
Di coffee shop apartemen ketiga laki-laki itu akhirnya duduk berhadapan. Tiga gelas hot coffee dan potongan sandwich tuna melengkapi camilan di atas meja. Sesekali Richard menenangkan diri dengan menyesap kopi dan mulai mencicipi sandwich menggunakan garpu. Aldo menyalakan kembali rokok dan menghisapnya. Marcus menempelkan plast untuk menutup luka kecil akibat pukulan yang diberikan Aldo.
"Dokter Marcus...., aku menghormatimu sebagai dokter yang membantu menyelamatkan papaku dengan dokter Ivona. Ceritakan ada dimana gadis itu saat ini?? Papaku sangat menginginkan untuk mengetahui kabar dari Dokter Ivona Carminda." Richard yang merasa memiliki kedekatan emosional dengan Marcus, memulai pembicaraan.
Marcus menghela nafas, memang sudah tidak ada gunanya menutupi keberadaan Ivona. Apalagi sampai kapan waktu yang akan dihabiskan gadis itu di dalam laboratorium utama. dia sendiri juga tidak bisa mengetahuinya.
"Gadis itu sudah masuk di area forbidden. Untuk menemukan jati dirinya, dia mengorbankan waktunya dengan join di laboratorium utama. Kita tidak akan tahu sampai kapan gadis itu akan bertahan disana. Di laboratorium itu, tidak akan ada yang dapat keluar dengan bebas, sebelum kegiatan penelitian berakhir." dengan lesu dan tanpa semangat Marcus menceritakan keberadaan Ivona. Mendengar perkataan laki-laki itu, Aldo langsung mematikan rokoknya, dengan tajam matanya seakan-akan menelanjangi Marcus.
"Apa maksudmu.., dan ada hubungan sedekat apa kamu dengan gadis itu?" seperti yang memiliki hak atas kehadiran gadis itu, Aldo bertanya dengan nada protektif terhadap Marcus. Richard memandang Aldo dengan tatapan heran, karena sepengetahuannya Ivona juga tidak memiliki hubungan dekat dengan Aldo. Tetapi saat ini dia melihat bagaimana Aldo bertingkah seperti laki-laki itu menjadi pemiliki dari gadis itu.
"He.. he..he.. Tuan Muda Aldo. CEO Muda, pengusaha sukses yang menjadi incaran gadis-gadis di kota kita. Yang pasti.., aku lebih mengenal dan mengetahui tentang Ivona Carminda. Kami sudah saling mengenal untuk waktu yang lama, sejak kita masih kecil. Kita tumbuh bersama.., dan setelah dewasa kami dipertemukan lagi. Apa maksud dari pertanyaanmu Tuan muda..?" sambil tertawa mengejek, Marcus balik bertanya pada Aldo.
"Heh.., sudah.., sudah. Aldo.., ingat tujuan kita ke negara ini adalah untuk menemukan Ivona. Kendalikan dirimu, jangan buang-buang waktu percuma. Dokter Marcus.., saya tahu bagaimana kedekatan Dokter dengan Dokter Ivona. Tolong ceritakan pada kami, saat Ivona berada di laboratorium mana?? Nanti kita akan pikirkan bersama-sama untuk mengeluarkan gadis itu." merasa memiliki pikiran netral terhadap Ivona, Richard menengahi mereka.
__ADS_1
"Semenjak Ivona mengalami vegetatif lama di rumah sakit, Nyonya Carminda tidak sabar menunggu, Perempuan paruh baya itu tidak mau melihat kenyataan jika terjadi sesuatu yang buruk dengan gadis itu. Makanya Nyonya Carminda memilih untuk kembali ke laboratorium utama. Karena pentingnya riset yang ditangani di laboratorium itu, ada peraturan jika para laboran tidak dapat berhubungan dengan dunia luar. Aku juga tidak tahu.., beberapa hari terakhir saat masih di Indonesia, tiba-tiba Ivona memaksaku untuk memasukkannya di laboratorium ini untuk ketemu dengan Nyonya Carminda." ucap Marcus pelan. tidak ada semangat dalam nada bicaranya.
Sejenak Richard terdiam, laki-laki itu teringat interaksi papa dan dirinya dengan gadis itu terakhir. Bagaimana perubahan ekspresi wajah Ivona ketika menemukan foto mamanya di lemari penyimpanan papanya. Begitu juga dengan papanya, yang terus menanyakan kabar dan ingin gadis itu kembali mengunjunginya.
