
Ivona tersenyum sinis saat mendengar murid-murid di sekolah yang sedang menggunjingnya. Dia sengaja masih berdiri di depan pintu, dan hanya memandang mereka dengan mata tajam. Sedikitpun dia belum berminat untuk memberi pelajaran pada mereka, dia ingin mendengar sampai sejauh mana mereka akan membicarakannya.
"Ha..ha..ha.., ternyata Ivona itu hanya anak haram. Punya label seperti itu saja, gayanya sudah seperti pemilik keluarga Iswara." terdengar salah satu murid tertawa terbahak-bahak.
"Berita itu apa benar sih? Tapi kemarin aku lihat-lihat di media sosial ternyata sudah tidak ada. Aku jadi penasaran kelanjutan gosipnya itu." sahut murid lainnya.
"Iya pasti benar dong.. Kita lihat nanti bagaimana ekspresi dia, kalau dia sudah datang ke kelas ini. Apakah dia masih berani untuk mengangkat wajahnya lagi. Berita tentang dia, meskipun sekarang ini sudah tidak ada, tapi aku yakin dia pasti sudah membacanya. Satu dunia sudah membaca tentang history seorang anak haram yang ingin menggeser kedudukan putri kandung." murid yang lain menimpali.
Terlalu lama Ivona berdiri di pintu masuk, dia segera melangkah masuk ke kelas. Dia akan memberi pelajaran pada orang-orang yang sudah menggunjingnya dari tadi. Saat dia mau masuk, dia menjadi kaget dan malah diam terpaku. Dia melihat Beni datang menghampiri murid-murid yang sedang bergerombol sambil membicarakannya.
"Kalian ini semua sudah merusak citra seorang perempuan. Perempuan digambarkan seorang yang lembut, dan feminin. Tetapi kalian digambarkan sebagai orang yang hanya bisa ghibah sana sini." terdengar suara Beni memarahi murid-murid perempuan yang sedang menggunjingkan Ivona.
"Ha.., ha.., ha..., kenapa juga jadi kamu yang marah Ben? Ada hubungan apa kamu dengan gadis itu?" Beni malah jadi bahan tertawaan dari murid-murid itu.
"Kalian semua itu..., punya etika berkomunikasi tidak? Jaga dong bicaranya, selidiki dulu benar atau tidak berita yang beredar, jangan asal bacot saja!" sahut Beni dengan mata melotot.
"Apa sih sebenarnya maksudmu Ben?? Sudah duduk saja sana, aku kasihan sama kamu deh. Sudah susah membawa tubuh tambunmu. Masih juga sok berceramah pada kami." sahut salah satu murid perempuan.
"Apa ada masalah denganmu, jangan suka body shaming! Lagian panas telingaku, dari tadi bergunjing tentang Ivona. Jika tidak tahu kebenaran dari cerita yang sebenarnya, lebih baik kamu diam. Kita hanya bisa mendengarkan, bukannya malah menggosipkan." ucap Beni dengan nada tinggi.
"Halah.., halah...Dasar kamunya saja Ben yang sensi. Ingat kamu itu hanya menjadi anjing penjilat milik Ivona saja. Apa yang kamu dapatkan Ben, dengan membelanya mati-matian?" salah seorang murid mengejek Beni.
"Tutup mulutmu!! Perkataan yang keluar dari mulutmu, mencerminkan bagaimana kualitasmu. Semoga saja, mulutmu tidak menjadi harimaumu." jari tangan Beni menunjuk ke arah murid yang mengatakannya sebagai anjing penjilat.
__ADS_1
Melihat kemarahan Beni karena membelanya, akhirnya Ivona masuk ke dalam kelas dengan santai. Perlahan dia menyentuh pundak Beni dengan tangan kiri, dengan maksud untuk menenangkannya. Laki-laki gemuk itu menoleh pada Ivona, dia merasa lega melihat temannya itu sudah datang.
"Sabarlah Iv..., tidak perlu kamu dengarkan mereka! Anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu." Beni menasehati Ivona, tetapi gadis itu malah tersenyum padanya.
"Apakah yang tadi kalian bicarakan tentang aku?? Coba ulangi lagi, aku ingin mendengarnya lagi!" dengan senyum sinis Ivona menatap murid-murid yang dari tadi membicarakannya.
