
Ivona tidak beranjak dari tempat duduknya, selain karena belum mengenal murid-murid yang ada di kelas itu, dia juga malas meminta tolong pada murid lainnya. Sedangkan William yang sedang duduk bersama murid lainnya, dia melihat Ivona yang tidak bergeming dari tempat duduknya, muncul rasa kasihan pada dirinya. Dia bermaksud ingin meminjamkan bukunya pada Ivona, tapi baru saja dia akan mengatakan pada gadis itu, tiba-tiba...
"Aku tidak pakai buku tidak apa-apa, aku akan mendengarkan penjelasan dari pak Guru, itu sudah cukup buatku." Ivona seperti dapat menerka apa yang akan dilakukan William, sebelum laki-laki itu bicara, Ivona sudah berbicara seperti itu.
"Tapi..., tidak dengarkah kamu perintah pak Guru? Kamu murid pindahan disini, beda kalau aku. Di kelas ini, semua guru tidak akan berani menindak keras padaku." William mencoba membantu gadis itu.
"Tidak apa-apa, percaya padaku! Aku akan bisa mencerna apa yang dijelaskan pak Guru." Ivona tetap tidak mau menerima tawaran dari William.
"Baiklah jika itu maumu." akhirnya William mmembiarkan gadis itu tetap di kursinya.
"Hei murid baru..., duduklah denganku! Kamu bisa membaca buku Fisikan bersamaku." tiba-tiba seorang pria gemuk yang duduk disampingnya, tetapi beda meja memanggilnya.
Ivona melihat ke samping, dan tampak seorang pria bertubuh gemuk mengajaknya duduk bersama. Pria gemuk itu terlihat imut, karena dengan tubuh gemuk, tetapi dia memiliki kulit yang putih, dan wajahnya juga tidak terlihat jelek. Ivona tersenyum, dan saat pria gemuk itu membalas senyumnya, terlihat pipinya yang seperti bakpau jadi lucu menggemaskan. Melihat ajakan akrabnya, Ivona tersenyum kemudian bergeser dan pindah tempat duduk bersamanya.
"Terima kasih kawan atas ajakanmu. Kenalkan namaku Ivona, jika aku boleh tahu, siapa namamu?" Ivona mengulurkan tangannya mengajak pria gemuk itu untuk berjabat tangan.
"Namaku Beni Saputra, panggil saja Beni!" pria itu menerima jabat tangan Ivona, dan hatinya merasa tersentuh. Karena baru saat ini, ada orang yang menghargainya, apalagi melihat wajah cantik Ivona yang tidak ada rasa rikuh mengajaknya berkenalan. Pria gemuk itu merasa jika dia baru pertama kali diperlakukan dengan adil dan dihargai di kelas ini.
"Sial..an.., kenapa juga si Gemuk menolong murid pindahan itu?" dengan sengit Kelly bergumam sendiri. Kelly awalnya ingin melihat Ivona dipermalukan, tetapi Beni telah mengacaukan rencananya.
"Ada apa Kell..? Melihat si Gemuk sama cewek liar itu?" teman perempuan yang duduk sebangku dengannya, bertanya padanya karena melihat perubahan pada ekspresi mukanya menjadi cemberut. Raut wajahnya terlihat muram, dan sesekali menatap Beni dengan tajam. Tetapi untungnya, Beni tidak menatapnya balik.
"Iya itu si Beni, awas saja nanti. Turut campur saja dia dengan urusanku."
"Aku sendiri tidak menyangka, ada apa dengan Gemuk? Apa dia tidak mendengar saat kamu berbicara Kell?"
"Aku tidak tahu, yang pasti kita sikat saja nanti, kita tunggu saat jam istirahat."
Kemarin malam Kelly sebenarnya telah berbicara di grup kelas, dimana dia memperingatkan semua orang di kelas untuk tidak bersikap baik pada Ivona. Jika ada yang berani bersikap baik dengan Ivona, Kelly tidak segan-segan akan menghukumnya.
……
Setelah selesai kelas.
__ADS_1
Ivona berjalan sendiri keluar kelas untuk menghirup udara segar, dan melemaskan otot-ototnya. Duduk berjam-jam tanpa melakukan aktivitas, saat mendengarkan pak Guru menjelaskan materi, menimbulkan rasa bosan pada gadis itu.
"Selamat pagi..., kamu murid pindahan dari keluarga Iswara itu ya?" saat Ivona baru meregangkan tangannya ke kanan dan ke kiri, ada murid dari kelas lain yang mendatanginya.
