
Sambil berjalan meninggalkan tempat itu, Roy masih memikirkan pertemuannya dengan Ivona dan pria di dalam Rolls Royce itu. Hanya melihat tatapannya saja, Roy merasa pria itu sudah memberinya tekanan, apalagi jika mereka sampai berbincang-bincang.
"Paling juga Ivona bertemu dengan pria itu karena faktor kebetulan saja. Atau bisa jadi, Ivona hanya mengaku-aku saja jika dia mengenal pria itu." akhirnya Roy mencoba untuk menghibur dirinya, dia berbicara pada dirinya sendiri untuk tidak akan memikirkan hal itu lagi. Perlahan Roy berjalan meninggalkan toko buku tersebut, dan dia tidak jadi membeli buku latihan soal komputer.
Sementara itu, di dalam mobil Rolls Royce..
"Kenapa lama sekali Nana perginya?? Dengan siapa sebenarnya dia di dalam toko??" Alexander bertanya pada dirinya sendiri. Dari tadi dia merasa tidak sabar, karena pertama kali ini dia menunggu orang.
Dia keluar dari dalam mobil, kemudian menutup pintu dengan kencang untuk mengurangi rasa jengkelnya. Dia menarik dasinya dengan kasar, dan berdiri di samping mobil sambil melakukan stretching ringan untuk mengurangi ketegangannya.
"Tuan Alex..., sedang menunggu siapa disini??" seorang laki-laki paruh baya menyapa Alexander yang berdiri di samping mobil. Dia pernah menjadi mitra bisnis Alexander, tetapi sebenarnya Alexander sendiri belum pernah berbincang secara instens dengannya.
"Ada yang ditunggu." jawab Alexander singkat dengan tatapan datar. Melihat orang yang disapanya tidak berminat komunikasi dengannya, laki-laki paruh baya itu kemudian berpamitan pergi duluan.
"Saya duluan ya Tuan Alex, karena hari keburu malam." laki-laki itu langsung berjalan menuju mobilnya yang diparkir tidak jauh dari tempat mobil Alexander.
Alexander tidak menjawab, dia hanya mengangkat tangannya sebagai isyarat mengijinkannya pergi. Dengan kesal Alexander menendang batu kerikil yang banyak terdapat di halaman parkir tersebut.
************************
Dengan kesal karena bertemu dengan Roy, Ivona langsung naik ke lantai 2 melalui tangga darurat. Dia melangkah tergesa-gesa, karena kemunculan Roy sangat mengganggu moodnya.
Kafe toko buku lantai 2.
Sesampainya diatas, Ivona mencari keberadaan kafe. Setelah membaca petunjuk arah, ternyata kafe ada di pojok selatan ruangan itu. Dia bergegas menuju arah cafe, dan dari kejauhan Ivona melihat Caroline melambaikan tangan memanggilnya untuk datang.
"Hai..., aku pikir kamu ga jadi datang." Caroline menyapa Ivona, kemudian menyambut Ivona dengan pelukan. Setelah melakukan cipika cipiki, Caroline mempersilakan Ivona duduk.
__ADS_1
"Kok kamu masih mengenakan seragam sekolah??" tanya Caroline heran dengan gadis kecil di depannya itu.
"Iya.., aku memang masih sekolah di SMA Dharma Nusa. Ini tadi kebetulan pas keluar kelas, mau pulang dulu ganti pakaian malas. Tempat tinggalku jauh." Ivona membuat alasan.
"Mau pesan apa, sekalian aku pesanin? Sementara aku baru pesan Americano dan lemon tea panas. Kamu mau yang mana, atau kalau tidak cocok, silakan pesan lagi." Caroline menawari Ivona, menu apa yang akan dia pesan.
"Aku ini saja cukup Carol. Kebetulan aku tidak bisa lama berada di tempat ini. Karena aku ditunggu orang di parkiran mobil."
"Really??? Sayang sekali Iv.., padahal aku ingin ngobrol banyak hari ini denganmu. By the way.., apa yang akan kamu tunjukkan padaku??" tanya Caroline tidak sabar. Tadi dalam chat, Ivona menyampaikan jika memiliki lirik lagu yang akan dia tunjukkan padanya.
Ivona mengeluarkan catatan dan box dari dalam tasnya, kemudian memberikannya pada Caroline.
"Kamu bawa head set tidak, jika tidak pakai punyaku!! Aku menulis lagu itu, dan aku berpikir lirik yang ada sangat cocok dengan suaramu."
"Wow.., aku akan mencobanya. Luar biasa kamu Iv..., kecil-kecil sudah piawai menulis lagu. Hebat..." dengan mata berbinar, Caroline memasang head set yang dibawa Ivona, kemudian menekan tombol dalam Ipad. Dia tidak bisa menutupi rasa keterkejutannya akan talent gadis kecil yang duduk di depannya itu. Caroline sangat menikmati saat mendengar lagu dan lirik yang sudah direkam.
