
Marcus terkejut dengan pertanyaan yang diberikan Ivona. Memang beberapa waktu yang lalu, Ivona pernah mengirimkan dokumen via email tentang penyakit tumor otak. Saat itu memang Marcus pernah menceritakan jika dia mengenal seseorang yang bekerja di Institut Kedokteran, yang menyelidiki tentang berbagai penyakit juga sebagai penghasil alat-alat medis.
"Kamu masih ingat tentang orang yang pernah kuceritakan ya Ivona?" Marcus bertanya pada Ivona.
"Iya Marcus.., tolonglah bantu aku. Saat ini aku sangat membutuhkan bantuanmu, hanya kamu yang bisa menolongku dari masalah ini." Ivona sangat berharap pada laki-laki itu.
"Sebenarnya jujurlah padaku Ivona!! Untuk apa kamu mengirimkan dokumen tentang tumor otak padaku?? Dan sebenarnya siapa yang saat ini sedang mengalami penyakit itu?"
Ivona diam sejenak, dia membayangkan kakek dari pemilik tubuh ini sebelumnya. Kakek sudah lama menderita penyakit tumor otak yang parah dan sudah masuk pada stadium akhir. Berbagai rumah sakit yang ada di negara ini sudah didatangi untuk mendapatkan pengobatan, namun belum ada yang membawa kabar baik. Kondisi kakek sebenarnya terus memburuk, tetapi kasih sayangnya untuk keluarga yang menguatkan dan membuat kakek berusaha untuk bertahan. Karena saat ini dia hidup di tubuh Ivona, maka dia harus mencari cara untuk membayar penyesalan si pemilik tubuh.
"Ivona.., apakah kamu masih mendengarkanku?? Sudahlah.., kalau kamu tidak mau bercerita tentang siapa yang sakit tidak mengapa. Aku akan tetap berusaha menghubungi kenalanku. Tapi kalau aku tahu, hubungan kedekatanmu dengan orang yang sedang menderita tumor otak itu, akan mempengaruhiku untuk menemukannya." Marcus berusaha menetralisir suasana, karena Ivona tidak terdengar lagi suaranya.
"Tidak Marcus, aku akan bercerita padamu. Sebenarnya yang menderita tumor otak adalah kakekku. Aku sangat bersedih jika penyakitnya itu kumat, aku sampai tidak tega untuk melihatnya. Oleh sebab itu, aku berharap banyak padamu, tolong bantulah aku!" sahut Ivona lirih.
"Oke Ivona..., jangan khawatir aku pasti akan membantumu. Secepatnya aku akan mengatur janji dengan orang itu, aku sendiri yang akan menemuinya. By the way..., adakah pesan khusus darimu yang harus aku sampaikan padanya?" Marcus langsung menyanggupi untuk bertemu dengan orang tersebut.
"Marcus... dokumen yang aku kirimkan padamu itu ada dua file. File yang pertama berisi riwayat tumor otak yang diderita kakekku, sehingga dokter itu bisa langsung mempelajarinya. Yang kedua file tersebut berisi pengetahuan medis, dan kira-kira rancangan peralatan yang diharapkan bisa membantu untuk menyembuhkan pasien yang menderita penyakit tersebut. Berikan kedua dokumen tersebut pada orang yang ada di Institut Kedokteran." panjang lebar Ivona menjelaskan pada Marcus.
__ADS_1
"Okay aku akan menyampaikannya langsung pada orangnya. Kalau boleh tahu.., rancangan peralatan medis itu, siapa yang membuat konsepnya Ivona? Jika kita memiliki SDM tersebut, akan sangat bermanfaat untuk perusahaan kita. Kita akan menguasai produk-produk medis di dunia ini." Marcus terlihat sangat bersemangat.
Ivona hanya tersenyum kecut, tapi dia belum dapat memberi tahu Marcus, bahwa konsep gambar dan komposisi adalah dia yang membuatnya sendiri. Pada kehidupan masa lalunya, sejak kecil dia sangat menyukai mata pelajaran Fisika dan ilmu komputasi. Semua hal itu dia warisi dari ibunya. Dengan tingkat IQ tinggi yang dia miliki, dia menjadi salah satu wanita genius di dunia ini. Dan pada saat dia menjelang remaja, dia menekuni dan mengambil pelajaran teknis medis, bahkan sudah berhasil mengembangkan alat-alat medis yang digunakan di banyak rumah sakit di dunia ini.