Sejenak gadis itu menoleh, dan melihat seseorang sedang berbicara dengannya.
"Iya, ada apa?" tanya Ivona mengiyakan pertanyaan orang tersebut.
"Ada orang yang mengantarkan tas sekolahmu, saat ini tasnya ada di pos satpam. Kamu bisa mengambilnya disana!"
"Okay, terima kasih."
Dengan langkah gontai, gadis itu segera berjalan melintas koridor sekolah. Beberapa murid yang berpapasan dengannya, ada yang menghindar kemudian berbisik-bisik tentangnya, tetapi ada pula yang dengan ramah ingin mencari perhatiannya. Sedikitpun gadis itu, tidka memiliki waktu untuk meladeninya.
Di sebuah pos kecil yang terletak di depan gerbang sekolahnya, Ivona berhenti dan terlihat pos itu sepi. Sejenak gadis itu menengok ke dalam,..
"Ada apa kamu kemari?" agak terjingkat Ivona, karena sedikit kaget ada yang bertanya di belakangnya. Setelah membalikkan badannya, dia melihat satpam sekolah yang dia cari berdiri di depannya.
"Tadi ada yang kasih tahu aku, katanya tas sekolahku dititip kesini ya?"
Ivona menganggukkan kepala,...
"Tunggu sebentar, aku ambilkan dulu." satpam itu segera mengambilkan tas sekolah gadis itu, kemudian menyerahkannya.
"Terima kasih pas, saya langsung kembali ke kelas." setelah pamitan, Ivona dengan langkah gontai kembali berjalan menuju kelasnya.
Tetapi dia merasa tidak dapat menikmati waktunya untuk sendiri, karena dia berpapasan dengan William, laki-laki yang duduk satu meja dengannya.
"Dari mana kamu?" tanya William dengan ramah.
"Nih..., pos satpam ambil tas." gadis itu menunjukkan tas yang sedang berada di punggung belakangnya.
"Baik juga ternyata anggota keluargamu, mereka mau mengantarkan tas sekolahmu."
Tanpa menjawab, gadis itu hanya mengangkat kedua bahunya sedikit ke atas.
"Ivo..., ke depan hati-hati dengan Beni! Jangan terlalu dekat dengan pria gemuk itu, khawatirnya kamu akan terpengaruh dengannya." tanpa diminta, William memberi tahunya untuk menjaga jarak dengan Beni, pria gemuk yang tadi sudah berbaik hati meminjaminya buku.
__ADS_1
Gadis itu hanya tersenyum, dia tidak menanggapi permintaan laki-laki yang berdiri di depannya itu.
"Percaya padaku! Semua murid disini melihat pria gemuk itu aneh, dia sering menyuntikkan obat ke tubuhnya." William berusaha mempengaruhi Ivona, tetapi yang dia lihat, gadis itu malah tersenyum kecil.
"He's like a monster."
"Ha..ha...ha.., bagiku dia seorang monster yang imut. Tenanglah Will..., aku bisa menjaga diriku." Ivona tertawa mendengar perkataan William, kemudian di berlalu meninggalkan laki-laki itu.
……
Di siang hari.
"Panas sekali siang ini, ke kelas saja ah." gumam Ivona yang merasa kepanasan duduk di leuar kelas. Bergegas gadis itu bersiap untuk kembali ke dalam kelas.
"Aduh..., akh..., hentikan!" tiba-tiba gadis itu mendengar erangan kesakitan dari arah ujung. Karena rasa penasarannya, Ivona berjalan menghampiri kemudian bersembunyi di sudut mengawasi.
"Lagi-lagi murid manja itu buat masalah." gumam Ivona dengan lirih.
Dari sudut tempatnya bersembunyi, Ivona melihat Kelly dan seorang gadis, dan juga dua orang pria sedang menendang Beni.
"Bugh..., rasakan ini!"
"Akh..., sakit. Ampuni aku!" tubuh Beni sudah penuh dengan keringat dingin menahan sakit, dan tubuhnya terlihat gemetaran.
"Itu upah untuk orang-orang yang berani mencampuri urusan denganku." dengan nada mencibir, Kelly melotot pada Beni.
"Berlututlah padaku! Akui kesalahanmu pada kami!" teriak mereka. Sedangkan Beni merasa bingung, karena dia tidak tahu, perbuatan apa yang telah dia lakukan sehingga menyinggung mereka.
********************
__ADS_1