Revenge: Terlahir Kembali

Revenge: Terlahir Kembali
Chapter 194 Ikutlah Kakak


__ADS_3

Pukul 18.15 wib, Ivona dan Alexander sudah memasuki pusat hiburan terpadu. Tidak mau membuang-buang waktu, mereka langsung menuju ke cafe yang ada di dalam bioskop tempat pemutaran perdana film berjudul Nirmala. Tampak sudah duduk di dalam cafe ketiga kakak Ivona, dan mereka langsung tersenyum, kemudian berdiri ketika melihat kedatangan adik dan suaminya.


"Nana.., bagaimana kabarmu..? Lama sudah kamu tidak pernah datang ke rumah." Rio menyapa Ivona, kemudian menjabat tangan Alexander. Tommy  dan Thomas juga melakukan hal yang sama. Sedangkan Ivona tidak menjawab pertanyaan Rio, gadis itu hanya tersenyum.


Alexander segera mengajak Ivona duduk, mata Ivona mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.


"Caroline mana kak Tomm..?" Ivona bertanya, karena tidak melihat ada Caroline disitu. Dari tadi dia mengedarkan pandangan, tapi tidak mengetahui keberadaan Caroline.


"Baru di private room.., fans Caroline memintanya untuk berfoto bareng. Kamu tidak perlu mengkhawatirkannya, enam bodyguard sudah memberinya pengawalan di dalam. " Tommy menjelaskan dimana Caroline berada. Ivona melihat antrian pengunjung, dan dahinya berkerut.


"Okay.., masuk yuk ke dalam. Sepertinya sudah dibuka pintu cinemanya." merasa risih melihat banyaknya penonton yang antri untuk memasuki ruang studio, Ivona mengajak mereka untuk segera masuk ke dalam.


"Pasang masker Nana.., kamu akan banyak didatangi penonton, jika mereka berhasil mengenali kamu. Bukan hanya artis atau aktor yang memerankan tokoh-tokoh dalam film, yang akan mereka datangi. Tetapi, jika mereka tahu bahwa kamu yang memiliki ide untuk menciptakan  cerita itu, tidak mustahil, mereka akan ramai-ramai mengejarmu." tiba-tiba Alexander mengingatkan Ivona untuk mengenakan masker. Mendengar perkataan Alexander, Ivona langsung memasang masker menutup mulutnya.


Kelima orang itu segera masuk dan duduk di pojok atas. Tidak lama mereka duduk, tampak Caroline masuk dengan mendapatkan pengawalan dari enam orang bodyguard. Tommy langsung turun menjemput kekasihnya, kemudian membawanya ke tempat duduk yang sudah disiapkan untuknya.


"Malam Ivona.." Caroline menyapa Ivona, kemudian memberi ciuman pipi pada gadis itu. Saat Caroline akan duduk di samping Ivona, Alexander langsung meletakkan tas Ivona yang sejak tadi di pegangnya untuk mencegah Caroline duduk satu. Untungnya Caroline segera menyadarinya, sambil tersenyum Caroline duduk disamping Tommy.


"Terasa dingin tidak AC nya?? Jika dingin, aku akan meminta petugas untuk menurunkan suhu ruangan." karena terlalu mengkhawatirkan kesehatan istrinya, Alexander menanyakan tentang suhu ruangan.


"Tidak perlu aneh-aneh kak.. Kalau Ivona kedinginan, kan ada kakak yang akan menghangatkannya." ucap Ivona untuk mencegah Alexander melakukan hal yang aneh-aneh. Alexander menyentil hidung Ivona, kemudian merangkul istrinya.


Tidak lama kemudian, film mulai diputar. Caroline sebagai penyanyi yang membawakan lagu untuk soundtrack, juga muncul sebagai pemeran pendamping. Mata penonton semua fokus terarah ke layar bioskop, begitu juga dengan Alexander dan lainnya.

__ADS_1


"Kamu terlihat innocent di layar itu Carol.." Tommy berbisik pada Caroline.


"Kalau aslinya, kelihatan tua ya." sahut Caroline cepat. Bibirnya tiba-tiba cemberut, dan saat melihat itu, tiba-tiba Tommy mencuri ciuman dari Caroline.


"Ga sopan, kenapa kamu mendorong kepalaku?" Tommy tiba-tiba menoleh ke arah tempat duduk Thomas dan Rio.


"Jangan berisik.., lihat-lihat sekeliling, ada dimana kamu. Tidak berperasaan pada kita-kita yang masih jomblo." tukas Thomas dari belakang.


