
Ivona berjalan menghampiri Thomas, dia mengerenyitkan dahinya, saat melihat ada yang aneh di tubuh kakaknya Thomas. Ada semburat warna merah memar terlihat dari balik kemeja yang dikenakannya, dan juga saat Thomas jalan kaki, dia seperti agak menyeret kaki kanannya.
"Kak Thomas..., bisa lihat sebentar!" Ivona tiba-tiba menghentikan Thomas yang akan berjalan meninggalkannya.
Thomas berhenti dan memandang dengan penuh tanya pada adik kandungnya itu. Dia berpikir sendiri, kenapa Ivona tiba-tiba pro aktif memintanya berhenti. Biasanya gadis itu selalu menghindar darinya, bahkan menanggapi dengan angin-anginan jika dia mengajaknya bicara.
"Ada apa Iv.., apa yang ingin kamu lihat?" tanya Thomas pelan.
"Apa yang terjadi dengan kaki kanan kak Thomas, kemudian di balik baju atasan yang kakak kenakan, ada bekas luka memar disana. Siapa yang melakukannya kak?" Ivona penasaran, dia mengenali bekas luka yang terjadi di tubuh Thomas. Itu luka pukulan bukan luka karena kecelakaan.
Mendengar pertanyaan Ivona, Thomas terdiam seakan ragu untuk menceritakan apa yang sudah dia alami. Tommy ikut mengamati bagian tubuh Thomas, dia juga heran dan bertanya-tanya darimana asal luka-luka itu.
"Kamu kenapa Thomas, darimana asal luka-lukamu itu?" Tommy ikut bertanya pada Thomas.
Thomas tersenyum kecut pada kedua saudara kandungnya itu. Dia kemudian mengambil nafas panjang, kemudian mengeluarkannya lagi.
"Apakah perlu dan penting kalian berdua tahu, darimana asal luka-lukaku ini? Aku sudah berusaha untuk menyembunyikannya, tetapi ternyata adik kandungku sangat perhatian padaku, aku menjadi sangat terharu." ucap Thomas, kemudian dia menggulung lengan kemejanya ke atas. Ivona merasa ngeri melihat bilur-bilur merah kebiruan di kedua lengan kakaknya itu.
"Ulah siapa ini kak? Kenapa kakak membiarkan orang lain memukuli kakak seperti ini?" dengan perasaan miris, Ivona bertanya pada Thomas. Tetapi kakaknya itu masih terdiam, tidak mau menjawab pertanyaannya.
"Ceritakan Thom.., bagaimanapun kita ini adalah saudara. Ada hal-hal yang perlu kita bagi dan saling kita ketahui. Jangan menyimpannya sendiri!" Tommy akhirnya ikut mencari tahu asal dari luka-luka yang ada di badan Thomas. Tidak mungkin pukulan itu berasal dari orang luar, karena masyarakat di kota ini masih memandang keluarga Iswara.
"Gara-gara gadis itu, Vaya." Thomas menunjuk Vaya yang masih berada di lingkungan itu.
__ADS_1
"*What the f*k!! Ulah apa lagi yang ditimbulkan oleh dia?" seru Tommy dengan pandangan nanar.
"Pelakunya bukan dia, tetapi gara-gara aku mengikuti perintah kakek untuk mengusir Vaya dari rumah." ucap Thomas pelan.
"So.. what?? Memang sudah seharusnya dia tahu diri, tanpa perlu kita usirpun, harusnya dia segera meninggalkan rumah kita, ketika dia tahu bahwa keluarga Iswara bukan keluarga kandungnya." tegas Tommy yang merasa jengkel, karena Thomas tidak segera menceritakan kejadian yang sebenarnya.
Thomas diam sebentar, kemudian dia memandang Ivona dan Tommy bergantian.
"Aku dipukul sama mama menggunakan rotan, karena mama tahu jika hari itu, aku telah mengusir Vaya untuk pergi dari rumah. Aku juga tidak tahu, hal apa yang sudah diadukan Vaya pada mama. Akupun juga tidak bisa membela diri, karena saat mama memukulku, aku sedang tidur." kata Thomas dengan tersenyum pahit.