Sekitar lima menit mendengarkan lirik lagu yang ditulis Ivona, Caroline sangat mengagumi karya tersebut.
"Terima kasih Carol.. Lihat nih.., baju seragamku jadi sesak tidak muat, gara-gara pujianmu setinggi langit." Ivona merendah.
Sebenarnya pada kehidupan sebelumnya, Ivona sudah menekuni dan belajar tentang lirik dan syair lagu. Kakeknya seorang musisi terkenal baik di dalam dan luar negeri, dan secara privat kakeknya melatih Ivona secara khusus. Jadi menulis sebuah lagu, bukan merupakan hal yang baru bagi gadis itu. Meskipun sejak kecil, Ivona merupakan anak yang sangat sulit untuk didisiplinkan, tetapi dia selalu menggemaskan. Dengan mulut manisnya, dia bisa membuat orang lain jatuh hati, dan meskipun dia melakukan kenakalan, kakeknya tidak akan rela untuk memukulnya.
"Benar Ivona..., aku tidak memujimu. Tetapi aku mangatakan yang sebenarnya, bahkan jika lagumu ini tidak kamu berikan padaku, tapi kamu jual ke studio music.., akan banyak penyanyi terkenal yang akan berminat." kata Caroline tulus.
"Aku lebih suka memberikan laguku untukmu Carol. Suaramu akan sangat pas dengan syair dan lirik yang aku tulis."
Tiba-tiba...
__ADS_1
"Drtt..., drtt.., drttt.." ponsel Ivona bergetar. Ivona merasakan jika ada panggilan masuk, tetapi dia membiarkannya sejenak.
"Carol.., kamu sudah menungguku lama kan tadi disini?? Pulanglah dulu, aku masih ada hal yang perlu aku urus dan selesaikan disini." Ivona meminta Caroline untuk pulang lebih dulu.
"Benarkah?? Apakah tidak masalah jika aku tinggalkan kamu sendiri disini?" tanya Caroline.
"Tenanglah..., tidak akan terjadi apa-apa padaku. Pergilah Carol.., hati-hati di jalan ya!"
"Okay.., aku pergi dulu ya. Jaga dirimu Ivona!" Caroline kemudian pergi meninggalkan Ivona sendiri di kafe.
Setelah Caroline pergi, ponsel Ivona kembali bergetar. Ivona mengangkat telepon, dan terlihat di layar jika Tuan Iswara yang melakukan panggilan. Dengan agak malas, Ivona menerima panggilan tersebut.
"Ya ayah.., ada apa?" Ivona menyapa Tuan Iswara.
"Kamu dimana posisi sekarang?? Segera pulang, Kakekmu sudah bicara pada ayah, beliau bersedia pulang ke rumah kediaman kita, dan akan menjalani pengobatan."
"Hubungannya apa yah, kepulangan kakek dengan Ivona?" dengan santai Ivona mengajukan pertanyaan pada Tuan Iswara.
"Jaga bicaramu Ivona, ingat saat ini kamu sedang berbicara dengan siapa? Kamu tahu kan, bagaimana hubunganmu dengan kakek? Kakekmu tidak akan mau tinggal di rumah kediaman, jika tidak menemukan kamu berada disana. Segeralah pulang!" Tuan Iswara menyuruh Ivona agar segera pulang ke rumah dengan nada tinggi.
"Hm.." jawab Ivona tak ada maknanya.
"Juga sampaikan pada kakekmu, untuk membiarkan Vaya tinggal di kediaman besar! Sebentar lagi, anak itu akan mengadakan tur bermain piano, jadi kamu tahu sendiri kan jika media pasti akan fokus pada kondisi keluarga kita." lanjut Tuan Iswara lagi. Ivona tersenyum sinis mendengar perkataan Tuan Iswara, memang selama ini Vaya akan selalu tinggal di hotel jika kakek menginap di rumah. Kakek tidak menyukai kehadiran Vaya di rumah kediaman besar.
"Oh.. jadi karena alasan Vaya ya, sampai ayah bersedia menelpon Ivona??? Ivona jadi merasa, sepertinya ayah atau anggota keluarga lainnya hanya mencari Ivona, jika sedang membutuhkan bantuan Ivona saja." dengan berani Ivona menyindir Tuan Iswara.
Mendengar perkataan Ivona, raut wajah Tuan Iswara menjadi merah padam mengerikan. Dia langsung tersulut emosinya.
__ADS_1
"Jika kamu tahu, sejak kamu kembali ke rumah itu, Vaya sudah kehilangan banyak hal."
***********************