"Suatu saat aku akan memberi tahu kamu Marcus siapa yang membuat rancangan konsep peralatan medis tersebut. Tetapi untuk saat ini aku belum bisa. Pada saatnya, kamu akan tahu dengan sendirinya siapa si pembuat rancangan alat-alat medis tersebut." Ivona masih berniat merahasiakan kemampuannya pada Marcus. Karena jika dia memberi tahu pada saat sekarang, maka dia tidak akan bisa dengan bebas menikmati hidupnya lagi.
"Baiklah Ivona..., aku percaya padamu. Oh ya..., maafkan aku ya! Karena kemarin aku sudah mengganggu istirahatmu, aku lupa jika ada perbedaan waktu antara negaramu dengan negara dimana aku tinggal."
"Oh itu ya.., lupakan saja!! Aku tidak pernah memasukkannya di hati."
"Terus bagaimana dengan tawaranku Ivona.., untuk mencari Roy Kumala?? Akan banyak dollar mengalir ke rekeningmu jika kamu bisa membawa anak laki-laki itu untuk bergabung dengan perusahaan kami." Marcus kembali mengingatkan tentang Roy Kumala.
*********
__ADS_1
Merasa telinganya panas karena menelpon untuk waktu yang lama, Ivona berjalan ke arah pepohonan untuk menghirup oksigen. Tetapi baru saja dia akan duduk di kursi panjang di bawah pohon, dia bertemu dengan laki-laki yang ditanyakan Marcus.
"Sialan... panjang umur anak itu. Baru saja dia ditanyakan Marcus, sudah nongol saja dia di depanku." Ivona membatin sendiri, saat melihat keberadaan Roy Kumala di depannya. Dia pura-pura tidak melihat Roy, dengan cuek Ivona duduk di bawah pohon sambil membuka buku Komputasi berbahasa Inggris.
"Kamu lagi.., kamu lagi. Bisa tidak kamu tidak selalu menguntitku kemana-mana!! Aku mau ketemu Vaya.., malahan kamu yang muncul di depanku." tiba-tiba Roy berbicara pada Ivona dengan nada keras.
Ivona menoleh ke arah Roy sambil tersenyum sinis, dan kemudian mengabaikannya. Dia kembali membaca buku yang ada di pangkuannya. Melihat gadis itu mengacuhkannya, Roy berjalan semakin mendekat ke tempat duduk Ivona. Saat dia melihat buku yang sedang dibaca Ivona..
"Ha..ha..ha.., kamu memang pandai berpura-pura Ivona. Pura-pura pintar, bacaannya saja buku Komputasi, bahasa Inggris lagi. Ha..ha..ha.., lucu, memang lucu." melihat buku yang dibawa Ivona, Roy tertawa terbahak-bahak. Dia melihat Ivona dengan tatapan mengejek, dan dia berpikir sangat pantas jika keluarga Iswara tidak menyukainya.
"Terus kalau aku baca buku ini, masalah buat loe??? Tong kosong nyaring bunyinya, ingat itu Roy!" tanpa mau kalah, Ivona gantian mengejek Roy.
"Apa maksud perkataanmu itu? Kamu berani mengejekku Ivona?" mendengar gadis itu berani mengejeknya, wajah Roy terlihat muram.
Ivona diam saja, tidak mau menanggapi Roy. Melihat ekspresi acuh yang ditunjukkan gadis itu padanya, Roy semakin naik emosinya.
"Jadilah gadis apa adanya seperti Vaya, sudah cantik, pintar, dan banyak prestasinya. Tidak perlu kamu terlalu banyak berpura-pura." sahut Roy.
__ADS_1
"Roy..., sebelum kamu mengingatkanku. Silakan kamu cari cermin dan berkacalah, itu yang akan selalu aku sampaikan kepadamu. Keahlianmu yang kamu punya, tidak akan sebanding dengan keahlianku. Dan perlu kamu ingat juga, tanpa bantuanku kamu tidak akan bisa bergabung dengan lembaga penelitian internasional." dengan ucapan sinis, Ivona berbicara dengan nada tinggi pada laki-laki itu. Dia sangat kesal dengan laki-laki yang berada di depannya itu.
*****************