
Melihat reaksi kakeknya yang sampai terjatuh karena menahan amarah, Thomas langsung berlari memegang kakeknya. Thomas betul-betul sangat terkejut dan seperti mengalami sport jantung. Sebagai orang luar yang tidak pernah mengetahui permasalahan di keluarga Iswara, Jack hanya bingung menatap keributan yang terjadi pada keluarga ini. Dia ingin ikut berbicara, tetapi khawatir menyinggung salah satu pihak dalam keluarga ini.
"Kakek tenang ya.., ini minumlah dulu!" Thomas langsung mengambilkan air mineral di atas meja, kemudian memberikannya pada kakek.
Kakek meminum dua teguk air yang diminumkan langsung oleh Thomas di mulutnya, seketika dadanya merasa sedikit lega.
"Kakek.., sekarang ambil nafas panjang dulu. Kemudian dikeluarkan lagi!" Thomas memandu kakek untuk mengambil nafas panjang dan menghembuskannya kembali.
Setelah kakeknya mulai stabil pernafasannya, Thomas menghampiri Tuan dan Nyonya Iswara, dan langsung menegurnya.
"Tolong pa.., ma..., sudah hentikan perdebatan yang tidak bermanfaat ini! Kakek hari ini baru saja datang dari rumah sakit, dan juga kita baru kedatangan dua orang tamu. Tidak patut jika kita terus-terusan meributkan masalah ini." Thomas langsung memberi tahu kedua orang tuanya.
"Mungkin jika kakek mati, mereka akan berhenti meributkan hal ini Thomas. Hanya satu permintaanku jika kakek mati, titip dan jagalah Ivona. Dia sudah terlalu lama menderita." ucap kakek yang tampak sudah mulai pasrah dengan keadaannya.
"Sudah kek.., Thomas yakin tidak akan terjadi apa-apa dengan kakek. Minggu depan kakek sudah diatur Ivona untuk segera menjalankan operasi di Jakarta, dan akan langsung ditangani sendiri oleh Dokter Tantowi. Thomas juga sangat mempercayai Ivona kek." mendengar perkataan Thomas terakhir, kakek terlihat puas dan perlahan hatinya mulai tenang dan stabil lagi.
*************
Sesaat hanya ada keheningan di ruang tengah itu, Tuan dan Nyonya Iswara tidak berani lagi berbicara. Sampai tiba-tiba terdengar suara Alexander dari ambang pintu.
"Jack.. aku masih ada urusan dengan keluarga ini. Kamu pulanglah lebih dahulu, secepatnya aku akan menyusulmu jika urusanku sudah beres!" Alexander meminta Jack untuk pulang lebih dulu.
"Tapi apakah tidak apa-apa jika aku meninggalkanmu lebih dulu." Jack menatap tidak percaya pada Alexander.
__ADS_1
"Jangan khawatirkan aku, aku akan bisa menjaga diriku sendiri." dengan pasti Alexander meyakinkan Jack.
Jack kemudian masuk ke dalam kemudian berpamitan dengan kakek, Thomas, Tuan dan Nyonya Iswara.
"Kakek.., Tuan dan Nyonya juga Thomas.. Mohon pamit saya akan balik dulu! Masih ada urusan yang harus segera saya selesaikan." Jack mengucapkan kata pamit pada keluarga Iswara.
"Baiklah Jack.., maafkan kami yang sudah memberikan kesan yang kurang baik atas kunjunganmu kali ini! Silakan datang lagi ke rumah ini di lain waktu, kami akan sangat senang menerimamu." ucap kakek pada Jack.
"Tidak apa-apa kakek, saya pulang dulu ya." Jack kemudian melangkahkan kaki meninggalkan rumah keluarga Iswara.
"Bro.., aku pulang duluan ya!" sambil menepuk punggung Alexander, Jack keluar dari rumah.
"Yupz, hati-hati." sahut Alexander cepat. Setelah melihat Jack memasuki mobil, Alexander berjalan menuju ke hadapan kakek.
"Pasti boleh nak Alex. Hal apa yang ingin kamu bicarakan padaku?" tanya kakek sambil tersenyum.