"Apa ada hubungannya dengan hal itu ya..?" tanpa sadar, Richard bergumam sendiri. Aldo menoleh dan melihat kebingungan di wajah Richard, demikian juga dengan Marcus. Kedua laki-laki itu saat ini menatap wajah Richard dengan penuh pertanyaan.
"Jangan melihatku seperti ini. Aku juga tidak tahu ceritanya.., apa ada keterkaitan antara Dokter Ivona, papa dan Nyonya Carminda. Aku akan menyelidikinya, tunggulah kalian.., aku akan menggunakan kekuatan koneksi keluargaku untuk mencari Ivona dan Nyonya Carminda di laboratorium utama." dengan tegas, Richard memiliki pemikiran baru.
**************
"Carmind..., ada tambahan tenaga laboran baru di laboratorium kita. Dengar-dengar gadis itu genius sejak dari kecil.., dan aku juga tidak tahu ada alasan apa, gadis secantik serta masih muda belia mau mengorbankan hidupnya bergabung dengan laboratorium ini." Sherley mengenakan masker dan penutup mata, berbicara dengan Carminda koordinator tim peneliti.
"Really..?? Aku sendiri belum mendapatkan pemberi tahuan resmi dari Kepala Divisi. Nanti kita akan mengujinya, apakah gadis itu benar-benar genius, atau malah akan memberatkan pekerjaan kita." ucap Carminda.., matanya masih melihat sample seperti tumor yang digunakan sebagai bahan observasi. Dengan teliti setiap perkembangan hasil risetnya, langsung dia catatkan pada selembar kertas.
__ADS_1
"Mungkin mendadak Carmind.., sebentar lagi Madam Theodora pasti akan segera mengenalkan pada kita. Kebetulan aku bertemu dengan gadis itu di pintu masuk. Kami sempat mengobrol sebentar, tapi gadis itu tidak seperti gadis-gadis saat ini, dia sopan dan memiliki etika sebagai orang baru." Sherley langsung bergabung dan menempatkan dirinya di depan layar komputer.
Carminda tidak menanggapi obrolan Sherley, dia masih tetap fokus dengan apa yang ada di depannya. Malas berinteraksi dengan masyarakat luas sudah menjadi keputusannya, ketika melihat putri satu-satunya yang vegetatif dan tidak perkembangan sedikitpun. Menghabiskan waktu sampai di masa tuanya pada laboratorium ini, merupakan pilihan akhirnya. Dia bisa membuat suatu karya yang bisa memiliki kebermanfaatan bagi orang banyak.
"Sherley..., sampaikan pada Madam Theodora. Aku masih sibuk dengan risetku.., aku tidak bisa meninggalkannya. Dan untuk saat ini.., aku belum membutuhkan tambahan tenaga laboran baru. Jika mau menambahkan gadis baru itu, kirim pada riset tim lain bukan pada tim kita." dengan tegas Carminda menegaskan jika timnya tidak membutuhkan tambahan tenaga laboran baru. Perempuan paruh baya ini berpikir, energinya akan banyak tersedot untuk melakukan pengenalan dan sosialisasi tentang tugas-tugas baru, setiap ada tambahan laboran baru.
"Baik Carmind.., aku akan menyampaikan pada Madam Theodora. Sepertinya tim riset yang dikoordinir Rafi sedang membutuhkan tambahan laboran baru, karena beberapa waktu lalu sempat boncang-bincang denganku." Sherley menanggapi perkataan Carminda, kemudian membawa kertas yang keluar dari mesin printer menuju pintu keluar ruangan.
Kembali ruangan itu sepi, karena tim riset yang dipimpin Carminda hanya terdiri dari empat tenaga laboran. Dia dan Sherley berdua di ruangan itu, sedangkan dua laboran lain berada di ruangan yang sebelahnya. Mereka orang-orang yang sudah memutuskan hubungan dengan dunia luar, dengan latar belakang permasalahan mereka masing-masing. Karya-karya hasil riset tim mereka, banyak diminati para pelaku usaha di bidang peralatan medis.
Beberapa saat mengutak-utik sel kanker ganas di depannya, kemudian memasang mikroskop untuk memeriksa bagian dalam, akhirnya muncul senyuman di bibir perempuan tua itu. Dengan cepat, Carminda mengambil kertas lagi kemudian melakukan coretan-coretan serta menggambar pola di kertas tersebut.
*****************
__ADS_1