Revenge: Terlahir Kembali

Revenge: Terlahir Kembali
Chapter 171 Pergi dari Rumah Ini


__ADS_3

Vaya berada di teras rumah keluarga Iswara, gadis muda itu berusaha untuk menemui Nyonya Iswara. Setelah mengetahui jika ayahnya  saat ini berada di penjara, gadis itu tidak mau kehilangan hubungan dan komunikasi dengan keluarga Iswara. Vaya memutuskan untuk bersikap masa bodoh dan pura-pura tidak tahu dengan kasus yang sudah menimpa keluarganya.


"Non.., kembalilah pulang! Nyonya dan Tuan Iswara tidak akan mau menemui Non Vaya." pelayan rumah meminta Vaya untuk kembali. Karena semua pelayan rumah dan penjaga sudah diultimatum oleh Nyonya Iswara, untuk tidak mengijinkan Vaya kembali ke rumah keluarga Iswara, mereka mencari selamat.


"Kamu bohong padaku. Tidak mungkin mama menolakku, akulah Nona Muda keluarga ini." Vaya berseru dengan nada tinggi pada pelayan rumah.


"Maaf Non.., saya tidak mau kena marah dari Nyonya Iswara. Saat ini Nona Muda Ivona juga sedang berada di rumah ini. Mendingan Non Vaya segera meninggalkan rumah ini, sebelum semua anggota keluarga tahu jika Non Vaya ada disini." pelayan rumah terus mengusir Vaya untuk segera keluar dari dalam rumah.


"Ada apa Bi..., kenapa ribut-ribut di luar rumah, Apa tidak tahu jika jam segini ini waktunya orang istirahat." Nyonya Iswara berjalan menuju teras.


"Ada Non Vaya Nyonya.., sudah saya minta untuk kembali, tetapi Non Vaya nya tidak berkenan." dengan wajah penuh ketakutan, pelayan rumah mengadukan Vaya.


"Mama.., putri mama datang berkunjung. Vaya sangat kangen dengan mama.." melihat kedatangan Nyonya Iswara.., Vaya langsung berlari untuk memeluk Nyonya Iswara.


"Eh apa-apaan ini... aku tidak memiliki putri sepertimu. Putri kandungku sudah kembali, kamu hanyalah seorang putri dari orang yang ingin menghancurkan keluargaku. Pergi kamu...!" mengingat betapa kejinya ayah Vaya, Nyonya Iswara langsung mengusir Vaya.


"Mama bicara apa..., Vaya tidak tahu ma. Untuk kapanpun, Vaya adalah putri keluarga Iswara, bukannya mama  dan papa sendiri yang bilang pada Vaya waktu itu." Vaya terus merengek, gadis itu terus mendekat pada Nyonya Iswara.


Tiba-tiba Ivona turun dari kamar kakek, melihat keributan di muka pintu, gadis itu datang untuk melihat apa yang terjadi di luar.  Tetapi kehadirannya disitu malah meramaikan suasana, Nyonya Iswara tanpa permisi langsung menarik Ivona dan memeluknya di depan Vaya.

__ADS_1


"Lihatlah putri penjahat. Ini putri kandungku yang sebenarnya, dialah yang sudah dipisahkan dan disia-siakan oleh ayah bejatmu itu. Tanpa menggunakan perasaan, ayahmu telah menukarnya dan memalsukan identitasnya dengan identitasmu." dengan berapi-api, Nyonya Iswara terus menghujat Vaya. Ivona tidak melakukan apapun, bagi dia penyesalan Nyonya Iswara tidak sedikitpun menggerakkan hatinya.


"Mama..., Vaya tidak mau berpisah dengan mama." Vaya terus menangis meraung. Ivona memandang sinis perilaku gadis itu, dia hanya berdiri dan menatap Vaya dengan muka datar.


"Dimana kesombonganmu Vaya.., sepertinya keluarga Iswara sudah tidak membutuhkan kedatanganmu lagi di rumah ini." ucap Ivona, kemudian dia berbalik arah meninggalkan Vaya dan Nyonya Iswara di teras. Melihat putri kandungnya berjalan meninggalkannya, Nyonya Iswara bergegas mengikuti Ivona pergi.


"Seret gadis itu untuk keluar dari halaman rumah keluarga Iswara." terdengar perkataan Nyonya Iswara yang menyuruh pelayan rumah.


************


Mobil Tommy memasuki halaman rumah, dan kebetulan berpapasan dengan Vaya yang diseret keluar oleh pelayan rumah. Melihat wajah gadis itu, Tommy teringat dengan kekejaman Kepala Rumah Sakit yang sudah menukar bayi Ivona dan memalsukan identitasnya. Tiba-tiba muncul rasa muak pada diri Tommy, begitu dia memandang wajah Vaya.


