
Sesampainya di villa Alexander, Ivona langsung keluar mendahului laki-laki muda itu dan langsung masuk ke dalam kamar. Untuk berjaga-jaga agar Alexander tidak mudah untuk keluar masuk kamarnya, dia mengunci pintu dari dalam kemudian menyimpan kuncinya. Saat meletakkan tas sekolahnya di atas meja, Ivona tersenyum senang melihat ada satu amplop besar untuknya yang dikirim dari Kantor Imigrasi. Dia kemudian mengambil amplop dan membukanya, senyuman kembali mucul di bibirnya, melihat passport dan visa yang diuruskan oleh orang dari kantor imigrasi sudah siap semuanya.
"Syukurlah.., surat-surat untuk keberangkatanku besok sore sudah siap semuanya. Aku harus segera menyiapkan perlengkapan yang lain." gumam Ivona sambil tersenyum.
Gadis itu langsung mengambil back pack, dan hanya membawa pakaian dua potong saja. Dia tidak mau menimbulkan kecurigaan pada saat Alexander mengantar ke sekolah. Untuk pakaian ganti, dia akan membeli saat sudah sampai di Hongkong. Dia juga berencana akan ijin pada Guru Kelas selesai jam istirahat siang, dan langsung menuju Bandara Soekarno Hatta dengan menggunakan mobil online.
Merasa baru sedikit barang bawaanya, Ivona mengambil paper bag yang berisi tas selempang kecil yang dibelikan Nyonya Besar Kavindra. Senyuman terbit di bibirnya, saat memandang tas kecil yang sangat simple tetapi muat beberapa barang-barang penting.
"Ternyata selera Nyonya Besar tidak kuno, dia bisa memahami seleraku." gumamnya sekali lagi.
Dalam tas selempang kecil itu, Ivona meletakkan passport dan Visa serta kartu identitas lainnya. Tidak lupa, dia juga memasukkan dompet di dalamnya. Setelah semua perlengkapan beres, gadis itu menambahkan satu buku dan pulpen kemudian menyiapkan semua tas di atas meja belajarnya. Agar tidak mengundang kecurigaan, tas selempangnya dia masukkan ke dalam back pack.
"Aku akan tidur awal saja, biar besok bisa bangun pagi." Ivona membatin sendiri. Setelah membasuh diri dan mengganti piyama, gadis itu menghempaskan tubuhnya di atas ranjang.
"Akhirnya.., aku kembali ketempat favoritku." ucap Ivona sambil merentangkan ke dua tangannya ke kanan dan ke kiri. Tidak berapa lama, sambil memeluk guling gadis itu sudah terlelap.
**************
Alexander mulai menguap di ruang kerjanya, sejak pulang dari rumah makan bersama Ivona, laki-laki muda itu memang langsung masuk ke ruang kerja. Dia mengecek perjanjian-perjanjian kerjasama dan laporan keuangan dengan teliti. Selain itu, dia juga melihat email masuk dan setelah apa yang ditunggunya sudah mendapat jawaban persetujuan, dia segera mengakhiri semua pekerjaannya.
"Semuanya sudah siap.., aku akan istirahat dulu." gumam Alexander sambil matanya melirik jam yang ada di meja kerjanya.
"Rupanya sudah pukul 23.05 menit, pantas saja mataku sudah tidak bisa diajak kompromi." Alexander kemudian berdiri, dia melakukan strecthing ke kanan dan ke kiri, kemudian melangkah keluar dari ruang kerja.
__ADS_1
"Tuan Muda sudah akan berangkat tidur, atau masih akan bekerja lagi?" tanya Bi Mina yang sedang melihat televisi di ruang tengah. Perempuan tua itu memang selalu menunggu Alexander, jika laki-laki muda itu sedang bekerja di ruang kerjanya. Dia berjaga-jaga, siapa tahu Tuannya membutuhkan bantuan darinya.
"Tidak Bi.., aku sudah mengantuk. Kenapa Bibi belum istirahat, ini sudah malam? Jangan biasakan menungguku jika sedang bekerja." ucap Alexander menegur Bi Mina.
"Bibi lihat sinetron Tuan Muda.., sayang kalau ditinggalkan. Baiklah Bibi ke kamar dulu ya Tuan Muda.., selamat malam." Bi Mina berbohong pada Alexander, kemudian perempuan tua itu meninggalkan Alexander.