"Alex ingin menawarkan perjanjian kerjasama antara Kavindra Group dengan perusahaan kakek, hal ini Alex berikan sebagai hadiah untuk ulang tahun kakek." Alexander mengulurkan dua lembar kertas berisi draft perjanjian kerjasama. Dalam perjanjian tersebut, tertuang bahwa mereka akan melakukan bisnis secara bersama dengan cara masing-masing pihak akan mendapatkan profit sharing 50%.
Dengan tidak percaya dengan isi yang tertuang dalam perjanjian tersebut, kakek membacanya sekali lagi. Setelah merasa yakin dengan apa yang dibacanya....,
"Nak Alex.., apakah kakek tidak salah membaca isi dari perjanjian kerjasama yang kamu tawarkan. Perusahaanku tidak sebanding dengan Kavindra Group, tetapi dengan mudah kamu menawarkan perjanjian ini. Bahkan profit sharing yang kamu tawarkan sudah melebihi ekspektasi akal sehatku." kakek bertanya langsung pada Alexander.
Alexander tersenyum, kemudian lebih mendekat pada kakek.
__ADS_1
"There.s no such thing as a free lunch." terucap sebuah idiom dari mulut Alexander yang berarti tidak ada yang gartis di dunia ini.
"Apa maksudmu?? Kontribusi apa yang harus kami berikan agar perjanjian ini dapat terealisir?" merasa bingung, kakek kembali bertanya pada pria muda itu.
"Saya hanya menginginkan Ivona, tidak ada yang lain." dengan suara mantap tapi pelan, Alexander menjawab sambil memberikan senyum pada kakek. Tampak keseriusan yang terlihat pada sinar matanya, saat menyebutkan nama Ivona.
Semua orang yang duduk di ruang tengah itu terkejut mendengar jawaban pria muda CEO dari Kavindra Group. Tampak tatapan iri dan tidak terima pada wajah Tuan dan Nyonya Iswara. Dari awal mereka mengadakan perjodohan aliansi antara Vaya dengan CEO itu, tetapi pria itu selalu menginginkan Ivona.
"Mohon maaf nak Alex.., saya tidak akan menjual Ivona hanya untuk bisa mendapatkan perjanjian kerja sama itu, Cucuku jauh lebih berharga dibandingkan dengan semua asset perusahaan yang saya punya, bahkan nyawaku pun juga tidak sebanding untuk ditukar dengan cucuku Ivona." kakek menolak dengan keras usulan dari Alexander.
"Tolong kakek jangan salah paham dulu dengan saya." ucap Alexander sambil tersenyum.
"Tuan Alex..., kenapa dari tadi saya mengamati jika Tuan Alex sangat memperhatikan Ivona?? Tidak mungkin kan jika Tuan Alex menyukai gadis itu?" Nyonya Iswara ikut nimbrung bertanya pada CEO muda itu. Dalam hatinya, betul-betul dia tidak akan rela, jika Ivona yang akan dipilih oleh Allexander, kenapa bukan putrinya Vaya.
"Kenapa semua meragukan perasaanku terhadap gadis itu?? Apakah semua yang duduk disini, tahu dan menyadari jika putri kandung atau cucu kandung mereka beberapa hari tidak pulang ke rumah?? Ataukah bisa-bisa kalian memang sudah tidak peduli akan kemana gadis itu, jadi baginya dia pulang ke rumah ini ataupun tidak sudah tidak memiliki arti?" dengan senyum meremehkan, Alexander ganti memberikan pertanyaan yang menyudutkan orang-orang yang berada di ruang tengah itu.
"Apakah benar yang dikatakan oleh Nak Alex?? Cucuku selama aku di rumah sakit, tidak tahu dia berada dan tidur dimana?" mendengar ucapan Alexander, kakek merasa darahnya naik lagi.
"Tenanglah kakek.., tidak ada yang terjadi dengan Ivona selama ini. Dia sudah berada di tempat yang benar, dan semua kebutuhannya juga akan tercukupi. Percayalah pada saya!" sambil tersenyum, Alexander kembali menenangkan kakek.
Kakek terdiam sebentar, tetapi kemudian terbit senyum di bibirnya yang sudah renta.
"Apakah selama ini nak Alex yang sudah menampung cucuku Ivona?" ucap kakek yang langsung mengejutkan orang-orang yang berada disitu.
__ADS_1
*************************