Ivona merasa begidik, dengan Thomas putra kandungnya yang sejak bayi tinggal bersamanya saja, Nyonya Iswara bisa memukulnya sampai babak belur. Apalagi Thomas sudah dewasa, bukan lagi seorang anak kecil. Ivona membandingkan dengan dirinya yang baru ditemukan dalam kurun waktu belum genap 2 tahun. Semua itu dilakukan Nyonya Iswara hanya gara-gara Vaya, sudah sedemikian dalamnya gadis itu memenuhi ruang hati Nyonya dan Tuan Iswara.
Mendengar cerita Thomas, pandangan Tommy menjadi dingin dan mukanya datar. Terlihat jika dia memendam sesuatu yang sangat kesal.
"Kak Thomas pulang saja dulu, kakak harus istirahat. Ivona janji, kapan-kapan akan menemani kak Thomas untuk makan bersama." Ivona merasa kasihan dengan laki-laki itu, karena dalam upaya untuk meluruskan statusnya di keluarga Iswara, dia harus merasakan pukulan seperti itu.
**********
Thomas dan Tommy bersama Ivona akhirnya membuat sebuah kesepakatan, dan mereka segera keluar dari lingkungan SMA Dharma Nusa. Saat melihat Tommy mau membawa Ivona pergi, Vaya berdiri di belakang mereka.
"Vaya tidak ikut pergi makan. Vaya mau makan dengan teman-temanku." tiba-tiba Vaya sengaja berbicara dengan keras.
Teman-temannya yang masih ada di sekolah, menengok kepadanya. Dia melakukan itu untuk menghilangkan rasa malu karena posisinya di hati kedua kakaknya sudah digeser oleh Ivona. Dia masih ingin murid-murid di sekolah ini memandangnya sebagai bagian dari keluarga Iswara, sehingga dia harus melakukan hal itu.
__ADS_1
"Kenapa tidak ikut Vay.., katanya mereka mau pergi makan?" tanya temannya sarkasme,
"Kebetulan aku masih kenyang, karena tadi siang kebanyakan pesan makan di kantin. Lagian aku juga ada janji untuk ketemu teman-temanku di kafe, masak aku meninggalkan mereka hanya untuk makan dengan kakakku." jawab Vaya tanpa tahu malu.
"Masa sih.." sahut temannya yang mengetahui dari awal kejadian barusan, antara Vaya dengan kakak-kakaknya.
"Kenapa? Kalian tidak percaya dengan perkataanku ya." Vaya langsung bicara dengan nada tinggi.
"He..he.., he.., masa gitu aja marah. Siapa tahu, memang kedua kakakmu tidak mengajakmu untuk makan bersama." sahut temannya yang langsung berjalan meninggalkannya sendiri di situ.
"Jika tidak tahu apa-apa, jangan membuat kesimpulan sendiri ya." Vaya masih saja ngegas.
Sedangkan Tommy hanya menengok sebentar pada Vaya, dia mengacuhkan gadis itu dan langsung pergi dengan menggandeng tangan Ivona. Melihat pemandangan itu, hati Vaya bertambah panas dan jengkel. Dia khawatir kedua kakaknya itu betul-betul akan mengabaikan dirinya untuk selamanya. Dia membayangkan bagaimana akan menjalani kehidupan yang sudah terlanjur mewah, jika tanpa dukungan sumberdaya dari keluarga Iswara.
Vaya melihat dari halaman dalam, William berjalan dengan santai. Tiba-tiba dia sedikit merasa terhibur, saat melihat William yang sedang berjalan ke arahnya. Dia sangat tahu persis, jika laki-laki ini selalu berusaha untuk mendekatinya, tetapi dia yang selalu mengabaikannya. Vaya berpikiran untuk memanfaatkan laki-laki muda itu saat ini.
"Hai Will..., baru keluar?" tanya Vaya dengan muka murung.
"Hmm.." sahut William singkat, tanpa ada kata lebih lanjut. Laki-laki muda itu malah berjalan meninggalkannya, dan sedikitpun tidak ada niatan William untuk menghiburnya. Vaya kecewa dan bertanya-tanya apa yang terjadi dengan William, kenapa sikapnya menjadi berubah acuh.
"Sialan..., ada apa dengan hari ini? Bukannya tadi siang, William sudah menolongku saat aku pingsan di kamar mandi. Apa yang terjadi dengannya, sampai dia mengacuhkan aku seperti itu?" tanya Vaya dalam hati. Dia tidak bisa menerima perubahan sikap drastis William terhadapnya.
******************
__ADS_1