Melihat Bi Mina sudah menghilang dari hadapannya, Alexander menuju ke kamar. Tetapi belum sampai di depan kamar, laki-laki muda itu melirik kamar Ivona.
"Aku tidak dapat tidur jika berada di kamar itu, aku akan menyusul gadis itu saja." gumamnya sambil tersenyum smirk.
Alexander kemudian melangkah ke kamar Ivona, tetapi saat tangannya meraih handle pintu ternyata pintu terkunci dari dalam.
"Sungguh gadis yang licik kamu Nana.., tapi kamu tidak sadar sedang bermain dengan siapa." Alexander tersenyum, kemudian melangkah menuju lemari kecil dan mengambil duplikat kunci kamarnya.
Saat malam hari, Ivona tidur tanpa sadar meringkuk manis di dada Alexander, dan laki-laki itu melingkarkan lengan dan tangannya di pinggang gadis itu. Sementara itu, di pusat komputer nasional mengalami kehebohan. Malware yang dibuat dan dikirimkan dengan timer oleh Ivona sudah masuk melalui jaringan internet. Sebenarnya malware yang dibuat tidak berbahaya dan sangat sederhana, tetapi karena merupakan suatu hal yang baru, para programmer di pusat komputer dibuat kelimpungan. Sejenak server menjadi down karena ada crash. Ivona hanya mengingatkan agar mereka meningkatkan sistem keamanan, sehingga tidak mudah dihancurkan oleh para hacker.
"Cari pelaku yang mengirim malware ke sistem kita! Berani-beraninya dia mengerjai pusat komputer nasional," Direktur langsung turun sendiri untuk memberi perintah pada para programmer yang masih belum bisa menyelasaikan masalah.
"Polanya berbeda dengan hacker yang pernah mengacaukan sistem kita beberapa waktu yang lalu. Aku curiga, jika mereka merupakan sebuah komplotan cyber crime." celetuk salah satu programmer.
"Bisa juga tuh.." sahut yang lain.
"Jika begitu, keberadaan mereka akan menjadi ancaman besar bagi kita. Kira-kira dimana kita bisa menemukan komplotan itu, aku curiga kita dipermainkan oleh orang-orang dari negara maju."
__ADS_1
Saat para programmer lain mendiskusikan tentang kekacauan itu, tiba-tiba seorang programmer berteriak.
"Syukurlah.., jaringan kita sudah normal kembali. Kita harus menambah orang lagi, dia yang bertanggung jawab dengan sistem keamanan kita."
"Benarkah.., apakah ada kerusakan dalam sistem?" tanya Direktur.
"Clean semuanya Tuan.., tidak ada masalah apapun pada sistem jaringan kita. Orang itu seperti hanya menguji kesabaran kita saja, dia bermain-main dengan sistem dan malware, sepertinya tidak ada maksud untuk menghancurkan sistem jaringan kita." sahut programmer tersebut.
Direktur diam sesaat, dia tiba-tiba teringat dengan Ivona, gadis yang pernah direkomendasi oleh Marcus. Peneliti senior di pusat komputer internasional pernah memberi peringatan untuk tidak mempermainkan gadis itu, karena jika gadis itu kecewa, maka sistem jaringan akan hancur seketika.
"Apakah semua ini ulah Ivona.., dia hanya memberi peringatan kita untuk lebih hati-hati." Direktur berpikir sendiri.
"Atau aku harus mulai menyelidiki masalah ini, aku tidak akan bisa membiarkannya menjadi lebih berlarut-larut lagi. Dan aku sendiri yang akan turun tangan sendiri untuk mencari gadis itu," Direktur tiba-tiba tersenyum smirk.
Melihat Direktur yang terdiam dan seperti melamun, para programmer menjadi berbisik-bisik. Mereka saling menyenggol untuk menanyakan apa yang dipikirkan oleh Direktur itu.
"Direktur.., apa yang sedang Tuan pikirkan? Apakah ada yang bisa kami bantu untuk selesaikan?" tanya seorang programmer memberanikan diri.
Direktur kembali tersadar, kemudian melihat pada mereka.
"Tenanglah.., aku akan menyelidiki sendiri masalah ini. Fokuslah pada pekerjaan kalian, jangan sampai ada hacker yang kembali memporak porandakan jaringan kita!"
***************
__ADS_1