
Semua anggota keluarga berkumpul di ruang tengah keluarga Iswara, bahkan Rio juga sudah datang dari apartemennya. Meskipun tinggal dalam satu kota, tetapi dengan alasan sebagai anak pertama dan yang mau meneruskan perusahaan keluarga Iswara, Rio memang ingin berlatih mandiri. Dia tidak mau tinggal menjadi satu dalam rumah keluarga Iswara, dan tadi saat bekerja di perusahaan, dia diminta Tuan Iswara untuk berkumpul di rumah.
"Ada kabar tidak dari adikmu Thomas, kamu sudah mengusir Vaya keluar dari rumah ini? Apakah kamu berpikir jika Ivona juga akan datang." Nyonya Iswara menanyakan keberadaan Ivona.
"Tenang ma.., Ivona pasti akan datang. Tadi Thomas sudah ketemu dengannya saat di sekolah, dia sudah menyampaikan pada Thomas, jika dia akan pulang ke rumah hari ini." Thomas menjawab pertanyaan Nyonya Iswara.
"Kamu percaya dengan anak itu, sudah berapa kali dia mengecewakan kita. Aku yakin, anak itu hanya berpura-pura untuk datang ke rumah, tetapi buktinya sudah waktunya makan malam dia juga belum datang juga. Jangan-jangan anak itu memalukan keluarga Tuan Alexander, dia sudah dibuang dari kemarin oleh keluarganya." ucap Nyonya Iswara sinis. Perempuan paruh baya itu belum bisa merelakan, saat Vaya harus keluar dari rumah ini. Meskipun olehnya, Vaya disewakan hotel yang tidak jauh dari rumah, dia harus sembunyi-sembunyi jika ingin ketemu dengannya.
"Memang Ivona selama ini tinggal dimana? Apakah dia tidak tinggal bersama dengan keluarga kita disini, bukankah kakek sangat menyayangi Ivona?" Rio yang tidak tahu duduk perkaranya, bertanya pada anggota keluarga lainnya. Karena setahunya, sejak keluar dari rumah sakit jiwa, anak itu sudah pulang ke rumah ini, berkumpul dengan anggota keluarga yang lain.
"Siapa yang bicara tidak-tidak tentang cucu kesayanganku. Apakah kalian pikir, CEO Kavindra Group itu pengangguran, yang hanya karena keinginan kalian, dia akan muncul di rumah ini. Aku yang memintanya untuk menjaga dan mengawasi cucuku, aku yakin sebentar lagi cucu kesayanganku akan datang. Jangan ada yang membicarakannya di belakangku!" suara tegas kakek melarang untuk membicarakan Ivona.
Rio yang tidak tahu apa yang telah terjadi pada keluarganya, menatap Thomas untuk meminta penjelasan. Tetapi mendengar peringatan terakhir dari kakek, Thomas tidak berani membuat keributan. Dia hanya mengangkat kedua bahunya ke atas. Tiba-tiba Tommy turun dari lantai atas, dia sudah mendapatkan panggilan telpon dari Alexander, jika mereka sudah dalam perjalanan menuju rumah keluarga Iswara.
"Mama.., apakah makan malam sudah disiapkan di meja makan?" tanya Tommy pada Nyonya Iswara.
"Kamu sudah lapar Tomm.., tunggu sebentar. Kata kakek, kita belum boleh makan terlebih dulu jika Ivona belum sampai ke rumah ini." sahut Nyonya Iswara.
"Mama jangan salah paham. Tommy menanyakan, karena Ivona dan Alexander sedang dalam perjalanan menuju rumah ini. Maksudnya, jika makan malam sudah siap, begitu mereka datang kita langsung bisa menikmati makan bersama." Tommy menjelaskan. Dia langsung duduk di samping kakeknya.
Mendengar jawaban putra laki-lakinya, Nyonya Iswara menjadi kurang senang. Dia kemudian berdiri dan berjalan menuju ruang makan, untuk mengawasi pelayan rumah menyiapkan makan malam.
"Sebentar.., sebentar.., apakah tidak ada yang mau menjelaskan padaku. Siapa Alexander, dan tadi kakek menyebut CEO Kavindra Group, ada apa dengan mereka, dan apa hubungannya dengan keluarga kita?" Rio bertanya lagi dengan suara sedikit keras.
