
Ivona menyampaikan pada para wartawan cetak maupun elektronik.., awal ketertarikannya untuk menciptakan sebuah lagu. Kehidupan manusia yang ada di lingkungannya sehari-hari, memberikan ide dan inspirasi bagi Ivona.. sehingga mengalir bait-bait dalam tulisannya. Para wartawan menyimak semua perkataan Ivona.., dan mereka bertindak sopan. Tatapan membunuh Alexander yang diarahkan pada mereka, membuat keder dan tidak memancing berita hoax.
"Tetapi jika kami boleh tahu.., untuk apa Nona Ivona mencoba menyembunyikan identitas aslinya?? Kenapa tidak menggunakan nama Ivona saja sebagai penggubahnya, malah menggunakan inisial IC." salah satu wartawan menanyakan penggunaan nama penanya.
Ivona tersenyum datar mendengar pertanyaan itu.
"Antara aku dan kalian tidak ada bedanya. Terkadang kita semua membutuhkan satu privacy untuk dapat menyelinap menikmati kebebasan dan udara segar, bebas dari kalian semua. Kehadiran kalian bisa membantu mendongkrak nama kami, tetapi salah persepsi pada kalian.., tanpa kalian sadari bisa membunuh kami. Nama IC bukan sesuatu yang asing bagiku.., karena merupakan singkatan dari nama panjangku." dengan jelas, Ivona menanggapi perkataan salah satu wartawan tadi.
Perkataan Ivona meluncur deras, dan seperti sarkasme bagi para wartawan. Tetapi memang tugas wartawan untuk dapat menarik minat pembaca akan berita yang mereka tulis, sering memberi bumbu-bumbu gosip pada beritanya.
"Kenapa Nona Ivona memilih Nona Caroline untuk membawakan lagu?? Apakah melihat karena gosip yang belum lama menimpanya, ataukah ada alasan yang lain." dari belakang salah satu wartawan dari media televisi ikut mengajukan pertanyaan.
"Mungkin kalian tidak tahu.., jika saya dan Caroline sudah lama berteman. Karena sikap kalian yang terkesan selalu memata-matai kami, berbagai teknik penyamaran digunakan Carol untuk dapat bertemu denganku. Talent Carol bagus.., saya yakin kalian juga paham akan hal itu. Sedangkan gosip yang muncul dan menuduhnya secara sepihak.., bagiku itu hanya sebuah pepesan kosong yang dibuat dengan tidak ada dasarnya. Apakah kalian tahu.., jika Caroline sebenarnya sudah memiliki tambatan hati?" kalimat terakhir yang disampaikan Ivona.., seketika membuat keributan di depan. Bahkan Caroline dan Tommy merasa kebingungan dengan apa yang disampaikan Ivona.
"Nona.., bisakah Nona Ivona memberi kami clue untuk dapat mengetahui siapa laki-laki yang ada di hati Caroline?" tanya seorang wartawan.
Caroline mengangkat dua bahunya ke atas. Gadis itu juga bingung, laki-laki mana yang diklaim Ivona sebagai tambatan hatinya. Tanpa diduga semua orang yang hadir disitu, tangan Ivona meraih tangan Tommy dan Caroline. Di hadapan banyak kamera, Ivona menautkan kedua telapak tangan tersebut. Merasa mendapat kesempatan, Tommy malah menggenggam erat tangan Caroline, dan gadis yang punya tangan hanya tersipu malu.
Para wartawan saling berpandangan mata, dan beberapa saat tepuk tangan sangat riuh berada di ruangan itu. Saat semua orang merasa mendapat berita yang segar untuk medianya..
"Benar apa yang disampaikan adikku Ivona.., untuk ke depan. Jangan ada yang berani untuk menjatuhkan kekasihku dengan berita-berita sampah. Aku tidak segan-segan untuk memberi kalian sebuah peringatan yang tidak akan dapat kalian ingat jalan ceritanya." Tommy mengambil alih mic di tangan Ivona, kemudian membuat pernyataan.
__ADS_1
"Dan untuk Caroline.. di depan para wartawan aku hanya ingin mendengar jawabanmu. Will you marry me?" Caroline membuka mulut dan menutupnya dengan satu tangan saat mendengar pertanyaan dari Tommy. Gadis itu bingung antara percaya jika Tommy serius, atau hanya sebuah gimmick untuk meramaikan berita akan filmnya.
"Jawab.., jawab.., jawab..." suasana ribut berganti di ruangan itu. Para wartawan berteriak menyemangati Caroline.
