
Rico melemparkan dua orang di atas lantai gudang kosong milik Kavindra Group. Dengan ditutup matanya, orang tersebut tidak akan dapat mengenali dimana mereka berada saat ini. Beberapa anak buah Alexander tampak berjaga di sekeliling dua orang tersebut.
"Ampun Tuan.., jangan sakiti saya!! Kami terpaksa melakukannya saat itu." terdengar rengekan salah satu dari orang tersebut.
"Duak..bruk ." tendangan sepatu mengenai pinggang orang tersebut.
"Aaww.., sakit Tuan.. Ampuni kami!" terdengar teriakan kesakitan.
"Dimanakah otakmu berada saat 17 tahun lalu kamu menukar posisi seorang bayi?" teriak anak buah Alexander membentak mereka.
"Maafkan kami Tuan! Kami khilaf saat itu, anak kami dijadikan jaminan saat itu. Kami tidak bisa berbuat apa-apa." laki-laki yang ditutup matanya itu menghina.
Tiba-tiba terdengar suara sepatu dari arah luar. Beberapa penjaga bergegas menghampiri dan memberi hormat pada orang yang datang tersebut. Dengan dada tegak, dan langkah mendominasi, Alexander masuk ruangan dengan tatapan bengis.
"Bagaimana Tuan Muda.., apakah Tuan Muda akan langsung menginterogasi mereka?" Rico bertanya pada Alexander yang baru saja memasuki ruangan.
"Buka penutup mata mereka! Aku ingin lihat bagaimana wajah mereka secara lengkap?" ucap Alexander dengan arogan.
"Siap Tuan Muda!" Beberapa penjaga langsung membuka penutup mata kedua orang itu.
Melihat wajah tampan tetapi memiliki tatapan bengis dan membunuh, kedua orang itu tidak berani menatap mata Alexander. Mereka langsung menundukkan wajahnya tidak berani melihat pada Alexander. Tidak berapa lama..,
"Aku ingin tahu..., siapa yang kemarin melakukan penukaran data dan penukaran bayi Ivona dan Vaya untuk 17 tahun yang lalu?" dengan nada menggelegar, Alexander bertanya pada kedua orang itu.
Kedua orang itu tidak ada yang berani menjawab,. mereka tetap menundukkan kepalanya ke bawah.
"Dukk.." kembali tendangan sepatu bersarang di punggung orang-orang yang duduk di lantai bawah itu.
"Aduh..., ampuni kami Tuan!! Kami akan bicara.." teriak dua orang itu kesakitan.
"Cepat bicara.., jangan kebanyakan alasan!"
"Saya yang menukar bayi dan gelang identitas di pergelangan tangan bayi itu Tuan. Tapi waktu itu, saya tidak mampu berbuat apa-apa. Anak saya digunakan sebagai sandera oleh orang-orang mereka Tuan.. Ampuni kami!" satu dari orang tersebut membuat pengakuan.
__ADS_1
"Saya yang bertugas merubah data di komputer dan juga yang di buku ledger. Maafkan saya khilaf Tuan Muda!" orang yang satunya juga turut bicara.
"Berapa orang yang terlibat dalam kejadian 17 tahun lalu?" tanpa senyum, Alexander terus memberi tekanan pada mereka.
"Untuk di rumah sakit hanya kami bertiga Tuan Muda. Tapi salah satu teman kami sudah meninggal karena kasus kecelakaan beberapa tahun lalu." dengan terbata-bata orang tersebut memberi keterangan.
"Apakah kalian ingin aku mengampuni kalian? Tidakkah kalian berpikir dampak yang kalian timbulkan dari kejadian belasan tahun yang lalu. Apakah perilaku setan kalian itu masih bisa diampuni?" kata demi kata yang keluar dari bibir Alexander seperti bilah yang menyayat kulit mereka.
"Ampuni kami Tuan Muda.., kami akan bekerja sama dengan Tuan Muda. Asalkan ampuni kami!" kembali orang-orang itu menghiba.
"Siapa yang menyuruh kalian, bisa menjadikan kalian bertingkah seperti binatang buas?" seru Rico turut bicara.
"Dia..., dia yang menyuruh saya Tuan.." salah satu dari mereka menunjuk orang di sampingnya.
"Duag.." sepasang sepatu kembali bersarang di punggungnya.
"Aaaww.., maafkan saya Tuan Muda. Saya terpaksa melakukannya, karena saat itu saya berada di bawah ancaman." sambil menangis, orang tersebut meminta ampunan.
