
Nyonya Besar dengan muka merah menahan marah datang ke villa, sudah sebulan lebih dia merasa kesulitan untuk bertemu dengan Alexander. Melihat pelayan rumah lainnya merasa ketakutan menghadapi Nyonya Besar, Bibi Mina bergegas menemuinya. Dia memberi isyarat pada para pelayan lain untuk pergi dengan pelan mengambil alih pekerjaan yang lain.
"Iya Nyonya Besar..., kenapa datang ke villa tidak memberi tahukan dulu pada kami. Apakah ada yang bisa kami bantu?" Bi Mina menyambut Nyonya Besar sambil tersenyum. Puluhan tahun mengabdi di keluarga itu, menjadikan Pelayan rumah ini pandai melayani Nyonya Besarnya.
"Kemana si anak nakal itu Bi Mina.., sudah berapa lama di tidak pernah datang ke rumah keluarga? Aku mamanya juga tidak pernah didengarkan anak itu." Nyonya Besar segera duduk di ruang tengah.
Tampak pelayan rumah dengan sedikit gemetar datang membawakan cangkir teh panas. Dengan senyum penuh arti, Bi Mina mengambil alih minuman itu dan memberikannya sendiri pada Nyonya Besar.
"Nyonya Besar.., diminum dulu teh oolongnya! Ini kebetulan di kulkas masih ada cake kesukaan Tuan Muda juga." Bi Mina dengan cekatan mengambil satu potong kue, kemudian meletakkan pada cawan kecil dan memberikannya pada Nyonya Besar.
Mamanya Alexander mengambil alih cawan, kemudian memotong dengan menggunakan garpu dan memasukkan ke dalam mulutnya. Tetapi baru dua suapan, wanita paruh baya itu segera meletakkan kembali ke atas meja.
"Tuan Muda sudah dua hari pergi belum kembali ke rumah Nyonya, mungkin ada urusan kerjaan dari perusahaan. Memang sudah dari dulu kan, Tuan Muda juga Tuan Besar sering pergi ke luar kota atau bahkan ke luar negeri karena urusan pekerjaan." Bibi Mina mencoba mengingatkan kembali rutinitas kebiasaan sejak dari dulu.
"Anak itu ada di Jakarta sekarang, aku pikir sudah sampai di rumah. Betul-betul anak kurang ajar, bisa-bisanya dia mengabaikan bahkan mengusir wanita pilihanku yang aku kirimkan ke kamar hotelnya. Bibi.., apakah anakku yang besar itu mengalami disfungsi seksual ya Bi.., sudah usia hampir tiga puluh tahun, belum sekalipun dia membawa seorang perempuan datang ke rumah." Nyonya Besar terlihat bersedih memikirkan Alexander.
Bi Mina lebih mendekat pada Nyonya Besar, sambil tersenyum..
"Bukannya sudah beberapa waktu lalu, Bibi sudah melakukan panggilan pada Nyonya Besar, apakah Nyonya sudah lupa?" tanya Bibi Mina.
"Panggilan.., apa hubungannya panggilanmu dengan masalah ini?" Nyonya Besar mengerenyitkan dahinya, dia tampak berpikir serius.
Bi Mina tersenyum, dia berusaha menenangkan hati perempuan paruh baya yang ada di depannya itu.
__ADS_1
"Nyonya Besar jangan terlalu khawatir, Tuan Muda Alex sudah bisa memilih seorang perempuan yang cocok dengannya."
"Maksudmu apa Bi Mina?" Nyonya Besar melihat ke wajah pelayan rumah itu. Keluarga Kavindra sudah menganggap Bi Mina sebagai anggota keluarga ini, karena lama dan setianya Bi Mina mengabdi pada keluarganya.
"Tuan Alex sudah membawa perempuan muda kesini Nyonya Besar, bahkan perempuan itu juga biasa menginap. Keluarganya bahkan mengijinkannya untuk tinggal disini." kata Bi Mina perlahan, dia berpikir jika Nyonya Besar bagaimanapun adalah mama dari Tuan Alexander, jadi dia perlu tahu apa yang dialami oleh putranya.
Mendengar perkataan pelayan rumah itu, mata Nyonya Besar berubah cerah.
"Benarkah apa yang aku dengar Bi..? Kenapa Alexander tidak menceritakan apapun padaku?" tanya Nyonya Besar sambil kedua tangannya memegang kedua sisi bahu Bi Mina.