"Kakak..., kak Tommy.. tolong Vaya kak!" melihat mobil Tommy, Vaya berteriak memanggil kakaknya itu. Tetapi Tommy tidak menghiraukannya, setelah memarkirkan mobil laki-laki itu segera keluar dari dalam mobil.


"Syukurlah kamu pulang juga akhirnya Na.. Sejak kapan kamu datang kesini?" Tommy langsung menyapa Ivona, kemudian duduk di samping kakeknya.


Tiba-tiba kakek memukul punggung Tommy, saat laki-laki itu menyalaminya.


"Biasakan cuci tangan dulu setelah masuk rumah, baru lakukan aktivitas di dalam rumah!" ucap kakek menasehati Tommy. Ivona hanya melirik kakaknya itu.

__ADS_1


"Baik kek..." sambil nyengir Tommy kemudian berjalan menuju wastafel. Laki-laki itu mencuci tangannya, kemudian melepas dasi dan melepas kancing atas bajunya.


"Putra mama juga sudah pulang, mana Rio dan Thomas? Jika semua sudah kumpul, kita bisa makan malam bersama." Nyonya Iswara datang dari dapur dengan pelayan yang membawa nampan berisi minuman panas.


"Dari mana Tommy tahu ma..? Kita kan masing-masing bekerja di tempat dan bidang yang berbeda. Tadi Tommy habis ketemu dengan client, langsung pulang ke rumah." Tommy menjawab pertanyaan Nyonya Iswara. Laki-laki itu langsung mengambil satu cangkir yang diletakkan di atas meja, kemudian meneguknya.


"Kakek mau minum.., jika kakek mau, Ivona ambilkan?" Ivona bertanya pada kakek, dan ketika kakek menganggukkan kepala, dengan pelan Ivona mengambil satu cangkir. Untuk mendinginkannya, Ivona mengipasi minuman di cangkir dengan menggunakan kertas. Setelah dirasa cukup berkurang panasnya, perlahan Ivona menyuapi kakeknya.


Nyonya Iswara malu melihat bagaimana kedekatan dan ketelatenan Ivona memberikan perawatan pada kakek. Meskipun mereka dipertemukan pada saat Ivona sudah besar, tetapi darah memang lebih kental daripada air. Tanpa ragu, gadis itu menunjukkan dan memberikan perhatiannya pada kakek.


"Bagaimana Tomm.. kasusnya, apakah sudah ada titik terang?" tiba-tiba Nyonya Iswara bertanya pada Tommy tentang kasus persidangan ayah Vaya. Tommy tidak menjawab, hanya memberi isyarat pada Nyonya Iswara untuk tidak mengungkit kasus itu di depan kakek. Nyonya Iswara akhirnya diam, perempuan paruh baya itu menunggu saat yang tepat untuk mengetahui hasilnya.


"Selamat sore.." tiba-tiba terdengar suara laki-laki mengucapkan salam. Semua yang duduk di situ menoleh ke arah sumber suara, terlihat Alexander dengan gagahnya memasuki ruang tengah. Wajah kakek langsung terlihat cerah, melihat kehadiran CEO Kavindra Group itu.


"Sore nak Alex. Ternyata ada CEO Kavindra Group yang datang kesini. Satu keberkahan untuk laki-laki tua ini, masih bisa melihat dan dikunjungi oleh Tuan Muda." kakek menjawab ucapan salam dari Alexander.


"Kakek selalu merendah. Kehormatan bagi saya kek, masih bisa diterima dengan baik dan penuh kekeluargaan oleh kakek." Alexander langsung mengulurkan tangan dan menyalami kakek. Setelah kakek menerima uluran tangan itu, Alexander duduk di samping Ivona.


"Dari mana ini tadi nak Alex..?" tanya kakek dengan ramah. Nyonya Iswara terlihat bahagia melihat CEO itu, dan untung usulannya untuk membuat perjodohan antara Vaya dengan laki-laki itu dulu ditolak mentah-mentah oleh Alexander.

__ADS_1


"Perusahaan kek.., karena kerjaan tidak begitu banyak, Alex langsung ke rumah ini untuk menjemput Ivona." Alexander menjawab pertanyaan sambil tangan kanannya diselipkan di pinggang Ivona. Mata Ivona langsung melotot pada laki-laki muda itu, tetapi Alexander pura-pura tidak melihatnya.


*************


__ADS_2