereka sedang istirahat. Sejak pagi, Ivona memang hanya berdua dengan Frans di ruangan itu, dia juga tidak tahu kemana teman-temannya hari ini.
"Baiklah.., tutup perangkat komputermu!! Kamu ikut aku ke ruang kerjaku, kita berbincang disana sambil menemaniku makan siang bersama." ucap Frans sambil membalikkan badan, dan berjalan meninggalkan gadis itu.
Ivona segera menyimpan file yang sedang dikerjakan, kemudian mematikan perangkat komputernya. Setelah memastikan tidak ada orang yang bisa membuka filenya, Ivona melangkah keluar mengikuti Frans.
Ivona terkejut melihat meja di ruang tamu Frans sudah tersedia banyak makanan diatasnya. Tetapi gadis itu merasa jika semua itu bukan urusannya, karena melihat Frans sudah duduk, Ivona mengikuti laki-laki itu duduk di depannya. Frans tersenyum, sambil mengangkat schetcher dan menuangkan air mineral di gelas kosong. Tetapi yang membuat dahi Ivona berkerut, Frans menyiapkan tiga gelas air mineral, dan juga tersedia tiga piring kosong.
"Kita tunggu sebentar ya Miss Ivona.., masih ada temanku yang sedang dalam perjalanan kesini." Frans memberi tahu Ivona untuk menunggu temannya bergabung dengan mereka. Gadis itu tidak menjawab, tetapi hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya perlahan.
"Okay Tuan Marshall.., tapi bolehkah aku mencicipi crackers itu. Sepertinya menarik untuk dicicipi.." melihat kerupuk ikan, membuat air liur Ivona terkumpul. Tanpa malu, gadis itu meminta ijin pada Marshall untuk mencobanya terlebih dahulu.
__ADS_1
"Silakan, pasti boleh. Menu kali ini sengaja disiapkan untuk kita bertiga. Apakah kamu tidak ingin bertanya padaku Miss..., siapa teman yang sedang aku tunggu?" tiba-tiba Marshall bertanya pada Ivona. Gadis itu menggelengkan kepala, dia memang tidak peduli siapa yang akan diajak makan bersama oleh Marshall. Karena baginya hal itu bukan merupakan urusannya, dia hanya ingin bertemu dengan mamanya sampai mau masuk ke laboratorium terpadu ini.
"Kamu memang seorang gadis persis dengan yang aku dengar tentangmu.." gumam Marshall sambil senyum-senyum pada Ivona. Gadis itu terdiam tidak menanggapi gumaman laki-laki itu, meskipun dia bisa mendengar apa yang digumamkan oleh laki-laki itu.
"Oh ya Miss Nana.., apakah aku boleh tahu hubunganmu dengan Dokter Marcus..?" Ivona terkejut karena tiba-tiba Marshall menyinggung tentang sahabatnya itu. Dia memandang dengan lekat wajah Marshall.
"Apa maksud Tuan Marshall bertanya tentang hubungan kami?? Aku sudah menganggap Dokter Marcus sebagai sahabat terbaikku, bahkan aku sering memperlakukan laki-laki itu sebagai kakakku. Hubungan seperti apa yang ingin Tuan Marshall dari kedekatan kami?" tidak mau orang mempersepsikan hal lain tentang hubungannya dengan Marcus, Ivona berkata yang sebenarnya.
"Really...??? Apakah tidak ada yang lainnya?" tanya Marshall dengan pandangan heran. Mata laki-laki itu seakan ingin menembus kornea mata Ivona.
"Oh Tuan Marhall kecewa ya atas jawaban saya.. Memang itu adalah hal yang sebenarnya Tuan.., aku dan Dokter Marcus sudah lama berteman dan menjadi seorang sahabat. Tidak akan ada hubungan lain, selain sebagai seorang sahabat dan saudara.., aku rasa hubungan itu malah kekal abadi." Ivona mempertegas kembali perkataan yang sudah dia ucapkan sebelumnya.
Marshall terdiam.., berkali-kali laki-laki itu seakan melihat kembali ke wajah Ivona. Tetapi gadis itu tetap bersikap masa bodoh, dia malah asyik menikmati kerupuk ikan yang ada di atas meja. Seakan-akan pertanyaan yang dilontarkan Marshall barusan, tidak memiliki arti apa-apa baginya. Tiba-tiba laki-laki di depannya itu mendongakkan wajahnya melihat ke arah pintu, dan senyuman muncul dari bibirnya.
"Apakah kamu sedang mengganggu teman baikku Marshall??" suara laki-laki yang muncul dari arah pintu sangat mengejutkan Ivona. Gadis itu langsung membalikkan badan, kemudian berdiri dan menyambut laki-laki tersebut.
__ADS_1
***********