"Mungkin Tuan Muda masih menunggu saat yang tepat Nyonya Besar.., karena perempuan itu masih sekolah. Tapi Nyonya Besar tidak perlu khawatir, perempuan yang dibawa oleh Tuan Muda merupakan perempuan yang baik, dia punya etika dan tata krama yang baik juga." sahut Bi Mina.
"Betapa bahagianya hatiku Bi, jika aku bisa segera dipertemukan dengan gadis itu. Terima kasih ya Tuhan, ternyata putraku seorang laki-laki yang normal." Nyonya Besar mengucapkan syukur.
****************
"Kakek makan dulu ya.., biar stamina kakek segera pulih." Ivona menyiapkan makan malam untuk kakeknya.
Sejak pulang dari rumah sakit di Jakarta, kakek diharuskan dulu untuk beristirahat beberapa hari. Meskipun luka bekas operasi sudah kering dan menutup karena khasiat obat oles yang didatangkan langsung dari Tiongkok, namun kakek masih diharuskan untuk recovery beberapa hari. Selama masa penyembuhan, untuk memastikan asupan makanan betul-betul terjaga dengan baik, Ivona sengaja menginap untuk beberapa hari di keluarga Iswara.
"Bagaimana sekolahmu Nana..?" tanya kakek sambil membuka mulutnya, untuk menerima makanan yang disuapkan oleh cucu kandungnya.
"Besok pagi.., rencana Ivona akan berangkat ke sekolah kakek. Tidak enak, karena sudah beberapa hari tidak masuk ke sekolah." ucap Ivona sambil menyuapkan beberapa kali suapan untuk kakeknya.
__ADS_1
"Iya.., pergilah! Kakek sudah semakin sehat dan baik. Untungnya kamu menemukan Dokter Tantowi cucuku, akhirnya aku bisa dioperasi dan hampir sembuh seperti sedia kala. Kakek berencana untuk kembali ke perusahaan, aku harus memastikan jika perusahaan betul-betul dikelola dengan baik oleh anak dan cucuku."
Ivona tersenyum, dengan sigap dia membereskan tempat makan yang kotor dan meletakkannya di luar pintu kamar.
"Menurut Ivona kek.., kakek tidak perlu harus kembali ke perusahaan dengan cepat. Percayakan urusan perusahaan dengan kak Rio atau papa kek. Karena kakek harus betul-betul kembali sehat, mungkin beberapa hari sekali, kakek bisa jalan-jalan ke perusahaan untuk melakukan monitoring dan evaluasi internal." Ivona mengusulkan saran pada kakek.
Setelah terdiam sambil berpikir sebentar, kakek dengan senyum bahagia memandang pada Ivona. Melihat hal itu, dahi Ivona berkerenyit.
"Kenapa kakek tersenyum?" tanyanya kemudian.
"Tidak cucuku, ternyata meskipun terlambat, kebahagiaan seutuhnya akan datang menghampiri keluarga Iswara. Istirahatlah dulu Nana.., hari sudah malam. Apalagi seperti tadi katamu, besok pagi kamu harus pergi ke sekolah." ucap kakek.
"Baiklah kek.., selamat istirahat! Ivona akan kembali ke kamar." setelah memasang selimut untuk kakek, dan memastikan jika kakek akan terjamin safety nya, Ivona segera meninggalkan kamarnya.
*************
"Tapi Tommy kurang suka ma, jika Vaya terus-terusan merecoki keluarga Iswara. Memintanya untuk meninggalkan keluarga ini merupakan cara yang tepat untuk menyuruhnya pergi." Ivona mendengar perdebatan antara kakaknya Tommy dengan Nyonya Iswara di meja makan.
"Jaga bicaramu Tommy.., sejak kapan sikapmu berubah dengan Vaya? Tidak mungkin mama akan menelantarkan anak itu, sejak dia masih berwujud bayi merah, anak itu sudah bersama dengan kita. Sekarang dengan mudah, kalian semua mendukung agar posisinya digantikan dengan Ivona, dimana kita tidak tahu dari antah berantah mana, gadis itu berasal." Nyonya Iswara bersuara dengan nada sedikit tinggi.
"Pelankan suaramu ma.., apakah kamu ingin memancing keributan di rumah ini!" Tuan Iswara mengingatkan istrinya, dia sudah terlalu pusing dengan keributan antara Vaya dengan Ivona.
*******************
__ADS_1