
Ivona kembali merasa bingung saat dia merasa kehangatan itu datang lagi, dia kemudian membuka matanya. Gadis itu menjadi kaget, saat tahu jika dia kembali tidur dalam pelukan Alexander. Tapi tiba-tiba dia tersenyum sendiri, saat mengingat semalam dia tidur sangat pulas tanpa terbangun, dan bahkan tidak ada mimpi apapun. Mengingat nanti sore, dia sudah harus pergi ke Hongkong, Ivona memutuskan untuk tetap merasakan kehangatan pelukan Alexander.
"Ternyata aroma maskulin laki-laki ini sangat memabukkanku, aku pasti akan merindukannya suatu saat nanti." Ivona berpikir sendiri.
Jari tangan gadis ini menyusuri rahang, kemudian naik ke atas di seluruh wajah laki-laki muda itu. Jari-jari itu lebih lama mengitari hidung Alexander yang sangat mancung, kemudian ke bibirnya sambil merasa gemas. Semakin lama jarinya berada di atas wajah Alexander, menjadikan gadis itu menjadi terlena. Tiba-tiba dia merasa kaget, saat jarinya sudah masuk dan dikulum bibir laki-laki muda itu.
Secara reflek, Ivona berusaha menarik jarinya, tiba-tiba mata Alexander terbuka dan tangan laki-laki itu sudah memegangi pergelangan tangannya.
"Kak Alex..." ucap Ivona sambil tersenyum kecut. Semburat merah muncul di kedua pipinya, dia merasa malu karena ketahuan sudah mempermainkan wajah laki-laki muda itu. Tiba-tiba...
"Cup.." Alexander memberi kecupan pada telapak tangan Ivona. Gadis itu berusaha menarik tangannya, tetapi tangan laki-laki itu lebih kuat.
"Selamat pagi Nana.., tidurmu semalam sangat pulas." Alexander mengucapkan salam sambil tersenyum menggoda Ivona.
"Apakah Kak Alex tidak merasa, jika saat ini sudah menindas seorang anak kecil?" tanya Ivona sambil berusaha melepaskan diri dari rengkuhan Alexander. Dia tidak menjawab ucapan Alexander, tetapi malah balik bertanya.
Mendengar pertanyaan Ivona, Alexander tersenyum. Dengan menggunakan satu tangannya, laki-laki itu membalikkan tubuh Ivona dan meletakkan di bawahnya.
"Siapa yang merasa masih kecil Nana..? Apakah kamu tidak pernah membaca berita, jika anak Elementary School atau Junior School saat ini sudah bisa melahirkan bayi?" ucap Alexander sambil terus menatap mata Ivona. Gadis itu memalingkan wajahnya, dia tidak kuat jika harus bertatapan dengan laki-laki itu.
"Kamu terlihat sangat imut dan menggemaskan jika sedang tersipu malu. Aku sangat menyukainya.." lanjut Alexander lagi.
"Kak.., lepaskan Ivona dong! Apakah kakak tidak tahu malu, seorang laki-laki yang sudah tua tapi mengintimidasi seorang anak kecil." Ivona berusaha menetralisir dirinya sendiri. Gadis itu memberanikan diri berkata pada Alexander.
__ADS_1
"Bagaimana kakak bisa masuk ke kamar, saat Ivona sedang tidur. Itu tidak benar dan melanggar norma." lanjut Ivona lagi.
"Cup.." kembali Alexander memberi kecupan singkat di bibir Ivona. Ivona kembali merasa malu dan marah.
"Katanya Nana masih anak kecil, ya aku sebagai seorang kakak harus menemanimu tidur. Buktinya, begitu aku temani, tidur Nana menjadi lebih pulas kan." kata Alexander lebih tidak tahu malu lagi.
Merasa sulit untuk beradu argumen dengan laki-laki itu, Ivona mengumpulkan tenaganya untuk mendorong tubuh Alexander ke atas. Tapi, tubuh kekar laki-laki itu sedikitpun tidak bergeser dari tempatnya. Dengan kedua tangan bertumpu di samping telinga gadis itu, Alexander menatap Ivona yang ada di bawahnya dengan penuh minat.
"Kak.., anak kecil ini mau sekolah, tolong lepaskan Ivona. Please..!" dengan tatapan puppy eyes, Ivona mencoba menggoyahkan hati Alexander.