"Not my business.." sahut Tommy cepat, laki-laki itu kembali mengarahkan pandangannya ke layar bioskop.


*************


John yang memang sehari-hari menjadi preman yang memegang pusat industri hiburan, melihat kedatangan Ivona dan Alexander. Mata laki-laki itu tidak berhenti terus memperhatikan gerak-gerik kedua orang itu. Saat melihat kedua orang yang dipandanginya dari tadi, menemui ketiga putra laki-laki Keluarga Iswara, John merasa geram.


"Siapkan barangku.., bungkus dengan kain. Jangan sampai terdeteksi oleh kamera." terlihat John sedang berbicara dengan seseorang.


"Okay.., cepatlah! Sasaran sudah akan masuk ke studio room, aku akan menunggu sampai mereka keluar dari ruangan." John seperti memerintahkan seseorang. Setelah mengucapkan kalimat terakhir, John segera memasukkan ponselnya ke saku baju.


Laki-laki itu duduk bersembunyi di depan merchant Marugame Udon. Matanya memandangi orang-orang yang lalu lalang berjalan di sekitar situ.


Tiba-tiba mata John menangkap keberadaan Vaya. Gadis itu sedang berjalan dengan dirangkul Nathan. Di belakangnya tampak ada pengawal Nathan yang membawa beberapa paper bag berisi belanjaan kebutuhan gadis itu.


"Pinter juga ternyata adikku.., tidak butuh waktu lama ternyata Vaya sudah kembali ke kehidupan glamournya. Aku bisa memanfaatkan gadis itu juga Nathan. Aku yakin Nathan akan bertekuk lutut di hadapan Vaya." John berpikir sendiri, dari tadi laki-laki itu tersenyum sendiri.

__ADS_1


Laki-laki itu kemudian berdiri dan berjalan menghampiri tempat Vaya dan Nathan sedang bersama.


"Selamat malam adikku Vaya tersayang ... Oh rupanya ada Tuan Nathan sang penakluk perempuan di pusat industri ini." bernada sarkasme, John menyapa kedua orang itu.


Melihat munculnya John disitu, Vaya teringat bagaimana kejamnya kakaknya telah memperlakukan selama ini. Gadis itu langsung bersembunyi di belakang Nathan.


"Ada apa Vaya..? Ada hubungan apa antara kamu dengan Kepala Preman murahan seperti dia?" mendengar perkataan John, dan bagaimana Vaya bereaksi, Nathan bertanya pada Vaya. Tetapi gadis itu diam, Vaya tampak semakin ketakutan.


Nathan memberi kode pada pengawalnya untuk menangkap John. Kedua pengawal yang dari tadi bersamanya, segera menegang tubuh John.


"Ha.., ha..., ha..., Nathan.., Nathan. Akulah satu-satunya orang yang akan bisa menyetujui kalian akan bersama atau tidak. Vaya adik kandungku, bukannya untuk gadis seusia 18 tahun lebih cocok untuk tinggal bersama keluarganya, dari pada bersama dengan laki-laki hidung belang sepertimu." tidak ada sedikitpun rasa takut atau cemas terlihat di wajah John. Dengan pongahnya, laki-laki itu malah tertawa keras.


Sebaliknya, Vaya semakin merasa ngeri melihat sikap arogan John. Wajahnya tampak pucat pasi.


"Apakah yang dikatakan oleh preman ini benar Vaya?? Apakah ba**jingan ini adalah kakakmu?" Nathan bertanya pada Vaya dengan suara pelan.


Vaya mengangguk pelan, Nathan sedikit kurang mempercayai. Laki-laki itu melihat ke arah John.


"Vay..., kamu keliru jika menyalahkan aku yang sudah menghancurkan hidupku. Ivona.. gadis itu yang sudah memporak-porandakan kehidupan kita. Ingat keberadaan papa di penjara, terusirnya kamu dari keluarga Iswara. Gadis itu semua yang sudah menyebabkannya." John terus berbicara.


Vaya menelaah setiap perkataan yang diucapkan oleh kakaknya, raut wajahnya tiba-tiba berubah. Matanya menjadi menyala..


"Ikutlah kakak..., gadis sasaran kita saat ini sedang berada di dalam bioskop. Kita akan menunggunya sampai film yang mereka lihat berakhir." dengan nada provokatif, John berusaha mempengaruhi Vaya.

__ADS_1


********


__ADS_2