__ADS_1
***********
"Kakek..., maaf Ivona terlambat!" seru Ivona langsung memeluk kakeknya, mereka saat ini sudah berada di meja makan.
Kakek memeluk Ivona balik dan memberi ciuman di pipi kiri dan kanan cucu kandungnya itu. Sedangkan Rio terpaku, melihat penampilan adiknya saat ini. Ivona yang dulu terlihat kurus kering, saat ini tubuhnya semampai proporsional antara bentuk badan dengan tinggi badannya. Kulitnya lebih putih, cerah dan bersinar seperti kulit bayi.
"Tidak apa-apa, kakek yakin kamu akan datang. Ayuk segera duduk disini, kakek sudah persiapkan kursi ini untuk kamu." kakek meminta Ivona untuk menduduki kursi yang sudah dia siapkan untuknya.
Nyonya dan Tuan Iswara dengan wajah kurang suka, hanya melihat gadis itu. Ivona dengan cepat mengambil piring kakeknya kemudian mengisi dengan sedikit nasi, dan menyiapkan lauk pauk untuknya.
"Kamu tidak makan?" tanya kakek melihat Ivona.
"Sebentar kek, Ivona masih menunggu kak Alex. Bolehkan kak Alex bergabung untuk makan malam disini, kebetulan kakak baru menerima telpon dari mitra bisnisnya di luar?" Ivona meminta ijin pada kakek.
"Ya pasti boleh.., siapa yang akan menolak kehormatan untuk dapat makan bersama dengan pria sebaik itu." ujar kakek.
Tommy beranjak dari tempat duduk kemudian melangkahkan kaki menuju arah luar rumah. Tidak lama kemudian, dia masuk kembali dengan membawa Alexander.
"Salam hormat kakek, saya datang mengantarkan cucu kesayangan kakek." Alexander menyampaikan salam pada kakek.
__ADS_1
"He.., he.., he.., ayo duduk disini nak Alex. Alangkah sangat bahagianya keluarga kami, bisa turut makan bersama dengan CEO Kavindra Group." kakek mempersilakan Alexander duduk di samping Ivona.
Dengan penuh tanda tanya Rio memandang pada laki-laki muda yang baru datang itu. Dia menepuk pundak Thomas, meminta penjelasan.
"Bukannya laki-laki itu yang membawa Ivona saat di rumah sakit jiwa dulu? Ada hubungan apa dengan keluarga kita?" bisik Rio di telinga Thomas.
"Panjang ceritanya Rio, maka sering-seringlah pulang ke rumah! Ikuti saja ceritanya, nanti kamu juga akan paham sendiri." malas menjelaskan, Thomas meminta Rio untuk mendengarnya saja.
**********
Setelah mendapatkan kiriman chat dari Ivona, Marcus segera menghubung rumah sakit tempat akan dilakukannya tindakan operasi kakek Ivona. Dia mengatur semuanya dari kedatangan dokter Tantowi, asisten dokter yang akan mendampingi operasi, sampai kamar untuk rawat inap presidential suite sudah dia siapkan untuk keperluan tersebut. Bahkan untuk memastikan keamanannya, beberapa pengawal juga sudah dia persiapkan untuk menjaga ruang tempat operasi. Marcus menganggap betapa berharganya Ivona, sehingga dia harus ikut memberikan technical support untuk kelancaran orang yang dianggap berharga oleh Ivona.
"Apakah kami boleh tahu Tuan Marcus.., sebenarnya pasien yang akan dilakukan tindakan operasi itu siapa? Mengapa Tuan memastikannya sendiri, dari persiapan sampai pasca operasi agar dapat terlaksana dengan lancar?" tanya orang suruhannya dari pusat komputer nasional.
"Kamu tidak perlu bertanya padaku. Aku perintahkan, kamu lakukan saja semuanya sesuai dengan prosedur yang sudah aku susun. Jika aku mendengar ada complain dari keluarga pasien, maka aku pastikan kalian akan celaka. Dan juga, aku minta kalian menjaga rahasia tentang apa yang sudah aku lakukan dari siapapun." Marcus memberikan pesan dan arahan pada orang-orang suruhannya.
"Siap Tuan.."
__ADS_1
**************