"Baiklah.. aku tidak peduli apakah ini hanya sebuah gimmick, atau ini memang hal yang benar, aku harus menyampaikan isi hatiku." Caroline mulai meyakinkan perasaannya pada Tommy.
"Aku Caroline menerima kak Tommy sebagai calon imamku.." perkataan Caroline memancing tepuk tangan meriah di tempat itu. Tommy langsung memeluk Caroline dan memberi kecupan lembut di bibir gadis itu. Puluhan kamera mengabadikan moment sweet antara Tommy dan Caroline. Tanpa ada yang melihat, Alexander segera menarik Ivona dari ruangan itu, dan langsung membawanya pulang.
*************
Di dalam mobil..
"Ivona betul-betul tidak menyangka kalau kak Tommy akan seagresif itu pada Caroline. Perempuan memang hanya membutuhkan kepastian.., tidak membutuhkan banyak janji-janji." di dalam mobil sambil senyum-senyum, Ivona masih membahas sikap kakaknya Tommy yang gentle pada Caroline.
"Kak.., kakak.." Ivona tidak mampu menyelesaikan kalimatnya. Bibir Alexander sudah meraup lembut bibirnya.., tanpa memberi kesempatan pada Ivona untuk bicara. Sesaat pasangan suami istri itu terlena, mereka lupa dimana posisi mereka saat ini.
"Aaakh.., umm... uhh.. kakkkk.." keluar suara lenguhan Ivona, yang terkesan seksi bagi Alexander. Alexander tersenyum smirk, melihat Ivona yang tidak berdaya menahan godaannya. Laki-laki itu kembali menegakkan badannya, dan mengusap bibir Ivona dengan menggunakan jari tangannya.
"Itu hukuman untuk istriku yang memuji laki-laki lain di depanku." ucap Alexander sambil melirik istrinya tanpa merasa berdosa. Alexander langsung kembali menjalankan mobilnya.
"Siapa yang memuji laki-laki lain kak.., Ivona hanya membicarakan kak Tommy dan Caroline." gerutu Ivona sambil cemberut. Gadis itu segera menetralisir nafasnya yang terlihat masih terengah-engah. Tangannya menegakkan kembali kursi mobil.
__ADS_1
"Tommy itu laki-laki atau perempuan Nana..?" tanya Alexander sambil melirik Ivona yang masih cemberut.
"Ah malas bicara sama kak Alex.., mending Ivona tidur saja." Ivona tiba-tiba ngambek.., gadis itu mulai memejamkan matanya.
Muncul keusilan di pikiran Alex.., laki-laki itu kembali menghentikan mobilnya dan mencuri ciuman di bibir Ivona.
"Kakakkkkkk..." sambil menjerit, Ivona memukul punggung Alexander dengan menggunakan bantal kursi.
"Ha.., ha.., ha..., tidak boleh mencuekin suami. Masa suaminya mengemudi.., malah ditinggal istri tercinta tidur." sambil tertawa dan merasa tidak bersalah, Alexander menjawab protes Ivona.
"Tin.., tin.., tin.." suara klakson mobil yang berhenti di belakang mobil mereka, mengagetkan mereka.
"Kak.., jalankan mobilnya. Mobil kakak mengganggu perjalanan orang lain." mendengar klakson yang terus berbunyi, Ivona meminta Alexander untuk segera menjalankan mobilnya. Suami Ivona malah tersenyum, dia merasa memiliki ide untuk mengambil manfaat dari kesempatan itu.
"Malas Na.., kecuali ada ciuman mampir di bibir kakak.. sepertinya semangat kakak baru akan muncul." ucap Alexander sambil memainkan setirnya.
"Kakak selalu bikin mood Ivona jadi ancur.." seru Ivona dengan nada tinggi, gadis itu malah mengalihkan pandangannya keluar jendela.
"Tin.., tin.., tin..," kembali klakson mobil bertambah kencang dan bertambah banyak.
Mendengar keributan di belakang karena tingkah kekanak-kanakan Alexander, Ivona tidak memiliki pilihan lain. Gadis itu dengan menahan geram., memajukan tubuhnya ke arah kursi Alexander, kemudian menempelkan bibir kenyalnya ke bibir Alexander. Mendapat hadiah empuk itu, Alexander menyambar dan melu**mat lembut bibir Ivona kemudian melepaskannya.
__ADS_1
"Nanti kita lanjut di rumah sayang." sambil tersenyum, Alexander segera menjalankan mobilnya kembali.
**************