
Ivona sangat kesal karena dibilang suka membuat ulah oleh laki-laki yang sedang duduk di sampingnya.
"Ha..ha...ha.., gara-gara kalian nih, gadis yang kujemput sekarang baru marah sama aku. Untuk hari ini aku masih harus menemaninya, jadi aku katakan sekali lagi ya, aku tidak bisa datang ke club." melihat gadis yang duduk di sampingnya cemberut, tidak tahu apa sebabnya Alexander merasa senang.
"Memang siapa yang suka bikin ulah?? Lagian siapa juga yang tadi minta untuk menunggu, diminta pulang duluan tidak mau." Ivona berbicara sendiri sambil melirik ke samping dengan tetap memonyongkan bibirnya.
"Kami jadi penasaran ingin tahu dan lebih mengenal gadis ingusan yang saat ini sedang bersamamu Lex.., bisa-bisanya dia berhasil mengguncangkan duniamu. Bawalah dia kesini, kami ingin mengenalnya!!" teman Alexander tetap meminta dia datang ke club.
"Tidak Bro.., berapa kali aku harus bilang kepadamu. Aku masih harus menemaninya, dan dia bukan gadis ingusan seperti yang kamu katakan barusan. Awas saja kalau kamu ulangi lagi kata-katamu." tanpa sadar dengan nada bicara yang terdengar santai, Alexander terus berbincang dengan temannya lewat panggilan telpon.
"Ha..ha..ha..., kalau kamu tahu Lex. Saat ini kamu itu terdengar seperti seorang pria BUCIN yang sedang dilanda asmara. Benar-benar perubahan 360 derajat dari sikapmu yang dulu-dulu. By the way..., terus kapan nih, kita bisa kumpul-kumpul lagi??" orang di seberang telepon tidak menyangka terjadi perubahan pada Alexander. Hari ini dia bisa berbicara dengan gaya bicara yang santai dan mencair.
"*What the f*k?? Apa itu BUCIN, jangan ngaco kamu Bro!!" seru Alexander dengan nada ringan, sambil matanya melirik Ivona yang terlihat ngedumel ga jelas.
"Budak Cinta tahuuuu..." teriak teman Alexander dengan nada keras.
"Apa??? Tidakkah aku salah dengar?? Ha..ha..ha.., kalian ini memang manusia Alien.., main asal tebak saja." teriak Alexander yang tampak tertawa senang. Sambil memegang setir kemudi, tatapannya lurus ke depan. Ivona yang ikut mendengarkan gurauan mereka, tampak semakin kesal.
"Pertanyaanku belum kamu jawab Lex.., kapan kamu akan ajak kami kumpul-kumpul lagi?"
"Besok saja kita lihat, kalau pas jam makan siang aku tidak ada agenda. Kita bisa tur untuk kumpul-kumpul lagi. Sudah..., aku akhiri saja panggilannya, aku sudah mau masuk komplek nih."
Tanpa menunggu jawaban dari temannya, Alexander mengakhiri panggilan. Dia melirik ke arah Ivona yang masih terlihat cemberut, yang menimbulkan ide untuk semakin menggodanya.
"Kenapa kesal adik cantik?? Lapar, capai, atau ingin segera sampai di rumah?" tanya Alexander dengan senyum menggoda.
"Memang tidak punya topik bahasan lain ya, ada orang di sampingnya malah ngomong yang tidak-tidak." Ivona dengan ketus menjawab pertanyaan laki-laki itu.
"Itu namanya malah fair. Masak orangnya tidak ada, kita malah membicarakan. Eiits.. giliran ada malah ga dapat bicara. Pilih mana hayo... diomongin di belakang atau diomongin di depan?" Alexander tetap menggoda Ivona.
"Ga ada yang dipilih, sama saja tak bermanfaat." sahut Ivona cepat.
"Ha...ha..ha..." Alexander tertawa kencang melihat ekspresi gadis kecil yang duduk di sampingnya.
__ADS_1
**************
Di malam hari.
"Non... mau makan malam tidak?? Jika iya, akan Bi Mina siapkan." pelayan di rumah Alexander menawarkan Ivona untuk makan malam.
"Maaf Bi Mina.., Ivona masih merasa kenyang. Tadi sebelum pulang ke rumah, Ivona baru saja makan sama teman di kafe. Jika Bi Mina mau, Ivona dibuatkan susu saja agar cepat tertidur." Ivona menolak tawaran Bi Mina, dan menggantinya dengan minuman susu.