"Baik anak kecil, tapi kakakmu ini ingin sedikit hadiah darimu karena sudah membuatmu tidur dengan pulas." Alexander mengajukan satu permintaan.
Ivona menatap senang pada Alexander.
"Mintalah.., Ivona akan mengabulkannya. Asalkan kakak mengijinkan Ivona segera mandi," Ivona menjawab dengan senang, karena sebentar lagi akan terbebas dari laki-laki itu.
**************
Setelah istirahat siang, Ivona bergegas menuju ke guru piket hari ini. Baru saja dia akan sampai ke ruangan guru, tiba-tiba Roy Kumala sudah berdiri di depannya. Merasa tidak memiliki urusan, dan enggan berdebat dengan laki-laki muda itu, Ivona mengabaikannya. Dia tetap melanjutkan langkahnya dengan berjalan di samping Roy Kumala.
"Ivona.., sepertinya kita perlu bicara." tiba-tiba Roy Kumala mengajaknya bicara. Ivona berhenti kemudian menatap laki-laki itu.
"Apa yang perlu kita bicarakan? Sepertinya tidak ada urusan apapun antara kamu dan aku, baik saat sekarang, di masa lalu ataupun masa depan." ucap Ivona sadis, kemudian kembali melangkah pergi.
__ADS_1
"Ingatlah Ivona..., kamu dan aku sudah ada dalam perjanjian masa lalu antara kedua orang tua kita! Mau tidak mau, kamu harus mengingatnya, jika kamu dan aku sudah dijodohkan oleh kedua orang tua kita." ucap Roy Kumala tanpa tahu malu. Melihat pesona Ivona akhir-akhir ini, Roy Kumala menjadi tertarik dan ingin mengenal lebih dalam pada Ivona.
"Dalam mimpimu Roy Kumala..., bahkan aku tidak ingat akan hal itu." sahut Ivona sambil terus masuk ke ruang guru.
Setelah mengisi tanda kehadiran untuk berkunjung menemui guru piket, Ivona langsung menemui guru tersebut.
"Silakan duduk dulu, ada apa mencari saya?" seorang guru bertanya tentang keperluan Ivona. Guru-guru di SMA Dharma Nusa, sudah merubah perilaku mereka terhadap Ivona. Gadis itu sudah membawa harum nama sekolah di kancah nasional.
Ivona kemudian duduk di depan guru piket tersebut.
"Mohon maaf Bu.., saya ingin minta ijin. Siang ini saya harus segera menemui keluarga saya di luar negeri. Kebetulan sore hari jadwal penerbangannya, sehingga siang ini saya harus segera menuju ke Bandara Soekarno Hatta." tidak mau terlalu banyak berbasa-basi, Ivona langsung menyampaikan keperluannya.
Guru piket itu memandang wajah Ivona dengan penuh tanda tanya. Dia harus melaporkan pada Thomas, untuk melakukan konfirmasi apakah keluarga Iswara tahu tentang kepergian gadis itu.
"Apakah kamu tidak berbohong pada saya? Bisa-bisa kamu hanya ingin membolos saja, sehingga mengarang cerita." sahut guru tersebut.
Ivona langsung mengambil ponselnya, kemudian menunjukkan tiket online penerbangan Jakarta - Hongkong pada guru piket tersebut. Tertulis jadwal penerbangan Ivona adalah sore hari ini, dan juga tiket kepulangannya sudah dimiliki gadis itu. Melihat tiket itu, Ivona harus segera berangkat ke bandara, akhirnya Guru piket itu mengabulkan permohonan Ivona.
"Baiklah.., aku akan membuat pemberitahuan pada guru-guru kelas. Segera kembali mengikuti pembelajaran jika kamu sudah kembali dari negara itu." guru piket akhirnya memberikan ijin, dan juga pesan pada Ivona.
Setelah dipastikan mendapatkan ijin sekolah, Ivona langsung kembali ke kelas untuk mengambil back pack nya. William memandangi Ivona dengan penuh tanda tanya, dia segera mengejar langkah Ivona menuju gerbang sekolah.
"Ivona.., mau kemana?" tanya laki-laki yang naksir berat dengan Vaya itu.
__ADS_1
"Ada bisnis.., jangan ikuti aku!" Ivona hanya melambaikan tangan, kemudian pergi menghilang dari laki-laki itu.
*************