"Urusi.... mereka! Tunjukkan wajah Direktur Rumah Sakit Jiwa pada mereka, buat mereka sampai mengaku!" malas berurusan dengan orang-orang tersebut, Alexander segera berdiri dan keluar dari gudang tersebut.
*********
Sesampainya di rumah, Alexander langsung masuk rumah lewat belakang. Laki-laki itu tidak mau, jika Ivona bisa mengetahui dari mana dia pergi malam ini.
"Selamat malam Tuan Muda.., apakah ada yang bisa Bi Mina bantu?" perempuan tua itu terkejut melihat kedatangan Alexander di rumah belakang.
"Tidak perlu Bi.., apakah Nona Muda menanyakan saya?" tanya Alexander. Laki-laki itu memang meminta pada pelayan rumah untuk memposisikan Ivona di rumah itu sebagai Ivona.
"Tidak Tuan Muda.., karena tadi begitu datang sama Tuan Muda..., Nona Muda sepertinya langsung tidur." jawab Bi Mina.
"Ya sudah..," Alexander langsung masuk ke kamar yang dulu sempat digunakan untuk tidur Ivona, sebelum bertukar kamar dengannya.
Beberapa menit digunakan Alexander untuk mandi dan membersihkan dirinya. Tidak lama kemudian, dengan mengenakan piyama, Alexander kembali keluar dari dalam kamar tersebut. Laki-laki itu langsung masuk ke kamar tidurnya yang ditempati oleh Ivona saat ini.
__ADS_1
Alexander menyunggingkan senyum saat melihat Ivona tidur dengan tenang dan damai.
"Tenangkan dirimu Na..., ada aku yang akan selalu menjaga dan melindungimu!" ucap Alexander lirih. Laki-laki itu mendekati Ivona, kemudian duduk di pinggir tempat tidur. Kembali dia melihati gadis itu.
"Kamu selalu diam, tidak pernah menceritakan dukamu pada orang lain. Tapi kamu tidak bisa membohongiku, lambat lain, aku akan mengembalikan kehormatan dan posisimu di keluarga Iswara. Semua pelaku kejahatan, akan segera mendapatkan hukuman yang setimpal." lanjut Alexander lagi.
Setelah memberi kecupan lembut di kening gadis itu, perlahan Alexander ikut berbaring di sisi Ivona. Tetapi laki-laki itu tidak pernah sedikitpun memiliki niat jahat pada Ivona.
********
Di rumah sakit jiwa..
"Tuan..., apakah anda masih ingat kejadian belasan tahun yang lalu?" anak buah Direktur Rumah Sakit Jiwa bertanya pada Direktur.
"Apa maksudmu.., kejadian yang mana? Jangan berbelit-belit." dengan nada tinggi, Direktur RSJ menanggapi pertanyaan anak buahnya.
"Waktu Tuan meminta saya untuk mengatur penukaran seorang bayi di rumah sakit jiwa belasan tahun yang lalu." dengan penuh rasa ketakutan, anak buah itu melaporkan.
"Kenapa kamu mengungkit lagi masalah itu? Diam.., biarkan semua terkubur, jangan diingat-ingat lagi!" kembali nada tinggi terdengar dari mulut Direktur.
"Iya Tuan..., kamu juga ingin melupakannya. Tetapi Arman dan temannya sudah ditangkap oleh seseorang. Anak-anaknya tadi menghubungi saya." kata anak buah itu.
"Habisi saja nyawa mereka! Jangan sampai kejadian itu akan terungkap kembali! Anakku sudah mulai menderita saat ini, apalagi jika kejadian yang kita sengaja saat itu terbongkar. Nasib Vaya akan semakin mengenaskan." kembali perintah keji keluar dari mulut Direktur.
"Tapi yang jadi masalah, sudah dua hari saksi hidup kita ditangkap oleh orang yang tidak kita ketahui. Saya sudah mengirimkan orang untuk menyelidiki, tetapi masih jalan buntu sampai sekarang."
"Go**blok.., usaha lagi! Untuk apa hal gagal seperti itu kamu laporkan kepadaku. Pikirkan cara, dan beri tindakan nyata, jika perlu habisi semuanya!' sambil berteriak, Direktur keluar dari ruangan.
*******
Dear Reader
Maaf.., karena kesibukan di dunia nyata.. telat updatenya!!!
__ADS_1
Author