"Baik Non.., tunggu sebentar akan Bibi siapkan." pelayan itu kemudian meninggalkan Ivona sendiri di kamar. Sambil memainkan Ipad nya, Ivona menunggu susu buatan Bi Mina.
Tidak lama kemudian, Bi Mina kembali masuk ke kamarnya sambil membawa satu gelas susu hangat.
Tanpa berhenti, Ivona langsung meminumnya langsung. Setelah habis, dia mengembalikan gelas kosong pada Bi Mina.
"Terima kasih Bi Mina.., selamat malam." kata Ivona.
"Sama-sama Non, Bibi merasa senang ada Non Ivona disini. Jadi serasa punya teman." Bi Mina kemudian meninggalkan kamar Ivona.
"Oh ya.., kak Alex kemana Bi?" Ivona bertanya tentang Alexander.
"Tuan Alex ada di kamarnya, karena semenjak ada Non disini, Tuan Alex tidak pernah pergi-pergi." hawab Bi Mina.
"Okay makasih."
Sepeninggalan Bi Mina, Ivona segera naik ke atas ranjang. Dia kemudian memejamkan matanya, dan baru saja memasuki tidurnya, Ivona tersentak dan bangun kembali dengan nafas tersengal-sengal seperti habis melakukan olahraga.
"Kenapa aku selalu memimpikan hal itu??? Apa ada makna yang akan disampaikan dari mimpi-mimpiku itu, tetapi apa???" Ivona berbicara dengan dirinya sendiri sambil mengacak-acak rambutnya.
__ADS_1
Gadis itu terdiam sejenak, dan melihat ke sekeliling. Tiba-tiba dia merasa takut berada sendiri di kamar itu.
"Apa aku mencari Kak Alex saja ya? Tadi Bi Mina bilang, Kak Alex saat ini sedang berada di kamarnya." Ivona berbicara dengan dirinya sendiri.
Beberapa menit kemudian, dia turun dari tempat tidur kemudian berjalan keluar kamar langsung menuju ke kamarnya Alexander. Sejenak dia ragu-ragu untuk membangunkan laki-laki yang selalu menolongnya itu, tapi teringat kembali akan mimpinya akhirnya dia memberanikan diri mengetuk pintu kamar Alexander.
"Tok.., tok.., tok..." setelah tiga kali ketukan, tidak lama kemudian pintu dibuka dari dalam.
Ivona terkejut melihat penampilan acak-acakan Alexander, pria tampan itu keluar dengan mengucek-ucek matanya sepertinya dia baru bangun tidur. Rambutnya terkesan tidak beraturan, dan sudah mengenakan piyama. Tetapi ketampanannya malah muncul secara alami.
"Ada apa Na?? Tidak dapat tidur kalau tidak mencium bau keringatku?" dengan suara serak Alexander langsung menggoda Ivona.
Ivona tersenyum malu sampai memerah pipinya, karena memang dia ingin segera tidur, gadis itu mengabaikan rasa malunya.
"Atau kamu ingin tidur di kamarku??? Ya sudah.., hari semakin malam. Kita bertukar kamar saja dulu..., tidurlah di kamarku. Aku akan pindah tidur di kamarmu." karena kasihan dengan penampilan gadis di depannya, Alexander menyarankan untuk bertukar kamar.
"Oke.., makasih ya kak." kata Ivona cepat.
Alexander tidak menjawab, dia hanya tersenyum sambil mengacak-acak rambut Ivona dan melangkah pergi.
********
Aroma maskulin tercium di indera penciuman Ivona, saat dia memasuki kamar Alexander. Ivona menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan. Warna monochrome hitam putih sangat mendominasi kamar tersebut. King size bed dengan sprei monochrome ikut mempercantik kamar, dan furniture simple menjadikan kamar Alexander tampak terlihat lebih luas.
"Tidak ada satupun gambar perempuan di kamar ini, apakah kak Alex belum memiliki teman wanita?" Ivona bertanya pada dirinya sendiri.
Perlahan dia berjalan menuju tempat tidur, dan langsung merebahkan tubuhnya diatasnya. Masih jelas tercium aroma Alexander yang menempel di be, bantal mauan selimut yang saat ini digunakan Ivona. Aroma maskulin Alexander entah mengapa membuatnya menjadi merasa lebih rileks, dan tidak lama kemudian Ivona mengerjapkan matanya mulai merasa mengantuk.
"Drtt..., drtt.., drt...." ponsel Ivona bergetar pada pukul 03 dini hari.
*************************
__ADS_1