Beberapa murid perempuan yang sedang bergosip langsung tercengang dan terlihat pucat pasi. Mereka tidak menyangka jika gadis itu sudah datang, dan mendengarkan apa yang sudah mereka gunjingkan tentangnya. Mereka mencari cara untuk menutupi kegugupannya itu.
"Tapi benar tidak apa yang tadi kami bicarakan Ivona?" seorang murid berani bertanya pada Ivona.
"Yakinilah apa yang kalian yakini benar. Itu saja deh pesanku. Asal keyakinanmu nanti, tidak menjadi bumerang bagimu saja." sindir Ivona dengan wajah datar dan sinis.
"Apa kamu bilang, kami hanya mengulang hal yang sudah diposting dalam media sosial?? Benarkan kalau kamu ini sebenarnya hanya seorang anak haram, yang bermimpi untuk menjadi ratu di rumah keluarga Iswara? Kamu ingin menggantikan posisi Vaya, jangan mimpi kamu!" seru murid lainnya.
"Jika aku memang anak haram, apa pedulimu? Apakah keberadaanku disini itu jadi merugikan kamu, apakah aku minta diberi makan sama keluargamu?" lagi-lagi Ivona mencibir mereka.
Mereka kembali terdiam, tidak mampu menjawab pertanyaan Ivona.
******************
"Prok..., prok.., prok..." tiba-tiba terdengar tepuk tangan di pintu masuk. Semua murid langsung mengarahkan pandangannya ke depan, dan ternyata mereka melihat Wali Kelas bertepuk tangan sambil memasuki kelas. Jam pertama hari ini memang jadwalnya wali kelas untuk memberi pelajaran pada mereka. Melihat muridnya terdiam sementara, Wali Kelas berjalan menghampiri Ivona yang masih berdiri di tempatnya.
__ADS_1
"Kalian semua ini sadar tidak sih? Jika kalian mau tahu, keributan dan suara kalian itu terdengar dari pintu gerbang." wali kelas langsung memarahi semua murid di kelas ini.
"Habis Ivona marah-marah pak. Dia sama Beni marah-marah pada kami." teriak salah seorang murid.
"Benarkah Ivona, kamu memarahi teman-temanmu?" tanya Wali Kelas langsung pada Ivona, tatapan matanya seakan menghakimi gadis itu.
"Menurut perasaan Bapak sendiri bagaimana?? Kira-kita apa yang baru saja disampaikan murid itu benar atau tidak?" Ivona menjawab pertanyaan wali kelas sambil menunjuk murid yang barusan menyampaikan laporan palsu.
"Maksudmu apa Ivona? Saya itu bertanya sama kamu, kenapa kamu malah bertanya seperti itu." Wali Kelas terpancing emosi mendengar jawaban Ivona.
"Halah sudah pak, urusan murid perempuan saja diurusi." sahut William dari meja tempatnya duduk. Sebenarnya dari tadi dia sudah merasa gerah, saat murid-murid perempuan menggunjingkan Ivona. Tetapi sebagai anak laki-laki memang dia tidak mau ikut campur, dia malah membiarkannya. Tetapi mendengar nada bicara wali kelas, dia menjadi sebal.
"Saya tidak bertanya pada kamu William. Saya bertanya pada Ivona. Bagaimana penjelasanmu Ivona?" Wali Kelas kembali melemparkan pertanyaan pada Ivona.
"Jawaban saya masih sama dengan yang baru saja saya katakan Bapak Wali Kelas yang terhormat. Jika kita mendapatkan tuduhan atau dugaan yang tidak benar, dan langsung melakukan pergunjingan tanpa terlebih dulu mencari kebenarannya, bagaimana pendapat Bapak?" jawab Ivona sambil tersenyum smirk. Dia tidak tahu mengapa, melihat ekspresi kemarahan dari Wali kelas, dia merasa mendapatkan hiburan tersendiri.
"Dasar kamu.., berani-beraninya bicara dengan saya seperti itu." tegur wali kelas dengan marah.
"Hukum..., hukum.., hukum..." terdengar teriakan murid-murid perempuan di kelas itu.
"Hukum...???? Ayo segera lakukan push up masing-masing 20 kali, yang barusan dengan pedenya menyebarkan berita bohong." ucap Ivona.
__ADS_1
****************